Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
196


__ADS_3

"Aku salah karena maksa kesini?" tanya Agnia, beberapa saat setelah tangisnya reda. Mendongakkan wajahnya pada sang suami yang setia memberi bahu untuknya bersandar meluapkan tangis.


"Enggak, gak ada yang berpikir begitu."


"Tapi Mas Hafidz?"


"Aku yakin maksudnya gak gitu, hanya saja dia ngasih perbandingan antara Mbak sama Yesa sebenarnya karena Mas Hafidz tau betul kondisi Mbak saat ini. Dia khawatir, tapi gak bisa nunjukin itu."


"Emh.." Agnia bergumam pelan. "Entahlah, aku gak setuju sama ucapan kamu. Kayaknya dia bukan perhatian, tapi punya dendam pribadi. Seakan dia berusaha bilang kalo aku gak ada artinya disini."


Akmal terkekeh pelan, mencubit kedua pipi istrinya. Apa kakak beradik memang begitu? bertengkar seakan musuh, untuk nanti berdamai seakan tak terjadi apapun. "Apapun itu, karena kita disini.. nikmati. Dan.. karena hari ini kita semua berduka, Mbak harus bisa jadi salah satu orang yang menyenangkan untuk menghibur mereka. Itu satu-satunya yang bisa menunjukkan kalau kedatangan kita gak sia-sia. Hem?"


Agnia mengangguk cepat, untuk sekali lagi menghambur ke pelukan hangat nan candu milik suaminya.


...


Kematian selalu jadi kabar paling mengejutkan, selalu tiba-tiba dan tanpa peringatan. Hingga semua sering kali takjub, merasa semuanya baik-baik saja hingga diri secara mengejutkan direnggut juga terrenggut.


Namun segalanya berjalan sesuai takdir, dan selalu bersama hikmah dan tujuan.


"Setidaknya dari kematian seseorang kita sadar, bahwasan nya tidak hanya kita yang ditinggalkan.


Tapi suatu hari, kitalah yang akan meninggalkan."


Hafidz merasa kacau luar biasa, ia tak banyak menghabiskan waktu seperti cucu sang nenek lainnya. Sebab itu hatinya teriris merasa dirinya tak berguna dan menyia-nyiakan waktu yang diberikan Allah sebelum ini. Ia menyesal, harusnya bisa meluangkan waktunya saat sang nenek masih ada.


Dan kini? bahkan penyesalan itu tak berguna. Semua sudah berlalu dengan cepat, dan penuh tamparan kenyataan bahwa semua tak mungkin kembali walau sedetik.


"Jangan lupa makan!" Puspa berbicara di sebrang telpon, melakukan panggilan video sembari menyuapi Zain makan siang.


"Ya.."


"Dan jangan lupa tidur!" ujar Puspa lagi, bisa melihat mata sembab kurang tidur sang suami.


"Hem.. kamu juga, jaga diri baik-baik."

__ADS_1


"Iya."


Ceklek... pintu kamar itu terbuka, menampakkan Akbar bersama wajah seriusnya yang jarak sekali nampak. Hafidz mengernyit akannya, penasaran masalah apa yang akan dibawa adiknya ini. "Apa?"


"Pake nanya, lagi.. Lo gak sadar?"


"Apa? jangan main tebak-tebakan di situasi begini."


"Emh.. Lo gak sadar berarti. Heh, Mas.. Lo gak ngerasa bersalah sama Mbak Agni? di situasi ini, dan di kondisi dia.. bisa-bisanya lo ngomong asal mangap."


"Itu bukan asal, gue serius. Dia seharusnya sadar dengan kondisinya sendiri, siapa yang bisa jaga diri dia selain dirinya sendiri? Gue cuma mau dia belajar, kalo gak semuanya harus berjalan sesuai keinginan. dia harus belajar sama Yesa."


Akbar mendengus sebal. "Apa mbak Agni berangkat dari Jakarta sendiri? dia sama suaminya. Dan kita juga ada buat jaga dia. Jadi apa yang lo khawatirkan? gue jadi curiga kalo ini bukan karena lo peduli sama Mbak Agni, melainkan Lo melampiaskan kesedihan lo.."


Hafidz tak bergeming, kepalanya sudah pusing, perasaannya sudah kacau, Akbar datang lagi bersama prasangkanya yang membuat perasaannya makin runyam. "Udah, gue pusing. kalo masih mau marah gak jelas, tunggu nanti setelah duka kita berkurang."


Marah gak jelas? Akbar mengendus sebal. Siapa yang tidak jelas disini? padahal hanya Hafidz yang mendadak emosional dan uring-uringan saat ini.


"Pergi!"


"Iya." balas Akbar cepat, mendelik sekilas untuk kemudian beranjak keluar diikuti suara keras tertutupnya pintu. Hafidz langsung menghela panjang dan kembali ke layar ponselnya, jika bukan di situasi duka ini maka ia tak masalah membuat sedikit keributan dan memberi pelajaran adiknya itu.


Hafidz kembali menghela, ia sudah sebal ditanya kini dimintai penjelasan oleh sang istri. "Lupain! kota bahas lain kali."


"Apa karena dia ikut kesana meskipun dilarang?" tanya Puspa, sejak awal tau suaminya tak setuju Agnia ikut dengan alasan kondisinya yang masih rentan.


"Bukan gitu, aku cuman cape."


"Mas.. tapi kamu gak boleh lho, di situasi ini menciptakan masalah. Kita semua berduka, Apa lagi kamu, Akbar sama Agni. Jangan buat ini makin rumit."


"Iya. aku memang sengaja membuat ini semakin rumit, maksudku salah meski ingin yang terbaik untuk adikku sendiri."


"Bukan begitu, Mas.."


"Udah dulu, ya.. nanti aku telpon lagi."

__ADS_1


"Tapi.."


Hafidz memutus panggilan itu sepihak, tak terima jadi satu-satunya yang disalahkan. Dan ini bukan tentang keegoisan, ia hanya berusaha melindungi semua orang sebisanya. Meski tampaknya masih salah saja di mata semua.


.


.


.


.


Tahlilan diadakan di rumah juga di mesjid terdekat, berharap do'a setidaknya saru satu atau dua orang yang lurus diijabah Allah. Rumah itu tak sepi, para tetangga juga kerabat datang menemai hingga seminggu lamanya nanti.


Kecuali Hafidz, Akbar dan Akmal semua terbangun. Tiga orang itu paling kelelahan dari yang lainnya. Tak sempat tidur setelah berkendara semalaman.


Agnia setelah memastikan semua kerabat yang menginap mendapat tempat nyaman untuk tidur, baru beranjak menuju kamar. Dari sisi ini harusnya Hafidz berhenti bersikap seakan kedatangan Agnia itu sia-sia yang sebenarnya sangat membantu. ada banyak urusan yang hanya dipahami dan bisa diurus wanita saja, apa lagi saat Yesa tak ada maka Agnia yang membantu di rumah itu.


Akmal membuka matanya begitu suara pintu terdengar, tersenyum tipis dan memberi isyarat supaya istrinya tidur di sebelahnya. Agnia balas tersenyum, duduk di bibir ranjang menghadap suaminya. Membelai puncak kepalanya singkat. "Tidur.." ujarnya, setelah mengecup kening Akmal.


Bukannya tidur, Akmal justru bangkit dari tidurnya. Merubah posisinya jadi duduk menghadap Agnia dengan sikap siap mendengarkan.


"Aku bilang tidur, bukan bangun."


Akmal tersenyum. "Gak bisa tidur, kalo istri ku gak bisa tidur. Jadi.. ada apa? ada yang bisa Mbak bagi?"


Agnia menatap suaminya lama untuk kemudian tersenyum, selalu bisa melihat ketulusan dari mata Akmal. Hingga tak punya alasan untuk terbebani oleh perhatiannya. "Aku punya satu hal."


"Apa?"


"Waktu kamu ninggalin aku disini, saat itu terakhir kali aku ngobrol sama nenek. Katanya.. dia gak sabar pengen ketemu cicitnya, dan lihat.. Nenek sekarang mungkin udah beneran ketemu cicitnya."


"Hem?"


Agnia mengangguk samar. "Aku takjub dengan hal itu, rahasia terbesar ada pada jalan hidup yang sudah ditakdirkan dan tengah kita lalui ini. Apa yang kita temui, apa yang hilang dari diri kita, semuanya selalu menakjubkan untuk kita pikirkan dengan akal sehat. Siapa tau jika nenek akan lebih dulu menemui anak kita, dibanding orang tuanya sendiri."

__ADS_1


Akmal menghela, membelai rambut istrinya. "Setidaknya yang kita sayang sudah bersama saat ini, jadi gak ada yang perlu dikhawatirkan. Apalagi mereka sudah menemui ajal dengan jalan yang baik, terbaik. Kita harus bersyukur dengan itu."


"I know.." Agnia mengangguk, begini seharusnya. Dukungan dan kekuatan yang Akmal bagi adalah satu hal yang ia perlukan. Dirinya mungkin bimbang, berulang kali hilang kekuatan setiap mendapat ujian. Namun sosok itu, yang berada di sisinya setiap saat tanpa lelah adalah kekuatan baru dan pengingat terhebat.


__ADS_2