Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
96. Rasa bersalah Gian


__ADS_3

"Tapi sekarang baikan kan, Mbak?" tanya Ripda, bertanya setelah Agnia menjelaskan singkat peristiwa itu. Sembari matanya tak henti memastikan dari atas hingga bawah, membuat Agnia terkekeh untuk kemudian berucap.


"Yang sakit cuma area wajah kok."


Tetap saja, Ripda khawatir sekali. Selalu lupa dan terus mengamati dari atas hingga bawah, bahkan jika bukan karena diingatkan Widia, Ripda sudah akan menyentuh Agnia. ingin sekali memastikan.


"Tapi Alhamdulillah, sekarang udah baikan." ucap Agnia, menjawab pertanyaan Ripda tadi.


Widia menghela, menilik wajah Agnia iba. Miris sekali, tak menyangka Agnia berakhir di rumah sakit. Yang paling membuat tak percaya, penculikan itu terjadi sesaat setelah mereka berpisah.


Berita itu sungguh mengejutkan bagi Widia, tau-tau Agnia sudah di rumah sakit saja. Ia sebagai salah satu orang terakhir yang bertemu, terbelalak kaget sesaat mendengar kabar itu. Sedikit tak percaya, hingga mendengarnya langsung dari Khopipah.


"Jahat banget!" cicit Ripda, lagi-lagi setelah menilik wajah Agnia.


Ripda yang bawel untuk kali ini tak banyak bereaksi, dirinya pun tau tempat jika akan iseng. Namun bagi Agnia, Ripda masih sangat bawel meski sekuat tenaga menahan diri. Beberapa kali gadis itu bahkan menoleh Hafidz, mendadak canggung demi pria yang satu itu.


"Kamu kenal orang itu?" tanya Widia, wajahnya masih menatap penuh iba.


Agnia menggeleng tanpa diduga, Akbar sampai menoleh Hafidz sebab itu. Bagi Agnia cukup sampai situ yang harus orang tau, tak mau membuat orang lain bertanya lebih jika bilang mengenal pelaku itu.


"Pasti oknum." tebak Ripda. "Harusnya dihukum berat sih."


"Orangnya gak dihukum." celoteh Akbar sengaja. "Mbak Agni gak mau lapor polisi, coba tanya aja.."


Semua menatap Agnia minta penjelasan, setelah sebelumnya menoleh Akbar dengan kompak.


"Kenapa, Mbak?" tanya Ripda.


Agnia menghela, mengulum bibirnya sejenak. Dalam hati sebal kenapa Akbar sengaja sekali memancing penjelasan padahal ia sendiri berusaha menutupi semuanya.


"Kamu masih takut?" tanya Widia kemudian, sosok keibuannya yang bertanya.


"Bukan seperti itu, Bu. Tapi.." Agnia menghela. "Aku gak mau berurusan dengan orang itu, beneran." tegas Agnia seraya menoleh Akbar. "Yang aku butuh sekarang itu sembuh, toh anak itu sudah diserahkan sama keluarganya."


"Anak itu?" Ripda mengernyit. "Dia masih kecil, Mbak?"


Kembali, Ripda yang penuh pertanyaan tak bisa menyembunyikan wujud aslinya.


...


"Dia pacar kamu?" tanya Hafidz, menatap Akbar seperginya tiga orang yang menengok itu. Bertanya sebab melihat adiknya akrab sekali dengan gadis bawel itu.


Gadis yang lagi dan lagi bertanya saat terlintas sesuatu di pikirannya, sekilas mirip saja dengan karakter Akbar.


Yang ditanya langsung menggeleng, tangannya menyilang di depan dada. Berlagak dramatis.


"Oiya?" Hafidz meragukan, mencebik tipis dengan ekspresi datar.


"Bener, Mas. Lo itu ya.."


"Kenapa?" Hafidz merasa reaksi Akbar terlalu berlebihan, mencurigakan baginya. "Toh dia cantik, dan.. kalian cocok."


"Cantik? Cocok? Cantikan sama cocokan Asma kali.."


"Asma?" Hafidz menoleh Agnia, merasa pernah mendengar nama itu. Agnia tak menimbrung, membiarkan saat langka kakak dan adiknya berbincang.


"Iya, seseorang di hati gue." ucap Akbar segera, percaya diri sekali dengan diiringi senyum.


"Paling cinta bertepuk sebelah tangan.." sindir Hafidz, tepat sekali. "Mending yang pasti aja, ini nasihat.." ucapnya kemudian, melembut.


Mendengar itu bukannya ikut melembut Akbar mendelik tak terima. "Maksud lo? Bahasa lo seakan gue gak mungkin dicintai! Gue gak jelek ya, jangan sembarangan!"


"Tapi dicintai atau bukannya dak berhubungan dengan fisik, lo cuman... gak menarik?"


"Ish!" Akbar sebal dengan wajah datar kakak sulungnya saat menghina, tangannya berlagak hendak meninju. "Lo itu gak tau, ya.. seberapa banyak cewek yang ngantri untuk jadi pacar gue."


Hafidz mencebik. "Kalo gitu tandanya lo sok ganteng!" hinanya, tak kehabisan kesempatan menguji kesabaran adiknya. "Lo mengabaikan banyak cewek, hanya untuk seseorang yang gak suka sama lo."


"Emang gue ganteng!"


Hafidz berlagak jijik mendengar pengakuan dahsyat Akbar, untuk kemudian meraih ponselnya yang bergetar. Sayang sekali sebuah panggilan muncul, jika tidak perdebatan itu akan tiba pada puncak dan salah satu mereka akan menang.


"Halo?" Hafidz kembali serius, baik wajah maupun intonasinya. Memberi isyarat supaya Akbar diam.


Sesaat pria pemilik tatapan teduh itu terdiam, mendengarkan beberapa saat. Untuk kemudian bangkit dan menatap Agnia, segera berucap sebelum Akbar menginterupsinya.


"Mas harus pergi. Dan lo.." Hafidz beralih menatap Akbar, tatapan teduhnya berubah tajam. "Jaga Agnia baik-baik!" peringatnya dengan intonasi yang seratus delapan puluh derajat berbeda, hal itu berhasil membuat Akbar kembali sebal.


"Emangnya siapa yang jaga Mbak Agni sejak kemarin? Lo? Bukan.. Gue!" tegas Akbar, tak terima. Seakan keberadaannya menjaga Agnia tak dianggap, memang sialan kakak sulungnya itu.


Agnia hanya terkekeh pelan, memandangi dua musuh bebuyutan yang memantulkan atmosfer permusuhan tipis-tipis itu. Apalagi Hafidz mengabaikan Akbar dan melangkah pergi setelah itu, membuat Akbar tersungut dibuatnya.


"Udah!" ingat Agnia, masih tersenyum menatap Akbar.


Akbar menghela panjang sehilangnya Hafidz dari balik pintu, seakan perubahan besar terjadi ketika tak ada si sulung. Kembali menarik kursi dekat Agnia, memasang wajah manis.


"Mau makan apa sekarang?" tanyanya lembut, berbeda saat sedang bersitegang dengan Hafidz.


"Emh.." Agnia menimbang, sebenarnya tak terlalu ingin sesuatu. Namun ada satu hal yang ia inginkan, dan penurutnya Akbar ini adalah hal langka. "Soto?"


"Boleh.." Akbar tersenyum seraya mengangkat bahunya. "Aku panggil Akmal lagi ya.."


"Ish!" senyum Agnia spontan menguap, berganti tatapan datar. "Dasar gak mau repot!"

__ADS_1


Akbar nyengir. "Becanda, aku beliin sekarang." ucapnya seraya berbalik menuju pintu.


"Tapi.." Akbar tiba-tiba menghentikan langkahnya, berbalik dan mendekat lagi pada Agnia. "Soal Akmal.. harus aku panggil atau jangan?"


"Cih!" Agnia refleks memalingkan wajahnya mendengar godaan dari Akbar, tak mau adiknya melihat senyum yang timbul akibat kalimat itu.


"Dari pada manggil Akmal, mending kamu panggil Gian." ucap Agnia, mengalihkan pada topik lainnya.


"Untuk?" cengiran Akbar spontan hilang, berganti kernyitan di dahi. Kenapa juga ia harus memanggil Gian?


"Ya.. mbak mau ketemu dia, selama Mbak disini dia gak datang nengok."


"Iyalah, aku yang larang!" gumam Akbar pelan.


"Hah?!" Agnia pura-pura terkejut, berlagak tak tau hal itu. Keningnya berkerut, menatap Akbar minta penjelasan.


Akbar menghela. "Mbak bilang gak mau berurusan sama Wildan kan? Berarti Gian termasuk."


"Dih! Mana ada aturan kayak gitu." keluh Agnia, sebal.


Melihat manyunnya bibir Agnia, Akbar jadi heran. Penasaran akan sesuatu. "Mau banget emangya, ketemu Gian?"


Agnia mengangguk, membuat Akbar pusing dibuatnya. Apa jangan-jangan kakaknya ini menyukai Gian? Lalu bagaimana dengan Akmal?


"Boleh?" Agnia bertanya dengan senyum cerianya, padahal sebenarnya tak perlu izin sama sekali dari Akbar.


"Yaudah, telpon aja." suruh Akbar, tak ikhlas.


"Kamu yang telpon!"


"Kok aku? Mbak lah! Yang mau ketemu dia juga Mbak bukan aku." protes Akbar, mulai tersulut emosi.


"Kok Mbak? Kan Mbak nyuruh kamu tadi." Agnia balas menaikan intonasinya juga.


"Kok nyuruh aku?" tanya Akbar dengan nada bicara aslinya, kembali ciut.


"Lakuin aja!"


.


.


.


.


Rasa bersalah itu berkubang dalam hati Gian, meski Akbar melarangnya ia akan tetap pergi jika bukan karena perasaan itu.


Sebab Wildan, kesalahan adiknya itu membuat Gian tak banyak bernego. Cukup tau Agnia membaik, sisanya tau diri.


Perbuatan Wildan kali ini tak digubris sang ayah, tak ada usaha menyembunyikan atau menutup mulut siapapun seperti biasanya. Bahkan saat Wildan ditemukan babak belur pun, Wiryo sama sekali tidak marah.


Tak bisa ditutupi, masalah ini memberikan pengaruh besar bagi pekerjaan Gian. Mulai dari pusingnya menjawab pertanyaan orang-orang, hingga tak tenang dengan rasa bersalahnya pada Agnia. Hal itu membuat pekerjaanya terganggu.


"Pak, permisi." seorang wanita dengan rambut lurus sebahu, berpakaian khas wanita kantoran muncul setelah mengetuk pintu ruangan Gian.


Gian menoleh, lantas memutar tubuhnya menghadap asisten pribadinya itu.


"Ini, catatan yang bapak minta tadi." ucapnya setelah tiba di hadapan Gian, menyodorkan beberapa lembar kertas oe atas meja.


Gian menghela, mengangkat punggungnya yang tersandar dengan malas. Tangannya terulur mengambil catatan itu, untuk kemudian ia amati sesaat.


"Mengenai.."


"Sebentar!" Gian memotong, menatap asistennya. Sorot lelah jelas sekali di wajahnya. "Hari ini saya percayakan pekerjaan sama kamu. Dan apapun yang mau kamu katakan, kita bahas besok." ujar Gian, menatap dengan mata sayunya. "Saya sedang tidak bisa berkonsentrasi dengan apapun." lirih Gian.


Gadis itu mengangguk pelan, sesaat mengulum bibirnya. "Baik, pak. Tapi.."


"Apa ada masalah?"


Gian menghela pelan, lantas mengangguk. Tak ada yang perlu ia sembunyikan dari asistennya itu. "Ya. Seperti yang kamu tau, ini tentang adik saya."


"Emh.." gadis itu mengangguk, lantas tersenyum. "Maaf sebelumnya, Pak. Tapi kalo boleh saya beri saran, ada baiknya Bapak ceritakan kisah itu. Itu mungkin akan membuat adik bapak lebih baik. Menurut saya, hidup dalam kebencian pasti tidak mudah untuk adik Bapak."


Wildan mendengarkan, tak bergeming. Matanya menerawang jauh, seakan bertanya pada dirinya sendiri. Haruskah?


"Baiklah, akan saya pertimbangkan."


Gadis itu menyungging senyum sekali lagi. "Kalo begitu, saya izin kembali ke ruangan saya, Pak."


Gian mengangguk. "Silahkan."


Sesaat pintu tertutup, ponsel miliknya berbunyi tanda adanya sebuah panggilan. Gian mengambil ponselnya malas, memastikan dahulu siapa yang mengganggunya disaat menyebalkan seperti ini.


Rasa kesalnya tiba-tiba hilang, Gian dibuat terkejutnya saat nama Agnia yang tertera disana. Hingga matanya melebar demi memastikan.


"Ehhem." Gian berdehem, menetralkan suaranya. Senang sekali dirinya, tanpa perlu bertanya sudah bisa menebak jika Agnia baik-baik saja.


"Halo?"


"Ini gue, Akbar."


Gian mengernyit, ada apa ini. Bocah yang marah besar itu kini mau berbicara dengannya.

__ADS_1


"Ada apa? Agnia baik-baik aja kan?"


"Jangan sok khawatir! Kalo memang khawatir kenapa gak datang kesini?"


"Ke rumah sakit?"


"Ya."


"Saya boleh jenguk Agnia?" tanya Gian, memastikan. Sudut bibirnya tak bisa untuk tidak tersungging, senyumnya mulai merekah.


"Ya. Datang secepatnya atau gue berubah pikiran."


Demi mendengar jawaban yang terdengar tak ikhlas itu, Gian tak mau membuang waktu lagi. Segera bangkit, takut Akbar benar-benar berubah pikiran.


"Iya, saya pergi sekarang." ucapnya dengan senyum haru.


.


.


.


.


"Dih! Seneng dia." Akbar mencebik, seraya menjauhkan ponsel Agnia dari telinganya. Menoleh Agnia dengan kekehan pelan.


Agnia tak merubah tatapannya, menatap tajam sejak panggilan itu dimulai, mengisyaratkan sesuatu.


"Cepet datang, atau gue berubah pikiran kamu bilang.. itu keterlaluan, asal kamu tau." ujar Agnia.


"Disini yang pengen ketemu itu dia, makanya Mbak harus jaga harga sebagai cewek!"


"Jaga harga?" Agnia membeo dengan nada kesal. "Kamu kalo ngomong kadang-kadang, ya.. asal kamu tau, Gian itu orang sibuk, juga orang terhormat. Mana bisa kamu berucap seenaknya padahal dia dihormati banyak orang!" papar Agnia gemas.


Akbar menghela, mulai lagi dia diomeli. Padahal dimana letak kesalahannya? Sudah disuruh dengan paksa, masih salah juga.


Sadar tatapan kesal Akbar, Agnia melembut. Diam sejenak, membuat hening antara keduanya.


"Yasudah, bukannya kamu janji mau beliin soto?"


Akbar mengendus, urusan menyiruh saja kakak perempuannya itu melembut.


"Ogah, mending telpon Akmal." jawab Akbar cepat, seraya melemparkan tubuhnya ke atas sopa. Sekarang tak akan lagi mendengar Agnia, ia sudah memutuskan.


"Kamu!"


"Tapi dia selalu dengan senang hati, Mbak. Santai.."


"Ish!"


...


Gian melangkah cepat setelah panggilan itu berakhir, dengan senyuman yang tak hilang dari wajahnya ia keluar dari ruangannya.


Gurat bahagia itu, kontras sekali dengan moodnya beberapa saat tadi. Asisten cantiknya bahkan terheran sendiri, penasaran apa yang jadi jalan keluar keresahan bos mudanya itu.


Senyuman Gian hari ini bak air segar yang mengalir disaat kemarau melanda.


"Apa saranku berhasil?" gumam gadis itu, alisnya bertaut seiring berlalunya Gian.


Gian tak sadar tatapan para karyawannya, abai melihat jika mereka saling bisik mendiskusikan apa yang membuat bos mereka mendadak bahagia.


Namun senyum yang menimbulkan tanya pada setiap orang itu perlahan hilang, saat langkah Gian tepat menginjak parkiran basement kantornya.


Llangkah kaki Gian melambat hingga berhenti, keberadaan Sila disana yang jadi penyebabnya.


Gadis dengan rambut ikal dan perawakan mungil itu baru saja turun dari mobilnya, baru menutup pintu mobilnya ketika berpapasan dengan Gian.


"Mau kemana?" tanya Sila cepat, sengaja mendahului Gian yang juga terlihat akan bertanya.


"Aku mau pergi." jawab Gian. "Kamu sendiri, kenapa kesini?"


"Ketemu kamu.. Om bilang, kamu gak bisa diajak bicara dua hari ini. Jadi.." Sila menjeda, menyungging senyum tipis yang terkesan canggung. "dia nyuruh aku kesini, ayah kamu pikir kamu akan mau bicara sama aku."


Gian mengangguk, sesaat terdiam dan mencipta situasi makin canggung. "Emh.. sayangnya, sekarang aku.."


"Mau menghindari aku lagi?" potong gadis itu, membuat Gian mendaratkan pandangannya pada mata Sila.


"Bukan, bukan kayak gitu. Tapi sekarang aku bener-bener harus pergi."


Sila menghela, matanya menunduk kecewa. Taulah ia jika pria di hadapannya ini sama sekali tak tertarik padanya.


"Sila?" panggil Gian, tak mau membuat gadis itu merasa sedih. "Aku beneran harus pergi, beneran."


"Kalo gitu kasih aku lima menit?" tawar Sila, seperti biasa berlagak penuh senyum di hadapan pria yang dijodohkan padanya itu.


Gian menggaruk tengkuknya tak gatal, bergerak gusar. "Masalahnya.."


"Iya, atau tidak?"


Melihat tatapan tegas Sila untuk pertama kalinya, Gian menghela dalam. Akhirnya mengangguk, toh hanya lima menit.


"Baiklah. Hanya lima menit kan?"

__ADS_1


...


__ADS_2