Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
30. Alisya & Adi ; Pemantik masalah?


__ADS_3

Bagaimana seharusnya rasa percaya?


Bukankah dengan berada di sisimu,


Berarti aku hanya milikmu?


Bisakah ada rasa percaya tanpa diyakinkan?


Boleh jadi aku 'kan lelah meyakinkanmu,


Bahkan dirimu bosan mendengarkanku.


***


Seorang pria berperawakan tinggi dengan wajah tampan dan hidung bangirnya yang menawan saat ini turun dari mobilnya.


Adi, ayah dari satu anak itu berjalan cepat menuju rumahnya. Dengan langkah besarnya tak sabar menemui dua orang yang menunggu di dalam sana.


"Assalamu'alaikum.." Adi mendorong pintu rumahnya, membaca salam dengan riang.


"Wa'alaikumsalaam.." jawab perempuan berambut ikal yang sedang duduk di sopa ruang tengah rumah itu. Tersenyum dengan lesung pipit yang juga menawan. Itulah Alisya, perempuan yang sudah memberikan seorang gadis cantik untuk Adi.


"Gimana, Mas?" tanyanya, menatap perhatian sang suami yang beranjak duduk di sebelahnya.


"Si cantik, mana?" tanya Adi.


"Tidur.." singkat Alisya. "Pertanyaan aku belum dijawab.."


Adi tersenyum, merangkul istrinya dengan hangat. Sungguh romantis.


"Beres. Surat menyurat kepindahan kita, semuanya selesai."


Alisya membenarkan punggungnya menjadi duduk tegak. Matanya beralih pada kedua tangan suaminya yang kosong.


"Terus mana surat-suratnya?"


"Di mobil." jawab Adi, langsung ditanggapi gelengan heran sang istri.


"Kebiasaan!" protes Alisya, lantas bangkit. "Biar aku ambil, sebentar."


Adi mengangguk, yang sebenarnya sia-sia sebab Alisya sudah pergi tanpa melihat anggukannya. Adi tersenyum tipis, melihat punggung istrinya yang mulai jauh.

__ADS_1


Helaan napas lolos dari mulut Adi begitu saja, punggungnya ia sandarkan dengan nyaman pada sopa miliknya. Sambil matanya tertuju pada langit-langit rumah barunya itu.


Bayangan Agnia tadi kembali melintas di benaknya, ada rasa bersalah yang tak pernah bisa ia katakan kala melihat gadis itu untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Rasa bersalah luar biasa yang membuat mulutnya bungkam untuk meminta maaf, juga rasa bersalah yang membuatnya tak sanggup menatap bola mata hitam milik Agnia sejak tiga tahun lalu. Ia merasa sangat malu bahkan untuk mengatakan perpisahan saat itu.


Tapi melihat senyum gadis itu hari ini, dirinya menjadi tenang. Melihat Agnia baik-baik saja, membuat dirinya lega. Tanpa tahu seberapa berat tiga tahun yang Agnia lewatkan hingga saat ini.


Sejak peristiwa tiga tahun lalu semua tahu Agnia tidak baik-baik saja, Adi dan Alisya pun tahu itu. Maka demi melihat bagaimana senyuman terlukis di wajah Agnia hari ini, membuat Adi yakin, masa sulit itu sudah berlalu.


Siapa yang ingin gagal menikah? Apalagi seorang perempuan mempertaruhkan segalanya saat mencintai.


"Agni.. maafin mas. Yang terjadi pasti menyakiti kamu.. mas gak punya pembelaan apapun, semua kebencian kamu, mas terima.."


Adi mengusap wajahnya kasar, meluruskan posisi duduknya. Mengingat ucapan terakhir yang ia katakan pada Agnia lewat sambungan telpon. Ia sudah sangat malu, hingga tak kuasa menatap langsung wajah Agnia untuk meminta maaf.


Tak mendapatkan jawaban, Adi meneruskan ucapannya. "Tapi jangan berpikir kalo mas gak sayang sama kamu, demi Allah.. selamanya kamu akan punya tempat tersendiri di hati mas.."


"Ini kesalahan mas, biar mas yang bawa rasa bersalah ini seumur hidup." suara Adi mulai bergetar saat itu, tak terhingga rasa malu juga rasa bersalah yang ia dapat. Agnia tak sekalipun membalas ucapannya.


"Atas apa yang terjadi, biar mas yang katakan sendiri pada orang tuamu. Biar mereka putuskan bagaimana hubungan ini nantinya.."


"Jangan.." terdengar jawaban lirih saat itu, dengan suara bergetar nya Agnia menjawab tanpa ragu. "Pergi saja.. Hubungan yang dibangun dengan kebohongan ini.. tidak perlu menyakiti lebih banyak orang. Pergi saja.. itu mungkin akan lebih baik..."


Adi menghela napas, ucapan Agnia saat itu terkesan menggantung. Hari ini ia jadi terpikirkan, lebih baik bagi siapa yang Agnia maksud?


"Oh, iya Mas.. Mau teh?" tawar Alisya, langsung berjalan menuju dapur setelah beberapa saat dari kamarnya.


"Boleh.." Adi bangkit, mengekor istrinya menuju dapur. duduk di meja makan kecil yang ada di sana.


"Kayaknya kamu tegang banget, ada apa sih?" tanya Alisya, sambil langkahnya tak berhenti mencari tempat di mana teh dan gula berada. Ia masih banyak lupa rupanya, dengan tata letak rumah yang baru satu minggu ini mereka tempati.


"Gak papa." jawab Adi dengan diiringi helaan napas. Tentu itu justru penguatan jika memang terjadi sesuatu.


Alisya mengangguk, Adi tidak akan suka jika dipaksa. Memilih diam, toh jika merasa perlu suaminya itu akan bicara sendiri.


Hening sejenak, Adi sedang berpikir apa sebaiknya ia katakan?


"Sebenernya.. Mas tadi melihat Agnia.." ucap Adi kemudian, tak bisa menyembunyikan bahkan hal kecil dari istrinya itu.


Deg..


Demi mendengar itu, tanpa sadar tangan Alisya terhenti sejenak saat mengaduk teh manis yang ia buat untuk suaminya. Ternyata benar-benar terjadi, perlahan mereka kembali bertemu Agnia.

__ADS_1


Adi melihat punggung istrinya, berusaha melihat reaksi Alisya saat itu.


"Tapi dia terlihat baik-baik saja." tambah Adi.


Alisya berbalik, tersenyum membawakan teh ke hadapan suaminya.


"I know.. Beberapa hari lalu, aku juga ketemu sama dia." ucap Alisya, kembali menunjukan senyuman yang tak bisa diartikan di mata Adi. "Dan dia terlihat sangat kacau.. begitu melihat aku." tambahnya lagi, seraya matanya menunduk. Tak bisa dipungkiri jika dirinya pun memiliki rasa bersalah pada sahabat masa lalunya itu, namun perasaan takut kehilangan Adi lebih besar. Hingga dirinya selalu berusaha tak mengungkit cerita lama itu. Berusaha sekuat tenaga takut-takut jika kenangan itu muncul dan merusak rumah tangganya yang seperti tak kekurangan apapun saat ini.


Adi terdiam sesaat. "Kapan? Kamu gak bilang sama aku?"


Rasa penasaran Adi, berhasil memantik kecemburuan Alisya. "Buat apa, Mas? Apa dia masih penting buat kita?"


Adi yang menyadari itu, menatap istrinya lekat. Tak mengerti kenapa hanya dengan menyebut nama Agnia selalu membuat Alisya cemburu. Padahal yang di sisinya saat ini adalah Alisya. Agnia hanya bagian dari kisah mereka. "Kamu yang lebih tahu apakah dia masih penting buat kamu atau tidak." ucap Adi, berusaha mengingatkan jika Agnia adalah sahabatnya sendiri. hubungan dengannya memang berakhir di hari Agnia menyuruhnya pergi, tapi hubungan antara Agnia dan Alisya harusnya tetap menyisakan kenangan meski sudah tak terjalin sejak lama.


"Enggak, maksud aku... Apa dia harus selalu ada di hubungan kita? Dia penting buat aku, tapi gak berarti dia harus ada di hati kamu.."


Adi mengacak rambutnya frustasi, harus berapa kali ia katakan jika Agnia sudah menjadi bagian masa lalunya. Dirinya dibuat lelah setiap Alisya menuntut hal serupa di setiap perdebatan.


"Aku cape jelasin sama kamu.. Agni.." Adi menggantung ucapannya, merasa akan rumit jika nama itu ia sebut. "Perempuan itu, bagian masa lalu aku. Tapi bagai manapun ,dia.. sahabat kamu."


"Tapi aku cuma minta..."


"Udah, ya.. gak usah diperpanjang.. Gak ada gunanya aku jelasin ribuan kali pun, kalo kamu gak mau percaya. Aku akan selalu salah."


Alisya diam, geram sebenarnya bagaimana suaminya ini tak mengerti apa yang ia maksud.


Namun Adi hanya tak mengerti, harus bagaimana ia katakan jika yang ia sayangi hanya dirinya. Kecemburuan itu benar-benar membutakan mata istrinya. Ia selalu dibuat emosi, kecemburuan Alisya membuat kesetiaan dan rasa cintanya seakan tak berarti di mata istrinya itu.


Kedua wajah masam itu, dengan perdebatan yang berakhir saling diam itu tak tahu jika api-api yang menyala antara keduanya tengah disaksikan oleh putri semata wayang mereka secara langsung.


***


Agnia yang berada di kediaman kakaknya terbengong sejenak, tangannya berhenti. Ia yang sedang menyantap bakso bersama Puspa dan Zain seperti merasakan jika namanya sedang disebut dalam obrolan orang lain.


Puspa mengernyit, menatap adik iparnya dengan heran. "Kenapa?"


Agnia menggeleng pelan, ia sendiri pun heran.


"Telingaku panas.."


"Ada yang lagi gibahin.." ucap Puspa asal, membuat Agnia tersenyum.

__ADS_1


"Bukan, Mbak.. kepedesan, kayaknya.." jawab Agnia yakin. seraya menyentuh kedua dau telinganya yang tertutup hijab. Tak tau saja, jika sekarang dirinya bukan hanya jadi topik pembicaraan orang lain, namun tanpa sadar dan tanpa disengaja jadi pemantik perdebatan dalam rumah tangga orang lain.


Jika tahu, Agnia tentu tak akan terima. Du mana letak kkesalahannya di sana? Kenapa Agnia seakan jadi orang ketiga saat ini, sedangkan Alisya jelas-jelas menjadi orang ketiga di masa lalu mereka.


__ADS_2