
Agnia sudah lebih baik, meski tak begitu bersemangat. Masih kesal, jika ingat bagaimana harinya suntuk dibimbangi hilangnya cincin itu, namun ternyata cincin itu tanpa sebab sudah ditangan Akmal.
Mengingat itu Agnia merasa bodoh, juga malu sebab tak jujur saat diberi cincin itu.
Agnia meraba dirinya lagi, jika diingat-ingat tak ada kekesalan yang harus diperpanjang lagi. Sebab Akbar mengambil langkah itu sebab kasih sayangnya.
Agnia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Berusaha menyingkirkan kegelisahannya itu, mencoba melupakan insiden sederhana itu.
Dirinya masih bermukena, duduk di atas sajadah. Baru selesai berdo'a setelah shalat dan dzikir.
Sialnya, tentang Akmal dan cincin itu bahkan menghantuinya diwaktu shalat. Yang diyakini Agnia sebagai definisi setan tanpa wujud.
Zain yang bergerak di atas ranjang, membuat Agnia langsung menghambur ke sisinya. Menepuk pelan bokong ponakannya itu, membiarkan Zain tidur lebih lama.
Tak lama setelah Zain tenang lagi, ketukan di pintu terdengar. Membuat Agnia menoleh, waspada kalau-kalau itu si menyebalkan Akbar. Namun kala pintu itu terbuka, jelaslah itu sang Ibu. Agnia lantas tersenyum seraya menyelimuti ponakannya.
"Zain belum bangun?" tanya Khopipah, pelan. Sebenarnya tak perlu ditanya sebab terlihat, namun tetap saja bertanya. Gaya basa basi masyarakat kita.
Agnia mengangguk, sembari bangkit dan melepas mukenanya.
"Ada yang mau ibu obrolin, kita bicara diluar."
"Iya, Bu." jawab Agnia cepat, tak sempat memikirkan apakah gerangan yang ingin dikatakan Sang Ibu.
"Ibu tunggu diluar." singkat Khopipah, seraya melangkah pergi keluar dari kamar anak gadisnya perlahan. Tak mau membuat cucunya terbangun.
...
Akbar sedang duduk menunggu di meja makan, langsung mendongak kala Ibu dan Kakaknya datang. Agnia sedikit heran, apa obrolannya seserius itu hingga harus mengadakan diskusi darurat seperti ini?
Bahkan Akbar masih dengan sarung dan kopiahnya, baru pulang dari mesjid. Agnia yakin, anak itu belum sempat pergi ke kamarnya
Agnia beranjak duduk, matanya menatap bingung Sang Ibu yang mendudukkan bokongnya di meja seberangnya. Juga menoleh Akbar yang duduk di sebelahnya sekilas, lalu kembali pada Sang Ibu.
"Ada apa, Bu?" tanya Agnia, sungguh tak punya ide dengan obrolan yang Ibunya maksud.
"Itu salah ibu." ucap Khopipah, yang langsung disambut kernyitan dahi oleh Agnia. Masih belum pada inti, hingga terkesan umum dan tak bisa disimpulkan.
"Ibu yang ngasih cincin itu sama Tante Retno." tandas Khopipah.
Mendengar itu Agnia langsung menghela pelan, soal cincin lagi. Ia kira semua tentang itu sudah berakhir, namun tampaknya semua orang masih betah mengungkitnya.
"Soal itu lagi.." Agnia menoleh Akbar. "Mbak udah tau, tapi.. bisa gak jangan ungkit soal itu lagi? Mbak merasa bodoh kalo ingat itu." keluh Agnia, tau betul jika adiknya itu mengadu.
Akbar mencebik, kenapa pula ia yang diserang?
"Hanya saja.." Agnia beralih menatap Sang Ibu. "Aku masih gak terima kalo membayangkan Akbar yang mungkin tertawa karena kebodohanku, sementara dia merasa perilakunya sudah benar."
"Aku gak ngetawain Mbak, kok." timpal Akbar, yang langsung dibalas tatapan tajam oleh Agnia. Memberi isyarat jika dirinya belum selesai bicara.
Akbar lantas menelan lagi keluhannya, memang harus diam jika tidak mau kena semprot.
"Karena itu.. Jangan sekali lagi ngungkit soal cincin itu! Atau.. Mbak gak akan ngomong lagi sama kamu." ancam Agnia, sebelum kemudian pergi meninggalkan Adik dan Ibunya.
Akbar mendengus pelan, lantas menoleh Sang Ibu. Seakan mengadu tentang sikap Agnia yang malam menyalahkannya.
Khopipah balas terkekeh, Paham arti tatapan Akbar. Menatap lembut putra bungsunya itu.
"Sudahlah, Mbakmu itu.. mungkin sedikit malu mengakui tentang cincin itu. Gengsi" ucap Khopipah seraya tertawa pelan, menenangkan Akbar
Akbar menghela, mana ada seperti itu. Meski mungkin saja, namun ancaman Agnia terlalu seram jika hanya untuk alasan gengsi saja.
...
Zain akan ikut mengajar hari ini, sudah rapih sekali sejak pagi hari. Bahkan sudah menyiapkan sendiri tas kecilnya.
Akbar mengejar, melangkah cepat mendahului Agnia dan Zain yang sudah di halaman. Menghadang pasangan tante ponakan itu.
"Aku anter ya Mbak." tawar Akbar, tersenyum lebar. Menatap Agnia dan Zain bergantian.
Sejenak Agnia memperhatikan motor Akbar, menimbang. Namun sebab Zain yang sudah terlanjur senang, akhirnya mengangguk pelan.
Suasana hati Agnia berhasil membuat suasana hati lainnya rusak. Akbar ikut sibuk dengan pikirannya, jadi ikut diam. Meski aslinya iseng, Akbar tak tega membuat sedih kakak perempuan satu-satunya itu dengan celotehannya. Saat ini, Akbar benar-benar berusaha untuk diam.
Hingga tiga orang itu akhirnya berboncengan tanpa melempar canda seperti biasanya, Akbar mulai berpikir. Apa kakaknya ini benar-benar malu mengakui soal cincin itu?
Tiga orang itu tak sadar, apalagi Zain yang mana curiga meski melihat yang tidak beres. Seseorang dari jauh memperhatikan gerak-gerik mereka diam-diam. Baru melajukan motornya saat motor Akbar keluar dari halaman rumah luas itu, mengikuti dari belakang tanpa dicurigai siapapun.
Seseorang berperawakan tinggi dengan helm yang terpasang di kepalanya berhenti, saat Akbar juga berhenti ke tempat tujuan mengantar Sang Kakak. Tetap disana untuk beberapa saat, hingga saat Akbar pergi pria misterius itu mengeluarkan ponselnya. Mengarahkan kamera ponselnya ke arah sekolah yang mulai ramai itu.
Satpam disana tentu merasa curiga, namun tak sempat memastikan sebab pria berjaket denim itu sudah berlalu sebelum sempat dihampiri. Membuat satpam loyal itu menelan lagi kecurigaanya, meski dahinya masih berkerut heran.
.
.
.
__ADS_1
.
Wildan di tempat berbeda menyeringai, menatap layar ponselnya yang barusan bergetar. Sesaat kemudian wajah si tengil itu berubah sumringah setelah beberapa saat hanya manyun dan terdiam di meja makan.
Tanpa bicara apapun, langsung bangkit dari kursinya. Meninggalkan Wiryo dan Gian yang masih menyantap sarapannya, bersiul senang.
Sorot bahagia dari tingkah Wildan itu, berhasil memantik kernyitan di dahi Gian. Merasa curiga akan sesuatu, perasaanya jadi tak tentu. Gian mengenali adiknya, hingga ia khawatir tanpa sebab. Takut ada sesuatu yang sedang direncanakan Wildan.
"Tunggu aja, anak manja yang selalu menang itu akan mendapatkan ganjaran sebentar lagi." gumam Wildan pelan, seperti biasa mengancam di belakang. Menoleh sekali lagi pada Gian yang juga menatap ke arahnya, tersenyum miring.
Degh.
Gian tak tau arti senyum itu, namun perasaanya tak karuan. Mulai menebak apakah gerangan yang akan dilakukan adiknya yang nekat itu, darahnya berdesir tiba-tiba.
...
Tak ada yang membuat Gian harus khawatir akan sesuatu, sebab tak pernah punya apapun yang berarti hingga harus takut dibahayakan Wildan.
Gian menghela, mungkin itu hanya ada dalam pikirannya saja. Mungkin dirinya terlalu berlebihan berburuk sangka pada Sang adik.
Setelah perdebatan dalam dirinya sendiri, Gian akhirnya kaluar dari mobilnya. melangkah menuju kantor tempatnya bekerja.
...
Atmosfer berbeda dialami Agnia yang kini membiarkan Zain bermain bersama kawan-kawan seusianya, berbaur untuk belajar dan bermain bersama. Senyum tak hilang dari wajah Agnia, lega saja sebab ponakannya itu tak rewel.
Hari itu Alisya kembali mengantar Raina, setelah beberapa hari tak mengantar jemput sebab sakit. Senyumnya merekah saat bersitatap dengan Agnia, namun sama seperti sebelumnya, Agnia juga balas tersenyum namun bukan padanya melainkan mengarah pada Raina.
Jujur saja, Agnia tak bisa munafik dengan menunjukkan senyum. Sebab hatinya mana bisa lupa rasa penghianatan itu. Bersikap seperti itu, batas kemampuannya.
Alisya untuk sekian kalinya menelan pil pahit, Agnia tak kunjung menatapnya atau sekedar tersenyum. Hanya saja tak sadar, dengan berbaik hati pada Raina pun itu sudah merupakan hal yang besar bagi Agnia. Alisya abai akan itu.
Raina bak terhipnotis, berlari mendekati Agnia. Yang segera disambut uluran tangan oleh Agnia.
Agnia tersenyum ramah, seperti biasa bertanya sudah sarapan? Dengan apa? Memuji pintar, cantik. Setelah itu memanggil Zain supaya berkenalan. Manis sekali.
Demi melihat itu dari jauh, Alisya terenyuh. Matanya mengerjap, Bau sadar akan sesuatu.
Meski tak menyapanya, Agnia mengabaikan semuanya dan bersikap netral bahkan sangat baik pada Raina.
Mulai berpikir jika Adi benar, tentang jangan menuntut lebih dari maaf Agnia. Hanya saja.. dirinya kini merindukan persahabatan yang baik-baik saja seperti dulu.
Salahkan ia mengharapkan itu?
...
Zain mengangguk cepat. "Besok kesini lagi." ucapnya.
"Boleh.." Agnia menjawab sumringah, seraya mencubit gemas pipi ponakannya itu.
Senyum Agnia perlahan memudar, kala ia dihadang Alisya saat hendak pulang, membuat keduanya saling pandang sejenak.
"Bu Agni, mari.." salah satu wali murid menyapa, sembari mencubit pelan pipi Zain. Membuat Agnia menghentikan tatapan intens itu sejenak. Menyempatkan diri untuk mngangguk, tersenyum. Untuk kemudian kembali membalas tatapan Alisya.
"Emh.. aku mau ucapin terima kasih." ucap Alisya, setelah sekitar mereka tak ada orang lain lagi.
"Atas?"
"Kebaikan kamu untuk anakku, Raina."
Mendengar itu Agnia balas mengulas senyum. "Ucapan kamu terasa.. seakan aku berhak untuk bersikap buruk sama Raina."
"Bukan begitu, tapi.. karena aku dan Adi sudah banyak menyakiti kamu, aku rasa anak kita.."
"Akan membuat aku tidak nyaman?" potong Agnia. "Kita sekarang dua puluh lima, tahun depan dua enam. Kalau menurut kamu hanya kamu yang berubah dewasa, kamu salah."
"Aku belajar banyak hal, dan salah satunya.. untuk tidak melibatkan anak-anak ini dalam perasaan pribadi kita."
Alisya tak bisa menjawab, hanya sedikit menyadari jika ucapan Agnia sekarang paling panjang dari sebelumnya. Dan ia bisa merasakan jika Agnia terasa lebih emosional.
Tepat saat itu, Akmal yang entah sejak kapan menunggu diluar muncul. Menghampiri, mengarah pada Zain dab sekilas menoleh Agnia.
Zain beralih dari pangkuan Agnia menuju Akmal, tampak senang dengan uncle barunya. Langsung merentangkan tangannya saat melihat Akmal, minta digendong.
"Kita pulang sekarang?" tanya Akmal, pada Zain tentunya.
Zain mengangguk, dan segera pergi dari hadapan dua orang yang berbincang serius itu.
Agnia menghela pelan, menatap Alisya. "Saya duluan." ucapnya, untuk kemudian benar-benar berlalu dari hadapan Alisya.
Alisya tersenyum getir, tak menyangka sesedih itu rasanya tak dianggap dan diabaikan. Seakan tak pernah ada ikatan dekat antara mereka, Alisya merasa dibuang.
...
Akmal menunggu, sudah menenggerkan Zain di atas motor sambil ia pegangi. Berlagak jika Zain sedang mengendarai motornya sendiri.
Agnia datang dengan raut muram, menghampiri dua orang itu. Jika saja bukan karena ada Alisya, mungkin ia sudah mengabaikan Akmal.
__ADS_1
Akmal segera tersenyum, mengabaikan tatapan Agnia. "Gimana ngajarnya?" tanyanya lembut.
Agnia sedikit heran, tak biasanya bocah itu bersikap manis. Yang padahal biasanya hanya selalu membual dan mengganggu.
Agnia tak terbuai, balas mengernyitkan dahinya. Menatap penuh curiga.
"Itu gak akan berhasil." ucap Agnia.
Akmal terkekeh. "Baiklah, tapi soal kemarin aku minta maaf. Aku akui salah dan kekanak-kanakan." ujar Akmal serius. "Gak akan aku ulangi."
Entah kenapa Agnia merasa tersentuh, entah pelet apa yang membuat Akmal begitu menarik dimatanya kini. Senyuman tak bisa ditahan Agnia.
Demi melihat itu Akmal tak perlu jawaban lagi, langsung menatap lurus. Menghidupkan motornya. Hatinya kembali berbunga, dan tak bisa ia sembunyikan senyum yang timbul akannya.
Terkadang hal sesederhana itu begitu berarti, tanpa terkira luar biasa indahnya. Akmal serasa hidup kembali dengan harapan baru, melupakan jika sebelumnya sudah membuat Agnia kesal bahkan diomeli habis-habisan.
Pemandangan manis itu, disaksikan seseorang dari dalam mobilnya. Adi, yang menunggu sang istri dalam mobil bersama Raina menghela pelan. Berusaha untuk ikut senang dengan kebahagiaan Agnia, meski entah kenapa masih sedikit getir ia rasa.
.
.
.
.
Gian baru saja mengangkat wajahnya setelah empat jam ini berkutat dengan berkas, laptop, rapat, juga presentasi.
Tubuhnya ia regangkan sesaat, seraya melirik jam di dinding kantornya. Sudah pukul dua belas, tandanya jam kerja dimulai tiga puluh menit lagi.
Gian menghela, dari pada pergi mengisi perut ia justru teringat pada Agnia. Tangannya terulur meraih ponsel di atas mejanya, segera mencari nama Agnia di daftar kontak.
Cukup lama sejak Gian menekan tombol panggil, namun Agnia tak kunjung menjawab.
Hingga dipanggilan kedua, saat Gian sudah tersenyum senang saat ada jawaban, justru suara seorang pria yang justru terdengar. Akhirnya senyum kecewa kembali terbit di wajahnya.
"Halo?"
Gian mengerutkan dahinya, memastikan yang didengarnya sekali lagi, juga memastikan nama siapa yang tertera disana. Tidak salah, Agnia. Dan tidak mungkin gadis itu memberi nomor yang salah padanya.
"Halo?"
Gian mengernyit, penasaran siapa orang diseberang sana. "Ini.."
"Ini calon suami pemilik Hp ini."
Gian mengensus, heran sendiri. Apa maksud perkenalan itu.
"Maaf?"
"Ada perlu apa, silahkan bicara."
Gian mencebik, sebal dengan nada songong orang itu. "Ini beneran calon suaminya, atau.."
Tut .Tut.. panggilan itu tiba-tiba saja diakhiri. Membuat Gian bukan saja sebal, tapi juga ragu juga jengkel.
...
Agnia menatap gemas Akmal, pria tengil itu berani sekali menjawab panggilan di ponselnya. Menyesal sekali sudah meninggalkan ponselnya di meja.
"Aku jawab, takutnya penting." alibi Akmal, tersenyum. Yang sebelumnya memang tak berniat menjawab panggilan itu, hanya saja nama yang tertera disana membuat Akmal langsung menjawab panggilan itu dengan berani.
Agnia segera menarik ponselnya tadi, membuat sambungan telpon itu berakhir tanpa disengaja.
"Kamu berlebihan." keluh Agnia, mendelik tajam.
"Mbak denger percakapan itu ternyata.."
Agnia manyun, tentu saja. Segera mengecek ponselnya singkat, memastikan siapa yang membuat Akmal berani sekali menjawab panggilan itu.
Khopipah datang saat itu, segera bergabung dengan senyum penuh arti "Akmal ternyata.." ucapnya.
Khopipah lega, tandanya gunjang ganjing kemarahan Agni berakhir. Kini dua orang itu bisa meneruskan romansanya dengan damai.
Khopipah jujur saja bahagia, menyadari perubahan besar pada diri anak perempuannya setelah mengenal Akmal. Ternyata ia tak salah membidik Akmal.
Fauzan juga datang, mendengar keributan di ruangan itu. Tersenyum saat dilihatnya Akmal. Dirinya pun nergabung duduk.
Agnia kembali pergi, hendak membawakan minum. Dengan tak lupa kali ini ponselnya ia bawa bersamanya, takut terjadi hal serupa. Meski sebenarnya tidak mungkin.
...
Wildan dengan akal bulusnya kini mengangguk paham, bereaksi terhadap ucapan seseorang di hadapannya.
"Jadi, dia itu dijodohkan sama Akmal?" tanya Wildan, mengulang ucapan informannya. Lantas tersenyum, setelah mendapat anggukan.
"Bagus. Satu tepuk, dua nyamuk mati. Eh.." Wildan meralat. "Satu tepuk, tiga nyamuk mati."
__ADS_1
Tidak salah lagi, yang Wildan sasar adalah Agnia. Hanya saja hanya dia dan tuhan yang tau apa rencananya.