Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
110. Gian suka Agnia?


__ADS_3

Sekali lagi Gian menunjukkan sisi sultannya, pria itu tak ragu membawa Agnia ke salah satu restoran jepang bintang lima. Restoran dengan banyak peminat sebab salah satu yang menyediakan makanan khas negeri sakura itu bukan saja nikmat, namun juga halal.


Entah apa dipikiran Gian, namun saat ini Agnia serba salah sendiri. Apa Gian tak merasa berlebihan? meski tak luar biasa, namun dengan perlakuan pria itu bisa saja membuat semua salah paham.


Gian menoleh lagi saat sadar Agnia masih berdiri di tempat dan justru sibuk memikirkan entah apa. "Ayo.." ajak Gian, sembari tersenyum. "Aku yang traktir, jangan khawatir.." ucap Gian dengan cengiran lebar yang juga menarik senyum Agnia.


Agnia mendengus pelan, sok tau sekali Gian. Mana ada ia memikirkan hal itu.


"Becanda.." Gian segera meralat, tak mau Agnia salah paham dengan candaannya. "Ayo.. ini pertama kalinya aku mengajak seseorang untuk makan bersama, Ah! maksudnya.. seorang gadis. Dengan begini, pandangan semua orang akan lebih baik."


Pandangan orang akan lebih baik? Agnia tak paham bagian itu, namun tentang kali pertama mengajak seorang gadis makan bersama.. Benarkah? Padahal Gian tak kekurangan harta bahkan rupa jika mau berganti pasangan sebulan sekali, namun ini?


Apa ia seistimewa itu bagi Gian? Ah.. Agnia menggelengkan kepalanya cepat, menghilangkan pikiran mengganggu yang memalukan itu, percaya diri sekali dirinya!


Gian yang memperhatikan tingkah Agnia yang begitu spontan terkekeh, tangannya terulur mengusap kepala Agnia yang tertutup hijab. Membuat Agnia sedikit mengerjap, tak siap perlakuan begitu.


"Ayo!" ulang Gian kesekian kalinya, kini sembari melangkah terlebih dulu supaya diikuti Agnia.


Pria itu tak tau saja, jika perilakunya tadi meninggalkan perasaan berbeda bagi Agnia.


...


Agnia waspada sekali, sebab hatinya makin bertanya-tanya apakah Gian menyukainya? Perilaku seperti itu meski lazim sekali dilakukan pria, namun berbeda jika hanya ia satu-satunya yang membuat Gian bersikap semanis itu.


Meski dengan mengawasi gerak-gerik serta tatapan Gian, Agnia menikmati makanannya tanpa beban. Semua di hadapannya ia hargai dengan menyantap tanpa terkecuali, pun sebab semua menu di atas meja dipilihkan oleh Agnia sendiri.


Gian tak punya ide dengan Agnia yang seperti itu, perilakunya tampak lebih hati-hati tak seperti sebelumnya. Kentara sekali jika tengah berusaha menyamankan diri


Gian sesekali melirik Agnia, menyadari perilaku ganjil dari gadis di seberangnya itu. Namun dari pada hal itu, ia justru teringat hal lain yang lebih kritis.


"Agni.."


"Iya kak.." Agnia menghentikan gerak sumpitnya, ramen yang sedang dihajarnya ia biarkan sejenak. Memusatkan perhatiannya pada Gian, sebab pria itu kentara sekali ingin bertanya. tampak serius.


"Emh.. Kamu.. gak keberatan kalo harus bertemu Wildan?"


Alis Agnia refleks naik demi mendengar itu, tak berharap jika pertanyaan itulah yang ingin Gian tanyakan padanya sejak pagi tadi.

__ADS_1


Ingatan hari itu kembali datang, waktu sulit yang tak mau ia lalui bahkan meski hanya di mimpi. Agnia mencerna segala hal di pikirannya cepat, sebab ia harus melatih dirinya supaya tak terjebak dalam ketakutan, itulah bagaimana manusia berkembang dalam hidup.


"Itu hanya pertanyaan, bukan pemintaan." tegas Gian, tak mau Agnia serba salah sebab pertanyaan itu.


Agnia masih diam, kini memandangi Gian. Ia rasa Wildan sudah membaik hingga ingin menemuinya, Ya. jika Agnia membaik luka fisiknya, maka Wildan membaik luka batinnya. Agnia segera tersenyum tipis kala Gian menoleh lagi ke arahnya, tangannya kembali menggerakkan sumpit menuju mulutnya.


Hal seperti ini tak diinginkan siapapun, Gian tak mau mengingatkan Agnia pada sesuatu yang masih membuatnya tak nyaman bahkan takut. Sesaat Gian menelan makanan di mulutnya, untuk kemudian membuka mulutnya.


"Oiya.. Apa kakak gak salah denger? Waktu kamu bilang mengenali Sila." tanya Gian demi mengalihkan fokus Agnia.


"Enggak.." Agnia menggeleng cepat, tepat sekali. "Aku memang mengenal dia."


"Sila yang sama?"


Agnia mengernyit , kenapa harus sebegitunya cara Gian bertanya. Seakan tak terima kedatangan nama itu ditengah obrolannya.


"Sejak kapan?" Gian masih sibuk memastikan, rasa penasarannya belum berakhir.


"Belum lama ini, dihari yang sama saat aku kembali dari RS."


"Dia datang ke rumah.."


"Kalian kenal saat itu?"


"Iya."


Gian mengernyit. "Lalu..dia mengatakan apa?"


Melihat tatapan Gian seperti itu Agnia terkekeh pelan. "Kenapa? Kak Gian juga berpikir Sila datang untuk ngelabrak? Wah.." Agnia sebal sendiri. "Kenapa semua orang mikirnya kayak gitu?" Akbar juga beraksi demikian saat itu, entah apakah mereka peduli atau memang berpikir jika dirinya berada di tempat untuk dilabrak.


"Lalu?"


"Dia datang untuk.. " Agnia tampak berpikir, menggantung kalimatnya. Entah bagaimana ia harus mengatakannya, haruskah ia sebutkan jika tujuan gadis itu datang hanya untuk mengatakan soal siapa yang mencintai dan dicintai Gian. Sungguh, qkan sangat buruk jika Gian tau itu. Yang ia rasa akan lebih baik jika topik pemicaraannya dan Sila abu saja bagi Gian. "dia cuman.. Berkenalan.."


Melihat tatapan Agnia yang begitu tanpa bebannya, membuat Gian yakin jika tak ada hal bodoh yang dilakukan Sila. Meski jawaban Agnia terdengar ragu, namun wajah Agnia tak bisa berbohong. kontras saat ditanya soal Wildan tadi, terlihat sekali gugup berbeda dengan saat ini.


Gian menghela pelan, ternyata semua hanya buruk di kepalanya. ia terlalu berburuk sangka pada gadis itu.

__ADS_1


"Menurut aku dia baik." celetuk Agnia, membuat Gian kembaki menatap ke arahnya. "Dan sebagai orang terpandang, dia sama sekali tidak sombong. Itu yang istimewa, kalian cocok."


Cocok? Kalimat terakhir Agnia membuat Gian spontan menghentikan gerakan tangannya, menoleh Agnia sekilas untuk kemudian menggerakkan lagi tangannya untuk mengambil minum.


Gian sebal mendengar itu. Cocok apanya? Yang Gian mau dirinya, tidakkah Agnia peka tentang itu?


Jawabannya tidak, mana tau Agnia. Terbukti saat Agnia malah kembali mengajukan pertanyaan dari pada melihat perubahan ekspresi lawan bicaranya.


"Jadi katakan.. Apa yang kak Gian gak suka dari Sila?"


Gian masih sibuk mengunyah, sembari membalas tatapan penasaran Agnia yang saking penasarannya berhenti menyuap dan mengangkat kedua alisnya tanpa sadar.


Gian menghela, tadinya tak mau menjawab. Namun demi Agnia yang masih menatapnya begitu, Gian memutuskan menjawab datar.


"Tidak ada, sudah aku bilang.. Aku menyukai orang lain."


"Ah! Iya.. Aku baru ingat, yang lucu adalah.. Sila berpikir kalo aku orang yang disukai Kak Gian." papar Agnia cukup singkat, diiringi kekehan pelan di akhir kalimatnya.


Apa yang lucu hingga Agnia tersenyum begitu? Gadis itu tak paham sekali jika reaksinya yang seperti itu menyakiti hatinya. Gian memiliki wajah Agnia sejenak, untuk seperdetik kemudian melontarkan pertanyaan yang jadi keluhannya. "Menurut kamu itu lucu?" tanyanya datar.


Agnia mulai merasakan perbedaan dari nada bicara Gian, namun ia merasa harus tetap menjawab dengan jujur tak peduli reaksi Gian seperti apa nantinya.


"Ya.. aku bilang kita bahkan baru bertemu lagi setelah sekian lama. Mana mungkin rasa suka dimulai secepat itu." terang Agnia jujur.


Gian mengeluh dalam hati, kenapa ia harus bertanya soal Sila tadi? Sudah tau akan mencungkil fakta menyakitkan masih saja ia lontarkan.


Tadi pagi Gian berucap, supaya Agnia tak bertanya supaya moodnya tidak rusak. Namun ternyata justru dirinya sendiri yang memantik ketidaknyamanan dengan pertanyaannya yang dirinya ucapkan tanpa pikir panjang.


Agnia tak salah, hanya saja jawaban jujurnya begitu saja menampar dan mencubit kecil hatinya. Hingga perihnya terasa membara, persis ketika Agnia digosipkan akan menikah dulu.


"Tapi dia memang benar.." gumam Gian pelan tanpa menoleh, pelan sekali hampir tak terdengar. Sebagai balasan ungkapan jujur Agnia, meski tak berniat supaya didengar gadis itu.


"Hemh? Apa kak?"


Senyuman ditunjukkan Gian, menanggapi tatapan polos Agnia. Sambil tersenyum ia menggelengkan kepalanya pelan, lagi pula itu bukan sesuatu yang harus dan ingin Gian perdengarkan pada Agnia.


Untuk saat ini, biarkan itu jadi rahasia hatinya.

__ADS_1


__ADS_2