
Akbar yang datang, tersenyum lebar kala dibukakan oleh sang kakak. "Aku mau numpang sarapan. " jelasnya tanpa ditanya, melengos masuk begitu saja.
"Sayang.. siapa?" tanya Akmal, terdengar sebal. Melangkah gontai menghampiri sang istri.
"Wah.. ada kemajuan ternyata, sayang ya?" cibir Akbar, menyeringai lebar.
Akmal menghela, memang siapa lagi yang bertamu di pagi begini? Sudah tentu bocah itu, memang tak perlu diragukan lagi.
"Gue mau numpang sarapan." lapornya pada Akmal, lantas menoleh Agnia. "Sama.. Mbak, ibu ngajak Munggahan di rumah."
"Oh.. oke.."
Akbar buru-buru melangkah menuju dapur, mencium aroma sama yang mengesankan Akmal tadi. Setelah sebelumnya menyimpan bawaanya ke atas meja makan. "Wah.. semur ayam. Mau dong, kangen masakan Mbak." serunya, setengah berteriak. "Aku bawa ke meja, ya.." ucaonya lagi.
Akbar sigap, memindahkan semur ayam dari panci sana ke mangkuk. Urusan makanan memang paling ikhlas dia ini. Membawa piring, dan duduk di meja tanpa dipersilahkan. Agnia sampai terkekeh melihatnya. "Ayo, Mbak.. kakak ipar.. silahkan duduk.. anggap rumah sendiri."
Akmal merangkul bahu Agnia, dua orang itu masih berdiri saat Akbar sudah melahap saja menu sarapan mereka. "Kenapa kesini pagi-pagi?" tanya Akmal datar.
Agnia menoleh, terkejut. "Hey.. kok gitu?"
Akbar dibela begitu merasa menang, tersenyum lebar. Tak menjawab dan kembali menyantap masakan yang katanya ia rindukan itu.
"Duduk!" titah Agnia pada Akmal. Pagi ini ia akan memberi makan dua orang yang seusia itu.
Akmal menghela, bergabung duduk. Menerima sodoran piring berisi nasi dan lauk pauknya. Sementara Agnia menawari Akbar ini itu. Jika cemburu wajar, katakan begitu. Heran saja kenapa Agnia dan Akbar bisa kadang akur dan di situasi lainnya saling pelotot.
...
Akbar seperti punya tempat tongkrongan baru, bisa bebas mengajak Ardi dan Fiki bermain di rumah baru Akmal dan Agnia. Otaknya sudah menyusun begitu.
"Jangan pernah ngajak anak-anak ke rumah." ucap Akmal, hal itu membuat Akbar membelak tak percaya.
Akmal mengernyit. "Kenapa? Lo udah berpikir gitu?"
Akbar berdehem, entah Akmal bisa membaca pikirannya atau bagaimana. "Emangnya kenapa gak boleh?"
"Berisik. Lagian kakak lo juga belum tentu nyaman."
Akbar terdiam sesaat, mulai kilas balik lagi bagaimana kemarahan kecil Agnia tiap ia membawa teman-temannya bermalam di rumah atau sekedar berkumpul hingga malam menjelang. Untuk kemudian mengangguk. "Okay. Untuk yang satu ini, lo bener."
Dua orang itu jalan berdampingan, beranjak dari tempat parkir bersama. Ada satu hal berbeda yang tak disadari Akmal pada diri adik iparnya. Akbar tampak menimbang sesuatu untuk diucapkan.
"Oiya Mal.. setelah saran lo itu, anehnya bukan Asma yang jadi deket sama gue." terang Akbar pada akhirnya, memutuskan menyampaikan sesuatu yang sejak jauh hari ingin ia katakan. Akmal menoleh, untuk kemudian menaikkan alisnya tanda penasaran. "Tapi.. perasaan gue yang hilang sama dia."
"Maksudnya?"
"Dia gak menarik lagi di mata gue." kata Akmal santai.
"Yakin? Kalo dia sama orang lain lo gak masalah?"
Akbar menghela, mengangguk cepat. "Yakin." jawabnya teguh, membuat Akmal menilik untuk memastikan. "Dengan begini bisa gue simpulkan.. gue belum siap nerima beban yang hari ini udah lo pikul." kata Akbar lagi.
Akmal mengangguk, mengakhiri sesi menilik wajah Akbar. Memang jelas tak ada keraguan di wajah itu. "Ya.. mencintai seseorang memang harus siap dengan beban tanggung jawabnya. Ada kalimat klise tapi memang fakta.. Ada dua pilihan saat mencintai. Halalkan atau ikhlaskan."
"Ya.. dan gue gak diciptakan untuk itu. Gue suka main game, nongkrong, bebas. Sebagai cowok gue gak bisa mengikat tanpa kepastian, atau menikahi tanpa siap menerima tanggungan." ujar Akbar sambil setelah menghela panjang, menoleh Akmal. "Kasian istri gue nantinya."
__ADS_1
Akmal tersenyum, menepuk bahu Akbar beberapa kali. Lihatlah pria tengil yang terkadang bijaksana ini kini mulai belajar tentang tanggung jawab, rasanya pantas bagi dirinya untuk merasa takjub.
Munggahan, cucurak, apapun bahasanya adalah makan bersama yang biasa diadakan sehari sebelum ramadhan tiba. Keluarga Agnia rutin mengadakan itu di rumah. Bakar-bakar ikan, membuat bakakak ayam, atau membuat liwetan sederhana seadanya. Asal sederhana namun hangat situasinya.
"Di rumah kamu gak pernah ngadain kayak gini?" tanya Agnia, setelah melihat wajah takjub suaminya.
"Ada. Cuman.. ya biasa aja." jawab Akmal sembari mengalihkan tatapannya dari pemandangan di depan menuju Agnia.
"Seru tau, hemh? Liat aja nanti. Semua yang dateng kesini pasti pulang dengan kenyang." ujar Agnia antusias, Akmal sampai ikut tersenyum dibuatnya.
Akmal mengangguk, kembali menyaksikan adegan seru yang tersuguh di depannya. Sementara Agnia segera bergabung dengan yang lainnya, berjongkok menghadap tungku yang berapi, membuat kerumunan itu makin banyak dan semakin penuh keributan.
"Wah.. minggir.." Akbar datang, bersam Ardi dan Fiki. Geng tetap tiap acara makan-makan di manapun terjadinya. Melewati asap yang mengepul, dengan masing-masing satu kresek besar di tangan.
"Uhhuk.."
Akmal menepuk punggung Ardi, temannya itu batuk di tempat yang salah juga di situasi yang salah. Menghancurkan adegan keren yang sengaja disusunnya.
"Asepnya.. gila."
"Ish!" Agnia berkacak pinggang, menghela panjang. Geram dengan tiga orang itu, bangun dari jongkoknya. "Akbar! Cepet bawa sini belanjaannya!"
...
Benar kata Agnia, yang datang pasti pulang dengan kenyang. Ini makan besar, semua membawa beras hingga makanan masing-masing. Sedangkan di halaman rumah Fauzan semua berkumpul. Ada lima tungku, yang masing-masing punya menu berbeda.
Ini seperti kebiasaan di tiap tahunnya, menyenangkan. Agnia yang selalu merasa tak sempurna dengan hari-harinya kini bisa sepenuh hati mengungkapkan kebahagiannya.
Persis prasmanan, semua mengantri di tungku masing-masing. Untuk kemudian makan bersama disana hingga terbirit kembali ke rumahnya.
"Makan yang kenyang." kata Agnia, pada dua orang tiap tahunnya rutin datang.
"Bagus deh, Mbak Agni setelah menikah keliatan lebih bahagia." ujar Fiki, menoleh Akbar dengan senyum miring.
Akbar bukannya menjawab justru melotot. "Apa hak Lo ngomong kayak gitu! Bangs*t!"
"Heh?!" Ardi menengahi. "Ente berdua kalo becanda, ya.. gak tau tempat!"
"Ya abisnya dia ngomong kayak gitu, padahal kan harusnya gue yang ngomong gitu.."
"Dih!" Fiki mencebik, ingin sekali mengarahkan bogeman dahsyat pada Akbar. "Gak jelas Lo!"
"Besok puasa, gue gak akan cari masalah." kata Akbar, memunculkan seringai di wajahnya.
"Bener, ya.. ana pegang omongan ente. Berarti ana sebulan ini bisa tenang."
"Tapi tetep, Fiki lo lebih baik jangan perhatiin kakak gue lo. Dia udah punya laki juga."
Fiki mendengus. "Lo pikir gue merhatiin kakak lo sebagai apa?" semprotnya setengah berteriak. "Gila lo! Kakak lo kakak gue juga kali!"
"Shht!" Ardi melotot. "Belum juga besok, ente berdua udah langgar aja itu janji."
"Kan janjinya besok, bulan puasa. Gimana sih, Lo!" ujar Fiki yang langsung diangguki Akbar.
...
__ADS_1
Tarawih pertama, Akmal membawa Agnia taraweh di mesjid dekat rumah Fauzan, begitu sampai akhir ramadhan nanti. Berjalan tiap malam dibawah terangnya bulan dan gemerlap lampu menuju ibadah adalah kesempurnaan.
"Yang.. besok mau saur sama apa?"
"Emh.. apa aja." jawab Akmal, tengah berkutat dengan laptop di pangkuannya.
Agnia mengernyit, duduk bersila di hadapan pria yang tengah fokus itu dengan guling di pangkuannya. Ada sebuah rubik yang kemanapun selalu dibawa Akmal, Agnia membawa itu dari atas nakas. Anteng memainkannya meski tak bisa.
Sesaat itu memancing perhatian Akmal, menyungging senyum melihat konsentrasi sang istri hingga wajahnya tertekuk begitu. Akmal terkekeh.
"Apa? Ngetawain?"
Akmal menutup latopnya, disimpannya kembali pada tempatnya. Mengambil ponsel dan memotret wajah Agnia untuk ia tunjukkan. "Nih.. liat wajah Mbak."
Agnia menoleh sekilas, untuk kemudian mengangguk samar. "Cantik."
"Ya. Memang.. tapi sini." Akmal bergeser, menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang, menyuruh Agnia duduk dalam pelukannya.
Agnia menurut, rubik di tangannya ia serahkan pada Akmal. Matanya mulai berkilat penasaran saat Akmal memainkan itu, hingga akhirnya tak paham sama sekali dan tiba-tiba saja sudah selesai.
"Aku ulang?"
"Gak usah! Pusing.. lain kali aja." jawab Agnia, merebut rubik yang warnanya sudah serempak itu.
Akmal terkekeh, memperhatikan wajah Agnia saat ini. "Oiya.. Mbak.."
"Mbak?" Agnia sampai menoleh, menyadari itu.
"Sayang.. maksudku sayang."
"Lebih baik. Aku gak merasa tua kalo gitu. Ulang.."
"Sayang.."
"Lucu.." Agnia terkikik, mecubit hidung Akmal gemas. "Apa, sayang?"
Akmal menghela, menatap Agnia lekat. Siap menanyakan hal penting. "Emh.. waktu tau aku susah tidur sejak meninggalnya Ulya, apa tanggapan kamu?"
Agnia menoleh Akmal sekali lagi, untuk kemudian menyimpan rubik ke atas nakas kembali. "Ada perasaan kayak digigit semut." terang Agnia sembari tersenyum kecil, membentuk jarinya melingkar sekecil mungkin. Lucu saja mengingat bagaimana ia rela bersikap manis meski saat itu belum sepenuhnya terbiasa. Ia hanya tak mau jika Akmal sampai tak menemukan sakinah atau ketentraman dalam rumah tangga bersamanya.
"Kamu gak sedih?"
"Enggaklah. Kamu kan punya ku. Lagi pula prasangka buruk aku tentang kamu aku anggap sebagai angin lalu, kita sudah terikat. Gak ada pilihan selain sama-sama, kan?"
"Prasangka seperti?"
"Kamu nikahin aku karena terpaksa."
Akmal menggeleng, menatap Agnia dalam. "Kenapa Mbak berpikir begitu?"
Agnia tersenyum. Mengusap lembut pipi Akmal. "Tapi sekarang enggak, karena.. kamu cinta aku kan?" tanyanya.
Akmal tak menjawab, balas memeluk Agnia. "Maff karena membuat Mbak berpikir begitu." lirihnya. Agnia kembali tersenyum, tak ada apapun selain kebahagiaan di hatinya. Membalas hangat pelukan itu, mengelus punggung Akmal.
Tak tau apapun, perjalanan ini baru saja dimulai. Namun Agnia hanya tau, yang dia rasakan ini.. bukan sekedar cinta. Ada sakinah di dalamnya.
__ADS_1
Tentram luar biasa hatinya, Akmal menyembuhkan setiap lukanya. Memberinya nafas baru dalam kehidupan, Membawanya kembali menjadi diri yang penuh syukur dan bahagia.
"Love U.."