
Mata Agnia tanpa sadar kembali dan kembali lagi memperhatikan Raina sepanjang kelas dimulai. Seperti tak percaya, anak cantik itu adalah buah hati dari Adi dan Alisya. Senyuman ketir tersungging di wajahnya, begitu cepat waktu berlalu. Dan hanya dirinya yang masih terjebak.
"Mama.." Raina memekik pelan, berlari, meloncat ke pelukan Alisya. Senang sekali, hari pertamanya sekolah menyenangkan.
Alisya mengelus puncak kepala Raina, menciumnya beberapa kali. Bangga sekali, perasaan inilah yang pasti dirasakan semua orang tua. Ada rasa haru, anaknya ini sudah makin besar, menjajaki langkah pertama pertumbuhannya sebagai pelajar
"Seru sekolahnya?" tanya Alisya, bukan hal lain. Anak dibawah usia sekolah dasar, belum paham arti sesungguhnya belajar. Bagi mereka semua adalah permainan.
Raina mengangguk, tentu saja. Ia menikmati waktunya selama belajar hari ini. Rambut ekor kudanya mengibas. Manis sekali.
"Kalo gitu kita pulang?" tanya Alisya, kemudian dibalas anggukan sekali lagi oleh Raina. Menyambut uluran tangan ibunya.
Namun tak langsung pergi, Alisya masih berdiri di tempat yang sama. Matanya mencari seseorang, jika bisa ingin sesaat saja berbicara dengan Agnia.
Yang dicari muncul, Agnia tak lama keluar dari ruang kelas setelah anak-anak didiknya pergi terlebih dulu.
"Saya duluan, Bu Agni.." ucap salah seorang wali murid, tampak berbincang dengan Agnia sebelumnya. Alisya memperhatikan itu dari jauh.
Agnia mengangguk. "Silahkan.. Hati-hati Bunda.. Fajar.." ucap Agnia, tersenyum ramah. Senyuman yang hilang seketika kala matanya bersitatap dengan Alisya. Suasana canggung kembali terjadi antara mereka berdua meski dari jarak yang cukup jauh. Agnia menghela napas pelan untuk kemudian melanjutkan langkahnya, mengikis jarak dari Alisya.
Senyuman tipis ditunjukan Agnia, meski begitu, Alisya tetap tahu itu hanya senyuman yang dipaksakan. Namun demi Agnia nyangka berbesar hati saat bertemu dengannya, Alisya sudah sangat lega.
Alisya bungkam, meski sejak tadi ingin menyapa sahabatnya. Kala jarak mereka begitu dekat, keduanya malah berada dalam kebingungan. Berkutat dengan perasaan dan pemikiran mereka sendiri.
Alisya sudah akan membuka mulutnya, namun urung ketika seseorang berhasil mengalihkan mata Agnia. Alisya mengikuti arah pandang Agnia, seorang pria tersenyum dan melambaikan tangannya. Mendekat tanpa ragu.
Alisya kembali menatap Agnia, untung saja tak sempat melihat wajah panik Agnia tadi, Sekali lagi Agnia tersenyum tipis, menatap Alisya. Berusaha menunjukan ekspresi normal. "Saya duluan.." ucapnya, seraya menarik lengan Akmal kembali ke luar gerbang. Tunggu saja, beraninya bocah ini menampakan dirinya.
Alisya mematung. Saya? Sejauh itukah mereka saat ini? Canggung sekali rasanya. Dan siapa pria itu? Pertanyaan setelah pertanyaan terlintas di kepalanya.
.
.
.
.
Akmal tengah menunggu, duduk di atas motornya. Matanya celingukan, menunggu tak sabaran. Baru saat satu dua anak keluar, Akmal bangkit dan mendekat ke pintu gerbang. Melirik satpam di sana.
"Pak, boleh izin masuk?"
__ADS_1
Satpam itu menghampiri. "Mau jemput siapa, Mas?"
Akmal tersenyum lebar. "Calon istri, Pak."
Satpam itu mengangguk, keningnya berkerut. Siapa gerangan yang anak ini maksud. "Silahkan.."
.
.
.
Akmal tersenyum senang, hatinya berbunga. Agnia menarik lengannya. Ia ikut saja. Tak mengerti situasi sebenarnya yang dihadapi Agnia.
"Ayo.." singkat Agnia, melepaskan tangannya dari lengan Akmal. Menghela napas pelan.
Lho! Akmal sedikit heran, tidak biasanya. Tak ada tolakan dari Agnia saat ini.
Agnia menghela pelan, tampak lesu. Ingin secepatnya pergi dari atmosfer menyesakkan ini. "Ayo!" ulangnya lagi.
"Iya.." Akmal segera menyalakan motornya, tak bisa berkata-kata. Heran, apa yang sebenarnya terjadi.
***
Tak lama, yang ditunggu tiba. Adi tersenyum, muncul dari balik pintu, membaca salam.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.." Alisya segera meraih tangan suaminya. Berusaha tersenyum, meski hatinya merasa tidak tenang jika belum tuntas terjawab pertanyaannya.
"Kenapa?" tanya Adi, paham keresahan di wajah istrinya. Seraya mendudukan bokongnya di sopan samping istrinya.
Alisya melirik Raina sejenak, lalu kembali menatap Adi yang mengangkat alisnya, siap mendengarkan.
"Kamu.. Membual soal.. harusnya Raina sekolah di tempat lain.. Apa karena Agnia?"
Adi membuang napas gusar, perihal itu ternyata. Bagaimana lagi, ia mengangguk.
"Emangnya kenapa, Mas?"
Adi tak menjawab, jika sudah menyinggung Agnia semuanya pasti berakhir dengan pertengkaran.
__ADS_1
"Hanya karena hubungan kita dengan dia renggang, apa berarti kita gak boleh ketemu sama dia?"
Adi mengusap wajahnya, lelah sekali dirinya. Dan pertanyaan Alisya menempatkannya pada zona serba salah. Dijawab salah, tidak dijawab makin salah.
"Bukan kayak gitu.. Bukannya pertemuan kalian canggung?"
Alisya diam, memang. "Tapi semuanya pasti jadi lebih baik.."
"Lalu.. Kamu berpikir untuk memperbaiki hubungan kamu dengan Agnia?" tanya Adi, menatap Alisya yang gelisah tanpa alasan.
"Kenapa tidak?" ujarnya, terdengar ragu.
"Mas rasa gak perlu.."
Alisya menoleh, menatap lekat. "Kenapa?"
"Pasti berat untuk dia.. Kesalahan kita sudah besar, ada baiknya kita gak sering muncul di hadapan dia." lirih Adi, tulus.
"Tapi aku tetap sahabatnya, Mas.."
"Dan kamu gak ada di masa sulit dia, melainkan kamulah yang menjadi alasan kesulitan dia." ucap Adi lagi, berusaha mengingatkan istrinya untuk tahu diri.
Saat itu, Adi lah yang membatalkan pernikahan. Sebab merasa tak perlu menyakiti Agnia lebih jauh. Ia tahu diri, secara tulus mengharapkan kebahagiaan bagi semua. Meski akhirnya tetap menyakiti Agnia.
"Aku mau pergi ke kamar.." Adi bangkit, lelah sekali sebab pembahasan itu.
Alisya diam, tak ada yang salah dari ucapan Adi hanya saja..
"Bukan itu alasannya, Mas.."
Adi menoleh, langkahnya berhenti. Menatap sayu, senyum yang berusaha ia tampakan tadi hilang tak tersisa.
"Kamu masih sayang sama Agnia?"
"Ya Allah.." Adi mengeluh tertahan, mulai lagi istrinya ini. Padahal dirinya sudah sangat lelah, dan Alisya tak mau diam untuk membantunya sedikitpun. "Kamu tau jawabannya.. Aku cape, jangan bahas ini lagi."
Alisya menunduk, kecewa. Jika tahu ia akan selalu hidup dalam bayangan Agnia, harusnya ia tak memutuskan hidup bersama Adi dulu. Lelah sekali dirinya, selalu begini. Dan akankah selalu begini?
***
Akmal menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya. Helaan napas keluar dari mulutnya. Agnia aneh sekali hari ini, tak sinis seperti biasanya. Wajahnya murung sekali, ia jadi tak terpikir untuk menggoda perempuan itu. Melihat Agnia yang lebih diam dari biasanya membuat hatinya juga terasa sesak.
__ADS_1
Seirama, Agnia terbaring di ranjangnya. Berbantal lengan kirinya. Hatinya benar-benar tak bisa dimengerti, tak bisa lebih berbesar hati untuk bersikap seperti dulu pada Alisya.
Namun bagaimana pun ia paksakan, hatinya tak mampu untuk lebih tegar. Setiap dirinya berpikir untuk menyapa Alisya dengan hangat, saat itulah hatinya menjerit menolak lupa kesakitan nya. Seakan ada tembok besar yang menyesakkan dadanya tiap kali mengingat dua orang itu.