
Pada detik yang terasa panjang ini, bisakah kamu membersamai ku?
Aku terpojok, tak tau harus apa saat tak bersamamu.
Semua kesepian ini menjebakku,
Memberi kesimpulan..
Jika hari dimana kugenggam tanganmu dalam halal, adalah ingin terbesarku.
...
Malam ini, selepas Fauzan memimpin Pengajian. Selepas isya berkumandang dan shalat didirikan, Khopipah terlihat turun dari kamarnya dengan dandanan rapih.
Agnia dan Akbar yang sedang bertukar canda di depan televisi langsung menoleh bersamaan, menghentikan tawa mereka.
"Kalian.. segera bersiap!" titah Khopipah, di tangannya terdapat satu bingkisan yang menarik perhatian kakak beradik itu.
"Bersiap kemana, Bu?" tanya Akbar, matanya beralih menatap wajah sang ibu dengan tatapan penasaran. Tak punya ide kemana sebenarnya mereka akan pergi.
"Ke rumah Akmal." jawab Khopipah. "Kita dapat undangan makan malam dari Tante Retno."
"Ohh.." Akbar menoleh Agnia segera, emnyungging senyum miring. Siap jika harus melanjutkan candaannya tadi, sedangkan Agnia tak bereaksi seperti sebelumnya. Hanya balas menatap datar.
Khopipah untuk sesaat menunggu, namun melihat kedua anaknya justru masih diam di tempat dan saling tatap. Ia akhirnya menghela pelan. "Ayo!"
.
.
.
.
Akmal tak bisa mengungkapkan rasa bahagianya, melihat Agnia turun dari mobil bersama keluarganya menciptakan getaran berbeda di hatinya.
Di balik jendela kamarnya, Akmal berdiri memandang ke arah luar. Mobil Fauzan terlihat jelas berhenti di depan rumahnya, hingga sosok yang dinantinya keluar dari mobil itu.
Rasanya luar biasa, mencintai karena Allah dan diberi jalan mudah menuju yang dicintai adalah kenikmatan. Tak perlu dijelaskan, hatinya kini berbunga.
Akmal yang sedang anteng begitu, tiba-tiba dikejutkan dengan keributan di depan pintu kamarnya. Spontan menoleh, mengakhiri kegiatannya.
"Mereka udah nyampe?" tanya Bude Maryam, wanita paruh baya itu buru-buru keluar dari kamarnya begitu mendengar samar deru mobil. Kini sudah menabrak pintu kamar keponakannya, menatap antusias.
__ADS_1
Akmal tersenyum tipis, lihatlah wajah Budenya ini. Tak pernah berubah, selalu antusias dengan segala hal yang berkaitan dengan dirinya.
..
Perasaan berbeda menjalar di hati Agnia, saat matanya bersitatap dengan sorot teduh milik Akmal. Semakin hari rasanya makin menggila, hatinya bak jatuh makin dalam pada pesona pemuda ini.
Mengingat tak lama lagi mereka bersatu dalam pernikahan, membuat Agnia sedikit berdesir. Jantungnya berdetak lebih cepat, tak tau apakah itu wujud ketidak sabaran atau kegerogian.
Tak mau menunggu hingga wajahnya memerah, Agnia segera mengalihkan tatapannya. Hal itu membuat Akmal diam-diam menyungging senyum gemas, suka saja melihat salah tingkah di wajah Agnia.
Bude Maryam tak mau kehilangan kesempatan, setelah basa-basi pada calon besannya. Ia menarik Agnia, membawa gadis pilihan keponakannya itu untuk dekat ke arahnya.
Tatapan Bude Maryam tak lepas dari Agnia, terus memperhatikan wajah cantik calon istri Akmal dengan seksama. Meski beda usia antara dua orang itu tiga tahun, tapi sama sekali tak ada ketimpangan dari mereka. Entah wajah Akmal yang boros, atau Agnia yang memang awet muda.
Agnia tak punya pilihan, saat ditarik Bude Maryam untuk duduk di dekatnya ia menurut saja. Menyamankan diri meski sedikit hatinya menggila sebab duduk bersebrangan dengan Akmal. Padahal kehendak hati ingin melalui malam ini tanpa harus banyak bersibobrok dengan Akmal, namun keadaan berkata lain.
Tawa mengisi obrolan dua keluarga yang sedang penuh bahagia ini, beda bagi Agnia. Waktu seakan berhenti, tak ada yang ia dengar selain degup jantungnya yang perlahan semakin cepat.
Tatapan yang terpaut antara mereka, tak baik untuk hati Agnia. Sebisa mungkin Agnia menghindari tatapan itu, memilih menoleh dan tersenyum pada Bude Maryam yang tak henti berbicara.
Akmal tersipu dalam diam, melihat tingkah canggung pada diri Agnia membuatnya yakin sepenuh hati jika gadis di hadapannya ini sudah jatuh hati padanya.
Adakah yang lebih istimewa dari rasa yang terbalas?
...
Hanya ada mereka di ruangan itu, Bude Maryam sengaja mengajaknya mojok berdua saja.
"Emh.. suka, Bude." jawab Agnia, sedikit ragu. Menoleh wanita berkaca mata yang sedang berdiri di bar, mengaduk air keruh dalam cangkir.
Bude Maryam tersenyum, tak lama datang menyajikan dua gelas teh yang baru ia buat beserta satu toples coklat.
"Coklat premium, autentik.. home made. Kamu harus coba." terang Bude Maryam, sembari mendudukkan bokongnya di sebelah Agnia.
"Buatan, Bude?"
"Ya.. Coba.."
Agnia mesem, tangannya mengulur mengambil satu coklat seukuran dadu. Langsung ia lahap seluruhnya.
"Gimana?"
Agnia mengangguk. "Ini terbaik, Bude.."
__ADS_1
"Tentu saja.." Bude Maryam tampak senang setelah dipuji, memang sudah dasarnya banyak senyum. "Oiya, Bude mau nunjukin album foto Akmal sewaktu kecil.. kamu harus lihat, dia seimut apa dulu." ujar Bude Maryam, sembari bangkit dari duduknya.
Agnia menanti, Bude Maryam entah pergi kemana. Hingga kemudian tak lama kembali dengan album foto di tangannya.
Bude Maryam mengambil tempat di sebelah Agnia, merapat. Menyimpan album foto yang tampak tua namun terawat itu di atas pahanya. Mulai membuka album itu, wajahnya tampak antusias mengalahkan ekspresi penasaran Agnia.
Foto keluarga jadi pembuka, dengan Akmal kecil dalam gendongan. Bude Maryam benar, Akmal kecil memang menggemaskan. Imut sekali, Agnia tersenyum tipis melihat itu.
"Ini.. Akmal usia dua tahun." tunjuk Bude Maryam pada salah satu foto, Akmal kecil tengah duduk di atas perosotan dipegangi Bundanya. "Bude sendiri yang ajak dia main, dan ngambil gambar ini." terangnya, detail sekali. Agnia mengangguk, tak terlalu fokus pada penjelasan. Foto Akmal lainnya sudah menarik perhatiannya.
"Emh, Bude.. Akmal dulu anaknya seperti apa?" tanya Agnia, melihat kebaikan Bude Maryam membuatnya merasa tak harus mempertahankan kecanggungan.
"Akmal itu.." Bude Maryam tersenyum, matanya menerawang. "Meskipun dia hari ini pendiam, terlihat bijaksana, juga dewasa.. dia sebenarnya.. manja. Kontras dengan dia hari ini, dulu dia bawel.. berisik."
Agnia mengangguk, ikut tersenyum dengan sunggingan Bude Maryam.
"Jadi nanti, kalo anak kalian bawel.. jangan kaget. Itu pasti dari papanya."
Ah! Agnia kembali mengangguk, soal anak di telinganya masih terdengar aneh. Tapi rasanya terlalu jauh berpikir hingga kesana, Agnia tersipu sendiri berpikir sejauh itu.
"Tapi bawel itu gak berarti jelek, itu sebab daya tangkap dia yang cepat. sampe Bude sama Bundanya itu pusing.. dia menanyakan setiap hal yang dia temui." terang Bude Maryam. "Tapi sekarang, jelas itu bukan hal buruk.. Dia tumbuh jadi pemuda yang bijaksana.."
Agnia menilik wajah Bude Maryam, senyum yang tersungging disana sungguh menunjukkan kebanggaan. Jelas sekali kasih sayang tulus yang diberikan seorang tante pada keponakannya, Agnia merasa hangat di hatinya.
"Bukan begitu?"
"Hemh?" Agnia mengerjap, tertangkap basah memerhatikan Bude Maryam dengan intens. "Emh.. ya." anggukan setuju Agnia tunjukkan.
Bude Maryam lanjut membuka lembar berikutnya, menunjukkan foto-foto Akmal lainnya.
"Nah.. ini Akmal waktu pertama kali juara modeling.. umurnya lima tahun kurang tiga bulan saat itu."
Agnia ingin sekali bertanya bagaimana Bude Maryam bisa sedetail itu tahu segala tentang keponakannya, maksudnya.. bagaimana seseorang bisa mengingat sedetail dan sebaik itu?
"Bude ingat sekali, acara itu bulan September dan tiga bulan kemudian ulang tahunnya." tambah Bude Maryam, yang makin menambah takjub Agnia. Wanita paruh baya itu membenarkan kacamata nya, lantas menghela dalam. "Mau tau sebuah rahasia?"
"Hemh? Rahasia apa, Bude?"
"Akmal itu lebih kayak anak bude dibanding anak Bundanya." senyum lembut ditunjukkan Bude Maryam. "Rasanya terima kasih saja tidak cukup untuk kedua orang tuanya, setelah bude divonis tidak bisa memiliki anak.. mereka memberikan sebagian besar waktu anaknya untuk Bude. Yang padahal mereka sama terlukanya.. Bundanya Akmal, juga sempat keguguran.. rahimnya diangkat tak lama kejadian sama menimpa Bude."
Penjelasan lirih Bude Maryam membuat Agnia tak bisa berkata-kata, ini hal baru yang ia tau. Kini terjawablah kenapa Akmal begitu disayangi Bude Maryam. Ada kisah menyesakkan dibalik itu. Agnia kini tersenyum menatap wanita paruh baya dengan wajah yang masih sangat cantik itu, berdehem pelan menghancurkan kecanggungan yang refleks saja tercipta.
"Emh.. Ini Akmal sama Bude, kan?" tunjuk Agnia pada salah satu foto. "Aku bisa mengenali wajah Bude waktu muda."
__ADS_1
Bude Maryam tersenyum, mengangguk. Untuk kemudian keduanya kembali larut pada album foto di hadapan mereka.
Akmal menyaksikan kehangatan itu dari jarak cukup jauh, hatinya yang terasa hangat sejak tadi makin penuh dengan kebahagiaan. Agnia memang pasangan yang tepat baginya, bagi keluarganya. Allah mengirimkan seseorang terbaik, sesuai harapan dirinya yang dipilihkan sang maha kuasa.