Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
86. jangan membuat bingung!!


__ADS_3

Retno menatap Akmal dengan sorot bingung saat anaknya itu kembali setelah cukup lama, yang membuat heran adalah Akmal datang membawa bingkisan itu kembali. Bingkisan yang tadi ia titahkan untuk diantar ke rumah Agnia.


"Lho!" Retno mendekat, menilik Akmal yang bahkan belum sempat duduk. "Itu kenapa dibawa pulang lagi?" tanyanya, sembari telunjuknya mengarah pada bingkisan di tangan Akmal.


Akmal untuk sesaat tak paham tatapan sambutan Sang Bunda, hingga bingkisan itu ia angkat ke depan wajahnya. jangankan Sang Bunda, dirinya sendiripun kaget. Akmal baru sadar sudah membawa pulang bingkisan yang harusnya sampai ke tangan Khopipah.


Untuk menutupi kekeliruannya, Akmal segera tersenyum lebar. Menetralkan ekspresinya, selagi otaknya mulai bekerja untuk mencari alasan.


Tak mungkin mengatakan jika ia terlupa sebab cemburu melihat Agnia bersama pria lain. Itu, terlalu memalukan untuk diberitakan.


"Iya Bun, tadinya aku mau kesana. Tapi.. aku rasa lebih baik Bunda yang kesana."


Retno mengernyit, tak yakin dengan jawaban anaknya. "Terus tadi kamu dari mana? Padahal cukup lama lho."


"Emh.. aku, udah di jalan tadi. Cuman.. ada pemandangan yang mengganggu di jalan, jadi.. karena itu aku pulang lagi."


Retno mengangguk, memilih percaya saja. Meski kentara bohongnya Akmal, entah apa yang coba disembunyikan anak satu-satunya itu. "Yasudah, kamu dua hari ini kayaknya memang gak bisa dipercaya. Sekarang biar Bunda siap-siap dulu, kita ke rumah Tante Khopipah sama-sama."


Retno tak sempat melihat wajah bingung Akmal, sudah pergi tanpa menunggu jawaban dari anaknya itu. Beranjak menuju kamarnya.


Akmal ketar-ketir, pasalnya ia hanya asal bicara tadi. Sama sekali tidak berencana kembali ke rumah Agnia, setelah kedapatan pergi begitu saja. Akmal, hanya bisa meringis dalam hati.


.


.


.


.


Sore ba'da ashar ini, Agnia melangkah menuju balkon atap rumahnya. Menenteng keranjang baju kosong, memang berniat mengangkat jemuran.


Namun alih-alih meraih pakaian yang melambai tertiup angin itu, Agnia justru berdiri melawan arah angin. Menikmati hembusan yang mengusap lembut wajahnya.


Helaan napas keluar dari mulutnya, Agnia sama sekali tak punya ide tentang apa yang ada dipikiran Akmal. Yang ia tau hanyalah fakta bahwa Akmal membuat kepalanya terasa akan pecah, pria itu tak jelas sejak awal pertemuan mereka, begitu juga hari ini.


Agnia resah sendiri, apa salahnya hingga pria itu tiba-tiba menciptakan jarak. Datang dan hilang sesuka hati, bak hantu.


Belum lagi perihal cincin, sikap Akmal yang seperti itu kini membuat Agnia ragu mengatakan hilangnya cincin itu pada Akmal.


Sebab merasa jika itu tak penting lagi bagi Akmal, pikir Agnia.


"Mbak!" seruan Akbar memecahkan lamunan Agnia.


Agnia tak menoleh, hanya menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Hal itu, tentu memancing cebikan Akbar.


Anak bungsu dari tiga bersaudara itu datang dengan cengirannya, mendekati kakak perempuannya. "Ngapain?"


"Ngangkat jemuran, ngapain lagi."


Akbar terkekeh pelan, ngangkat jemuran apanya. Agnia lebih terlihat bersantai dari pada sedang melakukan sesuatu. "Terus ngapain masih disini? cepet turun! Ibu nyariin."


"Iya." singkat Agnia, masih tak bergerak dari tempatnya berdiri.


"Ada masalah?" Akbar mengernyit, atmosfer seperti ini asing bagi Agnia hingga jelas sekali ada yang tak beres jika terjadi.


"Mbak kalo udah cari angin kayak gini, di tempat ini, pasti pikirannya macem-macem." tambah Akbar, santai. Tak sadar sudah memancing delikan kesal Agnia.


"Ish!" Gemas sekali, bisa-bisanya Akbar membual seperti itu.

__ADS_1


Akbar yang baru sadar tatapan itu gelagapan. "Maksud aku, macem-macem itu.. banyak pikiran. Bukan mengingatkan masa lalu."


Agnia mencebik, ucapan Akbar itu justru mempertegas semuanya.


"Emang kenapa sih?"


"Kamu beneran mau tau?"


"Enggak juga." Akbar mengangkat kedua bahunya. "Pasti soal benda yang dicari kemarin."


"Sok tau!" semprot Agnia, melotot.


"Ya terus apa lagi?" tanya Akbar gemas, kakaknya ini suka sekali berteka-teki. "Apa yang buat Mbak galau kayak gini?"


"Katanya gak mau tau."


Akbar menghela, gemas. "Dasar ribet! Cerita ya cerita aja, Mbak. Gak usah.. bikin aku pusing."


"Mbak bikin kamu pusing? Temen kamu tuh, dia yang bikin kepala Mbak pusing." ujar Agnia ketus.


Akbar langsung menatap tertarik, sedikit mengangkat sudut bibirnya. "Akmal?"


"Siapa lagi?"


"Emangnya kenapa? dia cari gara-gara?"


"Masalahnya sederhana, dia tiba-tiba gak muncul lagi di hadapan mbak."


Akbar terkekeh mendengar ucapan Agnia, membuat Agnia spontan mendelik.


"Menurut kamu lucu?"


"Jatuh hati?" Agnia menatap Akbar lekat, yang justru terkesan mengintimidasi. "Menurut kamu, diusia Mbak sekarang ini hal semacam itu penting?"


Akbar tak menjawab ataupun menggeleng. Sebab tau itu pertanyaan jebakan yang tak memerlukan jawaban, cukup untuk didengar saja.


"Begini, perempuam itu tidak bisa menunjuk pria mana yang mau dia nikahi, karena itu perempuan hanya bisa memilih antara menerima atau tidak. Jadi.. karena kamu juga laki-laki, Mbak kasih tau kamu.. jangan pernah membuat perempuan bingung! Jika mau pergi, pergi saja. Jika ingin berusaha, lakukan yang terbaik."


Akbar mengerjap, heran kenapa jadi dirinya yang kena omel. Jelaslah dirinya yang jadi pelampiasan, sebab kesalahan Akmal.


"Kamu ngerti?" tanya Agnia, kembali menggunakan matanya untuk mengintimidasi. "Bukan soal suka atau cinta, tapi temanmu itu membuat Mbak merasa dipermainkan. Jadi sekarang suruh dia pergi sejauh mungkin, masih belum terlambat untuk menyerah."


Akbar menggaruk tengkuknya tak gatal, tak tau harus menjawab seperti apa.


"Aku.. gak tau apapun, dan gak ngerti tapi.. kalo Akmal kayak gitu mungkin karena dia cemburu?"


"Cemburu sama siapa? Kamu?" Agnia kembali menyemprot Akbar, mengarahkan delikannya pada Sang adik.


"Ya kali!" Akbar mengendus pelan. "Sama cowok berjas itu lah, Kakaknya si Wildan."


Agnia menghela pelan, sebenarnya memikirkan kemungkinan itu. "Omong kosong." lirihnya pelan.


"Atau kalo enggak, dia kesel soal.."


"Soal apa?" Agnia menoleh cukup lama, kala Akbar menjeda ucapannya. Malah terlihat mencurigakan sebab Akbar kentara sekali sedang mempertimbangkan sesuatu.


"Ah! Gak jadi." Akbar lantas nyengir. "Gini deh Mbak dari pada ngomel sama aku, lebih baik pastiin sama orangnya secara langsung."


"Kamu gila?"

__ADS_1


"Aku serius. Tanya sama Akmal, mumpung sekarang dia dibawah."


Agnia mengernyit.


"Itu sebabnya aku kesini." jelas Akbar.


"Ngapain dia kesini?"


Akbar mengendik. "Gak tau, tapi sama nyokap nya kok."


Agnia menghela napas dalam, satu sisi lega setelah mengatakan apa yang ada di hatinya pada Akbar, Namun penasaran juga dengan tujuan bocah itu kembali setelah pergi tanpa menyapa sama sekali. Sepertinya memang minta diberi pelajaran.


...


Zain sedang anteng memberantakan mainannya yang berjibun itu, duduk tanpa alas bersama hamparan perintilan kecil mainannya di teras rumah.


Agnia menghampiri ponakannya itu, meletakkan satu keranjang baju yang sudah kering itu, tangannya terulur meraih kedua pipi Zain.


"Zain kasian gak ada temennya.. mau aunty temenin?"


Zain menggeleng tanpa menatap seseorang yang bertanya itu, membuat Agnia meraih pipi Zain sekali lagi supaya menatapnya. "Kok Zain gitu, Sih?" tanya Agnia, dengan bibir mengerucut. Berlagak merajuk.


Zain menarik wajahnya, kembali menundukkan matanya pada lego yang seakan minta dimainkan itu.


"Zain! Hey.. kok Auntynya gak dijawab."


"Aku udah punya temen lain." jawab Zain ketus, membuat Agnia terkekeh. Entah kenapa Zain sensi padanya, tak biasanya.


"Oiya? Jadi gak mau sama Aunty lagi?"


Zain mangangguk.


"Emangnya siapa temen baru Zain? Sini kenalin sama Aunty."


"Ada, itu. Uncle yang itu."


"Uncle?" Agnia mengernyit. "Uncle Akbar?"


Zain tak menjawab, membuat Agnia langsung saja melupakan ucapan anak usia empat tahun itu. Lantas bangkit, hendak masuk.


Namun kala menoleh ke arah pintu, Agnia disuguhkan Akmal yang sedang berjalan ke arah mereka. Kini taulah Agnia siapa Uncle yang dimaksud Zain.


Dua orang yang tak menyangka akan berpapasan seperti itu, canggung sekali seakan sekian lama tak bertemu. Termasuk Akmal yang biasanya tak kenal malu apalagi canggung.


Tatapan mereka terkunci beberapa saat, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Agnia malah teringat keluhannya pada Akbar tadi.


"Agnia.."


Suara Khopipah terdengar, membuat Agnia tanpa menoleh Akmal lagi, langsung melanjutkan langkahnya menuju rumah.


Akbar yang beberapa langkah dibelakang Agnia, lantas tersenyum. Menatap Akmal penuh dukungan, seraya menepuk pelan bahu kawannya itu. Akmal balas tersenyum dibuatnya, entah kenapa Akbar bersikap seakan dirinya sedang dalam kondisi yang gawat.


"Akbar!' Agnia kembali mundur sesaat, matanya mengarah pada keranjang baju yang lupa ia bawa. "Bawa masuk itu, maaf."


Akbar menghela, menatap Akmal seraya mengangkat kedua bahunya. Seakan berusaha berucap, jika ia kena imbas akibat kesalahan Akmal. Akmal, mana paham kode seperti itu.


Akmal sesaat mematung, Akbar dan Agnia pergi. Kini tinggal ia yang masih betah menemani Zain, kembali duduk berjongkok di hadapan anak itu. Tak sempat memikirkan romansanya yang dramatis itu.


Sementara itu, Agnia langsung menemui ibunya. Bersalaman dengan Retno, untuk kemudian pergi ke dapur untuk membawakan beberapa kudapan. Dan setelah itu ikut bergabung dengan dua sahabat itu berbincang. Yang juga untuk sesaat, melupakan keluhannya pada Akmal.

__ADS_1


Hanya waktu yang akan menjawab, bagaimana jalannya hubungan mereka yang masih kucing-kucingan itu.


__ADS_2