Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
131. Bude Maryam


__ADS_3

Sore ini Akmal bintangnya, pria yang untuk pertama kalinya membuat acara di rumahnya itu tampak penuh senyum. Semua segera berspekulasi sendiri jika yang Akbar katakan sebelumnya bukan sekedar kebetulan, ada hubungan sepesial amatara Akmal dan KUA.


Tak perlu dijelaskan atau penjelasan, tapi aura berbeda datang dari pemuda itu sudah jadi jawaban. Kata orang saat seseorang sedang dalam jatuh cinta jatuh cintanya, bahkan gerak geriknya saja berbeda.


Akbar yang kabur dari cengkraman Agnia tiba ke rumah Akmal saat hampir semua teman-temannya terlebih dulu datang. Setelah menyapa seadanya, pemuda itu langsung celingukan mencari sesosok paling penting. Jika biasanya akan menerobos para gadis untuk menemukan sosok itu, kini Akbar jaga sikap, memutuskan menilik dari jauh.


Mencari dalam diam, itu yang sedang Akbar lakukan meski hatinya benci sekali hal itu. Perilaku Akbar yang tak biasanya itu turut disaksikan Fiki yang duduk melingkar bersama yang lain, rasa penasaran yang menggelitiknya membuat kakinya maju tanpa diminta.


"Woy!" Fiki menyenggol pelan bahu Akbar, ia yang sedari jauh menatap bingung makin mengerutkan dahinya. Ikut mengalihkan tatapan pada arah pandangan Akbar, mencari tahu objek menarik apa yang membuat Akbar begitu penasaran.


"Apa?"


Fiki mendecak, mendelik heran. "Kok malah nanya, harusnya gue yang tanya.. lagi liatin siapa si?"


"Asma." jawab Akbar jujur, tak perlu ditanya lagi.


"Oh.." Fiki mengangguk seraya mencebik, harusnya ia sudah tau tanpa harus bertanya. Bodoh sekali malah bertanya, siapa lagi target Akbar selama beberapa tahun ini. "Malah diliatin dari jauh, bukannya deketin.."


"Enggak, sampe dia sendiri yang datang sama gue." ujar Akbar, menoleh Fiki sekilas. "Itu prinsip gue sekarang."


"Oh. Kalo gitu biar gue permudah.. gue bantu panggilin.. A..hemp.."


Teriakan tak sesai Fiki membuat semua disana berbarengan mengalihkan tatapan mereka pada dua orang itu, Akbar yang langsung membungkam mulut Fiki dengan telapak tangannya segera menebar senyum.


"Bukan apa-apa, semuanya.. lanjutkan.." ujar Akbar dengan telapak tangan masih rapat di mulut Fiki, dua orang itu dengan tingkah tak jelasnya berhasil menarik perhatian semua orang.


Setelah Akbar berucap demikian semua kembali pada kegiatannya, tenang saja. Kelakuan Akbar dan Fiki yang begitu sudah tak mengejutkan sama sekali, persahabatan mereka memang aneh.


Sementara itu, Fiki hanya bisa mendengus pelan. Namun diwaktu bersamaan juga punya cara jitu supaya tangan Akbar menjauh darinya. Dan itu..


"Ish.." Akbar segera menarik kembali tangannya, lidah basah Fiki baru saja bermain di telapak tangannya. Menjijikan, saat Fiki tersenyum Akbar mengusapkan tangannya yang sudah ternoda itu pada bahu Fiki.


Fiki tak peduli, kini tersenyum menang. "Mau gue panggilin?" tanyanya, masih tak mau mengakhiri ke-reseannya.

__ADS_1


"Ni anak!" Akbar mendelik tajam, namun dilain sisi juga khawatir dengan kenekatan Fiki. Bisa-bisa rencananyq menarik perhatian Asma dengan trik baru gagal begitu saja.


"Apa?" Fiki balas melotot, menjulurkan lidahnya. Pertanda jika Akbar beranu melakukan hal sama maka ia sama beraninya mengulang perilaku tadi.


Saat duel adu tatap itu terjadi, Akmal datang. Setelah menghela pelan kini tersenyum sembari melangkah menghampiri dua orang itu. "Udah.." lerai Akmal, menepuk bahu dua orang itu. Berdiri ditengah-tengah memisahkan musuh bebuyutan itu. "Jangan ribut!" ujarnya dengan wajah berseri. "Mending ajak semua masuk.."


Fiki dan Akbar saling tatap sejenak, untuk kemudian berpisah dengan Fiki yang tak puas hati masih ingin mengganggu Akbar. Akmal sendiri setelah berhasil mengganti peran Ardi untuk sesaat, beranjak kembali ke rumahnya.


Dapur yang ia tuju, dapur dimana Bude Maryam rela mengerahkan seluruh kemampuan memasaknya yang berharga demi keponakannya. Wanita yang identik dengan kaca mata itu menoleh saat ujung matanya menangkap kehadiran Akmal, tersenyum dan menghampiri demi rasa penasarannya segera setelah mencuci bersih tangannya.


"Beres, Bude?" tanya Akmal.


Bude Maryam mengangguk, menunjukkan itu dengan mendudukkan bokongnya di kursi. Sudah hampir satu jam ia bergulat di dapur, sekarang sudah waktunya bersantai.


"Oiya, calon istrimu mana? Gak diajak kesini?"


Ah! Pertanyaan itu, Bude Maryam mulai lagi. Akmal mengulas senyum, menggeleng samar.


"Kenapa?"


"Tunggu.." Bude Maryam mengernyit, menatap mata Akmal dalam-dalam. "Mbak? Kamu bilang Mbak?"


Akmal mengangguk, beda dengan wajah terkejut yang ditunjukkan Budenya itu Akmal bersikap santai. Malah bergabung duduk dengan santai.


"Kamu panggil calon istrimu begitu?"


Akmal mengendikkan bahunya pelan, tangannya bergerak mengambil cemilan dalam toples di meja sana.


Bude Maryam melongo, sesaat begitu sembari menyaksikan Akmal menyuap satu persatu keripik ubi ungu ke dalam mulutnya. Kaget dengan Akmal yang terlihat biasa saja meski dipelototi begini, seperti sengaja menciptakan keheranan di telinganya.


"Kamu panggil calon istrimu dengan panggilan 'Mbak?" Bude Maryam kembali mengulang pertanyannya, tangannya terulur merebut toples di hadapan Akmal. Secara halus menyuruh ponakanya untuk membalas tatapannya


Seringai muncul di wajah Akmal, sebenarnya ia keceplosan membawa kata 'Mbak di depan nama Agnia. Sekarang jadilah ia ditodong pertanyaan begitu, dan tak tau bagaimana menjelaskan soal sederhana itu. "Gimana lagi, Bude.. maunya sih panggil sayang, tapi belum halal." ujarnya kemudian, tersenyum lebar.

__ADS_1


Bude Maryam mendecih, wajahnya penuh keheranan. "Jangan lagi panggil calon istrimu kayak gitu, ini peringatan.."


Akmal mengangguk cepat, lihatlah wajah super serius Budenya dengan bibir manyun itu. Tampak tak suka, namun bisa dipahami sebab ia dan suaminya pun terpaut dua tahun dengan Pakde yang lebih muda. Dan fakta ini membuat hubungan Akmal dan Agnia seakan mengulang tradisi seperti ini, pun ayah dan ibunya juga menikah di usia muda. Bisa dipahami bagaimana Akmal tak masalah dengan pernikahan dini.


Namun meski sudah tau alasan kenapa itu jadi isi sensitif bagi Bude Maryam, Akmal tetap ingin bertanya. Toples di tangan Bude Maryam ia tarik kembali, dengan senyum membuka mulutnya untuk bertanya. "Emangnya kenapa, Bude.. Mbak Agni nya aja gak masalah.." katanya. "Ah, maksudnya.. calon istriku aja gak masalah.." ralat Akmal, segera setelah mendapat tatapan menakutkan dari Bude Maryam.


"Perbedaan umur itu gak masalah, tapi kamu sebagai imam nantinya akan ngambil tanggung jawab yang besar. Jadi jangan lupa kalo ada perbedaan antara menghormati dan menghargai. Kamu panggil begitu, seakan kamu menghormati istrimu. Padahal dalam hubungan, saling menghargai lah yang paling penting.. paham?"


Akmal mengangguk, sembari mulutnya sibuk mengunyah. Tatapannya tak beralih dari Bude Maryam yang wajahnya terlipat kesal.


"Jangan ngangguk ngangguk aja! Paham atau enggak?"


"Iya, Bude.." Akmal menjawab lembut, senyum manis ia tunjukkan demi meredakan kekesalan tak beralasan dari Budenya itu.


"Satu hal lagi.. meski tak semua setuju, tapi nantinya sebagai suami, kamu harus jadi sosok yang bisa dibanggakan, dipercaya, didengar. Jangan jadi sosok yang manja dan melempar segala keputusan pada istri! Berdiskusi penting namun memenuhi peran masing-masing sebagai suami juga istri itu penting. Hemh? Itu yang Bude maksud."


"Iya, aku paham... Makasih atas sarannya."


"Tentu, anytime.. tanya Bude kapan pun kamu butuh saran."


"Hemh.." Akmal untuk kesekian kalinya mengangguk, tersenyum penuh manja pada wanita nomor kedua diurutan paling perhatian padanya.


Bude Maryam bangkit dari duduknya, setelah menuntaska marahnya memutuskan kembali bergerak. "Udah ah, kajiannya pra nikahnya.. entah kapan kita selesai nyiapin ini kalo kamu terus ngajak Bude bicara."


"Hemh.." Akmal balas bergumam demikian, siapa yang memangnya berani mendebat Bude Maryam yang tampak luarnya saja yang kalem ini. Namun senyum miring tiba-tiba terbit di wajahnya, ingat sesuatu. "Tapi Bude.."


"Kenapa?"


"Apa Pakde sepayah itu?"


"Maksudnya?"


"Aku rasa semua saran Bude itu berasal dari keluhan Bude sama Pakde." ujar Akmal dengan cengirannya.

__ADS_1


...


__ADS_2