
Akmal baru saja tiba di rumahnya, sudah di kamar saat ponselnya kembali berbunyi. Jarinya segera menggeser ikon untuk menjawab, apa lagi saat nama Agnia yang tampil di layar ponselnya.
Dengan senyum tipis yang tersungging, Akmal berucap singkat. "Halo?"
Entah ini yang keberapa kalinya Agnia menghubungi lebih dulu, namun yang satu ini berbeda bagi Akmal. Panggilan itu terasa membahagiakan berlipat-lipat kali, perasaan seperti ia yang sudah terikat dengan gadis itu.
Sesaat tak ada jawaban, senyum Akmal berganti kernyitan kemudian. "Halo, Mbak? Assalamu'alaikum.."
Detik beeganti lagi, namun masih tak ada jawaban. Akmal mencium kecurigaan.
"Mbak Agnia masih di sana?" tanyanya, sedikit ragu. Jangan-jangan ponsel Agnia dipakai orang lain yang sengaja mengganggunya.
Suara deheman Agnia kini terdengar, Akmal menghela lega kemudian. Apa yang ada di pikirannya salah, hanya saja..
"Mbak Agni?"
"Iya."
"Biar kutebak, kepencet kan?"
"Iya, maaf dan.. jangan salah paham." cicit Agnia pelan, yang berhasil memancing senyum gemas Akmal. Lucu saja, ucapan Agnia lebih terdengar sebagai sebuah pengakuan di telinganya.
Ucapan jangan salah paham, justru membangkitkan prasangka untuk membuat kesimpulan. Gadis itu, tak mungkin begitu saja salah menekan nomor yang ia hubungi.
"Emh.. baiklah." Akmal mengangguk samar, meski tau takkan diketahui seseorang di sebrang sana.
Sesaat hening, Akmal sengaja membuat situasi canggung itu. Penasaran reaksi Agnia jika ia lakukan itu, akankah hal menakjubkan lainnya terjadi? Seperti Agnia mulai berbicara dengan nyaman padanya?
Namun Agnia lebih teguh dari yang dipikirkan, gadis itu lebih diam kala didiamkan. Akmal akhirnya menghela, gemas sendiri. Mana bisa ia tahan, ingin sekali memanfaatkan situasi ini menjadi lebih berharga.
"Mbak mau menyampaikan sesuatu?"
"Enggak." singkat Agnia, suaranya terdengar jujur.
Akmal menghela kecewa, untuk kemudian bertanya sekali lagi. "Yakin?"
"Yakin.." jawab Agnia, sialnya terdengar yakin sekali.l di telinga Akmal. "Karena itu, boleh saya tutup panggilan ini sekarang?"
Kedua ujung bibir Akmal spontan naik, menggemaskan sekali saat Agnia meminta persetujuan sebelum memutuskan panggilan. Bukan hal istimewa, tapi hey!! Ini sebuah kemajuan.
"Saya tutup, ya.." suara Agnia kembali terdengar, sudah pasti sebab Akmal justru diam tak menjawab tanyanya.
"Sebentar, Mbak.. kalo Mbak gak ada yang mau disampaikan, biar aku ajukan pertanyaan." ucap Akmal cepat.
"Pertanyaan apa? Jangan aneh-aneh ya! Saya gak mau jawab.."
"Cuma satu pertanyaan." potong Akmal. "Ya?"
"Baiklah.. katakan."
"Aku tau Mbak gak punya siapapun yang Mbak sukai, setidaknya sampai hari ini. Dan sebab itu.. aku gak ragu untuk berjuang sejauh ini, hanya saja.." Akmal menjeda sesaat. "Aku mau denger langsung dari Mbak, apa Mbak bolehin aku untuk berjuang sampe akhir? Maksudku.. sampe gak ada batasan yang memisahkan kita berdua."
....
"Aku mau denger langsung dari Mbak, apa Mbak bolehin aku untuk berjuang sampe akhir? Maksudku.. sampe gak ada batasan yang memisahkan kita berdua."
Demikian pertanyaan Akmal yang membuat Agnia ketar-ketir. Agnia mengeluh tertahan sesaat pertanyaan itu diucapkan Akmal, dadanya bergemuruh hebat. Malu sekali jika harus menjawab, dilain sisi mengutuk jarinya yang tak sengaja membawanya pada situasi seperti ini.
"Mbak?" suara Akmal kembali terdengar.
"Iya?"
"Apa harus aku ulangi pertanyaannya?"
"Jangan." jawab Agnia cepat. "Saya.. saya gak tuli kok."
Terdengar helaan napas dari sebrang sana sebelum kemudian bertanya kembali. "Kalo begitu, bagaimana jawabannya?"
Giliran Agnia yang menghela, lagi pula terlanjur. Satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang adalah menjawab pertanyaan itu sejujurnya, meski semalu apapun ia nantinya.
"Lakukan saja." singkat Agnia, lebih pelan dari intonasi sebelumnya. Menandakan ia yang malu menjawab demikian.
"Apa? Gimana Mbak?"
"Jangan pura-pura gak denger!" ucap Agnia gemas, tau jika Akmal sengaja. Sebal, padahal ia malu setengah mati.
"Tapi apa yang harus aku lakukan? Untuk satu hal ini, Mbak gak jelas." ledek Akmal.
__ADS_1
Agnia mendengus sebal, bocah ini mulai lagi mempermainkannya.
"Lakukan saja yang menurutmu benar, saya gak bisa jamin apapun dengan memberi kamu harapan."
"Baiklah, aku ngerti. Tapi katakan sekali saja, sebuah pengakuan.. Mbak bisa menerima aku nantinya atau enggak?"
Tutt..tutt..tutt..
Hembusan napas lega dileluarkan Agnia, puas sekali setelah memutus panggilan itu secara sepihak. Geram, harusnya sejak tadi ia lakukan itu. Bocah itu tak puas sepertinya, jika tak membuatnya malu sampai akar.
.
.
.
.
Sejatinya pernikahan antara dua orang yang saling mencinta membuat asam pahit kehidupan menjadi lebih mudah dilewati, namun tidak bagi Alisya dan Adi. Entah yang Adi rasakan, namun Alisya selalu merasakan kehampaan yang sama pada kehidupan pernikahannya.
Alisya termakan omongannya sendiri, kini dibuat tak nyaman dengan saling diamnya dengan Adi. Tak tau harus bersikap apa nanti saat Adi pulang.
Kepalanya kini sibuk menyaring banyak hal, mengerucutkan hal-hal apa saja yang membuat rumah tangganya hambar, hingga mencari cara untuk menyingkirkan beban terbesar dalam pernikahannya itu.
Dan Agnia, nama itulah yang terlintas di pikiran Alisya. Memang Agnia yang sering kali menjadi topik perdebatan mereka. Mungkin sekitar delapan puluh persen Agnia, sedang dua puluh persen permasalahan lainnya yang ada pada kegaduhan rumah tangga Adi dan Alisya.
Apa keputusan pindah ke tempat ini salah? Demikian batin Alisya, baru berpikir ke arah sana. Kini ia sesali tak mendengar saran Adi untuk memindahkan Raina ke sekolah lainnya.
Kedatangan Raina membuyarkan lamunan Alisya, yang sedang dipikirkan tepat sekali muncul di hadapannya. Alisya yang tengah memasak sup segera sadar, menoleh pada Raina yang menarik-narik ujung bajunya.
"Iya, sayang?"
Raina menjawab dengan menyodorkan piring kosong, tanda lapar sekali. Bahkan demi segera makan, Raina berankak mencari mamanya ke dapur.
Alisya tersenyum, paham. "Sebentar, ya.. udah kok masaknya. Ibu siapin dulu, Raina tunggu di meja makan." pinta Alisya, segera dituruti anak satu-satunya.
Alisya menghela seperginya Raina, setelah memastikan anaknya pergi ke arah yang tepat ia lantas berbalik. Mematikan kompor, dan menuangkan sup panas itu ke satu mangkuk kecil.
Raina menunggu, dengan matanya tak lepas dari televisi. Ya, anak menggemaskan itu tidak menunggu di meja makan, melainkan di sofa depan televisi. Alisya dibuat menghela kembali akannya.
Satu porsi nasi, juga satu mangkuk sup ayam siap. Alisya berjalan ke arah Raina dengan membawa dua hal itu di atas nampan.
Gemercik hujan sore hari membawa hawa dingin hingga ke dalam rumah, mungkin sebab itu juga kenapa Raina sangat menikmati makannya sore ini. Apalagi ia disuapi sedang matanya fokus pada layar televisi, sempurna.
"Emh.. Ayah.." gumam Raina pelan, menoleh ke arah mamanya saat suara deru mobil terdengar. Mulutnya penuh dengan nasi, membuat pipinya mengembang saat bicara.
Tak lama sebuah salam terdengar, Adi masuk ke rumahnya segera. Meski hujan tak begitu lebat, namun di jam sekarang cukup terasa membangunkan bulu-bulu halus sepanjang tubuh.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.."
Raina tersenyum saat ayahnya makin mendekat, susah payah menelan nasi di mulutnya. Selalu begitu setiap harinya, menyambut senang sang ayah untuk kemudian setelah mencium tangan ayahnya dan dikecup keningnya, Raina mulai menyombongkan segala hal yang dilaluinya hari ini.
Namun urung, saat ini Raina sudah diberi tatapan peringatan oleh sang mama. Gadis itu lantas memajukan bibirnya, marah ceritanya.
"Makan dulu.. kan ayahnya juga baru pulang, nanti setelah Raina selesai makan dan ayah selesai mandi.. baru boleh main. Ya?" jelas Alisya.
Raina mengangguk cepat, segera lupa marahnya tadi. Pun setiap hari kalimat ibunya selalu begitu, hanya saja memang harus selalu diulang. Kebiasaan memang sulit dibangun, dan karakter sulit dirubah.
Adi menyungging senyum tipis, menoleh Raina kemudian beralih pada Alisya yang masih sama seperti pagi tadi, tak terlalu menggubrisnya.
"Kamu masih marah?" tanyanya lembut.
Tangan Alisya refleks berhenti saat ditanya demikian, untuk sesaat berpikir. Hatinya tentu belum mau bersikap seperti biasa, khas perempuan jika belum dimohonkan maaf lebih dulu. Namun kini ia berpikir jika sikapnya seperti itu, jika egonya terus ia kedepankan, maka bukan tak mungkin ia kehilangan Adi, suaminya ini bahkan sudah bersikap berbeda beberapa hari ini.
Fakta bahwa Agnia masih belum menikah hingga hari ini, baginya sebuah ancaman. Sebab bisa saja itu membuat Adi merasa ada harapan, lantas bisa saja pergi meninggalkannya dan datang pada Agnia.
Alisya menggeleng pelan, mengusir pikiran buruknya. Segera menoleh Adi dengan senyum.
"Enggak kok, aku bahkan gak seharusnya marah tadi." ujarnya bak penuh penyesalan. "Maaf ya, Mas.."
Adi mengernyit tipis, merasa seperti keajaiban sebab Alisya untuk pertama kalinya setelah sekian lama mau untuk minta maaf lebih dulu padanya. Adi takjub, namun berusaha menyembunyikan reaksinya.
Apakah kemarahnnya tadi pagi berhasil membuat istrinya itu luluh? batin Adi.
Adi mengangguk, tak mengucapkan hal lain setelahnya. Tangannya mengusap pelan puncak kepala Alisya sebelum kemudian pergi ke kamarnya. Tak tau saja, jika setelah itu senyum Alisya hilang berganti tatapan kekhawatiran.
__ADS_1
Seperti hari-hari yang sama selama tiga tahun pernikahan mereka, ketakutan dan kekhawatiran itu ada. Namun kali ini, Alisya dibuat cemburu luar biasa. Sebab Agnia yang selalu ia takuti itu kini ada di hadapan mereka. Alisya hanya berharap, semoga pernikahannya yang penuh ironi itu terhindar dari kehancuran.
.
.
.
.
Malam sayahdu, dengan gerimis yang menyiram bumi menambah indahnya perkumpulan yang diadakan di kediaman Fauzan. Karpet-karpet dihamparkan, kudapan dijejerkan, gelas-gelas memanjang sepanjang karpet menghampar.
Acara belum dimulai, bahkan para tamu belum dagang. Namun Agnia dibuat was-was di dalam kamarnya sendiri, sebab menilik dari masakan yang dibuat ibu dan para asisten dadakannya itu begitu banyak.
Agnia jadi berpikir, Apakah yang dikatakan Akbar tadi benar-benar akan terjadi? Tidak! Agnia menghela. Mana ada pertunangan diadakan sedangkan dirinya tak diberi tahu.
Agnia kembali ke kamarnya, diam seorang diri disana. Tak bisa keluar jika orang-orang sudah mulai berkumpul. Malam ini, pengajian di mesjid beralih ke rumahnya. Agnia memilih meringkuk sendiri, atau nanyinya ia bisa sulit untuk masuk ke kamar.
Puspa muncul dari balik pintu saat itu, Agnia segera menoleh penuh perhatian saat Puspa meloloskan tubuhnya sembari membawa Zain bersamanya.
"Nih, Aunty. Anak nakal." adu Puspa, sorotnya tampak jengkel.
Agnia yang duduk di ujung ranjang dan menghadap pintu langsung mengulurkan tangannya pada Zain. "Sini.. anak nakal, sini."
"Nakal dia, gak bisa dikasih tau." keluh Puspa, serius. Jengkel bukan main, sudah lelah ditambah Zain yang.. Ah! Semua anak memang begitu.
Agnia hanya terkekeh, melihat wajah Puspa yang jelas sekali kesal sedangkan Zain biasa saja seperti tak melakukan apapun.
"Zain ngapain emangnya?" tanya Agnia.
"Tuh, lari-lari ngejar anaknya Mbak Nur. Sampe jatuh, terus nangis dia."
"Zain?"
"Bukan, anaknya Mbak Nur."
Agnia mengangguk, lantas menoleh keponakannya.."Bener, Zain?"
Zain manyun, kesal sejak tadi disalahkan. "Aku gak dorong, kok. Dia jatuh sendiri." jawabnya dengan intonasi merajuk.
"Bukan masalah didorong atau tidaknya Zain, tapi ibu kesel soalnya Zain gak dengerin kata ibu. Kalo celaka, gimana nanti?" omel Puspa.
"Yasudah, Mbak. Biar Zain disini aja sama aku, sebagai hukuman dia yang gakbisa dibilangin."
Puspa mengangguk, berhenti mengomel. Sedangkan Zain setuju saja, lagi pula ia sudah lelah setelah berlarian, bermain di dalam kamar tantenya bukan hal yang buruk. Paling tau-tau sudah tidur tanpa sadar.
"Iya deh, kalo gitu Mbak keluar, kamu gak usah.. disini aja! Kasih tau aja kalo ada apa-apa."
Agnia tak perlu dilarang keluar sebenarnya, meskipun disuruh keluar pun ia tak akan mau. Akhirnya ia hanya menanggapi ucapan Puspa dengan helaan, hingga kakak iparnya itu hilang dari balik pintu.
...
Akmal datang bersama ayah dan ibunya, beberapa saat lebih cepat dari yang lain. Fiki dan Ardi pun sudah disana, bahkan ikut berjamaah di mesjid sana.
Entah kemana ayah dan ibunya pergi, namun Akmal sudah bergabung saja bersama Fiki, Akbar, dan Ardi. Seperti biasa, menjadi empat sekawan.
"Tamu spesial mah beda." ujar Fiki, menoleh Akmal dengan senyum menggoda. "Datangnya sama keluarga besar."
Akmal tak bergeming, hanya tersenyum seperti biasa. Namun Akbar yang selalu tak terima, mendelik seakan merendahkan.
"Sirik Lo!"
"Alah.. ngomong sama siapa, yang jawab siapa." sindir Fiki.
Dibilang begitu, Akbar tak bisa menjawab. Kali ini tak mau kalah, tatapannya menantang seperti biasa.
"Apa Lo?!" Ardi melotot, tak mau kalah.
Ardi mendecak, lantas mendesah frustasi. Dua orang ini tak henti membuatnya pusing sejak dulu sekali. Sejak masa SMP bahkan.
"Ente berdua, ya.. kalo becanda gak tau tempat." keluh Ardi. "Mal! Yang satu ente bawa, satu lagi ana bawa. Biar tenang pengajian ini."
Mendengar itu Akbar dan Fiki mendelik bersamaan, keduanya hendak protes.
"Gue bukan barang, ya. Main bawa-bawa aja." ujar Fiki.
"Bener tu, parah Lo!" timpal Akbar, untuk yang satu ini mereka tiba-tiba saja menjadi kompak.
__ADS_1
Akmal menoleh Ardi demi menyadari itu, melempar senyum pada orang paling normal antara tiga bersahabat itu. Ya, Ardi satu-satunya yang normal.
Fiki? Akbar? Jangan tanya! Mereka hanya normal pada situasi-situasi tertentu.