Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
105


__ADS_3

Fiki tak banyak mengganggu Akbar meski pengajian sudah berakhir, ia cukup takjub dengan berita yang ia dengar hingga tak berselera untuk menggoda Akbar. Lagi pun, dari wajah Akbar jelas sekali jika anak bungsu dari tiga bersaudara itu sama terkejutnya dengan semua orang.


Fiki dan Ardi dua orang terakhir yang masih disana, kecuali Hafidz beserta istri dan anaknya yang memang akan menginap.


Akbar meregangkan tubuh dengan santai di hadapan dua sahabatnya, pertanda ia yang teramat lelah seharian ini. Tak peduli tatapan mengejek Fiki yang tipis-tipis diarahkan kepadanya.


Ardi bisa menghela lega, dua orang itu lebih diam dari sebelumnya. Ia jadi tak perlu khawatir dengan posisinya, tak takut meski tak berdiri di antara Fiki dan Akbar.


"Balik sekarang?" tanya Akbar, yang sebenarnya menyiratkan suruhan. Ia sudah tak sabar untuk mencumbui bantal dan ranjangnya, berharap Fiki tak iseng dengan mengatakan berlawanan dengan harapannya.


"Iyalah.. kita cabut." ujar Fiki cepat. "Gara-gara lo ni. gue jadi gak kerja malem ini." keluh Fiki kemudian, menandakan hasrat ributnya tak hilang sepenuhnya.


"Apa susahnya sih, pulang dari sini langsung kerja.." balas Akbar santai, tak terpancing emosi.


Fiki mengendik. Iya juga, toh kerjanya memang dilakukan malam hari. Namun tetap saja, ia tak terima saran dari Akbar. Kini justru mengendikkan bahunya.


"Yaudah. Kita cabut sekarang, Mal." potong Fiki segera, sebelum Fiki maupun Akbar memulai perang mereka. "Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam."


Lega sekali, Akbar kini menghela napas panjang seperginya dua orang terakhir itu.


Kini rumahnya kembali normal, damai seperti semula. Hanya Hafidz dan keluarga kecilnya yang tetap tinggal, menginap dan baru besok akan pulang.


Satu hal yang terlintas di kepala Akbar saat ini, selagi kakinya berjalan ke arah kamar Agnia. Ada yang mau ia pastikan, seperti apakah reaksi Agnia tentang pengumuman itu?


Ceklek..


Pintu kamar itu terbuka perlahan, menampakkan gadis yang tengah terlelap dengan napasnya yang beraturan. Tak terganggu oleh kedatangan Akbar.


Nyenyak sekali tampaknya, Akbar memposisikan dirinya bersidekap di sisi ranjang, menatap wajah Agnia dengan lekat.


Memikirkan Agnia akan menikah, entah kenapa Akbar jadi merasa aneh. Bukan sebab rasa trauma itu, melainkan perasaan kosong yang tiba-tiba muncul. Tak terbayang, mereka yang tak pernah berjauhan nantinya harus berpisah.


Agnia tentu akan dibawa suaminya setelah menikah, bukan?


Tentu berbeda rumah ini tanpa Agnia, Akbar menghela gusar tanpa sadar mengingat kemungkinan itu.


Dulu rasanya tak seperti ini, saat kakaknya akan dinikahi Adi rasanya tak sehampa ini Akbar rasa. Sebab mereka tak terlalu sering bersama, hingga tak butuh penyesuaian tertentu nantinya. Namun sekarang?


Bagaimana ia terbiasa tanpa Agnia nantinya?


.


.


.


.


Agnia makan dengan santai, bak tak terjadi apapun di sekitarnya. Sedang Hafidz dan Akbar menatapnya dengan intens, bak mencari tau jawaban mereka masing-masing. Yang ditatap mana tau, sibuk menyuap sambil sesekali menganggu Zain untuk kemudian terkekeh pelan.


Di meja makan itu tak hanya Agnia, Hafidz dan Akbar. Puspa, Fauzan juga Khopipah ada dan duduk kursi mereka masing-masing.


Puspa menoleh dua orang kakak beradik yang mengeluarkan aura sama itu, menyadari pandangan dua orang itu pada saudari perempuan mereka satu-satunya.


Puspa melirik Khopipah sesaat, untuk kemudian berdehem dengan sengaja. Itu ia lakukan demi mencairkan suasana, hingga Hafidz dan Akbar akhirnya menghela pelan hampir bersamaan. Memutuskan menetralkan pandangan mereka.


Agnia yang sejak tadi tak mau bertanya ada apa meski sebenarnya curiga dengan tingkah kakak dan adiknya itu kini menoleh Puspa penuh pertanyaan.


Puspa tak kalah mencurigakan, ia ditatap begitu spontan membalas dengan senyum. Senyum yang sebenarnya menciptakan pertanyaan lebih besar di kepala Agnia.

__ADS_1


...


Keheranan Agnia terlupakan begitu saja, sekarang sudah teralihkan oleh projek tulisannya yang tak kunjung selesai itu.


Akbar baru saja turun dari kamarnya, kini bergabung dengan Agnia di depan televisi.


"Mbak ada rencana pergi, hari ini?" tanyanya, iseng saja bertanya demikian. sebab sudah biasa berbasa-basi kalimat yang sama.


Agnia menggeleng, matanya tak beralih dari layar laptop.


Akbar mengangguk, lalu diam. Matanya terkunci pada acara yang sedang diputar di televisi. Hal itu, diamnya Akbar malah menarik rasa penasaran Agnia.


"Apa?" tanya Akbar, saat sadar tatapan yang sulit diartikan dari Agnia.


"Ada yang mau kamu sampaikan?"


"Harusnya aku yang nanya gitu, Mbak.. aneh! kok tiba-tiba jadi aku yang ditanya.." protes Akbar.


"Enggak, gini.. kamu sama Mas Hafidz itu aneh, lho.. sejak pagi. Pasti ada yang kalian sembunyikan."


Akbar diam sesaat, menatap wajah Agnia. Dari yang ia lihat, sepertinya Agnia tidak sedang berpura-pura. Tampaknya memang tak tau soal pengumuman semalam, semula Akbar pikir Agnia sedang berlagak tak tahu..


"Mbak.."


"Apa? apa itu.."


"Menurut Mbak.. Akmal itu gimana?"


Agnia mengernyit, cukup lama diam dan berpikir. Untuk kemudian menoleh Akbar curiga. "Apa tentang ini? Kalian bersikap aneh karena itu? soal Akmal?"


"Jawab aja!"


"Okay, mbak jawab.. tapi kenapa tiba-tiba Akmal?"


Agnia tak begitu saja percaya dengan dalih Akbar, kepalanya masih berputar memikirkan kemungkinan apa yang berkaitan dengan Akmal.


"Mbak.."


"Apa?"


"Akmal di mata Mbak seperti apa?" ulang Akbar, bertanya lebih serius kali ini.


Agnia menghela, ia menyerah. Tak menemukan kecurigaan dari wajah Akbar. "Akmal? dia.. Baik, beda dari kamu."


"Serius, Mbak.." Akbar berucap gemas, tak setuju jika namanya dipakai sebagai perbandingan.


"Ini mbak juga lagi serius." balas Agnia tak mau kalah. "Dia memang beda dari kamu, soalnya.. mbak dulu pikirnya kalian sama persis."


"Cih!" Akbar mendelik, tak terima ucapan Agnua. "Memang apa salahnya kalo dia persis sama aku? aku gak seburuk itu, Mbak." sungut Akbar sebal.


Agnia tak mau kalah, tatapannya ikut menantang. "Karena kalo dia persis kamu, berarti kita gak akan cocok."


"Hemh?" Akbar spontan bereaksi demikian, sejenak matanya terkunci pada Agnia.


Agnia segera tau letak kesalahannya, kini hanya diam saat ditatap penuh senyum oleh Akbar. Sial, bocah itu punya topik baru untuk mengganggunya.


Akbar dengan cengirannya kini duduk lebih dekat pada Agnia, tak menyisakan jarak. "Apa itu berarti Mbak mengakui, kalo kalian itu cocok?" tanyanya seraya menaik turunkan alisnya.


"Mbak gak bilang gitu."


"Emh.." Akbar menyenggol Agnia, berusaha menggoda kakaknya hingga marah seperti biasa.

__ADS_1


Namun itu tak kan berhasil, Agnia tak tertarik memperpanjang persangkaan adiknya. Tatapan meledek Akbar ia balas santai.


"Tapi memang lebih baik begitu, selagi ada waktu lebih baik saling mencocokkan.. apalagi kalian sebentar lagi sama-sama."


Agnia mendengus sebal, mendelik tajam Akbar. "Dasar tukang omong kosong! jangan aneh-aneh.. atau nanti berita kayak gitu sampe ke tetangga."


"Jangan risau, Mbak.. toh berita pernikahan kalian memang udah nyebar, kok.." tutur Akbar santai, seraya mengendikkan bahunya acuh tak acuh.


"Hemh? Maksudnya?"


"Wah.. gini nih.. makanya jangan tidur mulu kerjanya! Kan jadi gak ngikutin pengajian semalem."


"Tunggu.. jangan bilang.."


Akbar mengangguk pelan, entah apa si pikiran Agnia. Namun jawabannya iya saja, sudah pasti Agnia memahaminya dengan cepat.


"Ayah mengumumkan kabar pernikahan kalian."


.


.


.


.


Akmal baru tiba di kampus kebanggaannya, kini tengah berjalan santai di koridor kampus seorang diri diantara orang-orang yang bergerombol. Wajahnya tampak segar, seperti telah mendapat tidur yang cukup atau.. sebab pengumuman semalam?


Fiki datang di belakang sambil berlari, spontan menambah kecepatan langkahnya ketika melihat sosok Akmal.


Akmal sedikit mengerjap kala menerima rangkulan Fiki, untung saja tidak dalam mode waspada atau Fiki bisa saja ia banting tadi.


Fiki nyengir, segera melepas rangkulannya dari Akmal. "Wah.. calon manten, beda emang auranya.. seger.. tidurnya nyenyak pasti.."


Mendengar ledekan Fiki, Akmal hanya tersenyum tipis. umum sekali seseorang digoda seperti ini, wajar saja sebagai calon pengantin, juga sebagai pengantin baru nantinya.


"Anyway.." Fiki tak melanjutkan mode isengnya, wajahnya berubah serius. Kakinya ia jalankan mundur di depan Akmal, mengimbangi langkah temannya itu. "Apa rahasianya?"


"Rahasia apa?"


"Bisa menaklukan hati Mbak Agni.."


Akmal terkekeh, lantas menggeleng. "Gak ada rahasia apapun, jangan berpikiran aneh!"


Fiki mencebik. "Denger, Mal.. meskipun kalian dipertemukan lewat perjodohan, tapi gue yakin hubungan kalian gak akan berhasil kalo gak dua-duanya buka hati."


"Dan gue tau bagaimana Mbak Agni dengan traumatisnya.. Itu, mendekati gak mungkin kalo lo nanya gue sebelumnya. Tapi sekarang.. wah.. U did it man.. Gue sampe kaget denger berita itu, awalnya gue bahkan berpikir kalo perjodohan kalian gak akan berhasil"


Akmal mengangguk, memang bisa dipahami pemikiran Fiki saat ini maupun saat itu.


"Jangan lo, gue juga gak nyangka.. ada beberapa kali Mbak Agnia menolak gue, pun gue yang mundur.. tapi.. akhirnya ada lagi peristiwa yang mendekatkan kita. gue rasa begitu.. Tapi soal pertanyaan lo, gue gak punya jawaban pasti."


"Ya.. mungkin lo definisi obat buat dia." tutur Fiki, kini sudah menghentikan langkahnya di depan Akmal. "Gue gak punya kakak perempuan, tapi.. melihat Mbak Agni di masa terpuruknya saat itu.. gue sumpah.." Fiki menjeda ucapannya. menatap Akmal lama. "Gue gak tega. Meskipun.. sebenarnya First impression gue sama Mbak Agni emang kurang baik.. Tapi setelah dia gagal menikah, pandangan gue sama dia berubah sembilan puluh derajat..."


Akmal mendengarkan, namun mulai tak fokus saat Fiki bilang kesan pertamanya pada Agnia kurang baik. Apa maksudnya?


"Tunggu, maksud ucapan lo?"


Fiki yang terjeda ucapannya balas mengernyitkan dahi, ia jadi bingung sebab Akmal memotong penjelasan nya begitu saja. "Yang mana?"


"Soal.. first impression."

__ADS_1


"Oh.. itu.. jangan salah paham! Gini.." sesaat Fiki terdiam, tampak menimbang sebelum benar-benar menjelaskan. "Ah! gue laper. Mal traktir gue dulu, setelah itu baru gue kasih tau.."


Akmal terkekeh, melihat tatapan penuh negosiasi Fiki. Entah sengaja atau tidak, tapi Fiki dalam hal ini sangat menyebalkan. "Dasar!"


__ADS_2