Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
190


__ADS_3

Yang tak nampak adalah isi hati, perasaan, dan kehendak takdir


Sejauh mana diri yakin sudah memahami, seringkali ia salah.


Sebab diri sebenarnya sedang berprasangka.


Berharap semoga semua baik-baik saja, dan semua yang dilakukan terwujud kebaikan.


...


Agnia sungguh tak pergi kemanapun, tak pergi ke madrasah usai dhuhur berkumandang. Meringkuk di bawah selimut, benar-benar mengistirahatkan tubuh juga pikirannya. Tubuhnya tak tau kenapa tiba-tiba terasa ringkih. Kram bagian bawah perutnya terasa lagi beberapa kali, diikuti pegal di punggungnya. Ia tak punya pilihan selain berdiam diri.


Suara pintu kamar dibuka spontan membuat Agnia ikut membuka matanya, menoleh ke arah pintu. Itu Akmal, yang bersama senyuman teduhnya kini mendekat. Beranjak menuju sisi Agnia, mengecup puncak kepala istrinya singkat.


Agnia balas tersenyum. "Katanya hari ini sibuk?" tanyanya, ingat betul saat suaminya ijin untuk pulang larut tadi pagi.


"Enggak kok, ternyata kerjaannya gak begitu penting. Mas Dimas bisa handle. Jadi aku langsung pulang karena Akbar ngasih tau Mbak gak enak badan." ujarnya sembari membelai rambut sang istri.


"Emh.." Agnia mengangguk pelan. "Tapi harusnya kamu gak pulang, aku gak papa."


"Gak papa dengan wajah pias begitu?"


Agnia menghela pelan. "Beneran, gak papa. Cuman pegel punggung sama kram perut kayak kemarin, udah."


Akmal menatap takjub. "Kalo gitu berarti ada apa-apa, sayang.." ujarnya gemas. "Kita ke dokter aja, ya? Periksa?"


"Iya, tapi gak sekarang.. aku gak kuat naik mobil."


"Yaudah.. iya." Akmal menghela panjang, mau khawatir pun kembali lagi ke diri yang sakitnya. Jika maunya tak sesuai keinginan kita, apa boleh buat. "Sekarang Mbak istirahat lagi.. aku gak akan ganggu, mau ngobrol sama Akbar sebentar, ya?"


"Iya.."


Akmal tersenyum, mencium kening Agnia. "Syafaqillah, sayang.."


...


"Memangnya dia siapa? Kenapa tiba-tiba bisa mengguncang rumah tangga kalian?" tanya Akbar dramatis, menagih penjelasan lebih. Tentu saja, Akmal hanya bilang pemuda itu temannya yang memang tak punya hubungan baik selama sekolah. Tapi ayolah.. Akbar tak paham, dirinya juga punya pertemanan yang toxic jaman sekolah. Tapi tak pernah ada yang seperti ini.


Akbar menghela, memikirkan hal bodoh. Kini menatap Akmal curiga. "Setau gue dia bukan mantan Mbak Agni, atau.. jangan bilang.."

__ADS_1


"Ngawur! Jangan mikir aneh-aneh." potong Akmal, mendelik singkat.


"Gue gak ngomong apa-apa juga.." gumam Akbar, tersungut-sungut.


Akmal menghela. "Pokoknya ceritanya panjang, gak sempet kalo jelasin sama lo. Dan gak penting buat lo tau."


"Heh! sejak gue jadi orang ketiga di rumah tangga ini. Tandanya gue harus tau! setidak penting apapun itu."


Akmal mengernyit, menatap adik iparnya dengan tatapan heran. Sejak kapan Akbar jadi orang ketiga di rumah tangganya? Berani sekali mengakui dirinya begitu. Padahal hanya perasaannya saja.


"Apa?" Akbar balas melotot, tak terima tatapan Akmal padanya. "Kalo ada orang ketiga di hubungan kalian, itu adalah gue. Sebab lo sering libatin gue ini itu, dan nyusahin gue. Jadi apa salahnya sekarang giliran gue nagih jawaban?" tutur Akbar, meluruskan tatapan yang sulit diterjemahkan dari Akmal.


"Okay!" Akmal terpaksa untuk setuju. "Gue jelasin, tapi gak sekarang. Kakak lo sakit, jadi mohon kerjasamanya."


"Baiklah, suami siaga. Silahkan.."


Akbar tak keberatan, balas mengendikkan bahunya singkat. Hanya saja ia masih terheran, saat bisa menjelaskan seluruhnya kenapa Akmal mempersulit dan terkesan tak mau membagi semuanya. Ia jadi penasaran, apa yang disimpan Akmal ada hubungannya dengan perubahan mood Agnia tadi? Separah itu kah pengaruh kehadiran pemuda asing itu?


...


Niat hati ingin membuatkan masakan, Akmal justru terjebak dalam ketidak mampuannya. Niat baik memang tak selalu berjalan baik apalagi dihadapkan pada sesuatu yang kita tidak ahli di dalamnya.


Ya, untuk beberapa hal menyerah memang yang terbaik. Akmal menghela, bangkit dari duduknya. Melangkah gontai menuju ruang tengah, mulai berpikir untuk memesan makanan saja.


Beruntungnya, niat baik meski sering kali tak berjalan lancar.. niat itu selalu terganti dengan hal-hal mengejutkan. Suara pintu baru saja ditutup terdengar, tak berselang lama diikuti kedatangan seseorang yang cukup mengejutkan juga memberi hawa segar bagi Akmal.


"Ibu.."


"Akmal.. gimana Agni?" Khopipah bertanya sembari melangkah lurus menuju dapur, berhenti di meja makan dan menyimpan semua bawaannya.


Akmal mengekor, kembali lagi ke meja makan. "Emh.. Mbak Agni, lagi istirahat Bu. Katanya gak enak badan, perutnya kram lagi."


"Emh.." Khopipah mengangguk, sigap membawa peralatan makan untuk memindahkan makanan yang dibawanya dari rumah. Tampak tak kesulitan, bak tau di sudut mana saja Agnia menyimpan peralatannya.


"Eh! ini, kamu.." Khopipah menoleh Akmal. "Kamu mau masak?"


"Emh.. itu, Bu.." Akmal menggaruk tengkuknya tak gatal. "Iya, tadinya. he.."


...

__ADS_1


Akmal membawakan satu nampan menu makan siang. Sepiring nasi hangat bersama lauknya, satu mangkuk sup yang masih mengepul, satu buah apel yang sudah dipotong, juga segelas air. Melihat itu Agnia tersenyum kecil, mendudukkan tubuhnya.


Hidangan menggugah selera itu Akmal letakkan di atas nakas, sedang dirinya duduk di samping Agnia dengan menyungging senyum.


"Kamu yang masak?" tanya Agnia, menilik masakan itu baik-baik. Tau betul bukan masakan buatannya yang dihangatkan lagi, itu masakan baru.


"Bukan, ibu yang kirim."


"Oh.."


"Kenapa?" Akmal tersenyum sebab reaksi istrinya. "Kecewa? Mau aku yang masakin?"


"Boleh. Kata Bunda kamu jago masak."


"Jago, gosongin sama jago makannya." jawab Akmal disertai cengiran.


Agnia ikut tersenyum, mengelus pipi Akmal singkat. "Gak papa, ada aku. Aku bisa masakin apapun buat kamu, Hem?"


Akmal mengangguk, tersenyum dengan matanya. Mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Agnia singkat, begitu saja sebab gemas. "Makannya aku suapin, ya." tuturnya sembari mengambil sepiring nasi ke pangkuannya.


"Gak usah, aku bisa sendiri."


"Bener?"


"Iya."


"Gak mau disuapin suaminya?"


"Gak usah.." Agnia terkekeh, merebut piring dari tangan Akmal. Piring juga sendok itu sudah berpindah tangan. Agnia tertawa kecil sesaat melihat porsi nasi yang dibawa suaminya, beralih menatap Akmal. "Ini porsi makan siapa, sayang? Sebanyak ini buat aku.."


"Bukan porsi makan aku juga, Ibu yang ngasih sebanyak itu hanya untuk putrinya."


Agnia mengendik, sudah menyuapkan sesendok besar ke mulutnya. Lekas menyendok sekali lagi, memberi suapan itu untuk Akmal. Pantang ditolak, membulatkan matanya saat suaminya menggeleng memberi penolakan. Baru tersenyum lagi setelah Akmal menerima suapannya.


"Seneng?"


Agnia mengangguk.


"Ehhem." Khopipah datang saat itu, masuk ke kamar yang pintunya terbuka sembari menggeleng heran. "Ini yang sebenarnya sakit siapa?" tanyanya takjub, melihat Akmal yang justru disuapi Agnia.

__ADS_1


...


__ADS_2