Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
124


__ADS_3

Hari ini rasanya berbeda bagi Agnia, diatas semua hal yang makin membaik, fakta jika pernikahannya sudah di depan mata membuat perasaan berbeda hadir. Ada debar tersendiri yang hadir tiap mengingat kata pernikahan.


Namun itu bukan alasan utama rasa bahagia di hati Agnia, senyum tulus yang didapatnya dari wajah-wajah polos di depannya kini tak ternilai harganya. Teriakan dan gelak tawa tak tertahan mereka yang bagi beberapa orang menjengkelkan, justru menurut Agnia menular dan menimbulkan senyum di wajahnya.


Agnia memandangi satu persatu anak didiknya itu, yang kini diam berkutat dengan pensil gambarnya.


Saat-saat sulit mengajar dilalui dengan senyum, rasanya mengajar ada baiknya untuk melatih kontrol emosinya. Sebab semakin baik mengontrol emosi, semakin terlihat tingkat kedewasaan seseorang.


Agnia begitu mencintai dunia pendidikan ini, hingga di masa sulitnya mengajar jadi satu-satunya pelarian yang ia pilih. Sebab hanya bersentuhan dengan anak-anak yang tak mengusik lukanya.


Sebenarnya dua tahun kebelakang, mengisi kajian atau berbicara di depan umum masih terasa menyiksa bagi Agnia. Saat semua mata menatap ke arahnya, semua tatapan itu seakan menyengat. Bak sedang mengulitinya hidup-hidup, masa sulitnya seakan dibongkar habis hingga akar. Suara sumbang yang menghinanya datang dan masuk ke telinganya.


Apa salahnya jika gagal menikah? Pertanyaan itu selalu terulang ia lafalkan dalam hati, saat waktu menghimpitnya dengan kesedihan.


Agnia dihakimi saat itu, tak hanya datang dari para gadis yang menyainginya saja tapi juga para pria yang adalah teman Adi. Mereka ramai-ramai berucap lantang merendahkannya, menganggapnya jadi satu-satunya yang salah dalam gagalnya pernikahan itu.


Padahal faktanya? Agnia saja tak paham hingga hari ini, ia baru tau perselingkuhan itu dan besoknya pernikahannya batal begitu saja.


Namun penilaian orang memang selalu berdasar dengan pemikiran mereka, membela diri hanya membuat Agnia terlihat makin menyedihkan.


Mengingat masa itu, Agnia teringat ada seseorang yang lebih membuatnya trauma lebih dari siapapun. Seseorang yang dulu tak ragu menyamakannya dengan ******, seseorang itu jadi orang yang paling dalam menyakitinya, pun seseorang itu yang jadi kompor atas hinaan kawan-kawan Adi saat itu.


Ah! Agnia menghembuskan napas dalam, tak tau kenapa setelah memperhatikan Raina ia jadi ingat sosok itu. Padahal biasanya untuk membatinkan nama orang itu saja ia enggan, Agnia menggelengkan kepalanya menghempas lamunan menakutkan itu. Lantas melanjutkan langkahnya, menyusuri hingga barisan paling belakang. Menilik satu persatu hasil mewarnai murid-muridnya.


...


"Mbak, jadi kapan nikahnya?" Ripda bertanya tanpa menoleh lawan bicaranya, matanya lurus ke mangkuk selagi tangannya menyendok eskrim kekinian yang tengah disantapnya.


Dua orang yang baru pulang mengajar itu sepakat untuk pergi ke salah satu Cafe, Ripda sendiri yang memilih tempatnya. Sebab sejak lama mengincar tempat itu namun baru ada waktu dan baru ada teman.


Agnia menoleh malas ke arah Ripda, untuk kedua kalinya pertanyaan itu ia dengar dari orang yang sama. Dan seperti sebelumnya Agnia tak mau menjawab.


Ripda yang bagi Agnia aneh itu kini menatap penasaran menunggu jawaban, bukan apa-apa namun terkadang gadis itu terlihat dewasa, kadang terlihat bodoh dan kali ini justru resek di mata Agnia.


"Mbak.." panggil Ripda, dari tatapannya berharap sekali jika kaki ini mendapatkan jawaban.


Agnia tak bergeming, tangannya justru meraih segelas jus yang ia pesan. Niatnya ingin tenang menghabiskan waktu dengan setuju pergi ke Cafe ini justru diganggu dengan pertanyaan itu, mana bisa ia jujur-jujuran pada Ripda?


Bukannya menjawab, Agnia justru mengajukan pertanyaan sesaat menyesap minumannya.


"Kamu mau gak sama Akbar?"


"Hemh?" Ripda mengernyit.

__ADS_1


"Iya, kalian itu sama tau gak, jadi Mbak rasa kalian cocok. Sama-sama gak bisa diem."


Ripda menghela, manyun. Tujuan dari ucapan itu hanya menegaskan dan memberi isyarat supaya dirinya tak banyak bertanya, Ripda paham betul.


...


Seseorang yang tak disangka ternyata satu Cafe dengan Agnia, Gian ternyata disana juga. Baru selesai bertemu klien pentingnya. Saat akan menuju pintu keluar, mata tajam terlatih Gian sigap melihat keberadaan permata di genangan lumpur, anggap saja begitu.


"Emh.. kamu kembali ke kantor duluan, saya mau menyapa teman saya dulu." ucap Gian pada sekertarisnya tanpa mengalihkan pandangannya dari objek yang sudha ia kunci. Sekertaris Gian yang cantik itu mengikutkan pandangannya ke arah yang sama, untuk kemudian tersenyum dan mengangguk paham.


"Baik, Pak. Permisi.."


Bagi Gian, Agnia jadi yang paling bersinar di sana. Mudah sekali menemukan gadis itu meski di tempat yang ramai, Gian tersenyum sembari mendekat ke arah objeknya.


Agnia menoleh segera kala seseorang terlihat oleh ujung matanya, tengah melangkah mendekat. Senyum pria itu kini tersuguh, dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya pria itu menarik perhatian beberapa orang. Termasuk Ripda.


"Kak?!"


"Boleh gabung?"


Agnia menoleh Ripda sejenak, namun apa gunanya. Ripda tentu saja setuju tanpa ditanya, lihatlah tatapannya pada Gian saat ini. "Silahkan, Kak."


Gian menarik kursi yang hendak ia duduki, bersebelahan dengan Agnia dan menghadap Ripda. Melihat gadis yang tak ia kenal itu Gian lekas mengangguk sopan, teman Agnia mesti ia hormati juga.


"Kak Gian ada urusan pekerjaan disini?" tanya Agnia, menilik dari gaya busananya memang tidak meragukan dan tak perlu ditanya. Namun itu wujud basa-basi nya saja.


Agnia mengangguk pelan, kebetulan sekali memang. Setelah kemarin tak bertemu mereka dipertemukan kembali di tempat yang tak disangka. "Emh.. Kakak mau pesan sesuatu?"


"Boleh, kamu yang traktir?"


Agnia gelagapan ditanya begitu, bukan soal uang. Tapi siapakah dirinya hingga harus mentraktir seorang Gian? Itu.. terkesan memalukan baginya.


Gian terkekeh melihat reaksi Agnia. "Becanda.. lanjutin aja, aku gak lama kok."


Semakin canggung setiap bertemu, itulah kesan Agnia pada Gian. Pria maskulin ini semakin membuatnya segan setelah semakin lama mengakrabkan dirinya. Lihatlah senyum pria itu sekarang, tampak tanpa beban. Namun itu semakin membuat Agnia ingin menebalkan rasa hormat yang ia punya pada Gian. Agnia gugup, tangannya ia satukan di atas meja. Khawatir jika gelagapannya tadi diartikan buruk oleh Gian.


Gian masih tersenyum, sadar kecanggungan pada diri Agnia. Sedikit mengecewakan namun tak bisa ia pertanyakan. Mata Gian kini jatuh pada cincin di jari lentik Agnia, seketika dadanya berderu hebat menyadari itu. Senyumnya perlahan menipis. "Itu sangat cantik." gumamnya.


"Hemh?"


"Cincin itu.."


"Oh!" Agnia segera menarik tangannya, tanpa sadar perilakunya membuat dirinya seakan pamer. Setelah satu hal memalukan timbul hal memalukan lainnya.

__ADS_1


Gian tersenyum. "Selamat."


"Ini.."


Gian menghela pelan, menatap wajah Agnia yang sekarang malu dengan lekat. sekali lagi sayang sekali, tak ada kesedihan atau tekanan disana. Hanya ada guratan bahagia yang sekarang makin kentara saja. "kirimi aku undangan paling istimewa, kamu tau kakak gak akan datang ke sembarang acara." alihnya, dengan seringai yang sengaja ia tunjukkan.


Tak tau harus merespon apa, Agnia akhirnya hanya mengangguk pelan sembari tersenyum. Masih ada rasa bersalah di hatinya pada pria ini. Meski dengan tidak balas menyukai seseorang bukanlah kesalahan, tapi cara Gian menyukainya terlalu menyedihkan hingga membuat Agnia bersalah.


Bagaimana seseorang bisa menyukai tanpa sama sekali mendekati? Gian memperhatikannya dari jauh selama itu, entah menunggu takdir atau kebetulan yang memihak mereka.


Tapi nyatanya Gian harus terima, jika kebetulan memang memihaknya namun tidak dengan takdir. Ia hanya jadi bagian penting dalam takdir Agnia, namun tidak di bagian istimewa hatinya.


Untuk sesaat hening, Gian untuk terakhir kalinya melempar senyum tulus pada Agnia. Ya, ia tidak bisa lemah, Ia harus menunjukkan jika dirinya pun tak apa meski tak mendapatkan cintanya. Sebab sekali memutuskan menganggap Agnia menjadi adiknya maka Gian berjanji tak akan terpengaruh oleh sisa rasa cemburu di hatinya.


"Yasudah, lanjutkan kegiatan kalian. Kakak pergi." ucap Gian sembari bangkit, tak lupa menoleh dan tersenyum juga pada Ripda.


Agnia dibuat terkejut kala Gian mengusap puncak kepalanya pelan sesaat sebelum berlalu, ia spontan menoleh Ripda. itu..


Pria itu sudah pergi begitu saja, meninggalkan Agnia yang memperhatikan punggung pria itu hingga hilang di balik pintu. Ditambah Ripda yang kini mengernyit, ia bisa melihat beberapa hal janggal yang tak orang lain bisa lihat. Gadis yang selalu penuh tanya itu kini beralih menatap Agnia.


"Itu mantan Mbak Agni, ya?" selidiknya tiba-tiba, pertanyaan itu keluar dari mulutnya begitu saja


"Hemh?" Agnia menoleh dengan tatapan bak akan menelan Ripda hidup-hidup. Ia heran kenapa Ripda bisa berpikiran demikian, kenapa mulutnya itu gampang sekali mengucapkan hal-hal mengejutkan.


"Oh! bukan ya.." tentu saja Ripda paham arti tatapan Agnia, memilih jalan aman dengan melupakan pertanyaannya. Kini nyengir. "Bagus deh, soalnya kalo iya berarti kakak itu sad boy."


Agnia mengendikkan bahunya, entah sad boy atau apapun julukannya namun gelar itu tak pantas disematkan pada Gian. Sangat tidak sopan. Siapa ia dan Siapa Gian? ini hanya tentang waktu dan pria itu akan melupakannya bukan?


"Boleh aku mengutarakan pendapat gak?" Ripda kembali membuka mulutnya, kali ini mengangkat tangannya sejajar dengan puncak kepalanya. Mengantisipasi Agnia yang akhir-akhir ini sering sekali memolototinya, jangankan hitungan pekan dihari ini saja sudah tiga kali sepertinya ia ditatap begitu.


Kekehan justru terdengar dari mulut Agnia, heran dengan tingkah Ripda yang ada-ada saja. Bahkan jika dirinya menyeramkan pun, Ripda tak perlu bersikap seakan mereka ada dalam sebuah rapat. "Katakan.."


"Ini menurut aku ya, Mbak." Ripda kembali menekankan jika ia sedang berhati-hati pada Agnia. "Kakak yang tadi itu kayaknya suka sama Mbak.."


Ah! Agnia mengeluh dalam hati, itu sama sekali bukan kebohongan atau berita baru. Namun apa pentingnya? "Sok tau, kamu." itu yang jadi jawaban Agnia.


"Kan aku bilang itu menurut aku, dari tatapannya sama Mbak aku rasa begitu.." terang Ripda sedikit gemas dengan menekankan kalimatnya, sesaat menjeda. "Tapi Mbak..."


"Hemh?"


"Tadi Mbak nanya aku mau sama Akbar, kan? Sama dia aku gak mau, tapi kalo sama Kakak itu aku mau." ucap Ripda dengan senyum malu-malu.


Agnia kembali terkekeh, Ripda memang tak bisa ditebak. Sesaat bicara serius untuk detik selanjutnya mengatakan omong kosong. "Bagus, matamu tau mana yang lebih baik."

__ADS_1


"Iyalah.. aku kan.. eh!" Ripda mengurungkan ucapannya. "Aku gak maksud begitu, Mbak.." ralatnya cepat, meski ia ceplas-ceplos bukan berarti lupa dan seenaknya mengatai Akbar yang adalah adik dari perempuan di seberang duduknya itu.


...


__ADS_2