
Lucu sekali.. saat Akmal senang dan berpikir tak akan bisa tidur lagi untuk malam ini karena rasa lega di hatinya, ia justru mendapati Agnia sudah meringkuk nyaman di atas kasur. Memunggungi arah pintu, hampir tak terlihat di bawah selimut.
Akmal menghela, paham istrinya mungkin kelelahan. Beranjak menuju ranjang dengan perlahan, berusaha tak menimbulkan suara setelah terlebih dulu menutup pintu dan menyimpan sajadah yang dibawanya ke tempatnya. Kurang pengertian apa lagi dirinya? Akmal bisa berbangga diri menikmati sikap pengertian dan perhatiannya itu.
Baru saja menyelonjorkan kakinya, baru saja hendak menarik selimut sama yang digunakan Agnia. Akmal dibuat tak berkedip saat istrinya itu tiba-tiba menoleh dan memberi tatapan yang sulit diterjemahkan, ia tak gegabah berucap namun dari yang ia lihat seperti istrinya ini sedang mengincar sesuatu.
"Kenapa? Aku pikir Mbak udah tidur?" tanya Akmal, setelah beberapa saat hening dan hanya saling pandang dengan alis naik.
Agnia tersenyum, menggeleng pelan. Tak terlihat mengantuk sama sekali, justru merubah posisinya menjadi duduk.
Akmal dibuat terkekeh, merasa curiga tiba-tiba dengan senyum di wajah manis itu. Membelai kepala Agnia lembut. "Kenapa? Butuh sesuatu?"
Agnia mengangguk cepat, senyumnya semakin lebar. Sekali lagi membuat Akmal makin heran, sikap manjanya justru makin terlihat akhir-akhir ini. "Apa?"
"Aku gak bisa tidur, kan?"
"Iya.." Akmal mengangguk samar, tangannya beralih membelai pipi Agnia. "Terus?"
"Aku gak bisa tidur, sebelum.. kamu.. buka baju."
"Oh.." Akmal mengangguk, untuk kemudian sesaat kalimat itu tercerna. Tangannya spontan berhenti bergerak. "Hem?"
Agnia kembali mengangguk dengan antusiasnya, membalas tatapan minta penjelasan dari sang suami. "Karena itu.. buka baju!" titahnya, terdengar becanda hingga Akmal masih menyimpan curiga.
"Tapi.. Mbak?"
"Ayo!" desak Agnia, setengah mereggek. Membuat Akmal lantas mengulas senyum, mencubit pelan pipi sang istri. "Jadi sekarang Mbak udah mulai berani?" tanyanya diiringi seringai menggoda.
__ADS_1
"Ya berani... Apa salahnya?" alis Agnia tertaut, wajahnya setengah merengut sebal. "Kamu lama ah!" keluhnya, lantas berinisiatif membuka baju Akmal persis ibu yang hendak memandikan anaknya.
Apa yang ada di pikiran Akmal, apakah sama dengan yang dipikirkan Agnia? Perempuan itu tak menginginkan apapun kecuali pakaian suaminya. Setelah mendapatkan yang diingin, ia kembali meringkuk memunggungi Akmal. Membawa baju itu ke dalam pelukannya.
Akmal melongo, tak bisa berkata-kata. Ternyata Agnia lebih rindu bajunya dari pada dirinya. Dari pada memeluknya ia justru memeluk bajunya. Dari pada menghirup aroma tubuhnya, Agnia justru lebih tertarik menghirup bajunya.
Lucu sekali, Akmal terkekeh menyadari perbedaan besar anatara apa yang ia pikirkan dan apa yang dimaksud sang istri. Akmal membaringkan tubuhnya di sebelah Agnia, menyusupkan satu tangannya di perut sang istri. Mencium puncak kepala dan bahunya bergantian. "Mbak lebih rindu bajuku dibanding aku?"
"Hem.." Agnia tak bergeming dengan sentuhan Akmal, matanya tertutup mulai menapaki jalan mimpi.
Akmal tak menyerah, masih berusaha mengganggu tidur Agnia yang tanpa sadar sudah mengganggu tidurnya malam ini. Masih menciumi bahu tak terhalang apapun, sebab mengenakan piyama berlengan pendek. "Tapi sekarang Mbak disini. Saat bisa dapat isinya kenapa memilih cangkang?" bisiknya, beralih mengecup pipi Agnia beberapa kali.
Agnia jelas terganggu, merubah posisinya jadi berbaring. Mengarahkan cubitan ke perut telanjang sang suami, lantas masuk ke dalam wangi dan hangatnya pelukan yang dimiliki pria itu. Mengabaikan baju yang susah payah ia minta sebelumnya.
Memang benar, saat bisa mendapat isinya kenapa memilih cangkang?
Akmal mengacak puncak kepala Agnia, ia juga sama merindukan istrinya ini. Wangi rambutnya, aroma parfumnya. Jika Agnia begini karena keherannannya maka berbeda dengan dirinya yang sudah begini sejak menikah. Ia memang tak bisa tidur tanpa istrinya.
"Gak bisa tidur?" Akmal bertanya, setelah beberapa saat dan menyadari sang istri belum menutup matanya.
Agnia mendongak, menggelengkan kepalanya. "Gak mau tidur, mau ngobrol dulu sama kamu."
"Ngobrol?"
"Iya. Selama jauh kita gak ngobrol sama sekali, aku gak suka dan gak nyaman kalo ngobrol lewat telpon."
Akmal menyamankan posisinya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah sang istri. Mencari posisi nayaman untuk berbincang. "Coba ajukan pertanyaan.."
__ADS_1
"Dih! Kamu mau ngobrol sama istri atau sama kolega? Ajukan pertanyaan.."
Akmal balas tertawa kecil mendengar omelan sederhana istrinya, ini yang ia rindukan omelan sederhana saat ia salah dan salah lagi di mata Agnia. "Aku gak punya topik obrolan, berdua kayak gini aja udah cukup."
"Gitu? Terus kenapa kemarin aku ditinggal?" omel Agnia lagi, mengungkit hal sama sejak sore tadi.
"Maaf. Gak cukup aku minta maaf?"
"Ya kamu.. tega ninggalin istrinya. Kualat kan? semalem jadi gak bisa tidur."
Akmal tak bergeming, membenarkan posisi tidurnya. "Mbak tau aku gak bisa tidur?"
Agnia menghela, padahal sudah jelas kenapa masih bertanya. Tangannya terulur menyentuh kedua mata Akmal, pria itu segera paham maksud Agnia.
Akmal mengambil tangan Agnia yang menyentuh matanya, membawa tangan itu ke dadanya. Menciptakan suasana yang dalam lagi setelah omelan singkat Agnia.
"Aku kangen Mbak, dan ada yang mengganggu pikiran ku semalaman. Apalagi.. Mbak sama sekali gak bisa dihubungi. Dengan hal-hal itu, apa masih ada alasan untuk aku bisa tidur?"
Agnia menghela, genggaman tangannya ia eratkan. Kepalanya ia angkat, menatap Akmal dari jarak yang lebih jauh dan posisi dirinya lebih tinggi. "Maaf.." ucapnya lembut, lantas melancarkan kecupan lembut di kedua mata Akmal dengan bergantian.
Akmal tersenyum, ia sudah jauh lebih baik saat ini. Apa yang lebih baik dari hatinya yang sudah membaik ini? Benar kata Agnia, apapun selama mereka bersama, hal sulit mudah dilewati. Ia kini percaya kalimat itu.
Akmal kembali menarik Agnia ke pelukannya, memeluk erat istrinya dengan perasaan lega dan syukur luar biasa. "Kayaknya alasan untuk tidur sudah kita temukan. Aku harus kerja besok, dengan mata terbuka Mbak aku gak akan bisa tidur dan gak akan bisa kerja besok." ujarnya tanpa melepaskan pelukan, membuat Agnia mendengus pelan dalam pelukan itu.
Senyumnya tak bisa disembunyikan, Agnia menyamankan dirinya dalam pelukan Akmal. Ia juga mengantuk, butuh tidur. Indah sekali, ditemani detak jantung Akmal yang terdengar jelas di telinganya.
Suami adalah pakaian istri, begitu pula sebaliknya. Kemana lagi diri mencari ketenangan dan kesenangan selain satu sama lain? Hubungan ini disatukan cinta, maha suci Allah yang menyatukan dua orang asing dalam hubungan halal. Hingga dua orang asing itu terkait, bukan hanya di dunia melainkan sampai di akhirat.
__ADS_1
...