Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
112. pertama kali pergi bersama


__ADS_3

Dihari gerimis itu kau menemuiku


Saat derai hujan membasah di hatiku,


Dan badai masih bergemuruh di relungku.


Entah sihir apa yang kau punya,


Sebab aku tanpa sadar tlah terpikat,


Dan jiwaku jadi tenang akannya.


Menakjubkan,


Bak tak pernah ada duka sebelumnya,


Bak hidup kembali setelah sekian lama.


Kau membuatku merasa begitu.


...


Pukul delapan tepat, Agnia sudah meninggalkan rumahnya bersama Akmal. Pria itu datang pagi sekali untuk lebih dulu menemui orang tua Agnia. Ya, seperti itu hubungan mereka terjalin. Hanya soal waktu, dan tak kan ada jarak lagi antara mereka.


Akmal tak ikhlas jika Gian kembali datang. Takut yang dikatakan Akbar tempo hari terwujud.


"Jangan sampe Mbak Agni sembuhnya sama lo, tapi nikahnya sama orang lain."


—Akbar 2022


Tak ada keluhan berarti di wajah Agnia, Akmal yakin sekali dengan itu etelah sempat melirik gadis di sebelahnya itu sekilas. Agnia sudah benar-benar menerimanya, itu yang ia lihat.


"Kenapa?" Agnia melihat sisa senyu di wajah Akmal, kini mengernyit. Tak jelas sekali Akmal sejak tadi, terlalu banyak tersenyum dan sama sekali melempar gombalan padanya.


"Gak papa."


"Dih! Fokus nyetir! Jangan aneh-aneh.." ujar Agnia dengan nada bicara santai, tak sinis seperti biasanya. Membuat Akmal justru senyum lagi dibuatnya.


...


"Mbak, aku angkat telpon dulu." ujar Akmal yang baru saja keluar dari mobilnya dengan ponsel ditangan. Berucap pada Agnia yang sudah menunggu.


"Yaudah, saya tinggal ya?"


Akmal mengangguk, tetap dengan senyumnya. "Iya.. nanti aku nyusul." balas Akmal yang langsung diangguki Agnia.


Acara itu masih belum mulai, persiapan masih terlihat repot disetiap tempat. Agnia yang percaya diri masuk dengan undangan khusus dari pemilik butiknya, langsung bertanya kemana untuk menemui Indri pada salah satu staff. Setelah beberapa saat berbincang, Agnia tampak menunjuk ke arah Akmal entah mengatakan apa. Baru setelah berbicara lebih banyak, ia diantar menuju Indri.


Gadis dengan rambut terurai sebahu tengah sibuk berbincang, berdiri memunggungi pintu masuk. Masih mengomplain seseorang yang tampaknya make up artist. Menunjuk modelnya, mengeluhkan apa saja yang tak sesuai harapannya.


"Kak.. maaf."


"Apa?" tanya Indri, terdengar sebal. Ia benci diganggu disaat seperti ini, tidakkah ada yang mengerti? "Apa lagi?"


"Ini.."


"Ini apa?" Indri bertanya datar, namun tetap menoleh. Matanya langsung berubah berbinar saat melihat Agnia, mengabaikan staf yang hampir ia marahai itu. "Agni.."


Agnia menyambut pelukan Indri, tersenyum senang. Lantas menoleh wajah Indri setelah melepas pelukannya. "Apa kabar?"


"Baik." singkat Indri, wajah sangarnya berubah melembut.


"Selamat.." kata Agnia, sembari menyodorkan sebuket bunga di tangannya yang langsung diterima Indri.


"Makasih.. Seneng lho.. kamu dateng, cape ku langsung hilang. Akhirnya.." ungkap Indri, memang tampak seantusias itu. "Bentar, ya.." Indri menjeda, menoleh make up artistnya. "Kak, lakuin aja yang tadi kita diskusikan. Okay? Aku pergi dulu."


Indri jujur dengan lelahnya yang hilang setelah Agnia datang, wajahnya sumringah sambil menggandeng Agnia. Dan itu jujur saja mengejutkan untuk model juga make up artist yang sempat dimarahi selama lima menit sebelum Agnia datang.


...


Agnia dibawa ke ruangan paling khusus di butik itu, sepasang meja dan kursi terletak disana. Juga rak yang masih kosong, satu sofa memanjang di sisi lainnya. Nyaman, hanya saja masih belum diatur dengan baik, berkas yang entah apa menumpuk di atas meja.


"Jangan kaget! Kita belum sempat berbenah." tutur Indri, sebab Agnia yang mengedarkan pandangannya.


Agnia tersenyum, mengangguk sekilas. Bukan seperti itu arti tatapannya, ia tak peduli soal kacau atau berantakan. "I know.. gak perlu dijelaskan."


"Yaudah, sini.." Indri tak mempersilahkan, justru duduk lebih dulu dan kini menepuk kursi di sebelahnya supaya Agnia duduk disana.


"Ada apa?" tanya Agnia sembari mendudukkan bokongnya ke atas sofa.

__ADS_1


Indri mengernyit mendengar pertanyaan Agnia, tampang garang pada stafnya tipis-tipis muncul. "Kok ada apa? Kita udah lama gak ketemu, lho. Masak ngobrol aja gak boleh.."


"Tarik napas.."


"Apa?"


"Kalo kamu terus ngegas, nanti cepet tua! Belum juga nikah."


"Ah! Iya juga.." gumam Indri, tak disangka setuju padahal ucapan Agnia terkesan menyedihkan diobrolkan antara mereka berdua. Sesaat gadis berkulit putih dengan tinggi semampai itu tampak berpikir, untuk kemudian tersenyum menunjukkan deretan giginya. "Maaf, kebiasaan sama stafku."


"Iya deh, santai aja Bu Bos."


"Lupakan soal itu.. ada yang lebih penting, dan mumpung kamu yang pertama datang.. aku mau nanya ini."


"Tanya aja!"


"Gandengan kamu mana?" tanya Indri dengan air wajah serius juga antusias, sebab sebelumnya saat ditanya Agnia bilang akan datang bersama seseorang. Tentu saja ia penasaran tentang siapa pria itu? Pria pengganti Adi yang anehnya bisa menaklukan hati Agnia. Sepanjang yang ia tau, meski jarang sekali bertukar kabar ia tau Agnia cukup terpukul dengan kegagalan pernikahannya.


Yang ditanya tak menyahut, malah balas menatap lekat. Membuat Indri sedetik kemudian menghela, sebal. "Malah liatin aku!" protesnya, sembari menahan wajah sinisnya yang memang sudah ciri khas sejak lahir.


"Apa itu penting? Aku datang kesini untuk nujukin dukungan aku, bukan mau kasih tunjuk seseorang.."


"Yeh!"


"Lagi pula yang harusnya ngenalin seseorang itu kamu, bukannya aku. Kalian pacaran udah dua taun kan? Tapi gak pernah lho.. dikenalin. Impas dong?"


"Kamu itu gak ngerti, Agnia.. situasinya beda antara aku sama kamu." keluh Indri, gemas.


"Karena?"


Indri menghela, ia bukan tipe yang melow. Hingga tak bisa mengatakan jika siapa yang akan dikenalkan Agnia sangat berati baginya. "Lupakan!"


Agnia tersenyum melihat wajah kesal Indri, gadis di sebelahnya ini sama sekali tak berubah. Bertahun berlalu bahkan setelah ia sukses dan berhasil dengan cita-citanya ia sama sekali tak berubah.


"Ada." tutur Agnia, membuat Indri kembali membulatkan matanya. "Aku diantar seseorang."


"Oiya? Mana!"


Agnia terkekeh, tak tau setertarik itu Indri pada Akmal. "Kenapa si, seitimewa itukah kalo aku move on dari mantanku?"


"Ya! Gak perlu ditanya."


"What?!" Perjodohan? Indri terbengong, sebab di pikirannya perjodohan adalah jalan terakhir saat sesorang tak bisa mencari tambatan hati sendiri. Baginya itu sedikit menyedihkan, padahal Agnia tak kurang apapun sampai harus dijodohkan. "Dan kamu setuju?"


Agnia mengangguk. "Kalo sekarang iya, aku gak punya pilihan."


Alis Indri tertaut sempurna, kedengarannya Agnia tak menyukai perjodohan itu. Tapi yang ia perhatikan dari wajah Agnia justru sebaliknya, gadis itu terkesan biasa saja bahkan terlihat lebih baik dari terakhir kali mereka bertemu.


Perjodohan? Benarkah?


...


Akmal baru saja memutus panggilannya, itu sang bunda yang bertanya kemana ia pergi dengan membawa mobil. Ia yang tak izin pergi diberi sedikit peringatan, yang padahal tak sempatnya izin pun sebab bundanya itu hilang sejak pagi dan entah kemana.


Akmal tersenyum kecil, sesaat panggilan itu selesai. Retno yang tadinya hendak marah jadi tiba-tiba melembut saat tau ia pergi mengantar Agnia, selalu seperti itu.


Tak jauh dari sana, Alisya juga Adi baru saja tiba. Alisya yang melihat salah satu temannya langsung melambai, sedang Adi yang baru keluar dari mobilnya malah teralihkan pada sosok Akmal.


"Mas, Ayo.. itu temenku.."


"Kamu duluan aja, aku nyusul."


"Kok?!" Alisya mengernyit, menunjukkan wajah kecewa.


"Aku mau beli minum dulu, sebentar kok.. malu kalo minta sama yang punya acara padahal eventnya belum dimulai." dalih Adi.


Alisya mengangguk, lantas tersenyum. "Yaudah.."


Adi berbohong, yang ia tuju bukan toko ataupun warung. Tapi Akmal, pria yang tampak tersenyum setelah mengangkat telpon.


Tepat sekali, saat Adi tiba di belakang Akmal, Akmal berbalik. Tatapan mereka bertemu. Senyum di wajah Akmal hilang seketika, berganti kaget. Ia tak bisa berpura-pura tak mengenali pria di hadapannya. Namun..


Akmal tersenyum, mengangguk sopan. Ia tak punya waktu untuk berbasa-basi dengan pria penyebab rasa sakit yang Agnia rasa.


"Sebentar.."


Tunggu! Itu ditujukan padanya? Langkah Akmal terhenti, kembali menghadapkan tubuhnya pada Adi. Jika bukan kebetulan, apa tujuan pria itu menyapanya?


"Saya?"

__ADS_1


Adi tersenyum tipis. "Saya gak yakin kamu ingat, tapi kita pernah bertemu sebelumnya."


"Emh.. ya, sepertinya begitu. Senang kembali bertemu disini.." balas Akmal, diplomatis.


Adi menganggukkan kepalanya, sesaat diam. "Kamu datang bersama Agnia?" tanyanya kemudian, terdengar mengganggu di telinga Akmal.


"Ya.. saya mengantar calon istri saya.. tapi bagiaman anda mengenalnya?"


Calon istri? Adi tersenyum getir, faktanya ia pun pernah menyebut Agnia seperti itu di masa lalu.


"Saya.. saya suami temannya." jawab Adi kemudian, terdengar kaku.


"Oh.. begitu? Saya pikir temannya.." kata Akmal, dengan tatapan yang sulit diartikan. Bak memprotes supaya tak menyinggung soal Agnia jika memang bukan salah satu temannya.


...


Setengah jam menuju jam sembilan, persiapan butik itu rampung. Tinggal pengeksekusi acara yang mulai bergerak, kini tengah mem- briefing para model.


Indri mana tau, untuk saat ini memilih percaya pada staffnya demi bercengkrama dengan teman masa SMA-nya. Sipat skeptisnya ia pinggirkan sesaat.


Sepuluh orang itu sudah menduduki kursi ternyamannya masing-masing, dengan Indri yang tak mau jauh dari Agnia. Delapan orang lainnya terdiri dari tiga orang yang datang bersama pasangan mereka sedang dua lainnya datang berdua, termasuk yang masih belum berkeluarga bergabung dengan Agnia juga Indri.


"Yang jomblo mah beda, duduknya rapet banget." tutur salah seorang yang sudah menggendong anak laki-lakinya, menggoda.


Indri mencebik, menoleh teman prianya itu. Mana terima ia dikatakan begitu, meskipun bukan satu-satunya. "Ngomong kayak gitu lagi, awas lo.. gue bikin istri Lo pulang sendiri baru tau rasa."


Seperti itulah Indri semasa sekolah, menjadi paling pengancam namun paling mudah bergaul di waktu yang bersamaan. Bahkan ia beserta teman-teman pria juga istri mereka sekalipun begitu akrab. Berbeda dengan Agnia yang sejak dulu memang begitu, tak gaul namun tak juga jarang bergaul. Lebih terkesan moderat.


Saat itu staf yang sama mengantarkan Alisya, juga satu orang lainnya. Kedatangan yang membuat tatapan semua bergantian dari Alisya ke Agnia, spontan begitu. Kisah itu bukan lagi rahasia, mereka jadi saksi hidup hubungan Agnia dan Adi semasa sekolah juga saksi bagaimana Adi justru menikah dengan Alisya.


Tak menyangka saja, untuk pertama kalinya Alisya diundang dan datang pada perkumpulan seperti ini. Pun membawa anaknya.


"Raina.." sapa Agnia, tak bisa mengabaikan salah satu muridnya itu. Raina sudah tak diam sejak melihat Agnia, membuat Alisya hanya bisa membiarkan anaknya menghampiri guru yang beberapa hari ini tak mengajar.


Ditengah basa-basinya, Indri teralihkan pemandangan itu. Ia sedikit sebal, tak paham jalan pikiran Agnia yang kini tampak nyaman bahkan membawa Raina ke pangkuannya. Ia ragu, jangan-jangan Agnia tak sadar jika itu anak dari Alisya dan Adi.


"Apa kabar, Alisya.."


"Alhamdulillah.. kalian?"


"Baik.."


"Emh.." Indri mengangguk, ia sebal sebenarnya. Tak berharap jika Alisya akan datang bersama anaknya saat tahu Agnia diundang.


"Anak kamu paling gede, gak nyangka." ujar salah satu mereka, pada Alisya. "Dulu gak kebayang kamu bakal paling dulu nikah terus punya anak."


"Dulu aku mikirnya bakal Agnia dulu, lho." timpal yang lainnya, sengaja berucap demikian ingin tau reaksi Alisya.


Semua langsung menoleh ke arah yang sama, memperingatkan. Bahkan jika sebal dengan yang sudah Alisya lakukan, itu tak pantas dilontarkan sebab Agnia juga ada diantara mereka.


"Namanya juga takdir, gak ada yang tau.." timpal satunya lagi sembari tertawa sumbang, yang justru menambah kecanggungan.


Agnia memilih pura-pura tak mendengar, justru sibuk menanggapi Raina yang tengah menyombongkan mainan yang dibawanya.


Alisya tersenyum ketir, paham yang berusaha dilakukan temannya. Kini ia disudutkan, namun Alisya tidak datang untuk bersedih. Ia sudah siap dengan resikonya saat memutuskan pergi, ia bahkan sadar jika ia kemungkinan diperlakukan begini sebab sejak masa sekolah hingga sekarang Agnia selalu jadi tokoh baik bagi teman-temannya.


Indri berdehem, membuyarkan keadaan canggung tersebut. "Terus, suamimu mana? Dia ikut?" tanyanya basa-basi.


"Ikut, kok. Masih di depan tapi."


"Datang juga ternyata, aku pikir gak datang sebab malu.." sindir satu-satunya teman pria yang datang kesana, berucap diiringi kekehan yang langsung diserang tatapan peringatan oleh istrinya.


Ah! Ternyata masih belum selesai, kenapa semua seakan berusaha menyasarnya? batin Alisya.


"Gak akan malu, lah.. kalo malu masak iya buat orang lain malu." timpal yang lainnya, masih tak mengakhiri serangan mereka. Yang dimaksud tak mungkin membuat orang lain malu adalah tentang Agnia yang dibuat malu seumur hidup sebab gagalnya pernikahan itu.


Agnia mengeluh dalam hati, tak suka situasi ini. Ia jadi bingung untuk bersikap, salah saja bereaksi ia akan terkesan keterlaluan. Bukan soal pandangan orang, tapi menurut apa yang ia rasa. Ia tak mau menjadi buruk atau menghukum Alisya lebih dari apa yang harus ia dapat. Seklai berakhri, maka semua sudah berakhir.


"Maaf, ya Alisya.. becanda kok." ralat salah satu yang paling netral disana. "Tau lah mereka, selera humornya agak ekstrim."


Alisya mengangguk pelan, kembali tersenyum Kenapa harus minta maaf? Ia pantas diperlakukan begitu, iaa sadari itu.


Staf yang sama kembali datang dan kali ini mengantar Adi yang langsung membuat semua disana bungkam, dan menatap ke arahnya. Bukan tentang Adi, tapi pria yang datang setelahnya. Demi melihat dua orang itu, Indri langsung berdiri.


Adi menganggukkan kepalanya, tersenyum pada semua orang disana tanpa terkecuali Agnia yang tengah bercengkrama dengan Raina. Gadis itu hanya menoleh sekilas, untuk kemudian beralih menatap Akmal.


"Silahkan duduk, Kak.." ucap Indri. Diikuti ia yang berjalan ke arah Akmal, segera menarik pria itu tanpa peringatan dan mengarahkannya pada kursi samping Agnia.


Indri tersenyum, itu tujuannya tak pergi jauh dari Agnia. Sekarang sempurna.

__ADS_1


"Enjoy the show! Both of U. And I guys too.." Indri berlalu setelah mengatakan itu, tak merasa harus menjelaskan apapun yang tentunya sudah bisa dipahami kawan-kawannya.


__ADS_2