Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
56. si Syawal


__ADS_3

Bahagia?


Bagiku saat ini cukup dengan hadirmu.


Sebab diri ini hanya sanggup mencipta bahagia


Hanya saat menggenggam tanganmu.


***


"Disini"


Agnia menghela napas pelan, lelah sekali. Ingatan Akmal yang menunjuk dadanya sendiri saat ditanya 'dimana perempuan masa lalunya itu berada' terus bermain di kepalanya. Tanpa disengaja terus saja mengganggu fokus Agnia.


"Mikirin apa?" Akbar yang entah sejak kapan duduk di dekatnya bertanya.


Agnia menoleh Akbar dengan tatapan malas. Lantas menggeleng.


"Emh.." Akbar mencebik. "Lagi mikirin syawal?"


"Jangan mulai!" Peringat Agnia, lesu sekali suaranya.


Akbar mendengus pelan. "Gak seru!" protesnya.


Agnia mengendikkan bahunya, memilih memejamkan mata. Lelah sekali hari ini, tak kan sanggup jika harus berlanjut menangani Akbar.


Sesaat tenang sekali Agnia rasa, tak ada gangguan dari Akbar. Putra bungsu dari tiga saudara itu kembali mengalihkan konsentrasinya pada televisi. Sedang tangannya sibuk menyuap, meraih makanan ringan yang tersedia di hadapannya.


Namun itu hanya sesaat, Akbar sepertinya tak bisa melihat Agnia tenang. Beberapa saat kemudian sudah melirik-lirik Agnia penuh penasaran.


"Mbak.."


"Emh.."


"Gak tidur?"


"Enggak.. Kenapa?"


"Gak papa. Nanya aja."


"Hemh.."


"Mbak.." Akbar kembali beraksi saat tak ada protes dari Agnia saat ia ganggu.


"Hemhh?"


"Cari makan yukk!"


Agnia spontan menolehkan kepalanya, membuka matanya lebar-lebar. Sekilas menatap jam dinding, sudah pukul sembilan saat ini. "Tiba-tiba?"


Decakan keluar dari mulut Akbar, entah mengapa semua selalu bertanya demikian. Akbar bosan sekali dengan pertanyaan yang seakan mempertanyakan keseriusannya itu. "Mau apa enggak?"

__ADS_1


"Berdua aja?"


"Iya. Sama siapa lagi emangnya!" sungut Akbar, sama sekali tidak santai. "Atau mau ngajak si syawal?"


Agnia spontan saja menutup matanya kala mendengar kata syawal disebut Akbar, berlaga pingsan.


"Dih!" Akbar terkekeh melihat itu, tampaknya kakaknya itu sedang tak punya energi untuk berdebat.


"Jawabannya iya atau enggak?"


Agnia mengangkat tangannya, membentuk oke. Sedang matanya nyaman tertutup. Masih meneruskan pura-pura pingsannya itu.


.


.


.


.


"Makan soto enak kayaknya.." Agnia berucap pada dirinya sendiri, yang sebenarnya masih menimbang hendak makan apa. Berdiri menghadap jajaran gerobak yang menjajakan berbagai makanan. Akbar di sebelahnya mengusap wajah pelan, heran kenapa sulit sekali hanya untuk makan saja.


"Kita jadi makan atau enggak?" protes Akbar, merasa kakinya mulai lemas sebab terus berdiri tanpa kepastian.


Agnia mendelik Akbar, tak sabaran sekali adiknya ini. Padahal salahnya juga, tak menentukan tempat mana yang ingin disinggahi sebelum berangkat.


"Maaf.." seperti biasa Akbar mengalah, menurunkan pandangan juga egonya. "Teruskan.."


"Emh.. Yaudah, bakso aja.." Agnia akhirnya memutuskan, meraih tangan Akbar bersamanya. Sedang yang digandeng pasrah saja, sekaligus sebal. Untuk makan saja jadi ribet untuk wanita.


Agnia tampak antusias, sedangkan Akbar biasa saja. Lebih terlihat tak nyaman makan di tempat yang terlalu terekspos ini. Akbar dibuat malu sendiri meski tak satupun peduli. Seakan suruh perhatian tertuju padanya.


"Kenapa?" Agnia mengernyit, terkekeh melihat wajah tak nyaman Akbar.


"Aku gak nyaman makan disini.." ucap Akbar, berbisik. Tentu saja itu yang jadi keresahannya.


"Jangan sok mewah! Selama bersih dan halal harusnya gak jadi masalah.."


"Bukan itu.."


"Terus?"


Akbar menghela napas kembali, menatap Agnia yang sudah mulai menyuap. "Mbak mungkin gak setuju. Tapi.. Bukankah tempat ini terlalu bising?"


Agnia tersenyum lebar. Letak kedai bakso ini memang di pinggir jalan raya, tentu suasananya akan seramai ini. Lagipun ini salah satu street food terbaik di kota ini, sudah pasti banyak peminat.


"Jangan mengeluh! Makan aja!"


"Ish.. Mana bisa aku menyuap di situasi kayak gini.." gumam Akbar pelan, namun tetap meraih sendok dan garpu di hadapannya.


"Terus apa masalahnya? Kamu pikir orang-orang peduli? Mereka sibuk dengan urusannya sendiri! Kecuali kalo kamu selebriti..."

__ADS_1


"Padahal aku suka ketenangan.." ucap Akbar lagi pada dirinya sendiri. Mengabaikan kalimat Agnia barusan.


Agnia terkekeh mendengar itu, sesaat teringat. Tadi sore ia mengatakan hal yang sama pada Akmal. Adik dan kakak sama saja, seleranya tak jauh berbeda. Lebih menyukai tempat yang damai dibanding keramaian.


.


.


.


.


Gelap, sunyi, hanya secerca cahaya yang masuk lewat jendela. Akmal terlentang di ranjangnya, menatap kilauan cantik di langit langit kamarnya hasil pantulan cahaya lampu teras yang memantulkan oleh air kolam di luar.


Tak bisa tidur di jam sebelas malam, Akmal berakhir dengan pikirannya yang bercabang. Wajah Ulya dan Agnia bergantian muncul di matanya, seakan keduanya bersikeras enggan tergantikan di hati Akmal.


Akmal memejakkan matanya sejenak, mencari tahu siapa yang pertama muncul kala memejam. Bayangan seseorang tampak, hati Akmal meyakini itu Ulya namun wajah itu justru berwujud Agnia.


Akmal kembali membuka matanya, tak memaksa untuk mencari sosok Ulya di sana. Sebab seharusnya begitu, Ulya sudah jauh dari jangkauannya. Sedangkan Agnia begitu dekat dan memang satu-satunya yang harus ia tuju.


"Lalu apa tujuan kamu ngasih tau saya hal itu?"


Akmal spontan terkekeh mengingat wajah sebal Agnia kala bertanya demikian. Membuat Akmal semakin yakin jika Agnia juga bisa jatuh kapan saja ke dalam pelukannya. Diakui atau tidak, wajah kesal Agnia itu berarti bagi Akmal.


Hanya saja Akmal tak menjelaskan kenapa Ulya meninggalkannya pada Agnia. Kekasih masa lalunya itu sudah lama tinggal sebagai kenangan di hatinya. Akmal tak sempat menyelesaikan ceritanya, tak sempat waktu dan tak tepat waktu. Biar Agnia menilai dan memutuskan kehendaknya setelah tahu setengah kisah masa lalunya.


.


.


.


Agnia menarik napas dalam-dalam, menikmati udara malam yang meski menusuk namun terasa segar untuk dihirup. Memang paling menyenangkan berjalan-jalan malam hari, menikmati jajaran lampu yang tampak kerlap kerlip dari jauh. Belum lagi bulan utuh yang tersaji di atas langit, ditemani gemerlap bintang yang semakin menambah syahdunya malam.


Akbar yang berjalan bersebelahan dengan kakak perempuannya tersenyum geli, penasaran kenapa pemandangan sederhana itu bisa membuat Agnia tersenyum sendiri.


"Mbak seneng?" tanya Akbar.


Agnia menggeleng, tatapannya berubah kecut. "Tapi seneng banget." ucapnya lagi, seraya tersenyum sendiri.


"Dih! Gak lucu.."


"Emang gak lagi ngelucu!" Agnia mengangkat bahunya.


"Tapi aku penasaran.. Apa yang membuat pemandangan sederhana ini bisa membahagiakan?"


"Karena.. " Agnia menggantung jawabannya sejenak, menautkan alisnya. Tak tahu apa yang hendak diucapkan. "Entahlah.." kata Agnia, Tiba-tiba saja tak punya ide.


"Mulai gak jelas.."


Agnia mendelik. "Tapi itu faktanya.." Tanpa peringatan meletakan telunjuknya pada dada Akbar. "Sesuatu disini.. Itu penentunya."

__ADS_1


Akbar menautkan alisnya, masih mendengar apa yang berusaha dijelaskan Agnia.


"Ketika sesuatu disana sakit, mata kita gak berhenti berurai air mata. Dan jika sesuatu disana merasa senang, itu membuat kita tersenyum sepanjang hari." ucap Agnia, kembali menatap adiknya ditengah langkahnya. "Dengan demikian.. Apa kira-kira alasan kebahagiaan?"


__ADS_2