
Saat sendiri menjadi titik balik, Agnia yang tadinya tampak baik-baik saja kini tampak kesepian. Terbaring dengan tatapan kosongnya lurus ke langit-langit ruang inap itu.
Seperginya Akbar dan Akmal, ia kembali dirundung ketakutan. Bak bahaya akan datang kapan saja, tanpa diduga seperti sebelumnya. Namun Agnia tak bisa mengeluhkan ketakutan itu, tak mau membuat semua sibuk tak jelas sebab dirinya.
Untuk sesaat, Agnia merasa tak ada harapan saat Wildan menggiringnya ke tempat asing itu. Bahkan jeritan tolongnya pada pemilik rumah itu tak digubris, meski mereka sama perempuan. Agnia, takut sekali saat itu.
Perangai di kasar Wildan mengingatkannya pada seseorang, entah kenapa Agnia teringat begitu saja. Bayangan orang itu terlintas begitu saja, hari dimana ia menangis tak tertahan sebab orang itu sekelebat melintas.
Bedanya, jika Wildan menyakitinya dengan tangan, seseorang itu justru menyakitinya dengan ucapan. Namun bagaimanapun, keduanya berhasil membuat rasa takut tersendiri di hatinya.
Agnia menghela, menggelengkan kepalanya pelan. Segera mengenyahkan kenangan itu, tak mau mengungkit luka lama. Apalagi ketika semua sudah membaik dihari ini, harusnya Agnia melupakan sepenuhnya ingatan itu.
Saat Agnia sibuk meyakinkan dirinya untuk tak terlalu takut, Puspa datang dengan langkah anggunnya. Tersenyum sepanjang jalan menuju kamar inap yang Agnia tempati, menyapa setiap staff rumah sakit yang ia temui.
Puspa mendorong pintu itu perlahan, seraya tersenyum dan menampakan dirinya. Tak berselang lama, alisnya spontan menukik membentuk tanya di wajahnya. Menangkap keterkejutan dari wajah adik iparnya itu.
"Kamu terkejut?" tanyanya, seraya cepat berhambur pada Agnia. "Maaf."
Agnia menghela dalam, lantas melepas tangannya yang refleks menyentuh dada saat terkejut barusan.
"Kenapa?" tanya Puspa, seraya menelisik wajah Agnia. Bukan menelisik lukanya, namun menelisik sorot mata itu. Membuatnya segera tau jika ada ketakutan disana.
Agnia membangkitkan tubuhnya, lantas menggeleng pelan dengan senyuman tipis. "Kaget aja."
Puspa menghela pelan, tau jika Agnia sedang menutupi ketakutannya itu. "Yasudah, lain kali jangan melamun! Keterkejutan gak baik buat kesehatan."
"Habisnya aku gak ada temen, Mbak sibuk dan Zain.."
"Di rumah sama ibu." potong Puspa segera, membuat Agnia tak jadi menaljutkan kalimatnya.
"Kenapa gak diajak kesini?" tanya Agnia dengan nada pura-pura ngambek, bibirnya ia majukan sedikit.
"Ngapain? Supaya dia nanya kenapa aunty nya benyok?"
Pertanyaan itu dilontarkan Puspa dengan wajah seriusnya, membuat Agnia langsung mengulas senyum tipis.
__ADS_1
"Lupakan soal itu, cepatlah sembuh dan jaga Zain! Keponakanmu itu sudah heboh bertanya dimana dan kemana kamu pergi." papar Puspa, seraya bokongnya yang tadi duduk di kursi kini diangkat. Berjalan seirama, seiring langkahnya menuju sopa nyaman disana.
Agnia hanya memperhatikan gerak-gerik kakak iparnya dengan tatapan penuh tanya, hingga Puspa menjatuhkan tubuhnya ke sopa menggoda itu.
Puspa sejenak merenggangkan tubuhnya, merasa luar biasa lelah setelah sulit tidur semalamam. Jangankan Agnia, masalah ini juga mengganggu pikiran Puspa.
Puspa menghela, kembali menatap Agnia. "Gimana? Sekarang udah lebih baik?"
"Alhamdulillah.." Agnia mengangguk, berujar dengan senyum meyakinkan.
"Apa karena bunga itu?" terka Puspa, matanya beralih pada satu-satunya buket bunga disana.
Agnia mengendikkan bahunya, tau maksud Puspa."Entahlah.. aku gak yakin kalo bunga bisa mempercepat penyembuhan." imbuhnya.
"Dari Akmal?"
"Siapa lagi.."
"Ya siapa tau dari Gian."
"Terus, kamu berharap dijenguk dia?"
Agnia menggeleng, masih saling tatap dengan kakak iparnya. Itu jujur, meski Puspa berulang kali mencoba cari tahu lewat raut wajahnya. Hanya saja Agnia kasihan, pasti Gian merasa bersalah dan serba salah sekali, ia tau Akbar menolak tegas permintaan Gian untuk menengoknya. Sebab itu Agnia jadi merasa bersalah pada seseorang yang tak punya salah itu.
Lagi-lagi Agnia melamun, yang juga kembali membuat Puspa menghela napas dalam. Timbul satu keraguan di kepalanya saat ini. "Agni.."
"Hemh?"
"Kamu lebih suka Akmal, atau Gian?" tanya Puspa langsung.
Agnia kini menatap lama, keningnya berkerut. Sejenak mencerna pemilihan kata Puspa yang ia rasa kurang sopan di telinganya. "Kenapa Mbak nanya kayak gitu? Seakan aku suka suka sama dua orang itu."
"Okay kita ganti pertanyaannya, kamu sukanya sama Akmal atau sama Gian."
Yang ditanya masih tampak bingung, sibuk mencerna dengan raut seriusnya. "Emangnya kenapa?"
__ADS_1
"Ya, karena kamu gak bisa suka, maksud Mbak, kamu gak boleh suka sama dua-duanya."
Dengusan tipis terdengar, konyol sekali. Bukan itu jawaban yang ia mau. "Itu aku tau, Mbak. tapi.. aku bingung kenapa Mbak nanya kayak gitu? Aku gak pernah kok bilang suka sama salah satu mereka."
Iya juga, Puspa lupa jika taruhannya terjadi antara dirinya dan sang suami. "Karena.." Puspa sejenak menjeda, dan demi melihat tatapan minta penjelasan dari Agnia ia lantas menghela pasrah.
"Karena.. Mas mu pikir kalian punya hubungan istimewa, jadi.. itu membuat Mbak penasaran." jelas Puspa. "Tapi, tenang aja.. Mbak tetep jagoin kamu sama Akmal kok."
"Jagoin? Kok kedengerannya kayak lagi taruhan sih." gumam Agnia pelan, terlintas saja begitu. Tak tau jika gumaman asalnya itu benar sekali adanya.
Agnia tak berpikir serius tentang itu, sebab merasa hal itu konyol dan tak mungkin dimaksud Puspa. Sesaat lupa jika pasangan Hafidz dan Puspa meski tampak berwibawa tapi dalamnya luar biasa konyol. Hingga taruhan itu benar-benar terjadi.
Menyadari itu, Puspa hanya terkikik pelan.
...
Cuaca diluar sedang panas-panasnya, hingga cahayanya saja terasa membakar kulit. Bau aspal beradu dengan ban kendaraan tercium dikibaskan angin.
Ripda sudah semangat menjenguk Agnia, paling heboh saat harus memilih buah tangan yang akan dibawa. Tak sabar untuk memastikan sendiri kondisi Agnia, tak percaya dengan berita yang berasal dari mulut orang lain dan belum tentu kebenarannya. Pasalnya, Widia sebagai tetangga dekat keluarga Agnia terdengar lebih tak dapat dipercaya.
Trio itu sudah tiba, segera pegi ke receptionist dan mencari kamar Agnia. Yang paling muda, tampak transfaran dan tak sabaran. Berbeda dengan dua ibu-ibu di belakangnya yang justru sibuk membual bersama langkah pelannya.
...
Agnia bernaring menatap ke arah sopa, wajahnya kontras sekali kecewa. Sebal, melihat Hafidz yang katanya akan menemani justru sibuk dengan tugasnya tanpa menengok.
"Istirahat!" hanya demikian ucapan Hafidz, itupun tanpa menatap lawan bicaranya. Membuat Agnia melengos saja membalikan posisinya, memundungi Akmal.
Ya sudahlah, Agnia pasrah. Kini berusaha menutupkan matanya, setidaknya kehadiran Hafidz membawa rasa aman di hatinya.
Saat itulah Ripda datang, meloloskan wajahnya lebih dulu dan tersenyum canggung menyadari keberadaan Hafidz.
Hafidz sesaat terdiam, tak merasa kenal dengan gadis itu. Hingga Agnia kembali membuka matanya dan menoleh ke arah pintu, barulah Hafidz tau. gadis itulah yang ditunggu Agnia sejak tadi pagi.
"Ripda? ayo sini.." ajaknya seraya tersenyum lebih lepas.
__ADS_1
Hal itu diperhatikan juga oleh Hafidz, kini tau lah ia jika Agnia lebih butuh kehangatan dari pada istirahat. Dan lihatlah senyum Agnia itu, Hafidz spontan ikut tersenyum