Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
63. Antara yang disayang dan yang melukai


__ADS_3

Suasana duka begitu kentara saat kaki Akmal melangkah memasuki rumah dengan bendera kuning terpasang di sana. Semua mata mengarah padanya, langkah demi lanhkah. Berbisik tentang seseorang yang paling ditunggu sudah tiba.


Tatapan kosong Akmal menjawab semuanya, ia lebih dari berduka. Seakan jiwanya ikut pergi bersama perginya jiwa seseorang yang tubuhnya terbujur kaku di dalam sana.


Seorang wanita paruh baya yang duduk tak jauh dari jenazah mendongak kala melihat Akmal. Menegarkan dirinya meski duka juga memeluknya dengan erat.


Akmal menoleh sang ibu sejenak, merasakan pegangan erat sang ibu di bahunya. Retno yang juga tak sanggup tersenyum, hanya bisa memberi tatapan penuh dukungan pada sang anak. Mengalirkan kekuatan dari sentuhan dan tatapan lembutnya.


Semua yang melingkari jenazah mengerti dan memberi jalan, membuat jarak Akmal dan seseorang yang tertutup kain itu hanya sedikit saja.


Akmal duduk perlahan, berdiam tepat di posisi kepala jenazah itu. Tangannya bergetar kala hendak menyibakkan kain yang menutupi wajah seseorang tak bernyawa di hadapannya. Ragu-ragu tangan itu terulur, matanya mulai berkaca-kaca. Degup jantungnya seakan berkejaran.


Dan kala tangan bergetar Akmal siap menarik kain itu, dalam tarikan perlahan, dan...


.


.


.


.


Akmal terbangun dari tidurnya. Tersadar, semua itu hanya mimpi. Namun dadanya yang bergemuruh bukan sekedar mimpi, bahkan Akbar dibuat berkeringat akannya. Mimpi itu sungguh menyiksanya.


Mimpi menakutkan itu, mimpi yang berasal dari kejadian masa lalu. Yang entah kenapa muncul kembali akhir-akhir ini.


Akmal mendudukkan tubuhnya, menghela napas panjang. "Astaghfirullah.." lirihnya, mengusap wajahnya pelan. Mimpi itu selalu berhasil membuat hatinya terasa sakit kembali.


"Apa yang terjadi? Kenapa kenangan itu muncul lagi.." gumam Akmal, bertanya pada dirinya sendiri. Alih-alih menyebut itu mimpi, Akmal menandai itu sebagai kenangan. Yang memang terjadi empat tahun silam.


"Akmal.."


Akmal spontan melirik jam kala suara ibunya terdengar. Mengernyit, saat dilihatnya jam masih menunjukan pukul setengah tiga pagi. "Iya, Bun?"


Retno muncul dari balik pintu, masuk saja setelah mendengar jawaban anaknya. "Kamu sudah bangun ternyata."


Akmal mengangguk, mencoba tersenyum membalas tatapan Retno, yang berjalan menghampirinya dan duduk di bibir ranjang.


"Hari ini Ayah sama Bunda ada undangan ke Bandung. Berangkat nanti ba'da subuh, kamu keberatan Bunda tinggal?"


Akmal menggeleng. Sudah biasa rasanya hingga tak perlu ditanya lagi.


Retno tersenyum, tangannya terulur mengusap kepala Akmal. Sesaat menyadari sesuatu, wajahnya langsung berubah cemas. Menilik wajah Akmal beberapa saat lagi.


"Kamu berkeringat.. Kenapa? Kamu sakit?"


Akmal menggeleng, tersenyum meyakinkan. "Kamarnya panas, Bun."


Retno mengernyit, sama sekali tak merasakan suhu panas di kamar ini. Kembali menyentuh kepala Akmal, menyentuh dahi dan pipinya. Memastikan sesuatu.


"Bener?"


"Bener, Bun." beo Akmal.


"Yaudah, langsung wudhu.. Jangan tidur lagi! Sebentar lagi adzan."


"Iya, Bu."


Retno bangkit, tersenyum lagi menatap wajah lesu Akmal. "Emh.." Retno teringat sesuatu. "Hari ini tepat empat tahun sejak hari itu. Kamu ingat?"


Akmal mendongak, merasa diingatkan. "Oh.. Ternyata ini sebabnya.." gumam Akbar pelan.


"Sebab apa?"


"Ah! Bukan apa-apa, Bun."

__ADS_1


Retno mengangguk saja, pasti ada sesuatu. Namun dirinya tak akan mencari tahu atau bertanya lebih banyak, hari ini pasti akan sulit bagi Akmal.


"Pergi temui keluarganya, itu pasti membuat mereka senang dan perasaanmu lebih baik."


.


.


.


.


Khopipah sibuk mengurus menu sarapan semua orang. Menuangkan air, mengambilkan nasi, Menuangkan susu.


Agnia yang memperhatikan gerak gerik sang ibu langsung meraih gelasnya kala Khopipah hendak Menuangkan air ke gelasnya. "Biar aku aja, Bu.."


Melihat itu Akbar langsung memajukan gelasnya, meminta diisi. Agnia dibuat heran melihatnya. Padahal dirinya tak mau merepotkan ibunya tapi Akbar justru sebaliknya.


"Apa?" Akbar menatap sinis Agnia, masih tersisa kenangan hari kemarin dimana tak henti ia mendapat omelan kakaknya itu.


Agnia mendelikkan matanya, Akbar tak peka sama sekali. Kembali fokus pada makanannya.


"Jangan mulai! Lanjut makannya." Khopipah sebagai orang ketiga di pertarungan sengit kakak adik itu menghela napas pelan.


"Tau.. Mbak Agni yang mulai."


"Akbar!" tegur Khopipah, menggeleng pada anak bungsunya.


Akbar diam, mengeluh dalam hati kenapa hanya dirinya yang selalu salah setiap saat. Memang, diam paling benar baginya saat ini.


Hening, peringatan Khopipah membuat Akbar maupun Agnia tak memperpanjang keributan. Sibuk dengan santapan masing-masing.


"Kamu sudah berkabar dengan Akmal hari ini?"


"Mbak?!" Akbar memberi tatapan heran pada Agnia, jelas ibu mereka bertanya.


"Oh!" Agnia tersenyum tipis, menggeleng. "Sebenernya, Bu. Kita gak seakrab itu."


"Oiya? Ibu pikir.. Yasudahlah. Berarti.. kamu gak tau dong kalo hari ini hari yang sulit untuk Akmal?"


Agnia menggeleng, sejenak menoleh pada Akbar. Tak mengerti apa yang dimaksud ibunya. Hari yang sulit apa?


"Empat tahun yang lalu, ada peristiwa yang mengguncang Akmal... Sebuah kecelakaan tunggal terjadi. Kecelakaan yang sampai kini masih teka teki penyebabnya. Dan kecelakaan itu.. Merenggut nyawa seorang gadis, yang adalah kekasih Akmal saat itu." jelas Khopipah, bisa melihat jika kedua anaknya tak tahu menahu.


Akbar dan Agnia terkejut bukan main mendengar berita itu, tak menyangka jika sosok Akmal yang ceria menyimpan cerita sepelik itu. Akbar menoleh ke arah Agnia, keduanya bahkan tak sadar sejak kapan menghentikan suapan mereka.


"Mbak cemburu? Tenang saja.. dia cuma masa lalu."


Agnia menghela napas pelan, mengulum bibirnya. Pantas saja Akmal berkata demikian. Kini bisa dipahami, kenapa kekasih Akmal itu berada di hatinya. Tak dimanapun kecuali dqlam hatinya.


"Di sini.."


Bayangan Akmal yang menunjuk dadanya itu kembali terlintas, membuat Agnia terenyuh dan sakit di waktu yang bersamaan.


Hening sejenak, Akbar dan Agnia sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Khopipah menghela napas. "Kalian baru tahu ternyata.." Khopipah lantas menoleh pada Agnia. "Hubungi dan temui dia, siapa tahu hal kecil itu bisa membuat dia merasa lebih baik."


.


.


.


.


"Ibu sangat berterimakasih, sebab Nak Akmal tak pernah lupa kemari tanpa diminta. Ibu menghargai itu, ibu bisa merasakan kasih sayang tulus yang Nak Akmal berikan untuk Ulya."

__ADS_1


"Begitupun ibu tak pernah bosan untuk berpesan.. Jangan siksa dirimu. Segeralah bangun dari mimpi buruk itu!"


"Nak Akmal harus melanjutkan hidup seperti orang lain. Jangan hidup dengan rasa bersalah, ibu tak berharap seperti itu dari Nak Akmal."


.


.


Akmal berjalan gontai, menyusuri jalan ramai. Matanya menatap jalan namun hatinya entah kemana, sebab yang terlintas di telinganya hanya pesan-pesan yang disampaikan Ibunya Ulya tadi.


Hal mengejutkan terjadi, Agnia yang tadi ragu-ragu menghubungi Akmal justru dengan kebetulan melihat pria itu dari dalam Cafe. Memicing memastikan yang ia lihat.


Ada pertemuan di hari ini yang membuat Agnia tak pergi mengajar. Berakhir di sebuah Cafe dengan seorang gadis yang dari tampilannya bisa ditebak seorang mahasisiwi.


"Mbak?" gadis berkaca mata itu mengernyit, menatap heran Agnia yang hilang fokus padahal dirinya sedang menjelaskan.


"Ya?"


"Ada apa?"


"Emh.." Agnia tak memalingkan wajahnya dari Akmal yang makin menjauh, merasa harus bergegas. "Ah.. Maaf sebelumnya, tapi kita lanjutan nanti lewat telpon. Mbak ada urusan.."


"Lho! Tapi.. Mbak.. Mbak.." gadis itu dibuat gelagapan, bingung dengan tingkah tiba-tiba Agnia. Menggaruk tengkuknya tak gatal.


Agnia berjalan cepat, setengah berlari mengikuti Akmal. Sudah beberapa langkah menuju Akmal.


"Akmal!"


Lamunan Akmal seketika buyar. Menoleh, pada suara tak asing namun di tempat yang tak terduga. Sudut bibirnya naik membentuk senyum seketika, saat tahu itu Agnia.


"Mbak disini?" tanyanya pada Agnia yang berjalan mendekat.


Agnia menghela napas pelan, alih-alih menjawab justru menilik wajah Akmal sesaat. "Jangan senyum!"


"Hemh? Kenapa? Apa senyum ini mengalihkan dunia mu?" tanya Akmal, menarik turunkan alisnya.


"Cih!" Agnia menatap datar, itu sama sekali tidak lucu baginya. "Kamu harus lihat senyummu sendiri. Itu.."


"Mempesona?"


Agnia mendengus. "Palsu. Itu terlihat palsu."


Akmal terekekeh. "Oiya? Padahal ini senyum paling tulus."


Agnia mencebik. "Jangan bawa-bawa kata tulus! Kamu tau arti tulus? Tulus berarti berasal dari hati, sesuai apa yang hati kamu rasakan." jelas Agnia. "Dan apa kamu gak cape? Selalu tersenyum meski kamu sedang bersedih?"


Akmal mengernyitkan dahinya, penasaran dengan apa yang hendak dikatakan Agnia. "Maksud Mbak?"


Agnia mengulum kalimatnya sejenak, takut jika ucapannya bisa membuat Akmal salah paham.


Akmal masih menunggu, tangannya ia masukkan ke saku celananya. Agnia akhirnya membuka mulut, namun matanya menoleh ke tempat lain. "Jangan memaksa tersenyum! Mata kamu menunjukkan hak lain."


Agnia menghela napas pelan. Menatap Akmal yang masih dengan wajah bingungnya. "Maaf, karena membuat kamu menceritakan masa lalu kamu."


"Oh! Mbak sudah tahu?" tanya Akmal, tampak tak terkejut. Bahkan masih dengan wajah penuh senyumnya, yang lagi lagi membuat Agnia heran.


"Emh.." singkat Agnia.


"Gimana kamu menghadapi semua itu?" Agnia kembali bertanya, setelah hening sesaat.


Akmal menaikkan alisnya, merasa hal berbeda dari cara bicar Agnia.


"Berpisah dengan seseorang yang memberi luka terasa lebih mudah sebab kita memiliki alasan untuk melupakan. Tapi berpisah dengan seseorang yang kita sayangi..." Agnia menoleh Akmal sekali lagi, menggantung kalimatnya.


"Dua hal itu, sama sulitnya. Tapi sakitnya berpisah dengan seseorang kita sayangi akan sembuh seiring waktu, sedangkan sakitnya berpisah dengan orang yang menyakiti kita.. Mungkin gak akan sembuh." ucap Akmal. Menatap Agnia lembut. Berusaha meyakinkan jika dirinya tidak sedang berpura-pura dengan senyumnya.

__ADS_1


^^^"Sebenarnya, Bu.. aku kesini untuk pamit. Setelah ini aku mungkin akan berhenti mengunjungi Ulya meskipun do'aku gak akan pernah terputus untuknya. Seperti pesan Ibu, aku kini sudah menemukan seseorang yang bisa aku cintai lagi sepenuh hati. Aku berterimakasih dengan kebesaran hati ibu selama ini, dan.. tolong restui anakmu ini."^^^


Akmal tersenyum lega, ia sudah mengatakannya. Kali ini menatap Agnia penuh yakin. "Hari ini aku mengunjungi Ulya untuk terakhir kali, lalu meminta izin pada ibunya untuk merestuiku mengganti Ulya dengan orang lain di hatiku." jelas Akmal. "Dan sayangnya aku gak bisa kasih tau ibu kalo orang itu.. ada di hadapanku sekarang.." tandas Akmal, dengan senyum menggoda. Membuat Agnia memerah pipinya, ada desiran saat Akmal berucap demikian.


__ADS_2