
Akbar tertawa renyah, menatap wajah frustasi Akmal. Bisa sedikit menerjemahkan keresahan dari diri temannya ini. Yang ditertawakan hanya terbengong, tak tahu apa arti tawa Akbar yang ditujukan padanya, menatap bingung.
"Gue becanda." Akbar mengakhiri tawanya, menaikkan turunkan alisnya.
"Maksudnya?"
"Lo sangat amat berbeda dari Adi, setidaknya dari yang gue liat. Dan kalo Mbak Agni bilang kayak gitu, gue yakin itu bukan soal kepribadian kalian."
"Terus?"
"Menurut gue.. mungkin lebih ke tentang kesan yang dia rasa. Udah gue bilang, setelah Adi baru lo orang yang bisa buat Mbak Agni nyaman."
Akmal menghela napas pelan, ucapan Akbar persis sekali dengan apa yang dikatakan Agnia.
"Saya penasaran, apa kamu punya sesuatu yang berbeda dari orang itu. Sesuatu.. yang saya bisa kenali, bahwa itu kamu."
"Maksud Mbak, kita berdua sama persis?"
"Enggak, enggak sama sekali." Agnia menggeleng. "Ini bukan soal kamu, dia, atau kepribadian kalian. Ini, mengenai apa yang saya rasakan tentang kalian berdua."
Akmal dibuat pening lagi mengingat itu, menyelami kehidupan Agnia benar-benar menguras waktu dan perasaanya. Menghela napas panjang. Jika itu mengenai perasaan Agnia, maka bagaimana dirinya bisa merubah semua itu?
"Heh! Gue dari tadi ngomong, lo gak dengerin?" Akbar melotot, menaikkan suaranya.
"Hah?!" Akmal menaikkan alisnya, jangankan mendengar penjelasan Akbar, bahkan pertanyaan barusan saja tak ia dengar.
Akbar mendengus sebal. "Bukan apa-apa. Lupain aja!"
.
.
.
.
"Kenapa emangnya kalo keramas jam segini? Masalah? Wah!! Akbar luar biasa rese akhir-akhir ini." Agnia mengomel sendiri, baru kembali setelah menyetrika. Niatnya hanya menyetrika satu pakaian, namun berakhir menghajar semua yang ada di keranjang.
Cukup lama Agnia pergi, namun itu tak cukup membuatnya lupa akan rasa jengkelnya pada Akbar. Masuk ke kamar, helaan napas terdengar. Agnia kembali dihadapkan pada kenyataan, cincin itu masih belum ia temukan.
Sejenak Agnia mematung, mengedarkan matanya ke seluruh sudut kamar. Tak lama matanya membesar. "Ah.. Ibu." ucapnya, kini ingat. Kamarnya sudah rapih saat ia pulang, padahal sebelumnya ia tinggalkan berantakan.
Agnia melangkah cepat, yakin sekali jika Ibunya sempat masuk ke kamarnya. Berlari menaiki tangga menuju kamar ibunya.
"Bu.."
Khopipah mengernyit, menutup buku yang ia baca di mejanya. "Ya? Masuk.."
Agnia langsung meloloskan kepalanya, menengok terlebih dahulu sebelum kemudian melangkahkan kalinya ke dalam sana dengan sempurna.
"Ada apa?" Khopipah membulatkan matanya, bingung dengan tatapan yang sulit diartikan dari anak gadisnya.
Agnia nyengir. "Ibu.. tadi pagi beresin kamar aku, kan?"
"Iya.."
"Kalo gitu ibu liat gak benda kecil, cantik, dan berkilauan di kamar aku? Aku kehilangan benda itu."
"Kecil, berkilauan?" Khopipah mengernyit, kemudian menggeleng. "Entahlah.. tapi kalo yang kamu maksud itu bros bros punyamu, ya ibu lihat. di tempatnya seperti biasa."
"Iya semacam itu, Bu. Tapi sedikit berbeda. itu jatuh di suatu tempat, dan entah dimana."
"Gak jelas, kamu." Khopipah terkekeh. "Ibu gak tau kalo gitu. Tapi apa itu yang buat wajah kamu tertekuk sejak semalam?"
Agnia tak menjawab, mengulum bibirnya. Membuat Khopipah sudah tahu jawabannya.
"Melihat reaksi kamu, ibu rasa benda itu sepertinya sangat penting untuk kamu.." ucap Khopipah lagi, berucap santai.
Agnia berjalan gontai menuruni tangga, menatap lurus yang dipijaknya. "Entah dimana cincin itu." gumamnya pelan. "Gara-gara cincin itu.. waktu berlalu dengan sia-sia. Kenapa juga harus hilang?" gumam Agnia lagi, penuh kecewa.
"Semuanya gara-gara ceroboh." ucapnya lagi, kembali melangkah menuju kamarnya.
Agnia masuk ke kamarnya, kembali mematung. Terpikir sesuatu. "Entah salah cincin itu atau salah kecerobohanku, tapi semuanya membuat suasana jadi rumit." lirihnya.
Sebuah panggilan datang saat itu, nama Silmi muncul di layar ponselnya, Agnia segera menjawab panggilan itu. Tersenyum lebar, kontras dari beberapa detik yang lalu. Kini, berucap penuh riang.
"Halo, Waalaikumsalam. Kenapa Mi?"
...
__ADS_1
Silmi yang juga tak kalah berseri tengah duduk menunggu, meminta Agnia untuk datang menemuinya di sebuah Cafe. Sudah cukup lama, hingga jus di dihadapannya sudah hampir tandas.
Untung saja yang ditunggu datang segera, sesaat sebelum Silmi mulai bosan. Melangkah dengan senyum lebar, sadar keterlambatannya.
"Aku gak lama, kan?"
"Enggak, kurang lama padahal.."
"Ish!" Agnia tersenyum menggoda. "Gak boleh gitu, lah.. Menyindir dengan halus."
"Baiklah, karena aku sedang bahagia aku maafkan.."
"Ah iya.. langsung saja, katakan apa yang membuatmu berseri. Apa yang tak sabar ingin kamu katakan? Paket liburan, bulan madu, atau.."
"Aku hamil."
"Hah?!" Agnia terkejut, tak percaya dengan pendengarannya. Mematung.
"Ayolah, bahkan reaksimu lebih aneh dari reaksi suamiku."
"Enggak, kamu beneran.."
"Ya. Aku hamil." ulang Silmi, menatap Agnia serius.
"Berapa minggu?"
"Dua belas minggu."
"Dua belas minggu? Kenapa baru ngasih tau aku sekarang?"
"Karena.. aku baru tau." Silmi tersenyum lepas, membuka galeri foto di ponselnya. Menunjukkan foto testpac* dua garis pada Agnia.
Silmi mengernyit, saat Agnia hanya menatapnya tanpa berkata apapun. "Kenapa? Kamu keliatan marah dari pada ikut senang."
Agnia menghela napas. "Aku? Marah? Ayolah.. aku ikut senang." ucap Agnia, tersenyum. "Aku bahkan jadi bingung gimana ngungkapinnya. Selamat, Bumil.."
"Okay, mari kita tunda ucapan selamatnya. Sekarang kamu boleh pesan apapun, aku yang traktir. Ah.. maksudnya, suamiku yang traktir."
"Memang sudah seharusnya.."
Hening, dua orang itu makan dengan fokusnya. Agnia lahap sekali entah kenapa, sedangkan Silmi masih demam sebagai ibu hamil baru. Makan sedikit sekali dan sibuk sesekali memegangi perutnya yang masih rata.
Agnia tersenyum memperhatikan Silmi, ikut senang melihat temannya berseri. Memang benar tentang Ibu hamil yang selalu terlihat lebih cantik, seakan aura berbeda muncul berkat si jabang dalam perut.
Silmi mengangguk, tersenyum. "Oiya, Kamu harusnya cepet nikah, terus cepet hamil supaya anak kamu nanti usianya gak jauh sama anakku."
"Hey.. Kamu itu ya.. nyuruh orang nikah terus hamil seenaknya."
"Why? Bukannya kamu udah punya calon?"
"Enggak. Calon apa?"
Silmi menghela napas, tak suka dengan ekspresi datar Agnia. "Terus, yang tempo hari ke panti sama kamu.. Bukan someone special?"
"Oh! Itu.. Bisa aku jelasin." Agnia berucap tegas, meyakinkan temannya. "dia bukan siapa-siapa.."
.
.
.
.
Akmal kembali menjalani harinya yang normal, dengan sejenak melupakan urusan hatinya yang sederhana namun pelik. Tengah berjalan ke perpustakaan, di tangannya ada sebuah buku tebal.
Saat itu, Akmal sponyan menghentikan langkahnya. Menilik sejenak keributan apa yang terjadi di pinggir lapang.
"Asma?" Akmal meicingkan matanya, memastikan. Kerumunan segera terjadi. Samar dilihatnya Akbar berjalan cepat ke arah sana, disusul Fiki dan Ardi.
"Maaf, ada apa ya?" tanya Akmal, menghentikan salah satu mahasiswi yang berlarian hendak mengikuti arus. Sama penasaran dengan yang sedang terjadi.
"Gak tau, kak. Kayaknya.. ada perundungan." jawab mahasiswi itu, dengan langsung melanjutkan langkahnya.
"Perundungan?" Akmal menghela gusar, langkahnya searah dengan yang lain. Perasaannya jadi tidak baik, apalagi Akbar terlihat marah tadi. Bisa dipahami, jika tentang Asma maka Akbar mungkin saja emosional.
Akmal menerobos kerumunan itu perlahan, dari apa yang tersuguh, tak mengerti yang sudah terjadi. Asma berjongkok memeluk dirinya, menangis sesenggukan. Qori di sebelahnya memeluk erat. Akbar berdiri dengan lengan terkepal. Tatapan tajamnya mengarah pada pria yang tak asing, pria yang kini menyentuh ujung bibirnya. Entah apa yang terjadi, Akmal sudah sudah terlambat dan hanya melihat hasil ketegangan itu.
Setidaknya itu yang dilihat Akmal, tak bisa menambahkan kala diinterogasi. Sebab hanya akan menyudutkan Akbar.
__ADS_1
Akmal duduk di luar ruangan, menanti. Fiki, dan Ardi setia menemani Akbar saat harus menghadap dosen. Berdiri di belakang Akbar yang duduk berdampingan dengan pria yang punya lebam di sudut bibirnya.
Sesaat bak tak bisa bernapas, Fiki akhirnya menghela napas panjang setelah bebas dari ruangan sesak itu. Menatap Akbar frustasi. "Ah.. gue gak tau! Tapi lo berurusan dengan orang yang salah." ucapnya, terdengar khawatir dari nada bicaranya.
Akbar hanya diam, terduduk dengan banyak tekanan di kepalanya.
"Gimanapun, lebih baik ente minta maaf sama bocah itu." tambah Ardi, berusaha bijaksana.
Akbar mendengus. "Kalo gue minta maaf, sama aja gue membenarkan perlakuan dia sama Asma."
"Apa? Wah.." Fiki menatap tak percaya. "Ini bukan saatnya lo mikirin benar, salah, apalagi Asma. Tapi lo harus pikirin diri lo sendiri!" Fiki berucap pelan, lelah dengan apa yang terjadi di depan matanya. "Akbar.. bocah itu, si Wildan itu, bukan sekali ini bikin keributan. Dan dia bukan sekali aja menendang keluar setiap mahasiswa yang berurusan sama dia. Jadi sebelum terlambat, turunin ego lo!"
"Terus kenapa? Dia bisa apa? Ayahnya yang berpengaruh itu bisa apa?" Akbar bertanya pelan, tak paham kenapa dirinya harus meminta maaf.
"Pokoknya inget! Wisuda sebentar lagi, dan gue ingetin jangan sampe masalah ini membesar dan membuat tahun-tahun belajar lo jadi sia-sia." Fiki kembali menambahkan, pria yang biasanya menggoda Akbar itu kini paling bisa didengar ucapannya. "Dan terserah lo mau gimanapun nerjemahin ucapan gue."
Akmal sama bingungnya, tak menambahkan sejak tadi hanya bisa mendengarkan ucapan Fiki. Bahkan dirinya tak sempat menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, yang ia tau, situasi ini memang seburuk yang dikatakan Fiki.
Dari jauh tiga orang melangkah mendekat, yang salah satunya adalah pria yang sedang dibicarakan Fiki. Tampak menyeringai dari jauh.
"Jalan keluarnya kita bicarain nanti, untuk saat ini kita harus minta maaf." Akmal langsung berdiri, menoleh Akbar sejenak.
Wildan menunjukkan senyum menantang pada Akbar, meski Akbar tak peduli dan hanya mengalihkan pandangannya. Tak terlihat rasa segan sama sekali dari wajah Wildan dan dua orang lainnya meski kini sedang berhadapan dengan seniornya. Semua tau, Wildan memang angkuh.
"Lho.. Kak Akmal?"
Semua terkejut, kala tau bocah tengil itu mengenal Akmal. Saling pandang antara Fiki dan Ardi.
"Kenapa disini, Kak?" tanyanya. "Dan sama.. orang itu."
Akmal mengernyit. "Maksud kamu Akbar? Dia teman saya.."
"Oh! Kak Akbar? Ya.. ya.. Maaf. Aku bahkan gak tau namanya." ujar Wildan, diselingi tawa menatap dua temannya.
Akmal mengendikkan bahunya. Menghela pelan. "Begini, Wildan. Tentang apa yang terjadi, tolong maafkan semuanya. Kamu tau, pertemanan kamu sangat erat. Saat ada sesuatu yang mengganggu salah seorang kita, yang lain pasti sebisa mungkin membela. Sebab itu, tolong lupakan ini jika memang kesalah pahaman."
Wildan mengulum bibirnya, senang dengan permintaan maaf dari Akmal. Menghela napas panjang. Ujung bibirnya yang terluka itu tersungging naik.
"Baiklah.. demi kak Akmal, meskipun sayangnya bukan dari Kak Akbar permintaan maaf itu. Tapi aku terima, hanya saja beritahu temanmu kak.. jangan gegabah melayangkan pukulan kerasnya itu. Akibatnya bisa sangat buruk jika mengenai orang yang salah."
Akmal mengangguk, Sebisa mungkin tersenyum meski tak ingin. "Baiklah.. Dan tolong bantu saya supaya skorsingnya dicabut."
"Emh.. ya, biar aku pikirkan tentang hukumannya. Selama dia tau posisinya dimana." Wildan sekali lagi menyeringai, lantas menoleh dua temannya. "Ayo semuanya.. Jangan buang-buang waktu."
Akmal menghela pelan setelah tiga orang itu berlalu. Sebal juga dengan ucapan arogan Wildan. Namun apa daya, maaf dari Wildan yang paling utama bagi Akbar saat ini.
"Bocah itu.." Fiki menggeram, gemas sekali. Sesaat kemudian menatap Akmal. "Lo kayaknya akrab sama dia?"
Akmal mengendikkan bahunya. "Entahlah, gue malu kalo harus mengakui itu. Tapi untuk sekarang, itu memang menguntungkan."
.
.
.
.
Agnia menimbang lagi dan lagi, saat kembali dari Cafe hanya cincin itu yang teringat. Kini berpikir ragu, merasa perlu bertanya pada Akmal. Siapa tahu adiknya itu sempat menemukan cincin saat datang ke kamarnya tadi siang.
Akbar tengah bergelut dengan pikirannya, kesal tapi juga menyesal. Ia tak tau jika emosinya yang meledak itu bisa membawanya pada skorsing untuk pertama kali dalam seumur hidupnya.
"Akbar? Mbak masuk ya.." suara lembut Agnia terdengar, diringi suara pintu yang terbuka.
Akbar tak menjawab, membuat Agnia terheran saat adik bungsunya tak menoleh, dan hanya menundukkan wajahnya menatap lantai.
"Apa yang menarik dari lantai?" tanya Agnia, duduk di sebelah Akbar. Jika auranya seperti ini, pasti Akbar sedang bersedih.
Akbar tak bergeming, makin menundukkan wajahnya. Agnia mengernyit, merasa curiga. Langsung meraih wajah Akbar supaya menatapnya.
"Wajah kamu.. kenapa? Kamu berantem?" Agnia dibuat terkejut, untuk pertama kalinya ia melihat ada lebam di wajah Akbar sejak beberaoa tahun lalu.
Akbar menarik wajahnya. Menggeleng pelan.
"Pasti iya, berantem sama siapa?" tanya Agnia, suaranya terdengar khawatir.
Akbar menghela napas pelan. "Masalahnya gak gitu, Mbak."
"Terus?"
__ADS_1
Akbar ragu-ragu untuk bicara, menatap Agnia. "Aku.. aku di skors."
"Alasannya?"