Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
8.


__ADS_3

...Masa lalu menyedihkan itu,...


...Aku ingin melupakannya....


...Kuharap seperti mimpi buruk di siang hari....


...Yang kisahnya esok tak ku ingat lagi....


...Segala tentangmu yang menyakitkan itu,...


...Kuharap seperti debu....


...Yang terbang tertiup angin....


...Dan hilang tanpa terkenang....


...Tapi masalalu sejatinya bagian terbesar....


...Bukan mimpi buruk melainkan detik terpenting....


...Bukan debu melainkan oksigen yang dihirup setiap saat....


♡♡♡


Agnia duduk termenung di bibir ranjang, memunggungi Zain yang terlelap nyaman di ranjang empuk auntynya itu.


Helaan napas keluar dari mulut Agnia. sedang matanya menerawang jauh melewati jendela kamarnya yang menghadap langsung ke taman.


Bukan bunga yang ia lihat, melainkan duka yang enggan pergi dari depan mata. Sejak pulang dari pusat perbelanjaan, Agnia seperti kehilangan semangat. Bahkan Zain pun tak bisa mengembalikan senyum bahagia Agnia seperti pagi tadi.


Lamunan Agnia terganggu, ketika Asri datang ke kamarnya. Agnia menoleh sebentar.


"Masuk, Mbak!"


Asri masuk, beranjak mengecek Zain. "De, dipanggil ibu." ucapnya.


Agnia menoleh malas, mengangguk. Menunjukan senyum terpaksa.


***


"Ibu manggil aku?" tanya Agnia, bergerak duduk di kursi, ikut melingkari meja makan. Bergabung dengan Hafidz yang ternyata entah sejak kapan duduk manis menyantap semangkuk mi.


Khopipah menoleh dari dapur, bergegas mencuci tangan. Menutup terlebih dulu wajan berisi potongan daging ayam yang baru saja ia cicipi. Menu yang ia masak untuk malam ini adalah opor ayam.


"Iya." jawab Khopipah sambil beranjak menuju meja makan. "Ibu tadi ketemu sama Bu Widia. Dia nitip pesan, kamu disuruh datang ke rumahnya untuk ngobrolin perihal program yang baru-baru ini direncanain." jelas Khopipah.


Agnia mengangguk. "Bu Widia udah whatsapp aku kok, Bu."


"Program apa, De?" tanya Hafidz, penasaran.


"Program untuk orang tua murid, Mas. Ya isi-isinya tetep buat anak-anak juga. Jadi di samping para orang tua ini mengantar anak-anaknya sekolah, mereka diajarkan beberapa keahlian baru. Ada kelompok menjahit, merajut, masak juga. Dan antusias mereka luar biasa, yang mahir mau mengajarkan yang lain. Jadi kita kepikiran, kenapa kita tidak membuat ini menjadi jangkauan yang lebih besar. Toh aku pikir skill bisa diwariskan juga."


Hafidz mengangguk, setuju. "Kamu lebih jagolah masalah kaya gini. Mas do'ain semuanya dipermudah sama Allah."


"Aamiin."


Lenggang sejenak, Khopipah kembali ke dapur. Sementara Agnia sibuk memainkan jarinya tanpa sadar, begitupun Hafidz yang menyelesaikan suapan terakhirnya.


"De, tolong panggilin Asri!" ucap Hafidz, setelah terlebih dulu meneguk habis segelas air. "Suruh cepet, ya!"


"Pulang sekarang, Mas?" tanya Khopipah, dari arah dapur. Ia yang mendengar ucapan anak sulungnya begitu saja bertanya.


"Iya, Bu. Puspa udah telpon terus, gak akan tenang dia kalo Zain belum pulang ke rumah." Hafidz berkata jujur, bahkan sejak suapan pertama hingga suapan terakhirnya barusan, sudah lima panggilan masuk dari istrinya tercinta itu.


"Padahal biarin aja, Mas. Zain nginep disini. Kan ada Agnia yang jaga."


"Gak enak lah, Bu. Ngerepotin anak gadis." balas Hafidz, mengecek ponselnya. "Lain kali aja. kalo Puspa libur aku ajak nginep ke sini."


"Bener, ya? udah lama loh sejak kalian nginep."


"Iya bu, Insyaa Allah."


Hafidz yang sudah menyimpan ponselnya di saku, siap untuk pulang justru mengernyit. "De!" panggilnya pelan, Agnia masih tak beegerak dari kursinya sejak ia pinta untuk memanggil Asri.


"Hah?!" Agnia mengerjap, membulatkan matanya, bertanya ada apa.


"Mas tadi bilang, tolong panggilin Asri. Mas mau pulang sekarang." ulang Hafidz, kali ini dengan tatapan bingung.


Agnia gelagapan. "Oh! iya, maaf Mas. aku panggilin sekarang ya." ucapnya sambil bangkit menuju kamarnya. meninggalkan Hafidz yang menggeleng keheranan, ada apa gerangan?


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Akbar baru saja pulang, ketika Asri menggendong Zain keluar menuju mobil. Ia yang berniat memancing amarah Hafidz sejak melihat mobilnya terparkir di halaman menjadi urung setelah melihat Zain. Semua ide mengganggu kakak sulungnya seperti menguap begitu saja.

__ADS_1


"Zain!" panggilnya pelan, tak seperti saat beetengkar dengan Hafidz.


"Tidur, De." ucap Asri. Menunjukan wajah lelap Zain. "Kecapean abis main seharian."


"Yah!" seru Akbar kecewa. "Dari pagi main di sini, Mbak?" tanyanya pada Asri, pengasuh Zain yang sebenarnya masih kerabat dekat keluarga Fauzan.


Asri, wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu mengangguk. "Iya. Abis diajak jalan jalan sama auntynya."


Akbar mengangguk. Kali ini menatap gemas Zain. Ia teramat ingin mengusap pipi gembul milik Zain. Perlahan tangannya terulur. Tapi belum tangannya sampai ke pipi Zain, Hafidz muncul dan memukul tangan Akbar. Seakan tidak ikhlas pipi anaknya dijamah oleh Akbar.


"Dia tidur!"


Akbar meringis, menatap tajam Hafidz. "Kenapa? Gak boleh ngelus ponakan gue sendiri?"


"Bukan gitu, kalo dia bangun karena tangan penuh dosa lo gimana?"


Penuh dosa? Dengusan kasar keluar dari mulut Akbar setelah mendengar ucapan Hafidz. Sulit dipercaya kata itu keluar dari seorang Hafidz. "Gak ngaca, lo!" ujar Akbar tegas. "Sendirinya banyak dosa juga bisa-bisanya nyebut orang lain berdosa."


Demi melihat perdebatan dua saudara itu, Asri memilih pergi menuju mobil. Semua tahu bagaimana kelanjutan yang terjadi jika dua orang ini bersatu.


"Terserah!" kali ini Hafidz mengakhiri perdebatan kosong itu, segera teringat hal lain yang lebih penting. "Iya, coba lo tanya Agnia. Kayaknya ada yang ganggu pikiran dia sejak tadi."


Ucapan serius Hafidz gagal ditanggapi serius oleh Akbar. Seperti tak ada kata serius di kamus persaudaraan mereka berdua. "Nyuruh ini ceritanya?"


"Gue serius!" ucap Hafidz, melotot.


"Iya." Akbar balik melotot, dengan tangannya tetap berjaga-jaga jikalau Hafidz memukulnya atau menoyor kepalanya. "Lo serius, gue yang becanda."


Lenggang sejenak, Hafidz menunggu adiknya untuk berbicara lebih serius. Soal Agnia mana bisa dijadikan candaan?


"Paling gara-gara lo, Mas. Kekeuh sih jodohin dia. Orang dia masih trauma."


Hafidz menghela napas. "Gue nyuruh lo tanya Agnia. Bukan bikin statement gak beralasan kaya gini. Menurut lo dia akan setuju, kalo dia masih trauma?"


"Bawel, lo! Entar gue tanya. Puas?"


"Nanti kasih tau Mas!"


"Hem" Akbar menjawab malas.


***


Suara knop pintu ditekan tidak mengganggu lamunan Agnia. Ia yang biasanya sensitip dengan gangguan kecil, saat ini justru seperti kehilangan kepekaannya. Tak menyadari Akbar yang memunculkan kepalanya dari balik pintu.


Agnia mendongak, sadar ada pergerakan di kasur miliknya. Ya, Agnia kembali meluruskan pandangannya ke luar jendela. Tidak terkejut sama sekali.


"Kalo masuk itu baca salam!"


"Aku baca salam kok, Mbak aja yang gak denger." bela Akbar.


"Kalo kamu baca salam, mbak pasti denger. Jangan dikira mbak ngelamun."


Akbar mengendik, mengakui. Tentang ia yang membaca salam itu memang bohong.


"Ngapain kesini? Kalo bahas soal kajian, apalagi soal Asma mbak lagi gak mood."


Akbar sejenak diam, apa di dahinya ada tulisan ASMA? hingga Agnia saja berpikir ia akan membicarakan Asma jika saat menemuinya. Yasudahlah, Akbar mengendik. "Aku cuma mampir."


"Mampir?" Agnia kembali mendongak, kali ini menatap lebih teliti. "Kamu baru pulang dan langsung kesini?"


"Heem."


"Jorok! Lain kali baru pulang langsung mandi, genti baju. Baru boleh duduk di kasur."


Akbar menatap tak percaya, sudah tentu yang jadi masalah adalah ia yang duduk di kasur milik kakak perempuan satu-satunya ini. "Cewe emang dasarnya ribet!" protes Akbar, bangkit berpindah tempat. Kali ini duduk di bibir jendela.


Lenggang beberapa saat, Akbar bingung ingin memulai pertanyaannya dari mana. Menatap wajah tanpa senyum Agnia.


"Zain seharian main di sini, Mbak?"


"Hemm."


Akbar menghela napas setelah mendapat jawaban malas dari Agnia. "Ada masalah?" tanya Akbar.


"Banyak." jawab Agnia. jujur.


Jawaban yang membuat Akbar menggeleng takjub, itu bukan jawaban tepat dari pertanyaan yang Akbar tujukan. "Terserah!" kembali lenggang, Akbar hampir menyerah. "Gak mau cerita?"


"Kamu bisa ngasih solusi?" Agnia balik bertanya.


"Ya cerita kan gak selalu tentang solusi, Mbak." ucap Akbar, "Apa tentang ibu? biar aku obrolin deh, tapi jangan murung kaya gini. Semua orang jadi khawatir." papar Akbar, menghela napas. "Apalagi Mas Hafidz. kalo soal adik ceweknya aja, bawel." keluh Akbar.


"Lupain aja, De. bilang aja mbak gak papa. lagian bukan soal ibu." jawab Agnia. "Lupain aja!"

__ADS_1


"Oh! Jangan bilang Mbak ketemu anak temennya ibu, dan ternyata cowo itu jelek, menyeramkan. terus Mbak bingung gimana ngomong sama ibu, dan lebih bingung gimana cara menghapus wajah cowok itu dari ingatan Mbak." Akbar menaikan sebelah alisnya, seakan bertanya; benar, kan?


Agnia terkekeh mendengar celotehan Akbar yang dengan wajah seriusnya mengatakan omong kosong. "Gak gitu. ngawur kamu!"


"Terus apa?"


"Lebih menakutkan dari itu." ucap Agnia, bangkit. "Udah ah, sana pergi. Mbak punya banyak kerjaan."


***


Mobil hitam jenis MPV milik Hafidz sudah memasuki halaman luas rumah, seorang satpam membantu membukakan pagar. Zain yang sudah bangun sejak di perjalanan, sekarang digendong Asri keluar dari mobil.


"Asri, sebentar." ucap Hafidz, tepat sebelum Asri melangkah lebih jauh menuju rumah. Sedangkan Hafidz sendiri tak berniat masuk ke rumahnya, hendak pergi memantau toko pakaian miliknya.


"Iya, Mas?"


"Aku mau tanya, tadi pas main sama Zain. Apa ada yang terjadi sama Agnia? Dia berantem sama orang lain, atau.."


Asri berpikir sejenak. "Enggak deh, Mas." jawabnya kemudian, masih berpikir. "Tapi tadi Agnia sempet ijin ke toko buku waktu Zain main di playground, nah setelah balik dari sana dia jadi diem." jelas Asri.


Hafidz mengangguk paham, Pasti saat itulah terjadi sesuatu, pikirnya. Tapi apa? Setelah peristiwa tiga tahun silam, semua yang ganjil dari Agnia menjadi penting baginya. Saat itu ia gagal melindungi adik perempuannya itu, dan sekarang Hafidz tidak ingin kegagalan yang sama terjadi.


***


Seisi mesjid ramai, syahdu dengan bacaan ayat qur'an masing-masing anak. Terdengar indah meski sesekali diwarnai keributan murid yang masih kecil, Ada lima kelompok anak-anak yang duduk melingkar. Dua kelompok diantaranya berusia tujuh hingga sebelas tahun.


Agnia duduk mendampingi di salah satu kelompok itu, membimbing enam anak usia sekolah menengah pertama yang saat ini menghapal ayat-ayat pilihan.


Allah SWT berfirman:


وَإِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ  ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ


"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar."


(QS. Luqman 31: Ayat 13)


Mereka tiba di surat luqman ayat 13, dilanjutkan hingga ayat 19. Surat luar biasa mengisahkan tentang pesan penuh pelajaran dari seorang ayah bernama Luqman untuk anaknya.


Raga Agnia memang di mesjid, berkumpul dalam majlis ilmu. Tapi pikirannya justru sibuk mengulang penglihatan yang sama.


Bayangan Adi dan Alisya yang tersenyum bahagia dengan keluarga kecil mereka menghantui Agnia. Ditambah peristiwa tadi mengembalikan ingatan lama yang masih berhubungan dengan dua orang itu. Rasa sesak mengikuti ingatan-ingatan itu, membuat Agnia tidak bisa memikirkan hal lain.


Di sebelah mereka, kelompok anak gadis usia SMA sedang menghafal surat Al-Kahfi. Salah satu dari mereka, yang duduk paling dekat memungungi Agnia tiba-tiba diam, mendengar bacaan dari kelompok mengaji yang Agnia bimbing sejenak.


Beberapa dari mereka keliru bacaannya, tapi Agnia tidak bergeming. Gadis bermukena putih dengan bordir bunga itu langsung berbalik, menyentuh pundak Agnia. "Mbak!" serunya pelan, namun terdengar oleh Agnia. Membuat Agnia sedikit terhenyak.


"Iya? Kenapa Via?"


"Mbak kenapa?" tanya gadis yang disebut Via itu, bisa melihat kondisi Agnia yang sedang tidak baik.


"Gak papa. Kurang enak badan aja, Vi." jawab Agnia. "Kamu tolong gantiin mbak malam ini, ya. Kayaknya mbak gak bisa fokus."


Via mengangguk, siap-siap saja. "Boleh, mbak." jawabnya sambil bangkit dari duduk, siap berganti tempat dengan Agnia.


Akbar seperti malam sebelumnya, duduk menghadap tv. Malam ini, dengan setelan koko dan sarung. Tak berganti sejak pulang dari mesjid, supaya nanti tak perlu berganti lagi jika ishya berkumandang.


"Assalamualaikum.." Agnia datang, membaca salam.


Akbar memutar tubuhnya kebelakang, penasaran Agnia pulang lebih awal. "Waalaikumsalam."


Agnia semakin menambah rasa penasaran Akbar, kakak perempuannya itu mendekat dengan wajah tertekan. Duduk melempar bokongnya ke sopa.


"Kenapa, Mbak?" tanya Akbar, tak lepas menatap Agnia.


Agnia mengusap wajahnya gusar, menyembunyikan wajahnya dengan tangan yang masih terbungkus mukena.


"Cerita aja, Mbak. Jangan mengulang kesalahan yang sama dengan menyembunyikan perasaan."


Tak lama Agnia menurunkan tangannya, menampakan matanya yang merah tanda menangis. "Mbak bingung, Akbar." Helaan napas berat keluar dari mulut Agnia, sementara Akbar masih menunggu. "Rasanya sakit, melihat senyuman mereka sedangkan mbak berjuang untuk sembuh tiga tahun ini."


Agnia memberi jeda, dengan matanya tetap menerawang ke depan. "Mbak penasaran, apa mereka pernah sekali aja mikirin perasaan mbak. Apa mereka masih bisa tenang bahkan setelah menyakiti mbak dan membuat keluarga kita malu?"


"Mbak cape dengan rasa takut ini, tapi mbak gak bisa nyalahin mereka kalo ternyata mbak masih di titik sama, sedangkan mereka bahagia."


"Mbak gak bisa nyalahin kebahagiaan mereka." tandas Agnia. Gundah terdengar jelas dari nada bicaranya.


Akbar langsung mengerti arah pembicaraan itu. ia tak kalah bingung dari Agnia, tak tau tanggapan apa yang harus ia lontarkan.


"Itu udah berlalu, mbak. Kenapa mbak jadi ingat mereka lagi?"


Agnia menatap Akbar sekilas. "Tadi siang, mbak lihat mereka lagi setelah sekian lama." jawabnya, membuat Akbar spontan saja membulatkan mata.


"Mbak ketemu mereka?" tanya Akbar, dengan intonasi berbeda dari sebelumnya. Jika bagi Agnia mengingat dua orang itu menyakitkan, beda bagi Akbar yang justru akan tersulut emosi.

__ADS_1


"Sayangnya kita gak papasan." ujar Agnia, tersenyum getir, menengok ke arah Akbar. "Kalo papasan, mungkin kisahnya akan beda."


__ADS_2