Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
32 Suka ialah suka, Cinta ialah cinta.


__ADS_3

Cinta bagai air..


Menyesuaikan bentuknya pada setiap wujud.


Demikian pula bagi diriku,


Cinta menyesuaikan bentuknya di hati,


Yang wujudnya adalah kamu.


***


Agnia kembali menagih hafalan surat Al-ikhlas anak-anak malam ini, duduk paling tengah diantara anak-anak yang lebih banyak becandanya dibanding mengaji itu. Berisik sekali. Diam sesaat setelah diingatkan, untuk beberapa detik kemudian ribut lagi.


Namun bukan masalah besar bagi Agnia, dirinya sudah terbiasa mengendalikan situasi seperti ini. Satu yang paling penting, sabar. Anak-anak bisa sangat nakal namun bisa sangat patuh jika bisa menguasai hati mereka.


"Semuanya.. Lihat sini... Gak boleh keras-keras ngobrolnya, ya? Mesjid itu bukan tempat ngobrol.."


Anak-anak itu mengangguk saja, seperti sebelum sebelumnya. Untuk kemudian lupa dan kembali bercanda.


Agnia menggeleng takjub, serba salah. Jika tidak seperti ini anak-anak pasti mengantuk, tapi dibiarkan terus bercanda di dalam mesjid tidak benar juga. Yang pasti adalah anak-anak memang harus selalu diingatkan, yang berperan sebagai orang tua tak boleh lelah untuk mengulang peringatan. Sekali mereka terbiasa, itu akan terbawa hingga mereka dewasa.


"Gina? Sudah hafal Al-ikhlas nya?" Tanya Agnia, pada salah satu santrinya.


Gadis seusia Zain dengan wajah bulat itu mengangguk, seraya bergeser mendekat ke arah gurunya dengan semangat. Siap menyetor hafalan yang tampak sudah di luar kepala baginya.


Suasana mesjid seperti biasa ramai, lantunan ayat menggema di satu sudut, serta sudut lainnya penuh hikmah dengan kalimat-kalimat indah oleh tafsir qur'an yang diajarkan Fauzan.


.


.


.


Malam yang tentram, Agnia sudah merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Sudah membaca do'a sebelum tidur dalam hati, pun sudah bersemayam tenang di bawah temaram sinar bulan yang masuk melalui jendela kamarnya.


Dering ponsel membelalakkan matanya tiba-tiba, Agnia yang sudah mengantuk mengulurkan tangannya ke atas nakas.


"Halo?" Agnia menjawab panggilan itu tanpa melihat siapa penelponnya, matanya yang sudah lengket terpejam lagi tanpa diminta.


"Halo.."


Deg.


Mata Agnia membelalak seketika. Ini...

__ADS_1


"Aku Akmal, Mbak.."


Agnia mengeluh tertahan, menjauhkan ponsel itu dari telinganya sejenak. Sepertinya bocah ini benar-benar tertarik padanya, sungguh menakutkan. Sekarang ia jadi bingung, apa yang hendak ia lakukan kini untuk menghentikan usaha bocah ingusan itu.


Pagi tadi ia dibonceng Akmal, Malam ini ia di telpon Akmal, Agnia khawatir bagaimana jika semakin hari tingkah Akmal semakin menjadi-jadi. Waktu bahkan seakan memberikan dia kesempatan. Bahkan bocah itu sudah mendapat dukungan keluarga Agnia. Ini semakin menyudutkan posisi Agnia.


"Mbak sudah tidur? Apa aku mengganggu?"


"Hhm.." hilang sudah sebenarnya rasa kantuk itu.


"Emh.. Kalo begitu tidur yang nyenyak, Mbak.. Tolong simpan nomorku."


Agnia ingin menjerit rasanya, geram sekali. Kenapa bocah ini terdengar sangat manis dan menyebalkan di waktu yang bersamaan. Ia jadi sedikit paham kenapa ibunya bisa langsung tersihir oleh bocah ingusan ini.


Agnia menghela napas perlahan, Empat tahun yang lalu, sebelum tragedi terjadi, Adi lah yang selalu menelponnya setiap malam untuk sekedar bercerita banyak hal mengenai apa yang mereka habiskan sepanjang hari ketika jauh satu sama lain. Hati Agnia tiba-tiba merasa tersayat, jika melamunkan lagi bagaimana Adi mungkin saja melakukan hal yang sama dengan Alisya di saat bersamaan.


***


Pagi tiba, malam berlalu. Seirama dengan kebahagiaan yang pada akhirnya tiba selepas kegelapan yang menyesakkan berlalu.


Agnia tak keluar dari kamarnya hingga waktu sarapan tiba. Perasaannya jadi kacau setelah Akmal menelponnya, namun bukan sebab itu. Hanya saja ingatan tentang Adi dan Alisya membuat moodnya anjlok seketika.


Siapa tahu, permainan belakang itu membuat Agnia bukan saja bersedih, namun merasa tidak dihargai sebagai perempuan. Manusia mana yang berhak dibohongi? meskipun ia perempuan yang lemah. Ia yang tak pernah melepas gelar juara sejak jaman sekolah pun merasa dianggap bodoh oleh dua orang itu. Sakit sekali bagaimana membayangkan Adi dan Alisya yang menjalin kasih dan berpikir bahwa dirinya tidak akan tahu itu selamanya.


Perasaan itu pasti dirasakan juga oleh semua orang yang pernah dikhianati, bahkan yang orang lain rasakan mungkin lebih menyakitkan. Demi mengingat itu lah Agnia bisa menahan diri untuk tak mengeluh dan berlarut-larut. Sebab yang terjadi pada orang lain mungkin saja lebih rumit.


Agnia mendongak, memberi tatapan tajam. Tidak salah lagi, pasti Akbar yang menyebarkan informasi pribadinya, entah apa lagi yang sudah adiknya ini sebarkan.


"Apa?"


"Kamu ngasih nomor mbak sama temen kamu?"


Akbar menaikan alisnya, itu ternyata. Apa boleh dikata, dirinya bahkan memberi kontak Agnia tanpa diminta. "Itu.."


Belum selesai ucapan Akbar, Agnia langsung mendelik sebal. Sudah ia dapat jawabannya.


"Bagus. Terus apa lagi yang kamu kasih tau sama dia?"


"Ayolah, Mbak.. Emangnya kenapa? Dia gak aneh-aneh kan? Dia satu-satunya orang yang lulus seleksi dari sekian temen-temenku yang suka sama Mbak.."


"Seleksi apa? Kamu sendiri yang bilang mau dukung mbak, apapun yang terjadi."


"Tapi.." Akbar menurunkan nada bicaranya setelah melihat pelototan Agnia. "Tapi Mbak kan gak pernah bilang kalo Mbak itu gak mau sama Akmal, sedangkan aku saat itu bilang akan bantu kalo Mbak kasih tau aku... "


"Terus? Kalo mbak gak pernah bilang gak mau sama orang itu, berarti mbak mau sama dia?" potong Agnia.

__ADS_1


"Iya" singkat Akbar pelan, membuat Agnia gemas. Sendok di tangannya seakan meronta ingin dipukulkan ke kepala Akbar.


Khopipah di dapur menghela napas pelan, menggeleng heran. Just how fast the night change. Malam itu ia dibuat menangis haru melihat percakapan manis kedua anaknya, pagi ini dirinya justru dibuat pusing mendengar perdebatan oleh dua orang yang sama itu.


***


Akmal dan Akbar menjadi semakin lengket, bahkan kebetulan saja tiba di kampus berbarengan. Seperti takdir yang lagi dan lagi membuat kebetulan.


Akmal menoleh, dengan senyum saat Akbar menghela napas.


"Ada masalah?" tanya Akmal.


"Banyak" singkat Akbar, dalam makna sesungguhnya namun juga asal. "Oh iya.. Lo nelpon Mbak Agni semalam?" Akbar kini balik bertanya.


"Iya. Kenapa emangnya?"


"Masih nanya, dia marah sama gue."


Marah? Akmal mengernyit, ia yang menjadi sebab? Tapi Akbar sendiri yang berbaik hati menyerahkan nomor Agnia kepadanya.


"Terus?"


"Ya gak gimana-gimana. Nanti juga biasa lagi." jawab Akbar menaikan bahunya pelan. Bukan masalah besar, seorang kakak perempuan selayaknya ibu. Dalam marahnya pun tetap menunjukan kasih sayang.


Akmal mengangguk, tampaknya memang bukan sesuatu yang serius. Hening sejenak. Kampus yang mulai ramai berisik dengan hilir mudik mahasiswa dan mahasiswi dengan tujuan masing-masing.


"Tapi.." Alis Akbar bertaut, ada satu pertanyaan. "kenapa lo tertarik sama kakak gue?" tanyanya dengan tatapan penasaran.


Sedang Akmal merasa pertanyaan itu konyol juga memalukan, apa harus ia jawab?


"Gue cuma penasaran, soalnya banyak cewek yang lebih cantik, lebih pintar.." ucapan Akbar menggantung, sejenak berpikir. "Apa karena dia kakak gue?" tanyanya dengan tatapan serius.


Akmal tersenyum, jawabannya tentu bukan.


"Gue serius!"


"Ini seperti pertanyaan kenapa dari sekian banyak cewek, lo sukanya sama Asma..?"


Benar juga. Akbar mengangguk pelan. "Kaya gitu ya.." demikian pula pertanyaan itu sangat tepat untuk setiap orang, juga tak terjawab oleh semua orang. Sebab sejatinya cinta tak bisa didefinisikan pun dijawab sistematis. Suka ialah suka, cinta ialah cinta.


Akmal menyungging senyum, pertanyaan itu berhasil membuat Akbar diam, entah apa yang dipikirkannya saat ini.


Jelas Akmal tak bisa menjawab, hanya hatinya yang tahu, kenapa ia begitu tertarik pada Agnia. Sebelumnya ia akui perasaan itu tidak pernah ada untuk siapapun.


Jika begini, hanya satu jawabannya. Ia harus berjuang. Takdir yang ia pilih jatuh pada Agnia, kini hanya waktu yang bisa menjawab apakah ikhtiarnya berhasil atau tidak. Yang pasti, semua pasti pernah merasakan cinta yang bisa membuat mereka lupa sulitnya berjuang sebab terbayang indahnya seseorang yang menanti di ujung sana.

__ADS_1


Dan itu, terjadi pada Akmal saat ini.


__ADS_2