
"Okay.. selamat datang kembali di rumahku istanaku, sayang.." Akmal tersenyum, merangkul bahu Agnia.
Agnia tak bergeming, mengedarkan pandangannya sesaat. Lantas menoleh Akmal tak puas. "Aku pikir akan ada kejutan.. atau semacamnya." ujar Agnia sembari menyikut lengan suaminya.
"Hem?" Akmal terkekeh, mengecup kening Agnia gemas sembari mengeratkan rangkulannya. "Emangnya mau kejutan dari aku?"
"Gak juga sih.." Agnia mengendikkan bahunya, berlagak tak acuh. "Kecuali.. kalo kamu niat, aku seneng.."
"Gitu?" Akmal menghentikan langkahnya, menahan tangan Agnia. Tersenyum miring lantas membopong istrinya itu tanpa aba-aba, hingga Agnia sudah melayang saja tanpa peringatan. "Kalo Mbak mau kejutan.. pasti aku kasih."
Agnia tersenyum kecil, melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami, takut jatuh. Tak protes ataupun bertanya, mari lihat apa kejutan yang akan diberikan suaminya ini.
"Okay.. get ready.. selamat datang di kamar baru kita." Akmal bersusah payah membuka pintu kamarnya, tersenyum percaya diri jika kejutannya akan disukai Agnia. "Maksudnya.. kamar lama namun bersuasana baru, milik kita."
Susunan ranjang, lemari, meja, nakas, juga meja rias berubah total. Agnia fokus pada perubahan itu hingga tak sadar sudah didudukkan saja di atas ranjang. Selimut diganti, gorden diganti. Agnia berganti menoleh Akmal setelah puas mencari apa saja yang diganti di kamarnya. Menatap Akmal yang duduk bertumpu lutut di hadapannya, wajahnya lebih rendah dari wajah Agnia.
"Gimana?" tanya pria itu, menagih pujian. Akan sangat puas jika niatnya dibalas dengan ungkapan terkesan, atau setidaknya sorot bahagia sang istri. Bukan hal besar, namun suasana baru rasanya sempurna untuk hubungan juga kondisi Agnia setelah keguguran bayi mereka.
Agnia menghela, menatap wajah menanti Akmal. "Emh.. bagus sih, tapi kayaknya aku lebih suka yang kemarin."
"Begitu?"
Agnia tersenyum, meraih kedua pipi Akmal. Mencubit dua pipi itu sedikit keras, terlalu gemas. "Becanda. Pilihan kamu terbaik."
Akmal mengangguk, akhirnya mendapat pujian itu. "Tapi.. sebenarnya bukan pilihanku, ini hasil rombakan Mbak Nur."
"Oiya?" Agnia tampak kaget. "Kamu sekarang udah akrab sama Mbak Nur?" tanyanya takjub, mengingat bagaimana di awal perkenalan dengan sosok Mbak Nur yang rempong itu, suaminya terheran dan sedikit takut. Tapi kali ini?
"Iya. Pokoknya Mbak gak bisa sendirian mulai sekarang, harus ada temen. Ada yang bantu, ya? Jangan nolak permintaan aku."
"Iya.." siapa juga mau menolak, ia hanya akan mendengarkan. Setidaknya hari ini saat ia masih belum bisa bebas bergerak.
"Yaudah.." Akmal bangkit, mengelus puncak kepala Agnia yang masih tertutup kerudung. "Mbak sekarang istirahat, aku ambilin makan siang dulu."
Agnia menahan tangan Akmal, belum mengiyakan ataupun menolak tawaran suaminya. Pria itu menoleh dengan alis terangkat, urung melangkah pergi.
__ADS_1
"Gak usah, aku gak laper. Nanti makannya bareng sama kamu."
Akmal menghela, mengangguk. Beranjak duduk di sebelah Agnia, saat ini sepertinya tak bisa meninggalkan istrinya seorang diri. Menarik pipi Agnia menghadap ke arahnya. "Terus? Mbak maunya aku ngapain?"
"Emh.. Kamu kan udah mulai ngerjain skripsi."
"Hem?" Akmal mengernyit. "Iya, memangnya kenapa?"
Agnia mengulum senyum, menatap Akmal yang masih menaikkan alisnya bingung.
...
Beginilah terbaik, yang dimau Agnia dan disukai Akmal. Mereka tak kemana pun, tetap di dalam kamar, betah di atas ranjang. Akmal melakukan tugasnya, berselonjor nyaman dengan laptop di pangkuannya. Beberapa buku yang jadi referensi ditumpuk di atas nakas, ditempatkan disana supaya mudah ia jangkau, sedang Agnia tidur di sebelahnya sembari memainkan kancing kemeja yang dipakainya.
"Suka mainin itu?" tanya Akmal, menoleh sesaat dari layar laptopnya. Cukup teralihkan oleh kegiatan istrinya.
Agnia mengangguk, tersenyum. Lekas menelusupkan tangannya melingkari tubuh Akmal. Untuk tak lama hilang sadarnya, disambut alam mimpi, Akmal tersenyum menyadari itu. Segera membenarkan posisi tidur Agnia, mengecup istrinya singkat, lantas melanjutkan kegiatannya.
Seakan memulai awal baru, beberapa hal bak kembali ke titik dimana mereka jadi pasangan pengantin baru. Tak ada yang dinanti. Seperti semula, mereka ingin melalui ini dengan mengalir.
"Agni nya mana?" porotong Mbak Nur, sebelum sempat diberi penjelasan. Seperti biasa rempong, sudah celingukan.
"Lagi istirahat, tidur. Karena itu aku titip jagain."
Mbak Nur mengangguk cepat. "Yasudah, kamu santai aja. Biar Mbak jagain, plus.. Mbak masakin makanan enak buat kalian, ya?"
Akmal mengangguk, menatap penuh terimakasih pada wanita paruh baya yang tak pernah gagal membuatnya melongo dengan dandanan nyentriknya. "Makasih, Mbak."
"Iya.. santai.." jawab Mbak Nur, sudah melengos menuju kamar untuk menengok Agnia.
Akmal menghela, ya.. setidaknya ia bisa mempercayai Mbak Nur, meski dengan sikap tak terduganya yang masih sering membuat ya terkejut.
...
"Bun.."
__ADS_1
"Eh! Kebetulan Bunda lagi masak buat kalian." Retno menoleh, tersenyum ditengah kesibukannya memasak. Menoleh sekilas. "Gimana kabar istrimu?" tanyanya, yang lantas membuat Akmal terenyuh. Ingat bagaimana ia membentang sang bunda di hadapan banyak orang.
Retno mengernyit, membersihkan tangannya terlebih dulu, lantas bergabung duduk melingkari meja dimana Akmal justru terdiam tanpa menjawabnya. "Akmal.. ibu tanya, lho.."
"Hem? Oh.. Mbak Agni? Baik Bun. Lagi banyak ngantuknya sekarang, betah di kasur."
"Bagus dong.." Retno mengulas senyum. "Tapi.. apa katanya?"
"Hem?"
"Maksud Bunda.. apa dia mengatakan kesedihannya? Atau.. semacam keluhan."
Akmal menghela, menatap sang bunda yang tengah menunggu jawaban darinya. Tak berselang lama menggeleng sembari tersenyum meyakinkan. "Mbak Agni bahkan lebih kuat dari aku, Bun. Aku merasa gak perlu khawatir sama sekali, dan Bunda juga. Gak perlu khawatir."
"Ya.." Retno menghela lega. "Bunda tau Agni memang bukan seseorang yang perlu dikhawatirkan, dia bijaksana dan paham sekali bagaimana cara bersikap."
"Emh.. Bun.."
"Hem?"
"Aku minta maaf soal hari itu."
"Soal hari itu?" Retno menautkan alisnya, menatap Akmal serius. Tak ingat apapun sehingga putra satu-satunya ini harus meminta maaf.
Akmal meraih tangan sang Bunda, menggenggam tangan itu dan menatap lembut. Entah kapan terakhir kali ia sehangat ini dengan ibundanya. "Waktu di rumah sakit, di hadapan banyak orang.. aku bentak bunda." lirihnya, mengakui kekeliruannya.
"Oh.." Retno justru tersenyum kecil, membalas genggaman tangan anaknya disertai belaian rembut di puncak kepalanya. "Gak papa, sayang.. Bunda gak sakit hati soal itu, Bunda paham. Bunda juga sadar kesalahan Bunda."
"Enggak, Bunda.. aku yang keliru, harusnya aku gak begitu. Harusnya aku paham kalo Bunda sekhawatir itu dengan kondisi istriku, tapi aku justru.."
"Gak papa." potong Retno, menepuk bahu Akmal. "Dengan kamu mencoba memahami maksud dan perasaan Bunda saat itu, Bunda senang. Bunda lega. Itu sudah cukup. Bunda maafin, sebagai gantinya.. jaga istrimu dengan baik."
Akmal mengangguk, tersenyum menerima tatapan hangat Retno. Hatinya sudah lega bak beban yang ia buat dengan kesalahan sendiri itu kini terlepas dari pundaknya. Dan terimakasih yang paling besar sepenuhnya pada Agnia, istrinya itu yang bahkan lebih dulu memberi pengertian saat dirinya dibutakan rasa khawatir.
"Dan.." Retno mengangkat telunjuknya. "Cepat berikan ganti, Bunda mau cucu baru. Hem?"
__ADS_1
...