
Ini benar-benar terjadi. Akmal, pria yang sebentar lagi menjelang dua puluh tiga tahun itu kini sudah mulai mengumpulkan berkas pernikahan yang sudah harus diserahkan ke KUA sebulan sebelum akad.
Segala jenis administrasi memang harus segera dipersiapkan, tak bisa menunggu hingga semua makin sibuk di waktu yang singkat. Segala jenis keburu-buruan yang bisa memantik peperangan harus dihindari sejak awal, sebab membuat acara pernikahan hingga sukses pun tak luput dari perbedaan pendapat. Jika tak pandai menyiasati maka semua bisa memburuk dan kacau.
"Akmal?" Retno datang dari balik pintu, masih bermukena baru selesai shalat duha.
Akmal yang tadi mengobrak-abrik lacinya mencari ijazah SMA, sudah kembali ke atas ranjang saat sang Bunda datang. Duduk bersila menghadap beberapa kertas yang tengah dirapihkan. Akmal hanya menoleh dan tersenyum.
Retno balas tersenyum melihat itu, lihatlah anaknya yang dulu duduk begitu menghadap mainan dan kini duduk begitu untuk mempersiapkan pernikahan. Wujud betapa cepatnya malam berganti.
Beberapa berkas juga dibawa Retno, ia kesana untuk mengantar itu. Maklum mereka hanya hidup bertiga dengan ayahnya Akmal yang super sibuk, alhasil Akmal sendiri yang harus mengatur semua keperluan pernikahannya.
Sesaat Retno memperhatikan anaknya dengan senyum tersungging, lantas mendekat dan duduk di bibir ranjang menghadap putra satu-satunya itu.
"Sini, biar Bunda bantu." ucap Retno, sembari tangannya mengambil alih berkas-berkas dari dekapan Akmal. Se-mandiri apapun seorang pria tak cukup untuk membuat mereka hidup tanpa wanita, begitu pula sebaliknya. Apa lagi jika wanita yang dimaksud itu adalah seorang Ibu, siapa yang bisa menampik kasih sayang serta ketulusannya?
Akmal tersenyum, kini gilirannya memperhatikan sang bunda. Senyum yang ada di wajah bundanya itu menjadi kekuatan terbesar bagi Akmal, hingga ia tak berat hati untuk memutuskan menikah.
Kesedihan terbesar Retno dulu sekali datang dari anak. Ketika Akmal menginjak usia lima tahun, Retno sempat kembali hamil. Bahagia sekali ia dan Sidiq saat itu, mimpi mereka memang dengan memiliki banyak anak.
Namun rencana terbaik selalu menanti, meski dengan air mata dan perih yang tak terperi. Retno harus siap kehilangan anak dalam kandungannya yang baru berusia lima bulan, detak sudah terasa disana. Rasa bahagia membuncah tak tertandingi, dan saat itulah kehampaan luar biasa ia rasa.
Janin yang bahkan sudah ia siapkan namanya, baik laki-laki maupun perempuan itu harus diangkat dari rahimnya. Tak cukup disana, rahimnya bahkan harus ia relakan demi kesehatannya.
Sejak saat itu, Allah mengambil nikmatnya untuk kembali menjadi seorang ibu. Allah menakdirkan dirinya untuk memberikan kasih sayang penuh hanya pada Akmal, putra semata wayangnya.
Sekarang sudah jelas bukan? kenapa Retno ngebet sekali menikahkan Akmal bahkan dari jauh-jauh hari sudah ingin seorang cucu. Kedengarannya terlalu memaksa namun itu benar-benar mimpinya sejak Akmal menginjak usia remaja, jika orang tua lain enggan menikahkan anak mereka di usia muda maka lain kata dengan Retno.
"Sudah hubungi Agnia?"
Akmal menggeleng, sedikit kaget ditanya begitu. lamunannya buyar begitu saja.
"Yasudah, segera hubungi. minta Akbar bawa berkas-berkas dari pihak perempuan."
"Emh.." Akmal mengangguk.
"Hari ini bunda mau ketemu calon mertua mu, mau bicarakan dekorasi dan lainnya. Jadi kamu gak perlu pikirkan yang lain, pikirkan saja cara untuk cepat diwisuda."
Akmal terkekeh, jelas sekali terdengar ketidak sabaran dari ucapan bundanya itu. Retno menghela, setelah sesaat menepuk bahu Akmal lantas keluar dari kamar itu.
Bagaimana rasanya? Akmal tak tau. Hanya saja ia jadi rindu hari-hari bertemu Agnia.
Tunggu saja, setelah pernikahan maka tak lagi ada batasan yang disebut jarak. Dua puluh empat jam dari tujuh hari tak satupun saat tak bersama. Itu indah bukan? Mungkin sama hal dengan perasaan semua orang saat pacaran. Bedanya kali ini direncanakan setelah menikah, pacaran setelah menikah.
.
.
__ADS_1
.
.
Suasana berbeda terasa setelah Yesa pulang, Agnia menghela panjang saat masuk kembali ke rumahnya. Padahal belum semenit sejak mobil itu keluar dari halaman rumah itu, namun semua langsung terasa sepenuhnya berbeda. Meski hanya dua malam, namun kehadiran Yesa dan nenek mereka jadi hiburan tersendiri di rumah luas yang dihuni empat orang ini.
Rasanya sangat berbeda antara punya adik perempuan dan adik laki-laki. Yesa tidak hanya menuntut diperhatikan tapi juga memperhatikan. Begitu sekiranya yang Agnia rasakan, jika berbicara tentang Hafidz juga Akbar hanya timbal balik searah yang ia rasa. Tak semua hal bisa dipahami pria tentang bagaimana cara pikir dan perasaan para wanita, itu yang menjadikan pengertian Akbar maupun Hafidz masih kurang dan kurang saja baginya.
Sesaat Agnia melirik seisi rumah yang beberapa jam bahkan beberapa saat kebelakang diisi tawa namun sekarang sudah kembali seperti semula, rumah luas yang hening dan hanya tersisa kekacauan. Memang berantakan sekali.
Saat itu ponselnya yang terletak di atas meja depan televisi berdering cukup nyaring, Agnia mengakhiri celingukan nya dan beranjak hendak meraih ponselnya. Namun ternyata Akbar lebih cepat, datang dari arah kamarnya menuruni tangga. Tangannya cepat mengambil ponsel yang berbunyi itu dan melihat siapa nama yang tertera disana.
Akbar tersenyum miring, ia tau betul nomor Akmal. Entah sengaja atau tidak no itu memang tak diberi nama oleh Agnia, membuat Akbar lantas mencebik. Pikirnya ia tak kan tau, demikian batin Akbar.
"Siapa?" tanya Agnia, menaikkan kedua alisnya sembari mendekat. Abai dengan senyum tengil Akbar yang memang tak aneh lagi.
"Calon suami Mbak."
Agnia mengernyit, tak percaya sebab ini kesekian kalinya Akbar menggodanya dengan menyebut calon suami dan sebagainya. Namun sesaat merebut ponsel itu ia akhirnya percaya, itu memang nomor Akmal.
"Cie.."
"Sst.." Agnia tak mau banyak menanggapi, segera ia sentuhkan jarinya ke bibir Akbar. Berharap adiknya itu diam sedang ia kini menjawab panggilan Akmal.
"Halo.."
Sesaat mendengarkan, Agnia terus mendorong Akbar supaya menjauh. Konsentrasinya terbagi hingga sama sekali tak mengucapkan basa-basi pada calon suaminya di sebrang sana. "Itu aja? Yaudah.."
Tak tau apa yang dibicarakan Akmal, Akbar tak mendengar apapun kecuali ocehan tak jelas sebab Agnia terus mendorongnya. Tau-tau selesai saja panggilan itu.
"Wa'alaikumsalam.."
Akbar memasang wajah heran, ia heran beneran. hanya seperti itu? apa seseorang yang akan menikah sekaku itu saat menelpon? Akbar menggeleng takjub, kakaknya ini menang berbeda. Heran saja bagaimana Akmal bisa terus tertarik hingga memutuskan ingin hidup bersama.
Sungguh menyebalkan, Agnia melotot sesaat panggilan itu ia putus. Tangannya terangkat memukul bokong sang adik, ditambah tatapan seperti itu dari Akbar membuat ia makin gemas.
"Apa sih, Mbak." Akbar menghadang tangan Agnia yang sudah akan kembali memukul bokong berharganya, tak mau kalah seram. "Orang cuma mau tau."
"Kamu itu suka banget kayaknya gangguin Mbak, udah ah.. sekarang kamu mau berangkat kan? Kalo gitu bawain berkas kasih sama Akmal."
"Berkas apa?" tanya Akbar dengan wajah sok polos, Agnia gemas melihatnya. Sudah mengangkat tangan siap untuk memukul lagi.
"Iya.. iya, berkas apapun itu bawa aja." potong Akbar, tak mau dipukul lagi. bisa-bisa Agnia ia laporkan sudah KDRT padanya. "Nanti aku bawa ke kampus."
"Kampus?" Agnia mendelik, yang benar saja. Apa kata orang jika melihat Akbar menyerahkan berkas pernikahan pada Akmal? adiknya itu memang kurang berpikir.
"Apa?" Akbar bertanya gemas, melihat delikan kakaknya yang tak tau kenapa. Seakan dirinya telah berbuat salah. "Sekarang apa lagi?"
__ADS_1
"Jangan bawa ke kampus, dong. Antar ke rumahnya."
"Wah.." Akbar mulai lagi, menggelengkan kepalanya dengan dramatis. "Mbak gak tau kayaknya.. nih aku kasih tau, aku sama Akmal itu memang berteman sejak lama. Tapi Akmal itu gak seakrab sekarang.. Mbak tau sendiri dia aja baru tau rumah kita."
"Terus?" Agnia tak paham tujuan pemaparan Akbar, ia hanya menyuruhnya ke rumah Akmal. itu saja.
"Aku gak tau rumahnya, Mbak." Akbar menaikkan volume bicaranya, greget sekali. Apa susahnya mengerti? ia tak bisa untuk tak tersungut-sungut.
Agnia menghela. "Itu gak masalah, Mbak tau alamatnya.. gampang tinggal.."
"Tinggu.. Mbak pernah kesana?" potong Akbar, itu berita luar biasa. Hubungan Akmal dan kakaknya yang semula ia pikir kaku itu, ternyata lebih maju dari yang ia kira.
.
.
.
Akbar malas sekali dengan permintaan alias suruhan Agnia, namun menurut saja sebab takut. Lagi pula ia belum pernah bertandang ke rumah Akmal, ia harus tau setidaknya sebelum Akmal resmi jadi kakak iparnya.
Seperti yang ia bayangkan, rumah Akmal memang menakjubkan. Tak heran ia jadi favorit gosip para mahasiswi, sosok Akmal yang paripurna memang bukan berita bohong.
"Ayo masuk!"
"Gak usah, gue langsung cabut." Akbar segera menolak dengan nada malas, sembari mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah dibungkus rapih. Menyodorkan itu pada Akmal. Ia tak bisa menyembunyikan keterpaksaannya untuk datang ke rumah Akmal.
Sesaat berkas itu beralih ke tangan Akmal, Akbar mengernyit. "Ngomong-ngomong.. gimana rasanya?"
"Hemh?"
"Gue masih takjub setiap kali inget kalo Lo bakal nikahin kakak gue." ungkap Akbar jujur.
Akmal tersenyum. "Sama, gue juga masih ngerasa takjub. Menikah di usia muda bukan mimpi gue."
"Apa itu berarti lo belum siap?"
"Bukan kayak gitu. Gue siap, itu kenapa gue putuskan untuk melamar." jawab Akmal, sesaat menjeda. "Tapi pada dasarnya gue sadar menyelami kehidupan yang sulit akan mudah dan menyenangkan jika dilakukan bersama-sama. Dan gue memutuskan ingin survive di kehidupan ini bersama kakak lo."
Akbar bukannya terpesona dengan ucapan tulus Akmal, ia justru melongo. Untuk sesaat mematung lantas memasang wajah jijik. Baginya kalimat semacam itu terdengar berlebihan. "Ah! harusnya gue gak perlu tanya begitu. Dasar lebay!" cibirnya.
Akmal mengangkat bahunya, tak tersinggung dibilang begitu. "Kenapa? Semua akan lebay pada waktunya, dan pada orang yang tepat."
"Kecuali gue!"
Akmal tertawa, lihatlah wajah Akbar yang super serius itu. "Lo akan ngerti, setelah menemukan seseorang yang seperti Mbak Agni buat gue.. hemh?"
Tunggu.. kalimat itu.. membuat Akbar serasa dejavu, ia pernah mendengar kalimat sama dari Gian. Persis sekali.
__ADS_1
Akbar menghela, baiklah.. sudah dua orang yang berkata begini maka ia harus setuju saja.