
Agnia tak melepas pelukannya, ingin lebih lama lagi menikmati waktu dengan pelukan seperti ini sebelum entah kapan bertemu lagi dengan suaminya. Pun ingin lebih lama lagi mencium aroma harum sang suami, aroma yang wajib ia cium setiap hendak tidur.
Akmal tak cepat-cepat melepas pelukannya meski matanya beberapa kali menengok jam tangannya, mengelus-elus kepala Agnia memberi nyaman. Paham masa manjanya sang istri.
Hingga setelah dirasa cukup, Akmal mengecup lama puncak kepala Agnia. mendorong kedua bahu istrinya supaya menghadap dan menatapnya langsung. "Aku harus berangkat sekarang, kalo Mbak kayak gini.. aku bisa-bisa nyampe besok sore ke Jakarta." ujarnya diiringi senyum teduh khasnya.
Agnia menghela, mengangguk. Ia juga tak mau suaminya berlama-lama dan tiba terlambat hingga tak punya waktu istirahat. "Hati-hati.. kabarin kalo udah nyampe."
"Iya.. Mbak juga have fun disini.. ingat, karena gak ada aku.. jangan terlalu lincah, jangan makan mi dan.. jangan pergi tanpa Yesa ataupun Akbar. Hem?" Akmal meraih dua tangan Agnia, mengelus punggung tangan mulus itu pelan. Lantas dibalas anggukan oleh Agnia.
Akmal melirik setiap sudut kamar itu, seakan ragu-ragu meninggalkan Agnia tanpa dirinya. Untuk tak berselang lama kembali menatap Agnia, mengeratkan genggamannya. "Bisa, kan tidur tanpa aku?"
Agnia mengendik. "Entah.. semoga.." jawabnya jujur, setelah kehamilannya memang tak bisa tidur jauh dari Akmal, tak tau setelah ini. "Makanya ijin dulu sama anak kamu. Soalnya dia yang gak mau kamu tinggal."
Akmal terkekeh. "Oiya? Jadi bukan mama nya yang gak mau ditinggal?"
"Mama nya? Kalo mama nya.. sedikit. Sedikit gak mau ditinggal."
"Sedikit? Baiklah.." Akmal mengulas senyum, tangannya terulur mengelus perut Agnia sembari mendekatkan wajahnya. "Papah ijin pulang dulu ya, sayang.. jangan rewel.. dan jangan repotin mama." ujarnya, lantas mengecup singkat perut itu. Menoleh kembali Agmia. "Udah?"
Agnia mengangguk, tampak senang melihat itu. Mendengar Akmal menyebut dirinya sebagai papa menggelitiknya, rasanya begitu cepat sebutan itu disandang Akmal. "Lucu.. calon papah muda.."
"Seneng?"
Tentu saja, Agnia kembali mengangguk. Menyambut belaian tangan Akmal di pipinya dengan kecupan singkat disana.
"Tapi.. baju itu." tatapan Akmal jatuh pada salah satu bajunya yang belum dimasukkan ke dalam tas, justru diletakan begitu saja di atas ranjang. "Kelewat, pasti.. Mbak ngelamun beresin bajunya."
"Bukan." kata Agnia cepat. "Itu memang sengaja aku simpen." terangnya, membuat Akmal spontan mengernyit. "Gimana kalo aku gak bisa tidur? Kamu mau, balik dari Jakarta ke sini buat ngelonin aku?"
Lucu sekali, itu membuat Akmal kembali terkekeh. Apa semua ibu hamil seperti ini? Tingkah nya ada-ada saja. "Iya.. iya.. baiklah.. aku paham, sayang."
...
Mobil itu berlalu, Agnia memandanginya sampai hilang di ujung jalan berkelok yang tampak makin kecil semakin jauh jaraknya. Ini aneh, ia tak tau perasaan macam apa yang mengganggunya sekarang. Padahal.. ayolah! Ini hanya untuk beberapa hari, dan mereka tidak berpisah tanpa komunikasi. Ada apa dengan dirinya?
__ADS_1
Namun.. ada lagi yang mematahkan bisikan baik itu. Tasik–Jakarta, jauh sekali jarak anatara mereka. Agnia tak tau begini rasanya berjauhan untuk pertama kalinya. Seseorang yang siang malam di sisinya, kini justru berjarak darinya.
Agnia mengelus perutnya, masih berharap Akmal kembali dan membawanya pergi. Awas saja! Setelah bertemu lagi nanti akan ia hajar pria itu. Bisa-bisanya meninggalkan istrinya yang sedang tak bisa dan tak mau ditinggalkan ini.
"Mbak.."
"Hem?" Agnia spontan menoleh, mengakhiri lamunannya. Yesa mendekat sembari menenteng sebungkus jajanan ringan di tangannya, sibuk mengunyah sembari menautkan alisnya. "Ayo masuk! Ngapain disini, nanti ada orang lewat.. malu. Disangkanya Mbak kenapa-napa nanti."
Agnia mengangguk, tak bergeming atas ucapan Yesa. Mengikut langkah gadis itu yang kini menggandengnya masuk. Helaan napas yang entah disengaja atau tidak keluar dari mulut Agnia, Yesa sampai menghentikan langkahnya dan menilik wajah kakak sepupunya itu dengan intens.
"Apa?" Agnia balas menatap bingung, memang tak sadar dengan helaannya barusan.
Berselang cukup lama, Yesa menilik wajah itu dengan teliti. Bisa melihat kehampaan di mata Agnia, juga tatapan tak bersemangat yang muncul begitu saja setelah perginya Akmal. Yesa menyeringai. "Bukan apa-apa.. aku cuma takjub.. melihat bagaimana Mbak yang semula gak suka sama Mas Akmal, berusaha memukul mundur dia dengan segala cara, tapi sekarang.. bahkan gak bisa jauh."
"Mbak bisa apa, rasanya memang berat. Khawatir tapi juga gak mau jauh.."
"Aku ngerti perasaan Mbak.." Yesa cepat memotong. "Tapi apa masalahnya? Berpisah tiga atau empat hari lagi dan kalian bisa bertukar kabar selama itu. Jadi.. semangat dong.." ujar Yesa penuh penekanan, menampakkan wajah penuh semangatnya.
Agnia kembali menghela, membuat Yesa ikut meleburkan wajah antusiasnya. "Entahlah.. ini pertama kalinya kita berpisah setelah hampir tiga bulan bersama, siang malam.. dan! Mbak gak berniat untuk terbiasa." ujar Agnia, final tak terbantahkan.
Satu hal yang tak Yesa tau, Agnia lebih khawatir dengan kondisi Akmal dibanding rindu dengan suaminya itu. Saat tidur seseorang tak bisa berbohong. Jika sedih ia akan menangis, jika takut ia merenggek, jika marah ia tak tenang. Tadi pagi Akmal merenggek, seakan menyuarakan pembelaan dirinya. Ternyata kisah itu belum berakhir begitu saja, tampak sembuh namun hancur di hatinya. Pria itu masih menyimpan trauma dan rasa bersalah di hatinya.
Belum lagi jika bertemu Govin, tak tau upaya apa yang akan dilakukan pemuda itu untuk membuat Akmal tak nyaman. Setelah omong kosong akan merebutnya, entah apa lagi setelah itu.
...
"Yesa.. Mbak mu mana?" Khopipah bergabung duduk di atas sofa, datang dari dapur setelah memasak menu makan siang untuk seisi rumah. Baru ingat untuk mengecek Agnia.
"Di kamar, Wa. Katanya mau istirahat."
"Kenapa? Gak sakit kan, dia?"
Yesa nyengir. "Sakit, Wa. Sakit karena ditinggal pulang."
Khopipah tersenyum, ada-ada saja memang Yesa. "Biar Uwa cek."
__ADS_1
Yesa tak tinggal diam, mengekor segera. Penasaran juga apa yang dilakukan Agnia sepanjang diam di kamar. Bahkan kakak sepupunya itulah tak mau ia ajak berjalan-jalan ke luar rumah, berkunjung ke tetangga atau diajak keluar untuk membeli bakso.
"Udah makan?" pertanyaan itu keluar dari mulut Agnia, terdengar jelas oleh dua orang yang baru tiba di depan pintu. Khopipah dan Yesa bertukar tatapan untuk sesaat, lantas pintu kamar itu dibuka perlahan.
Agnia tengah duduk berselonjor dengan bantal di pangkuannya juga ponsel di tangan. Jelas sedang berbincang dengan lawan bicaranya di sebrang telpon.
Khopipah sudah menemukan jawaban, kembali menutup pintu itu. Menghela dan menoleh Yesa. Cengiran kembali disungging gadis itu. "Memang begitu, Wa.. kalo dua orang nikah tanpa pacaran sebelumnya, kesanananya bucin.. kayak ABG puber, awal pacaran." bisiknya.
Agmia tak sadar sudah diawasi, memastikan suaminya aman dan selamat adalah satu-satunya yang ia pikirkan. "Kalo ngantuk berhenti dulu.." ingat Agnia, tak henti menemani lewat panggilan video. Perasaannya tak tentu sebelum melihat sang suami.
"Iya.." Akmal tersenyum simpul, menoleh ponselnya sesaat. Menggemaskan bagaimana Agnia menempel sekali dengannya. Sejak kehamilannya seperti tak mau jauh. Harus disisinya saat tidur, harus dipeluk untuk bisa tidur dengan nyenyak. Akmal jadi sedikit merasa bersalah mengingat hal itu, sebab meninggalkan Agnia disana dalam kondisi begini. Hanya saja ini terbaik. Ia harus menyelesaikan urusannya dengan Govin terlebih dulu selama Agnia di sana. "Mbak sendiri udah, makan siangnya?"
"Belum. Baru mau, setelah telpon kamu dulu."
"Yaudah, Mbak makan dulu. Aku tutup panggilannya."
"Iya.. tapi nanti kabarin lagi."
"Hemh.."
"Jangan lupa!"
"iya.."
"Jangan dulu ditutup, telponnya!"
"Apa lagi, istriku sayang?" Akmal menoleh, menunjukkan senyum.
"Nah.. gitu. ya udah, bye.. Assalamu'alaikum.."
"Waa.."
Tut..Tut..Tut..
Akmal tersenyum kecil, panggilan itu sudah diputus begitu saja. "Wa'alaikumsalam.. istriku."
__ADS_1