
Mawaddah, ialah cinta yang melandasi pernikahan. Jadi salah satu dari tiga pondasi yang terucap semua sebagai do'a. Jika sakinah adalah ketentraman, Makah mawaddah adalah cinta.
Mawaddah itulah yang dimiliki setiap pasangan, hanya saja ia tak langgeng. Kelak tubuh tua renta, mawaddah itu berubah menjadi Rahmah yang adalah kasih sayang.
"Semangat.." kata Agnia seraya tersenyum, setelah Akmal melepas genggaman tangannya dan kini menghadapnya. "Puasa pertamanya."
Akmal mengangguk, mengulas senyum. "Hemh.. Mbak juga."
Hari baru, pengalaman pertama puasa ditemani pasangan. Jalan hidup adalah rahasia terbesar. Menakjubkan sekali bagi Akmal dimana ramadhan lalu ia sendiri dan tak sedikit pun berpikir untuk segera menikah, tapi ramadhan ini ia justru sudah ditemani seseorang yang amat dicintainya.
Jangan tanya soal Agnia, ia sama takjubnya. Mana pernah dirinya terpikir untuk menikah, bahkan saat sosok menyebalkan dan ambisus Akmal datang mengobrak-abrik hatinya, ia benci sekali pria itu. Hingga akhirnya pria yang ingin sekali ia hindari itu, kini jadi seseorang yang paling ia inginkan kehadirannya.
Mentari belum terlalu tinggi, hangatnya menyapu. Membuat sempurna cuaca hati pasangan pengantin baru itu, yang masih dimabuk cinta dan dinaungi suka.
Agnia meraih lagi tangan Akmal, mencium punggung tangan pria itu sigkat. "Love you.." ujarnya manis.
Akmal tersenyum kecil, lihatlah menggemaskannya Agnia tiap mengatakan itu. Ia sering kali dibuat lupa untuk membalas sebab itu.
"Gak jawab?" Agnia merengut, belum melepas tangan sang suami dari genggamannya. Seperti biasa akan menagih jawaban setiap tak mendapat respon.
Aduh! Lucu sekali, tak tau tentang pria yang dulu meninggalkan istrinya ini. Bagaimana bisa mengabaikan mahluk manis ini? Mahluk yang terlihat dewasa diluar namun menggemaskan saat berduaan. Akmal terkekeh, mengusap puncak kepala Agnia. "Love u more.."
Agnia kembali menyungging senyum, meluncurkan pelukan pada Akmal. "Hati-hati.."
"Iya." Akmal mengangguk, mengenakan helmnya untuk kemudian meluncur dengan motornya meninggalkan halaman rumah. Dan begitulah bagaimana Agnia ditinggal sendiri, dengan bosannya. Menghela pelan sembari memperhatikan motor suaminya hingga hilang dari pandangan.
Sebuah panggilan datang, ponselnya bergetar dari dalam saku. Agnia saat itu juga mengeluarkan ponselnya, menjawab telpon sembari berdiri menghadap halaman rumahnya yang baru terisi satu dua pot bunga. "Halo, wa'alaikumsalam.. kenapa Mas?"
Masih mendengarkan, Agnia mengedarkan matanya ke sekeliling taman. Mulai mengira-ngira bagaimana sebaiknya membuat halaman rumahnya yang cukup luas jadi taman yang asri.
"Oh!" Agnia tiba-tiba berbinar, yang dikatakan Hafidz seakan menyembuhkan kebosanannya. "Mau titip Zain? Boleh.. aku santai kok, Mas." katanya jujur.
Bocah empat tahun itu datang tak berselang lama, Agnia yang menunggu di teras rumahnya kini bangkit dan menyambut. Langsung memangku Zain, lebih antusias dari Zian sendiri.
Hafidz menghela, akhirnya Zain mau ditinggal juga. Padahal sudah bersama neneknya namun kekeh ingin ikut, hingga nama Agnia terlintas di kepala Hafidz. "Ayah pergi, ya.. Zain."
"Iya. Pergi aja." kata Agnia, tanpa sama sekali menoleh. Sudah menangkap Zain ke pelukannya. "Lain kali kalo anak susah ditinggal yang gak usah ijin, anak seusia ini mana mau diajak kompromi." gerutu Agnia, mendelik pada akhirnya.
Sedang Hafidz hanya menghela, tak menafikan sama sekali. "Baiklah.. ibu guru."
.
.
__ADS_1
.
Katanya hari pertama puasa itu melelahkan, perut belum terbiasa hingga bagi beberapa orang cukup menyedot semangat. Begitu juga bagi Akmal, pulang dengan wajah lesu. Pusing sekali, setelah berkutat bersama para karyawannya di toko demi menemukan ide baru menjelang ramainya pesanan hari raya. Diskusi dalam mereka buat, peluang pasar tahunan tidak bisa diabaikan begitu saja.
Pria itu menghela panjang, menoleh satu mobil yang sudah tak asing lagi. Itu milik Hafidz, masalahnya mereka tak pernah dekat sejak awal hingga kakak iparnya itu jadi gambaran menakutkan baginya. "Assalamu'alaikum.."
Agnia berjalan cepat menuruni tangga, tersenyum lebar melihat Akmal yang baru selangkah dari ambang pintu. "Wa'alaikumsalam.."
"Mobilnya Mas Hafidz, ya?" tanya Akmal, setelah Agnia mengecup singkat punggung tangannya.
Agnia mengangguk. "Iya."
"Mana orangnya?"
"Ada, lagi di dapur. Ngerecokin aku masak dia.. Emh.." jawab Agnia, cepat-cepat mengakhiri jawabannya untuk bertanya hal lain. "Gimana hari ini?" tanyanya sembari duduk di sebelah Akmal.
Akmal tersenyum kecil, tak bisa menyembunyikan wajah lelahnya. "Luar biasa.."
"Ah.." Agnia mengangguk saja, tau Akmal mungkin lelah dan tak mau banyak menjelaskan. "Cape, ya.. yasudah.. mandi dulu, hemh? Air hangatnya udah aku siapin."
Akmal mengangguk, untuk kemudian bangkit sembari merentangkan tubuhnya. Beranjak menaiki tangga, ditemani tatapan dan helaan Agnia.
Masih sama, tatapan mematikan Hafidz pada adik iparnya tetap membangkitkan atmosfer menyesakkan. Agnia sampai menghela, menoleh Akmal yang seakan serba salah dibuatnya. Zain tentu saja menempel pada Akmal, minta diberi tunjuk cara bermain rubik seperti tempo hari.
"Yaudah, Zain biar disini. Ya? Mas pulang aja." kata Agnia, setelah melihat Zain yang tak kunjung bisa dibujuk.
Hafidz mengernyit, wajah datarnya berubah mengintimidasi. "Kamu gak niat ngajak mas buka disini juga?"
"Enggak." jawab Agnia cepat, singkat dan tegas. "Mas gak dengerin aku soalnya.. Mas juga buat suamiku gak nyaman." jujurnya, hingga Akmal spontan menoleh.
Hafidz mendengus, takjub saja.. Akmal jadi satu-satunya pria yang membuat Agnia berani berkata ketus begitu padanya. Jelaslah adiknya ini begitu menyayangi suaminya. Namun itu sikap yang benar, ia memuji Agnia untuk itu. Sebab dirinya tak berhak jadi orang ketiga hingga nantinya membuat salah satu mereka memihaknya sedang yang lain merasa canggung, itu akan buruk sekali untuk rumah tangga mereka.
"Baiklah.." Hafidz mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Mas pergi tapi Zain juga ikut, kita gak mau ganggu pengantin baru." sindirnya, menekankan kata 'pengantin baru.
"Yaudah.." balas Agnia tak mau kalah. "Dan perbaiki itu.." ucapnya lagi sembari menunjuk-nunjuk wajahnya sendiri.
"Apa?"
"Ekspresi.. gak tau gimana Mbak Puspa bisa jatuh cinta sama Mas yang muka tembok itu."
Akmal tak bergeming, dalam diamnya menyungging senyum. Ini momen langka, pertama kalinya ia melihat sang istri bertengkar kecil dengan Hafidz. Lucu saja, ia tak pernah punya momen seperti ini dalam hidupnya.
Dan mungkin hal itu juga yang membuat dirinya lebih dewasa dari kawan seusianya. Ia terbiasa sendiri, menyelesaikan masalah sendiri, tak ada waktu becanda, hingga humor dalam hidupnya saat ini ya terjadi setelah rasa ketertarikannya pada hidup Agnia.
__ADS_1
Gelapnya satu sisi Agnia, membuatnya jatuh pada kehidupan lain yang mengelilingi istrinya dulu. Akbar yang jahil, Puspa yang ramah, Zain yang polos, Khopipah yang keibuan, juga Fiki dan Ardi yang penuh semangat. Setelah mengenal Agnia ia mengenal beragam emosi, ia disadarkan jika ada seseorang yang lebih tak menyenangkan hidupnya dari dirinya.
...
Kurang dari tiga jam menuju buka, Agnia sudah sibuk di dapur. Membongkar semua isi kulkas. Sementara Akmal terdengar membaca Qur'an. Duduk di sopa dengan nyaman menghadap televisi yang mati seperginya Hafidz dan Zain. Sore itu menyenangkan, Agnia sesekali menghampiri Akmal untuk tidur di pangkuannya sembari mendengarkan kekasih halalnya itu melantunkan ayat suci nan indah.
Baru saat Adzan berkumandang, Akmal beranjak dari duduknya. Bergabung ke meja makan dimana Agnia masih betah keluar masuk dapur.
Adzan itu tanda selesainya hari pertama puasa yang cukup melelahkan namun bermakna ini. Dua orang itu tak menunda makan, bagi mereka melaksanakan shalat dengan perut kenyang lebih baik dari pada shalat namun pikiran mereka terikat pada makanan.
Apa lagi Agnia sudah terpikat pada sop buah buatannya sejak tadi, hingga mana bisa ia diburu-buru. Baginya syarat sah menikmati sesuatu adalah dengan tidak terburu-buru.
Akmal dari tempatnya duduk menyungging senyum, betah memperhatikan Agnia yang anteng dengan sop buahnya. Entah serius atau memang menikmati, namun keningnya berkerut sempurna hingga membuat wajah bulatnya menggemaskan. Selalu begitu setiap serius.
"Kenapa?" Agnia menaikkan alisnya, ikut menyungging senyum menyadari tatapan Akmal yang diiringi senyum teduh menularnya. "Ada yang lucu?"
Akmal menggeleng, masih tersenyum. "Bukan lucu, tapi takjub. Tahun ini buka puasa aku ditemenin istri."
"Oiya? Kok aku gak ngerasa gitu, ya?" kata Agnia santai, berusaha mengatakan jika ia sama sekali tidak terkesan dengan perubahan ini.
"Gitu ya? Tapi kok senyumnya lebar ya.. dari tadi gak ilang terus, kecuali pas belain suaminya di depan Mas Hafidz tadi."
"Bener, kok. Aku gak takjub takjubnya.." tegas Agnia. "Soalnya kamu gak kayak orang baru buat aku, entah kalau aku buat kamu." ujarnya lagi sembari memasang ekspresi ngambeknya.
"Sayang.. jangan mulai." Akmal memanyunkan bibirnya, meniru wajah Agnia saat ini.
Agnia mengangkat kedua bahunya pelan, kembali tersenyum lebar. "Becanda.."
Hening, dua orang itu sibuk dengan piring merek masing-masing hingga Agnia teringat hal lain. menatap Akmal serius. "Oiya.. Aku baru inget kalo kamu dulu se anti sosial itu." katanya, spontan membuat Akmal mengalihkan matanya dari priring. "Bahkan kamu gak pernah kan ikut ke rumah, selain sama Bunda?"
Akmal mengangguk. "Iya. Soalnya gak tau kalo di rumah Akbar ada bidadari." terangnya diiringi cengiran. "Coba kalo tau dari dulu, udah ketemu lama kita.."
Agnia mencebik, bidadari apanya.. "Tapi kok bisa, ya.. cair lho kamu sekarang, gak kaku kayak dulu."
"Entahlah.. mungkin karena udah ketemu sama bidadarinya kali ya.. jadi identitas aslinya terungkap." kata Akmal lagi, masih dengan candaan. Yang sekali lagi membuat Agnia mencebik.
"Aduh.. manis ternyata ya.." Agnia berucap datar, mendelik tipis sang suami. Akmal terkekeh seketika. "Apanya sayang? Kurmanya?"
"Bukan.. sop buahnya.." jawab Agnia disertai senyum. "Mulutmu, sayang.."
Obrolan hangat itu terjadi hingga makan selesai, dua orang itu lantas berjamaah. Bersatu dalam ibadah penuh khusyuk, dengan suara merdu penuh damai milik Akmal penghiasnya.
Akmal tak bisa menjelaskan, jika perubahan besar pada dirinya memang dimulai sejak mengenal Agnia. Hanya saja ada satu perasaan tak terungkapkan tiap memandangi wajah cantik itu, Agnia adalah berkah luar biasa dalam hidupnya. Dengan jalan berliku yang ia lalui untuk mempersuntingnya, Akmal tak menyesal sama sekali.
__ADS_1