
Akmal senang, apa yang dikatakan bundanya benar. Perjalanan ini baik sekali bagi mereka, apalagi dengan senyum sumringah yang tak hilang dari wajah Agnia. Perjalanan yang ia pikir akan sulit sebab kehamilan istrinya justru salah besar.
"Mau berapa lama kita disana?" tanya Agnia antusias, menoleh tanpa berkedip. "Seminggu?"
"Boleh.."
Agnia mengangguk, kembali menoleh ke jalanan yang diselubungi gelap dan dihiasi gemerlap cahaya. "Tapi.." kembali menoleh Akmal di kursi kemudi. "Apa boleh kita pergi begini?"
"Hem?"
"Kita punya rumah sendiri, sekarang ada tanggung jawab berbeda. Rasanya kurang pantes kalo ninggalin tanggung jawab itu."
"I know.. makanya kita gak lama."
"Tapi.."
"Tapi apa lagi?"
"Jangan sampe kayak waktu itu, terlalu singkat. Kamu jadi gak punya waktu istirahat sama sekali."
Akmal tersenyum, mengangguk singkat. Manis sekali memang istrinya, selalu memikirkannya. Tangannya terulur menggenggam tangan Agnia, ditarik ke atas pahanya.
"Jangan mulai!" jika sedang berduaan ada setan sebagai orang ketiga, maka bagi Agnia dan Akmal ada Akbar. Hanya saja kali ini, Yesa yang jadi setannya. Menatap tak suka dengan momen manis yang terjadi langsung di depan matanya itu.
Agnia menoleh ke belakang, tersenyum. "Sudah Mbak bilang.. kamu harus terbiasa! Atau.. gak, pura-pura tidur aja?"
Yesa mengendus pelan, menyesal ia ikut ke mobil Agnia dan Akmal. Selalu jadi nyamuk, selalu. Untung saja perjalanan hari ini malam hari, ia bisa tidur dan bersikap tak melihat apapun.
.
.
.
.
Rombongan itu kembali datang, sudah pagi menjelang siang saat tiba di perkampungan nan asri itu. Satu persatu berbaris, menyalami wanita paruh baya pemilik rumah yang menanti tak sabaran sejak semalam. Kali ini hanya dua mobil, Hafidz dan Puspa tidak ikut. Puspa dalam kondisi yang tidak boleh lelah, kesibukannya membawa ia pada kondisi yang payah.
Pemandangan juga udara disana menyegarkan, Akmal menghela panjang sembari melepas keluhannya bersama hembusan napas itu. Cukup lelah selama perjalanan, namun tergantikan begitu turun dari mobilnya. Bonusnya, Agnia menggandeng tangannya tanpa ragu dan tak peduli pandangan orang lain. Yaitu Akbar yang senantiasa mengganggu keduanya.
"Apa? Jangan rese!" pelotot Agnia, sudah tau maksud tatapan Akbar saat ini. Langsung membawa suaminya pergi, membuat Akmal mengendikkan bahunya sembari tersenyum ke arah Akbar, adik iparnya.
Akbar mengendus. Lihatlah kakaknya yang mulai galak itu, tak tau karena hamil atau apa. "Sekarang aja, udah berani pegangan tangan." cibir Akbar pelan. "Padahal dulu kekeh gak mau, dasar cewek!"
Hampir sembilan jam perjalanan, memegangi setir dengan kondisi padat merayap di beberapa jalan, tentu saja membuat dua orang yang membawa mobil tidur sebab kelelahan. Agnia tersenyum tipis, menatap suaminya yang terlentang di sopa sedangkan Akbar bertelanjang dada di karpet. Agnia masih betah di sofa lainnya, memanfaatkan waktu untuk mengisi perutnya dengan beberapa lembar roti yang setia dibawanya kemana pun pergi.
__ADS_1
"Mbak.." panggil Yesa, datang dari arah belakang rumah itu. Tempat semua orang tengah berkumpul saat ini.
"Hem?"
"Mancing ikan, yuk!" ajak Yesa, mebaik turunkan alisnya.
"Maksudnya kita yang mancing?"
"Bukan dong, kita nonton. Bapak yang mancing.. ayo..".
Tak lelah, kontras dengan dua orang yang mengorok halus di ruangan itu. Agnia mengiyakan ajakan Yesa, langsung heboh ingin memanggang ikan. Padahal belum satu ikan pun yang ayahnya Yesa dapatkan di saat itu. Agnia juga, tak tau kenapa terlihat antusias bak anak gadis. Tak seperti biasanya, tingkah dewasanya hilang.
"Pelan-pelan, Agni.." ingat Khopipah, ngilu sendiri dengan langkah cepat anaknya di pinggir kolam yang becek.
"Iya, Bu.." Agnia berhenti sesaat, lantas melanjutkan langkahnya mengikuti Yesa. Mereka ingin melihat langsung tangkapan ikan yang akan didapat nantinya, tak peduli meski dilarang semua orang.
Rumah itu dilingkari pesawahan, dengan satu sisi terdapat kolam ikan yang cukup luas milik nenek mereka. Kolam yang selalu dipanen saat anak cucunya datang dan berkumpul. Terdapat beberapa pohon buah juga, satu pohon manggis yang belum berbuah sebab belum musimnya, pohon jambu di bibir kolam, juga tak jauh dari sana satu pohon mangga yang baru saja dipetik dan dijadikan rujak.
Khopipah menghela, duduk di teras bersama yang para saudara. Melingkari rujak petis juga menu-menu menyegarkan lainnya. Meski khawatir, namun tak bisa menahan Agnia yang tingkahnya aneh itu.
Satu ikan bawal seukuran betis orang dewasa berhasil dijaring sebelum lepas dari kail. Yesa heboh, senang sebab yakin akan menikmati ikan bakar dalam ukuran besar. Agnia yang mulai merasa bosan memutuskan pergi seraya menjinjing ember berisi ikan itu, akan ia bersihkan untuk segera dibumbui.
"Hati-hati, Mbak.." kata Yesa, ini mungkin sederhana bagi dirinya yang terbiasa tinggal di kampung. Berjalan di jalanan becek berlumpur tak begitu jadi masalah. Namun melihat Agnia, Yesa jadi takut sendiri. Tatapannya tak lepas memperhatikan langkah kakak sepupunya.
"Hati-hati.." Khopipah kembali mengingatkan, berucap setengah berteriak. Agnia sampai menengok dan tersenyum, lucu saja bagaimana semua sekhawatir itu sebab kehamilannya. Ember itu ia angkat, bermaksud menunjukkan hasil tangkapan besar itu. Hanya saja matanya abai memperhatikan jalan, dan gerakan tiba-tiba yang muncul dari dalam ember membuat kaki kirinya meluncur.
"Mbak!" Yesa meluncur segera, langsung menarik tangan Agnia untuk bangkit. "Gak papa?" tanyanya, kaget. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagimana Agnia terpeleset hingga duduk di bibir kolam dengan pasrahnya.
Agnia masih di tempat, tak bergeming sejak terpeleset. Ia takut sekali dengan perutnya, berusaha mengingat jika bukan bokongnya lebih dulu yang mencium tanah. "Gak papa, sebentar.. Mbak kaget."
Tentu saja kaget, ia saja kaget apalagi yang jatuh. Yesa menghela. "Udah dibilangin hati-hati, matanya malah kemana aja!" omelnya.
"Orang jatoh malah dimarahin. Kamu ya.." balas Agnia tak terima.
"Bisa bangun?" Khopipah menghampiri, berjongkok di hadapan Agnia dengan wajah khawatir. Melihat dari atas kebawah, memastikan tak terjadi hal yang tak diinginkan.
Agnia tersenyum kecil, jelas kesalahannya. Hanya saja lucu jika diingat lagi, yang membuat lega adalah ia tak apa-apa selain bajunya yang habis kotor dan telapak tangan juga lengannya yang perih entah mengenai apa saat berusaha menahan tubuh kala jatuh tadi.
"Malah ketawa! Ayo bangun!"
"Aku gak papa, Bu."
"Gak bisa dibilangin, memang."
Agnia menikmati saja omelan itu, mana bisa membela diri saat ia satu-satunya yang harus disalahkan. Sebelum semua berkumpul dan memarahinya, Agnia segera berpegangan pada Yesa dan ibunya untuk perlahan bangkit.
__ADS_1
"Aw.. Bu, sebentar.." Agnia merasa perih menusuk di pergelangan kaki kanannya, baru sadar saat hendak berdiri.
"Kenapa?"
"Kakiku.. kayaknya keseleo, Bu. Aw.." Agnia mengaduh, memegangi kaki kanannya. Kaki itulah yang tertimpa tubuhnya, terlipat saat kaki satunya meluncur tadi.
"De, cepet.. panggil Mak Omoh ke rumah. Bilangin kata ibu, ada yang harus diurut. Darurat."
Yesa mengangguk setelah disuruh sang ibu, segera beranjak meski sama khawatirnya dengan yang lain. Harus bergegas memanggil tukang urut terdekat.
Saat melewati ruang tengah, gadis itu menghela pelan. Lihatlah Akbar dan Akmal yang tidur nyenyak itu, tak tau kegentingan apa yang terjadi sebab Agnia. Dan entah bagaimana tanggapan mereka nanti setelah tau.
Akmal bangun, terbangunkan suara adzan yang rasanya dekat sekali. Melihat tak ada siapapun kecuali Akbar yang masih terlelap di atas karpet, ia lantas beranjak menuju kamar dimana beberapa orang terdengar berkumpul.
"Lho.. kenapa, Bu?" tanya Akmal, kantuk di matanya seketika sirna melihat Agnia meringis dengan kaki yang diurut. Bangun tidurnya benar-benar disuguhkan kejutan. Ia penuh tanya, tak tau yang terjadi namun yakin jika itu bukan hal yang baik.
"Apa lagi? Istri mu jatuh karena terlalu bersemangat dapet ikan." jawab Khopipah. "Kakinya terkilir."
Akmal melongo, masih mencerna. Menoleh Khopipah, untuk kemudian menoleh Agnia dengan tatapan heran. Agnia bisa apa? Cengiran lebar ia tunjukkan, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menutupi kesalahannya.
"Tapi gak papa. Jangan khawatir.. cuma kepeleset." tambah Khopipah, tau sekali perasaan Akmal saat ini.
...
"Gimana ceritanya?" tanya Akmal datar, berdiri sembari melipat kedua lengannya di depan dada. Enggan ikut naik ke ranjang, sejak tadi siang kesal sekali dirinya. Berpikir jika tidurnya tadi hal yang salah.
"Aku gak papa.." Agnia mengungkapkan kalimat itu entah keberapa kalinya selepas kejadian tadi. "Kandunganku juga gak papa, kamu tau.."
"Hem.." Akmal mengangguk, kalimat itu bahkan tak menghilangkan kesal dan khawatirnya meski diucapkan berkali-kali. Lantas menghela. "Mbak tau seberapa khawatirnya aku? Aku nyesel karena tidur tadi."
"Ah!" Agnia mendesah pelan, bingung dengan semua orang yang ia rasa berlebihan. Bahkan Akmal terus mengungkit hal sama, apa keselamatannya tidak lebih penting dari penjelasan itu? "Sini.." pinta Agnia sembari menarik lengan Akmal. "Sini.." renggeknya, saat Akmal tak kunjung menaiki ranjang. Betah sekali sok marah begitu.
Akmal menghela, beranjak duduk di samping sang istri yang sejak tadi duduk berselonjor tak ia izinkan bergerak. Agnia kembali tersenyum saat itu, meletakkan kepalanya di bahu Akmal dengan santainya. Tak peduli dengan tataoan suaminya yang masih penuh peringatan.
"Mbak masih hutang penjelasan."
Terdengar decakan, untuk tak lama Agnia menarik kepalanya. Menatap Akmal malas. "Ya gitu.. aku jalan bawa ember yang isinya ikan, terus ikannya tiba-tiba gerak. Karena jalannya licin, becek.. keseimbangan ku hilang." jelas Agnia, terdengar malas. "Sayang banget ikannya lepas." tambahnya setengah berbisik.
"Hem?" Akmal mengernyit, menghadapkan tubihnya pada Agnia. "Mbak menyayangkan lepasnya ikan itu?" tanyanya takjub. "Ikannya gak papa, justru kembali ke habitatnya. Mbak yang kena masalah. Mbak harusnya bersyukur.. untung cuman keseleo.."
"Alhamdulillah.." timpal Agnia segera, tak suka mendengar kata untung. Padahal yang lebih tepat adalah 'qadarullah. Dan siapa bilang ia tak bersyukur? Jika terjadi sesuatu pada kandungannya ia akan yang paling merasa bersalah.
"Iya, Alhamdulillah.. tapi lain kali jangan aneh-aneh! Jangan jauh dari pandangan aku, harus jaga diri baik-baik. Hem? Aku gak bisa kalo Mbak kenapa-napa.."
Agnia menghela, bibir manyunnya ia sudahi. Lantas mengangguk dengan tatapan meyakinkan. "Iya.. janji gak akan aneh-aneh lagi.. janji akan jaga diri baik-baik."
__ADS_1
Akmal kembali menghela, ia khawatir sekali. Jika terjadi sesuatu saat ia yang harusnya menjaga Agnia justru tertidur, maka ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Sebuah pelukan ia berikan, pelukan hangat yang menyiratkan tak mau kehilangan bahkan sedetik saja. Akmal ingin selalu melindungi Agnia, apapun yang terjadi