Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
7. Mereka lagi?


__ADS_3

Takdir dengan gagahnya berkuasa.


Mempertemukan kita dengan yang akan melukai,


Mempertemukan kembali kita dengan yang telah menjadi luka.


Tapi takdir tak egois meski manusia sangat egois


Yang terjadi adalah terbaik.


Jika pertemuan pertama menyakitkan,


Pertemuan kedua bisa saja obat.


Mungkin saja.


♡♡♡


Fiki dan Ardi seperti biasa berangkat bersama menuju kampus. Bagai tak terpisahkan, tiba dan berdiri tak jauh satu sama lain. Berjalan bersebelahan sambil tak berhenti bercakap, menyusuri koridor menuju ruang berkumpul organisasi MBI.


Keduanya bersama Akbar memang berteman sejak di bangku SMP, itulah kenapa persahabatan mereka erat sekali. Bahkan mereka kembali bersama dalam organisasi pun memilih kampus juga fakultas yang sama.


Ruangan itu terletak dekat perpustakaan, ruangan yang cukup luas dengan tampilan luar yang tidak terlalu mencolok. Ruangan itu mulanya sebuah gudang, mereka lah yang merubahnya jadi layak ditempati. Singkatnya, mereka pendiri organisasi ini.


Mereka jadi yang pertama, ruangan itu masih gelap belum ada tanda-tanda datangnya seseorang. Ardi masih terus menanggapi ucapan Fiki sembari mendorong pintu ruangan itu.


Kejutan datang dari Akbar, bocah itu tau-tau sudah di dalam sana saja dan mengejutkan Ardi.


"Allahu Akbar!" pekik Ardi, membuat Fiki yang masih diluar langsung meloloskan kepalanya penasaran.


"Ada apa?"


Fiki menghela, bukan masalah besar. itu hanya Akbar yang dengan santainya duduk dan tak terganggu oleh pekikan terkejut Ardi.


"Udah persis kaya hantu, Ente!"


Akbar tak bergeming, tetap dengan posisi nyamannya yang langsung mengundang cebikan Fiki.


"Biasanya kalo gini, tandanya dia lagi kepikiran soal Asma." celetuk Fiki pada Ardi dengan senyum miring, hal itu berhasil membuat bantal yang terjangkau oleh tangan Akbar melayang bebas menuju kepala Fiki.


"Gak bisa dikasih tau, Lo!" ketus Akbar "Gue bilang jangan bawa-bawa nama Asma!" tegasnya, sebal sekali. Apa kata orang lain nanti jika ia ketahuan disangkut pautkan dengan Asma. "Dosa, Lo! mencatut nama seseorang tanpa ijin."


Fiki mengendikkan bahunya lantas menoleh Ardi sambil memainkan bantal yang tadi dilempar Akbar.


"Bilangnya sih gitu, padahal dia sendiri setiap malam menyebut nama Asma dalam do'a-do'a, tanpa ijin pula." sindir Fiki tak kapok, seraya tersenyum lebar di akhir kalimatnya.


"Hiya.." Ardi ikut saja dengan keisengan Fiki, berdiri menyambut uluran tos dari Fiki.


Akbar diam, kedua orang dihadapannya ini tak akan habis menggodanya. Lihatlah tawa bahagia mereka saat ini, makin ditanggapi semakin di atas api mereka rasa sepertinya.


Helaan napas keluar dari mulut Akbar, kini menatap datar dua sahabat kampretnya. Heran sekali, kenapa selalu dirinya yang jadi sasaran empuk keisengan mereka?


...


"Assalamualaikum.."


"Wassalamu'alaikum.." jawab ketiganya hampir serempak, Fiki dan Ardi menjawab semangat sementara Akbar merasa cukup dengan menggerakkan bibirnya tipis.


Akmal yang datang, bergabung masuk dengan senyum khas yang tak hilang dari wajahnya. Kini menatap tiga orang yang diam itu.


"Masuk, Mal!" sambut Fiki ramah, tak seperti kepada Akbar yang selalu saja mengajak ribut.


"Apa yang lucu?" tanya Akmal, penasaran. Suara tawa terdengar jelas tadi tapi kali ini semua diam dan tak ada sisa-sisa tawa sama sekali. "Ketawa kalian kedengeran sampe ujung sana."


Fiki nyengir ke arah Akbar sekilas, seakan mengajak kawannya itu ribut. "Itu, Mal. Lagi ngobrolin Akbar yang galau gara gara As.."


"Astaghfirullah!" potong Akbar, setengah berteriak. "Ngebacot mulu, Lo!" Akbar gemas, menatap tajam Fiki.


Mendapat tatapan penuh ancaman dari Akbar tidak membuat Fiki gentar, seringai muncul di wajahnya. Seakan suka melihat emosi temannya itu.


"Santai.. emang gue mau bilang apa, Hah?!"


Ardi menggeleng takjub, lantas menoleh Akmal dengan senyum. "Udah, biarin aja.." ucapnya.

__ADS_1


Akmal mengangguk, tentu saja ia tak begitu penasaran. Sebab bukan saja Akmal yang tahu, tapi seisi kampus sudah pasti bisa melihat jika Akbar sangat menyukai Asma. Yang justru Akbar sendirilah yang tidak menyadari tingkahnya yang begitu kentara itu.


"Lo bilang ada yang mau disampein?" tanya Akbar segera, menatap Ardi. ia malas terus diganggu Fiki, jika bisa secepatnya ingin menjauhi si menyebalkan Fiki. lebih cepat Ardi bicara lebih cepat ia bisa pergi.


"Nah.." Ardi langsung teringat, itulah alasan kenapa keempat tiga orang itu ia kumpulkan sepagi ini.


.


.


.


.


"Mbak suka gak tega, Agni.. Kalo bohongin Zain kaya tadi." ucap Puspa, disela suapannya. menghadap sepiring nasi bersama sayur asem dan hidangan lainnya, seraya menoleh Agnia.


Agnia mengernyit, diam sejenak. "Bohongin gimana, Mbak?" tanyanya kemudian.


"Ya takutnya suatu hari dia justru kebal sama rayuan terus malah balikin omongan mbak." ujar Puspa, menyuarakan kekhawatirannya. "Mbak liat sendiri lho.. banyak anak kayak gitu."


Agnia mengangguk, sesaat menelan habis kunyahannya. "Kalo kita membodohi dia seumur hidup, ya.. kayaknya pasti bakal gitu. Tapi.. menurut aku anak-anak itu membalikkan omongan kita, hanya saat mereka merasa apa yang kita ajarkan tidak sesuai dengan bagaimana sikap kita."


"Contohnya, Mbak.. Mbak nyuruh Zain shalat, sementara Mbak sendiri gak ngasih contoh. Jadi waktu kita suruh shalat dia akan.. ibu juga kan belum shalat, atau.. ibu aja yang shalat, kan?"


Puspa mengangguk, setuju.


"Jadi.. selama proses mendidik mereka, kita memang perlu sedikit kebohongan. Namun yang paling penting itu contohkan apa yang kita ajarkan, dan jangan buat diri kita terlihat gampang di mata mereka. Rasa hormat pada kita juga penting, supaya mereka gak ngelunjak." papar Agnia. "Dan.. Aku paling gak suka kalo ada anak ngelunjak sama orang tua.."


Puspa menghela. "Dari pada ujian masuk ke kedokteran, Mbak rasa lebih susah mendidik anak."


Agnia terkekeh mendengar pengakuan Puspa itu, sebab kakak iparnya itu berkata demikian dengan seriusnya.


"Mbak serius, Agni.."


"Iya, Mbak. makanya lebih baik menyerahkan didikan terbaik kita sama Allah, sudah ikhtiar tinggal mohon kebaikan. kita gak tau apa yang akan terjadi bertahun-tahun kedepannya."


Hening sejenak, Agnia kembali menyuap begitupun Puspa. Tapi ada satu hal yang terlewat.


"Oiya Mbak, satu lagi.. Orang tua mendidik anak dengan sedikit menipu itu bukan hal aneh, tapi kalo anak bisa nipu orang tua itu baru masalah."


"Dan bahaya kalo anak-anak berlaku semaunya.. pertama dia belum tau yang baik dan benar, kedua dia belum tau cara menerapkan apa yang sudah ia tahu."


"Saat anak meraih kabel, kita katakan itu bahaya, nanti kesetrum dan kalimat-kalimat berlebihan lainnya. Itu berbohong, tapi sebab itu mereka jadi waspada. dan.. Ingatan itu bertahan hingga dia besar nanti."


"Jadi jangan terlalu over thinking.. Bagaimana Mbak sama Mas Hafidz bersikap dan mendidik, insya Allah seperti itu juga dia tumbuh."


Puspa kembali mengangguk, yang uniknya Agnia bisa tau persis apa yang dia risaukan. Puspa tersenyum, terkesan. sepertinya adik iparnya ini punya memahami seseorang dari ucapannya.


Puspa memang seorang dokter kandungan, mengetahui banyak hal tentang anak yang masih berada di dalam rahim. Namun tidak setelah anak terlahir dan tumbuh, apalagi ia tak memungkiri jika waktunya untuk Zain sangat singkat karena kesibukan.


"Bagus lah, Mbak punya kamu. Selain guru anak-anak, kamu juga guru buat orang tuanya."


Agnia mengangkat kedua bahunya, entah itu pujian atau bukan. Namun setelah selesai dengan ucapannya, ia kembali melanjutkan makannya. Tak seperti Puspa yang bisa nyaman makan sambil terus membual, dirinya justru sebaliknya.


"Oiya, Agni." Puspa membuat Agnia kembali menoleh, pendapatnya benar sekali. Puspa memang tak bisa diam.


"Mas mu cerita soal keinginan ibu.. Ngenalin kamu sama anak temennya. Kamu tau soal itu?" tanya Puspa santai, tak sedikitpun ragu atau berusaha memilih kalimat yang pas. Yang ia tau, momentum nya yang pas untuk bertanya.


Agnia menghela pelan, lantas mengangguk.


Demi melihat anggukan malas dari adik iparnya, Puspa mengulum sebentar ucapannya.


"Dan tanggapan kamu?"


Sekelebat masa lalu muncul begitu saja setelah pertanyaan itu terucap, siapa sangka kejadian lama itu begitu membekas di hati Agnia. Pertanyaan itu bak meruntuhkan sekaligus tumpukan penghalang yang tiga tahun ini Agnia bangun.


"Aku masih gak tau, Mbak." jawab Agnia datar, kontras dengan saat menjelaskan tadi. "Aku.."


"Ibu!" Zain datang dengan langkah cerianya, memotong ucapan Agnia, mengalihkan fokus keduanya dari obrolan berat itu. Sesaat helaan lega keluar dari mulut Agnia, ia rasa akan lebih baik jika tak menyinggung hal itu. Setidaknya hingga hatinya benar-benar setuju.


"Gantengnya anak ibu. Coba ibu cium." Puspa menyambut anak laki-lakinya dengan senyum merekah, tampak senang setelah Zain mau mandi. Kontras dengan ekspresinya saat membujuk Zain tadi dengan tangan di pinggang. "Emh! wangi loh."


"Bohong ah," Agnia menatap Zain tidak percaya. "Coba sini aunty cium." itulah yang sebenarnya, Agnia ingin menciumi ponakan satu-satunya ini.

__ADS_1


Zain begitu saja berlari mengitari meja menuju Agnia, hendak menunjukan dirinya yang sudah beneran wangi. Tak terima jika dianggap tak wangi setelah dipaksa mandi. Disambut rentangan tangan oleh Agnia, dengan senyum gemas.


"Bukan wangi ini mah, tapi wangi banget." Ucap Agnia, melepaskan pelukannya setelah mencium puncak kepala Zain. "Kalo gini kan aunty gak malu ajak Zain jalan jalan."


"Hem?" Zain mendongak, matanya tak mengedip. malu?


"Iya. Kalo Zain gak mandi, terus bau, aunty gak mau dong ngajak Zain main."


Zain diam, mata menatap Agnia namun pikirannya sibuk sendiri. Antara mengerti atau bingung.


"Karena Zain udah nurut sama ibu, aunty mau ngajak Zain jalan-jalan. Mau kemana?"


"Mandi bola."


"Mandi bola? Boleh."


Zain sudah sangat bersemangat, tak melepaskan genggaman tangannya dari Agnia. Meski raganya masih di depan rumah, pikirannya sudah lebih dulu pergi menuju Mall. Matanya berbinar membayangkan semua permainan yang bebas ia mainkan tanpa dilarang sang ibu.


..


"Nah. Sebelum berangkat, cium tangan dulu sama ibu." Agnia menunduk menatap Zain, mengingatkan sebab Zain benar-benar tak melepas genggamannya. Taksi online yang ia pesan baru saja sampai.


Zain patuh, berbalik menuju ibunya.


"Hati hati ya! Dengerin apa kata Aunty sama Mbak Asri. Gak boleh nakal dan gak boleh jauh dari Aunty." Puspa kali ini mengingatkan, Zain mengangguk saja sambil berlari menuju Agnia yang sudah masuk ke mobil. "Have fun!" kata Puspa, tersenyum. Melambai ke arah Zain.


"Duluan ya, Mbak. Assalamualaikum."


.


.


.


.


Semangat luar biasa ditunjukan Zain, selangkah kakinya masuk ke Playground. ia yang sejak tadi tak sabar menunggu Playground di salah satu Mall ini buka langsung lupa dengan pesan dari ibunya begitu yang ditunggu akhirnya dibuka. Asri berlari mengimbangi langkah Zain, sementara Agnia hanya tersenyum berjalan di belakang.


Permainan pertama yang Zain coba sebagai pemanasan adalah kolam bola, langsung berlari menuju lautan bola. Semakin bersemangat dengan keberadaan anak-anak lain seusianya disana. Sedetik kemudian tenggelam dalam keseruan.


"Liatin dari sini aja, Mbak. Gak papa." ucap Agnia, pada Asri yang terlihat was-was.


Asri mengangguk, namun ucapan Agnia sama sekali tidak mengurangi kekhawatirannya. Membiarkan Zain bermain sendiri bagai menjaga telur utuh yang mentah, serba takut.


Zain sangat aktif, Terlebih Puspa sangat protektif dan selalu marah akan hal kecil. Tapi lain jika Zain bersama Agnia, Asri bahkan sering heran dengan bagaimana percayanya Puspa pada adik iparnya itu. Yang bahkan Hafidz yang ayah dari Zain sering kali tidak luput dari sasaran amarah Puspa.


Sedangkan Asri sibuk dengan kekhawatirannya, Senyum malah tak hilang dari wajah Agnia. Menghabiskan waktu dengan Zain selalu berhasil membuatnya bahagia.


"Mbak, aku tinggal cari buku boleh ya?"


Asri, pengasuh Zain sejak bayi itu mengangguk. "Iya. Silahkan."


"Aku gak lama kok, kalo ada apa-apa telpon aja."


...


Seperti tidak lengkap jika tidak pergi berburu buku, Agnia bergegas meninggalkan Zain yang ia yakin aman ditinggal bersama pengasuhnya. hendak turun ke lantai satu Mall dimana toko buku berada.


Hilir mudik orang tampak teratur di pusat perbelanjaan ini, Agnia menjadi salah satu yang bergegas menuju toko buku. Hendak mencari buku apa saja yang bisa ia jadikan bacaan di sela senggang.


Langkahnya sudah tiba di eskalator, berjalan turun menuju lantai dimana toko buku berada. Lihatlah keramaian saat ini, baik di lantai atas maupun lantai bawah begitu ramai oleh orang dengan tujuan berbeda.


Sangat disesali, dari sekian banyaknya objek mata Agnia menangkap pemandangan yang tidak ia harapkan. Matanya spontan saja membulat ketika melihat objek itu. Dan dalam hitungan detik langsung mengalihkan arah pandangnya.


Dalam posisi ini terlihat jelas, ia yang sudah ditengah eskalator turun dan yang ia lihat berada di eskalator naik. Entah apa yang membuatnya sedih, itu hanya tiga orang yang tampak bahagia. Seorang pria menggendong anak perempuannya, dan di sampingnya seorang wanita yang tampak sebagai istrinya tengah menggoda anaknya dengan senyum bahagia.


Bagaimana bisa pemandangan sebahagia itu bisa membuat Agnia sedih?


Air mata begitu saja lolos dari matanya, tampak sangat terluka. Untung saja tak ada yang peduli, semua sibuk dengan urusan mereka. Tak sadar dengan Agnia yang tanpa sebab meneteskan air mata.


Tiba-tiba saja dada Agnia menjadi sesak dan bergemuruh, rasa takut yang ia rasakan malam tadi kembali datang.


Hampa, itu yang ia rasakan saat kakinya persis lolos dari eskalator. Matanya menerawang jauh, tak ingin berbalik melihat apa yang membuatnya begitu terluka barusan. Di lain sisi ia masih tak percaya dengan yang kedua matanya lihat.

__ADS_1


"Apa itu benar-benar mereka?" lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


__ADS_2