Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
169. Mau memahami?


__ADS_3

Selagi bisa aku mau bersabar


Selagi mampu aku bersedia memahami


Sebab pada saatnya akan ada lelah,


Dan saat itu mungkin kamu yang dipaksa untuk bersabar dan memahami.


...


"Apa ada perempuan yang semudah itu memutuskan hubungan, untuk berlari ke pelukan orang lain?" Agnia bertanya lirih. Semakin lama dipikirkan, sikap yang dipilih Akmal menyakiti egonya. Pria itu tetap tak paham, masih berniat menyembunyikan sesuatu darinya. Padahal sudah tau ia benci sekali sikap seperti itu. Akmal menyentuh wajahnya, entah wujud penyesalan atau sebagai penghibur hatinya. Agnia mundur selangkah, enggan dengan mudahnya memberi maaf pada suaminya. "Aku gak perlu orang lain, sama sekali tidak mengharapkan yang lebih baik. Kamu cukup, aku bersyukur punya kamu.. tapi.." Agnia menghela, mengalihkan pandangannya. "Kayaknya aku gak gitu buat kamu, kan? Makanya kamu ragu, bahkan gak mau cerita soal ini lebih awal."


...


Agnia tak bisa lebih lama berada di hadapan Akmal, namun tak bisa juga marah berlama-lama. Ia duduk dengan hati yang berusaha dilapangkan, berusaha mengingatkan dirinya jika yang dilakukan Akmal semata-mata untuk kebaikannya. Untuk melindungi hubungan mereka, meski sikap yang diambilnya mungkin kurang tepat.


Helaan keluar dari mulut Agnia, memejamkan matanya sejenak untuk kemudian berani menatap Akmal seperti biasanya.


Pria itu membawa dirinya yang penuh rasa bersalah, menghadap Agnia yang tak tau seberapa dalam kecewanya. Sebenarnya Akmal masih belum membawa apa yang hendak dibawanya dari rumah sang ayah. Namun mendengar nama Govin, ia kalang kabut sendiri. Motor yang baru saja tiba di halaman rumah sang ayah ia belokkan segera.


"Duduk! Aku siapin roti panggang." kata Agnia. "Cuman.. kayaknya mulai dingin, kalo gak suka biar aku bikin lagi."


Akbar tak bergeming, menghela pelan. Agnia sama sekali tak menatapnya penuh kasih sayang seperti biasa. Meski seramah mungkin, perasaannya tak bisa disembunyikan. Entah kecewa atau marah, yang jelas kesalahan itu ada pada dirinya. Akmal menarik satu kursi, duduk sedekat mungkin dengan Agnia.


"Apa?" Agnia bertanya lembut, berusaha menarik sudut bibirnya setulus mungkin.


"Mbak gak marah?"


Agnia menghela, menatap Akmal lama. "Maunya.. tapi sayangnya gak bisa."


Akmal menyungging senyum tipis, menarik dua tangan Agnia ke atas pahanya. Mengelus punggung tangan mulus itu penuh kasih sayang. "Maaf."


Mungkin ia tersinggung, mungkin ia kesal. Namun Agnia tak dipaksa untuk mengerti, melainkan kesadaran dirinya atas keadaan sang suami. Akmal tidak baik-baik saja, semua perilakunya sayang sekali bisa dipahami. Agnia menyentuh dua pipi Akmal, menatap dalam dua mata milik suaminya.


"Gak akan ada yang terjadi, selama kita bersama. Seperti aku percaya sama kamu, kamu harus percaya sama aku. Gak ada yang akan misahin kita? Bahkan maut." Agnia mengangguk, membalas tatapan minta penjelasan dari Akmal. "Kita akan sama-sama sampe nanti.. sampai kehidupan baru setelah kehidupan ini. Kan?"


Akmal tersenyum penuh haru, mengangguk. Banyak yang ia takuti, namun ia paling takut akan hilangnya kepercayaan Agnia. Namun Agnia kembali menenangkannya, membawa dirinya untuk membagi beban besar yang dipikulnya. Sesaat tatapan Agnia ia jadikan tempat mencari kesungguhan, hingga dirinya menjatuhkan kepalanya diantara leher dan dada Agnia. Rasanya menenangkan, Agnia benar-benar rumah. Menjadi tumpuan, juga sandaran hatinya. Perempuan ini berharga, ia tak mau kehilangan.


...


"Kejutan.. Mbak ke rumah aku." kata Ripda, tersenyum sembari menyuguhkan segelas air serta kudapan khas lebaran.


"Iya. Maaf, ya.. Mbak ganggu di hari libur kamu."


"Enggak kok." Ripda menjawab cepat. "Aku santai, gak kayak orang lain, mudik.. aku enggak. Aku orang Jakarta asli." ujarnya, diiringi kekehan. "Aku jadi seneng karena Mbak main kesini."


Agnia mengangguk, tersenyum kecil. Dalam hati bingung bagaimana memulai obrolan ini, rasanya terlalu berlebihan mencari tahu tentang masa lalu demi kepentingan rumah tangganya.

__ADS_1


Namun Ripda segera paham, tersenyum. "Oiya, Mbak. Ada apa? Apa soal Govin?"


Agnia langsung mengangguk, tak menafikan. "Iya, kalo kamu gak keberatan."


Ripda menghela, wajahnya berubah sebal.. "Bocah sableng itu.. dia beneran datang? Apa katanya?"


"Dia gak mengatakan apapun, tapi Akmal sangat terpengaruh sebab kedatangan itu. Yang Mbak bingung itu, kenapa? Kenapa Akmal setakut itu?"


"Emh.." Tipda menggaruk tengkuknya tak gatal, entah apa yang ia bingung kan. "Govin itu, sedikit emosional, Mbak... Katakan begitu. Aku ngerti kalo Akmal sampe takut. Cuman.. gak papa, aku yakin Govin gak akan macem-macem. Dia cuma menggertak."


Agnia mengangguk samar, meski tak sepenuhnya paham. Ripda terdengar menyembunyikan sesuatu, penjelasannya rancu sekali. "Kalo kamu bilang gitu, Mbak tenang."


"Hemh.. aku kenal Govin dengan baik, kita cukup dekat hingga selepas kecelakaan Ulya.. Dia terus uring-uringan, dan menganggap aku berpihak sama Akmal. Govin jadi jauhin aku." Ripda bercerita lebih nyaman, tampak tak menyembunyikan apapun. "Itu kisah perpisahan kita. Aku sampe kaget, Mbak. Kok mau ya dia nemuin aku lagi." Ripda terkekeh di akhir kalimatnya, tampak heran sungguhan. "Oiya Mbak.. kalian baik-baik aja?"


"Hemh? Kenapa nanya?"


"Mastiin. Aku pasti merasa bersalah kalo sampe kalian bertengkar."


Agnia tersenyum hangat. "Kenapa merasa bersalah? Ripda.. jangan terlalu mikirin orang lain, Mbak bisa lihat ketulusan, juga duka di mata kamu."


Ripda tak bergeming, untuk sesaat kemudian tertawa renyah. "Makasih.. itu manis, tapi jangan khawatir. Aku suka memperhatikan orang, itu.. hidupku, aku terbiasa begini."


"Kalo gitu, tandanya kamu butuh orang-orang yang bisa memperhatikan kamu."


Ripda mengernyit. "Gimana, Mbak?"


Agnia menghela. "Kamu mau gak jadi istri Akbar?"


...


"Kenapa?" Retno datang, menghampiri Akmal di kamar lamanya. Katanya mencari sesuatu, namun setelah lima belas menit anak tunggalnya itu tak kunjung keluar. Malah duduk di bibir ranjang dengan wajah kusut. Retno ikut duduk, mengusap punggung Akmal pelan. "Ada masalah dengan istrimu? Agnia marah?"


Akmal menggeleng cepat, memaksakan wajahnya untuk tersenyum. "Bukan, Bun. Anak Bunda kan baik, mana mungkin menantu Bunda bisa marah sama suaminya yang sebaik ini.."


Retno terkekeh, mengangguk. "Ya..tentu sjaa. Bunda tau itu. Lagi pula Agnia sangat baik, kalau pun kamu salah dia akan memahami kamu. Kan?"


Baik sekali, perkataan sang bunda memang benar. Akmal tak menafikan hal itu. "Hemh.. Bunda memilihkan aku calon yang sempurna." lirihnya.


"Lalu? Kenapa? Bunda bisa ngasih jalan keluar kalo kamu mau." tanya Retno lagi, setulus hati ingin membantu anaknya ini. Siapa yang lebih tau Akmal dari dirinya? Kesedihan dan kesulitan tak akan bisa pemuda itu sembunyikan dari sang bunda.


"Gak papa Bun. Cuman ada yang mengganggu hatiku sejak pagi, jadi mood ku hancur. Tapi bukan apa-apa.."


"Emh.. mau saran?"


Akmal mengernyit. "Apa? Bahkan Bunda gak tau masalah ku."


"Bunda yang ngandung dan lahirin kamu, bunda tau isi hatimu tanpa perlu kamu terangkan."

__ADS_1


Akmal mendengarkan, menatap Retno minta penjelasan.


"Bulan madu."


"Bulan madu?" Akmal mengernyit sesaat untuk kemudian tersenyum. "Di kondisi istriku yang hamil?"


"Memangnya kenapa, kalau kalian berdua. dan menjauhi kesibukan disini akan lebih baik untuk kamu juga perasan Agnia nantinya. Atau gak.."


"Apa?"


"Bunda denger, keluarga mertuamu akan ke Tasikmalaya? Kenapa gak ikut lagi? Menjauhi hiruk-pikuk kota sepertinya bagus untuk kalian. Bunda gak tau itu jadi jalan keluar atau tidak, tapi setidaknya bisa memperbaiki perasaan kamu."


Akmal tak bergeming, mengangguk. Bak mendapat pencerahan yang sempurna. Senyumnya tersungging, meski masih mencerna semuanya. "Makasih, Bun. Bunda terbaik.."


.


.


.


.


"Sayang.."


Agnia mengernyit, menoleh dengan tatapan heran. Tumben sekali. Sayang adalah panggilan yang jarang Akmal gunakan, pria itu lebih suka memanggilnya Mbak. Itu aneh sekali, menggelitiknya untuk tersenyum. Dan lihatlah sunggingan lebar di wajah suaminya saat ini, kontras sekali dengan ekspresi pria itu di pagi ini.


"Kenapa?" tanya Agnia disertai tawa kecil, lucu saja suaminya saat ini. Bangkit dari tidurnya, bersandar di kepala ranjang.


"Emh.. ngajar libur kan?"


"Iya.." Agnia mengangguk, diiringi senyum. Masih gemas dengan perubahan ekspresi Akmal selepas keluar dari kamar mandi.


"Giman kalo kita bulan madu?"


Agnia menaikkan sebelah alisnya, mengusap kepala sang suami yang masih basah. "Baby moon?"


Akmal mengangguk, tampak antusias dengan jawaban Agnia.


"Kemana?" Agnia meraih kedua pipi Akmal tanpa tujuan. "Aku males, ya kalo harus jauh-jauh.. atau panas-panasan.."


"Aku tau Mbak pasti bilang begitu. Karenanya.. gimana kalo kita ke Tasik, tinggal disana beberapa hari?"


"Emh.. tiba-tiba?"


"Ya."


"Gimana, ya.." tatapan antusias Akmal membuat Agnia ingin mengganggu suaminya itu, berpura-pura berpikir dengan wajah serius.

__ADS_1


"Ayo.." Akmal mendekatkan tubuhnya, memainkan rambut Agnia. Untuk kemudian meluncurkan kecupan beberapa kali ke dahi dan kedua pipi mungil Agnia, berusaha membujuk.


Agnia terkekeh, menjauhkan Akmal dari wajahnya. "Okay.. okay.. ayo kita pergi baby moon, Hem?"


__ADS_2