
Akbar masih enggan meninggalkan Agnia, sekali lagi melirik kakaknya yang sudah berbaring dengan mata terpejam. Berusaha untuk tidur.
"Ayo!" Akmal di sebelahnya menunggu tak sabaran, ingin cepat ke rumah makan. Sebab ada banyak hal yang bisa dilakukan selain diam saja di ruma sakit, selagi menemani Agnia.
Akbar menghela, menatap malas Akmal. Pasalnya, berani sekali temannya ini menyindirnya tadi. Padahal ia hanya akan menanyakan satu hal, yang mungkin juga ingin ditanyakan Akmal. Namun melirik wajah Akmal, Akbar yakin pria di sebelahnya ini sama sekali tidak penasaran.
Disanalah mereka duduk, menghadap meja dimana menu makan siang mereka tersaji. Dua porsi nasi padang menjadi menu yang mereka pilih, tak lupa teh manis sebagai pendampingnya.
Akmal segera lahap, sedang Akbar sibuk dengan pikirannya. Dahinya tak henti berkerut sejak mendudukkan bokongnya di salah satu kursi rumah makan itu, tak setertarik Akmal pada menu di hadapannya.
"Gak makan?" tanya Akmal, melirik Akbar sesaat.
Akbar membenarkan posisi duduknya, namun bukan untuk makan melainkan menahan dagu dengan kedua tangannya. Kini menatap Akmal intens.
"Lo gak penasaran?" tanyanya.
Akmal yang sibuk mengunyah mengangkat kedua bahunya pelan, untuk kemudian menjawab dengan tatapan tak tertarik. "Enggak. Penasaran apa emangnya?"
"Dih!" Akbar mencebik untuk reaksi yang sangat tidak ikhlas dari seorang Akmal, tangannya yang menopang dagu refleks beralih pada kening. Sesaat memejamkan mata, meredam kegemasannya pada temannya ini. "Orang mah nanya dulu penasaran sama apa, baru bilang enggak."
"Soalnya gue gak penasaran akan apapun." jawab Akmal santai, mengangkat bahunya.
"Meskipun soal Mbak Agni sama si Gian?"
Akmal spontan menghentikan gerakan tangannya, membalas tatapan Akbar. "Kak Gian? Kenapa dia?"
"Ah." Akbar mendesah pelan, mendelik sebal sebab reaksi Akmal yang lagi-lagi biasa saja. Punggungnya ia sandarkan kembali pada kursi, raut jengkelnya tampak.
Akmal masih menunggu, menatap Akbar sembari mengunyah santai.
"Lupain!" ketus Akbar, tak bernafsu berbincang dengan pria tak peka macam Akmal.
Akmal mendengus, kemudian terkekeh. "Lo sama Mbak Agni itu persis, ambekan." ucapnya, masih diselingi kekekehan. "Bedanya, karena dia cewek jadi lucu aja. Kalo lo.." Akmal menggeleng.
Akbar mendecak, tak terima disebut ambekan meski sebenarnya mengakui. Akmal bukan orang pertama yang mengatakan hal itu padanya.
Sesaat hening, Akmal mengabaikan decakan Akbar. Fokus pada makanannya.
"Gue rasa.. Mbak Agni terlalu deket sama Kak Gian." celetuk Akbar, seperti biasa tak kuat menghadapi keheningan. Kali ini berharap Akmal tertarik dengan ucapannya.
"Bukannya mereka pernah satu sekolah?" tanya Akmal. "Mungkin itu sebabnya.."
"Memang, tapi.. kenapa Mbak Agni tau banyak hal soal cowok itu? Lo sama sekali gak penasaran soal itu?"
Akmal lagi-lagi mengendikkan bahunya. "Itu gak spesial, bahkan gue juga tau tentang itu."
"Itu bukan rahasia lagi." jelas Akmal, menjawab tatapan Akbar yang menyiratkan tanya. "Kakak lo, demi empatinya yang entah untuk Wildan ataupun Gian.. Berusaha untuk melupakan kejadian ini. Jadi, dari pada berusaha buat gue cemburu, atau berusaha nyari tau tentang hubungan antara Mbak Agni sama Gian, lebih baik lo jaga kakak lo dengan baik."
"Jangan buat dia pusing, jengkel, apalagi cape."
Akbar mengernyit. "Kenapa gue rasa lo bicara seakan udah jadi kakak ipar gue." gumamnya pelan, membuat Akmal hanya tersenyum.
"Udah, jangan over thinking! Mari kita makan.. adik ipar..."
...
Agnia terbangun tiba-tiba, terkejut saat seseorang masuk ke ruang inapnya. Tubuhnya menegang waspada, menoleh ke arah pintu sembari mengeratkan selimutnya.
Puspa mengerjap, segera menghambur pada Agnia. Ia melihat spontanitas Agnia dibuat lebih kaget, tak tau jika kedatangannya yang sengaja diam-diam membuat Agnia kaget setengah mati.
"Kenapa?" tanya Puspa, meraih tangan adik iparnya segera.
Agnia yang tadinya meringkuk waspada, kini menghela lega. Sesaat merubah posisinya jadi duduk dengan telapak kaki menyentuh lantai, kantuknya hilang begitu saja.
"Ada apa?" tanya Puspa lagi, menatap khawatir. "Mimpi buruk?"
Agnia yang sudah tenang menggeleng pelan, tersenyum. "Bukan apa-apa, Mbak. Kaget."
Puspa menghela, dari wajahnya kentara sekali khawatir. "Mas mu kemana?" tanya Puspa datar, menandakan kesalnya pada sang suami. "Bukannya tadi dia disini?"
"Mas Hafidz pergi, Mbak. Tadi Akbar yang nemenin aku, cuman.. aku suruh pergi, soalnya berisik." jawab Agnia jujur, seraya tersenyum.
Puspa mengangguk. "Kamu yakin gak papa?" tanyanya lagi, masih khawatir dengan reaksi Agnia tadi.
Agnia mengangguk.
"Yasudah, Mbak telpon Akbar sekarang.." ujar Puspa seraya mengeluarkan ponselnya dari saku blazer putih khas dokter yang dikenakannya.
"Gak usah, Mbak." larang Agnia. "Biar aku yang panggil dia nanti, kayaknya lagi makan siang."
__ADS_1
"Baiklah.." Puspa urung sebab larangan itu, kembali menatap Agnia dengan khawatir. Entah apa kali ini, namun sepertinya penyekapan itu sedikit berdampak pada Agnia. Entah apa itu.
Sebuah panggilan masuk, Puspa langsung menjawab. Tepat sekali ponselnya sudah di tangan, langsung mengarahkan ke telinganya. Sesaat mendengarkan, hingga panggilan itu terputus.
"Mbak tinggal gak papa?"
Agnia mengangguk.
"Mbak panggilin suster, ya. Supaya nemenin sampe Akbar balik."
Agnia kembali mengangguk, tersenyum geli. "Iya, Mbak. Makasih.."
Puspa pergi setelah menggenggam tangan adik iparnya itu sesaat, lantas berlalu. Dan benar-benar mendatangkan seorang suster, beberapa menit kemudian.
Agnia menghela, mengusap wajahnya pelan. Lantas melirik jam di ponselnya, menunjukkan pukul setengah tiga sore ternyata. Agnia segera paham, itu yang menyebabkan dirinya bermimpi buruk. Dan entah ia berdo'a atau tidak sebelum tidur tadi.
Mimpi berasal dari bawah sadar, biasanya timbul oleh kerinduan atau ketakutan yang setan membuatnya sedemikian rupa menakutkan atau teramat melalaikan.
Sadar akan itu, Agnia kembali mengingat pertanyaan Akmal. Kini mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
"Apa aku baik-baik aja?" lirihnya.
.
.
.
.
Fauzan mengisi kajian di sore ini, ba'da ashar di salah satu mesjid kota. Mengisi kajian berjudul 'Islam rahmatallil 'alamain' yang para pendengarnya didominasi pria usia tanggung, sebab mesjid itu terletak di pusat kota hingga terjangkau dari penjuru manapun.
Hujan mengiringi kajian syahdu itu, hingga beberapa yang berniat menunggu hujan reda malah terlanjur mendengarkan. Siapa yang bisa menolak indahnya sebuah ajakan kebaikan?
Termasuk Adi yang baru saja selesai rapat, di salah satu restoran tak jauh dari mesjid itu. Hatinya terketuk, memutuskan memarkirkan mobilnya bersama mobil lainnya di halaman luas mesjid.
Hujan makin deras, Adi bergegas masuk ke pengajian yang terbuka untuk umum itu. Langsung bergabung ke barisan yang kosong.
"Berislam sejati, artinya menyerahkan segala sesuatu pada sang pencipta yakni Allah SWT. Tak ada negosiasi, mutlak menyerahkan segala urusan kita pada Allah."
Adi yang baru saja mendudukkan bokongnya, bersila di sebelah jemaah lainnya spontan mendongak saat suara tak asing hadir di telinganya.
Matanya terpaku untuk sesaat, itu.. seseorang yang hampir sekali menjadi ayah mertuanya. Fauzan, orang-orang mengenalinya sebagai Ustadz Fauzan.
Adi menghela, beralih menilik wajah husyu jema'ah di sebelahnya.
Miris, siapa peduli dengan fakta jika ia hampir menikahi anak ustadz yang sedang berdakwah itu. Siapa tahu jika dirinya pernah melukai hati anak dan keluarga besar Fauzan, seseorang yang diperhatikan dengan kagum oleh para jemaah.
Pada satu kondisi, Adi merasa jika yang terjadi terbaik meski tetap menyesali akan banyak hal. Toh, ia tak pantas jadi menantu seorang Fauzan. Ia bukan lulusan pesantren, tak pandai mengaji, juga bukan seorang yang pandai bicara di depan umum. Apa anak sekarang katakan? Insecure.
Namun itu tak berarti dirinya tak menyesal, kadang pikirannya berkelana tentang bagaimana jika dulu ia jadi menikahi Agnia.
"Kita lihat dalam surah Al-an'am ayat 162,
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam."
Adi menggelengkan kepalanya pelan, menghempaskan pikiran buruk di kepalanya. Toh semua telah berlalu, kenapa dirinya bersikap seakan masih pantas memikirkan masa lalunya itu.
"Ayat ini kita pakai ketika shalat, sebagai do'a iftitah.. ayat luar biasa ini ketika kita resapi sembari mengingat artinya, maka disitulah letak ketenangan. Letak getaran luar biasa, yang mungkin tidak kita rasakan diluar shalat."
Paparan demi paparan dari mulut Fauzan terdengar begitu tulus, setidaknya untuk mereka yang memang berniat datang untuk mengambil pelajaran dari pria yang sudah berkepala lima itu. Penyampaiannya ringan, khas dengan pembawaannya yang santai dan penuh senyum.
...
Pengajian itu berakhir sesaat sebelum Maghrib menjelang, semua bubar setelah shalat berjamaah diimami Fauzan.
Adi tak langsung pulang, masih celingukan mencuri kesempatan menyapa Fauzan seperti yang lainnya. Untung saja sudah mengirim pesan sebelumnya pada sang istri, tentang ia yang tak akan pulang cepat.
Fauzan sedang berbincang dengan pria yang menjadi moderator pengajian sore itu, bersama pria lainnya yang adalah panitia penyelenggara.
Mengucapkan terima kasih, juga pujian bagi ustadz kawakan itu.
"Sekali lagi terima kasih, Ustadz."
Fauzan tersenyum teduh khas-nya, lantas mengangguk sopan sebagai balasannya.
Adi masih memperhatikan dari teras mesjid, menunggu Fauzan keluar dari mesjid itu bersama satu orang yang adalah muridnya yang setia mendampingi.
"Om ustadz!" seru seseorang mendahului, Adi kembali urung menyapa dan diam di tempat.
__ADS_1
"Fiki.. Ardi.."
Ya, dua orang sahabat Akbar yang juga mengikuti pengajian sore itu. Tanpa Akbar, tentu saja. Segera melangkah besar demi menyapa ayah sahabatnya, sudah menunggu sejak keluar dari mesjid.
"Kalian ikut pengajian?"
Fiki mengangguk setelah mencium punggung tangan Fauzan, begitu juga Ardi.
"Bagus, sebaiknya lain kali ajak Akbar. Itu lebih baik."
"Insya Allah, Om. Tapi, itu sepertinya akan sulit." jawab Fiki, diiringi senyum lebar.
Fauzan mengangguk, ikut tersenyum. Lantas menoleh pada muridnya, yang juga seumuran anak-anak di depannya. Mengucapkan beberapa kata.
"Kamu, tunggu di mobil."
"Baik, Ustadz." pria itu tak lama beranjak setelah mengangguk perintah gurunya, hal pertama sebagai murid memang penting sekali penurutnya.
"Emh.. Om ustadz, gimana kabar Mbak Agni?" Fiki yang bertanya, ia memang selalu memanggil Fauzan demikian hingga semua sudah terbiasa mendengarnya.
"Alhamdulillah sudah lebih baik." jawab Fauzan, yang padahal sejak hari ini belum sempat menengok anak gadisnya. "Berkat kalian, karena itu terima kasih."
"Sama-sama Om, lagipula itu sudah jadi keharusan kami untuk menjaga aset.."
Ucapan Fiki menggantung, berhenti begitu saja saat Ardi menyikut pelan lengannya. Langsung mengulum bibirnya, lupa jika sedang bicara dengan Fauzan.
Ardi mengulas senyum canggung. "Maksudnya Fiki.. Om, sudah kewajiban kami menjaga para.. para muslimah. Maksudnya, saudara perempuan kita. Sesama muslim." paparnya, terdengar sangat canggung hingga Fiki juga menoleh demi melihat wajah sahabatnya.
Fauzan terkekeh melihat tingkah dua orang di hadapannya, tangannya terulur menyentuh pundak Fiki yang berdiri paling dekat.
"Saya paham. Bagaimanapun, terima kasih."
...
Adi masih berdiri di tempat, malah tak sengaja mendengarkan. Segera berpikir mengenai apa yang terjadi pada Agnia, dari obrolan tiga orang itu situasinya terdengar serius.
Saat ia sibuk menerka, Adi tak sadar jika Fauzan menatap ke arahnya. Hingga saat ia mengangkat tatapannya, mata mereka bertemu.
Mata Fauzan juga terpaku, tak menyangka bertemu Adi setelah sekian lama. Hal itu, tak luput dari perhatian Ardi dan Fiki. Keduanya spontan menoleh ke arah sama kemana pandangan Fauzan tertuju.
Terlanjur bersitatap, Adi memutuskan mendekat. Meraih tangan Fauzan untuk ia cium, mengabaikan tatapan bingung Fiki. Pasalnya merasa pernah melihat pria itu.
"Ustadz.." sapa Adi.
Raut Fauzan menunjukkan kecanggungan, hanya saja berusaha diredam. Berusaha mengabaikan cerita lama yang kini terlintas lagi di kepalanya.
"Adi.." Fauzan tersenyum tipis, setelah sekian lama nama itu kembali keluar dari mulutnya. Nama sesseorang yang hampir menikahi anak gadisnya, hampir menjadi menantunya. "Mengejutkan, kamu disini?"
Adi mengangguk, tersenyum sama canggungnya. "Apa kabar, Ustadz?"
"Alhamdulillah, baik." jawab Fauzan singkat, sama sekali tak terlintas untuk membalikan pertanyaan itu. Tersenyum, mencairkan suasana.
"Oiya Ustadz, Agnia baik-baik saja? Saya dengar.."
"Baik." potong Fauzan segera, tak menunggu hingga pertanyaan itu selesai. "Tapi, bukankah kamu sudah menikah? Saya rasa pertanyaan kamu ini bisa saja membuat istrimu salah paham."
"Saya.."
"Saya harus bergegas, lain kali kita bicara." Fauzan beralih menatap Fiki dan Ardi bergantian. "Ardi, Fiki, datang lah ke rumah bersama Akmal lain kali."
Fiki dan Ardi mengangguk bersamaan, sejenak melupakan rasa penasaran dengan pria sok akrab di sebelah mereka.
...
Ardi mentraktir Fiki malam ini, makan bakso di salah satu kedai. Fiki bersemangat menyantap makanan gratisnya, tak membuang waktu sebelum pergi ke tempat kerjanya.
"Ah!" Fiki memekik keras, membuat Ardi terkejut dan langsung menoleh sekitar sebelum mengarahkan tangannya ke kepala Fiki.
"Ente kenapa, lagi.."
Fiki mengabaikan tatapan tajam Ardi, juga tatapan beebrapa orang di sekitar mereka. "Sekarang gue tau.. cowok tadi.. cowok yang sok akrab tadi, yang gue bilang mirip tembok.. itu.. mantan calon suaminya Mbak Agni." papar Fiki belepotan, namun penuh semangat.
Ardi mengernyit sejenak, lantas mengangguk pelan. Lupa akan kejengkelannya pada tingkah Fiki tadi.
"Oh.. pantes aja Om Fauzan kayaknya gak nyaman."
"Yakan? Itu sebabnya.." Fiki menghela seraya menggeleng takjub. "Ini berita hot, Akbar harus tau."
Ardi menghela, tak mau menanggapi Fiki si raja gosip. Bisa-bisa ia termasuk jenis Fiki jika ikut menambahkan. Fiki mana peduli, tersenyum puas.
__ADS_1