
Bagaimana perasaan para perempuan kala menstruasi dan nifas? Menyenangkan istirahat sejenak dari kewajiban ibadah? Jawabannya tidak, sebab diri kala terbiasa dengan sesuatu wajar merasa kehilangan. Begitu pula dengan ibadah yang ditunda kala berhalangan, seperti ada yang terlewat dan tak lengkap.
Agnia berbaring miring ke sisi kiri ranjang, berbantal lengan sembari memandangi Akmal yang belum selesai dengan shalat dan bacaan wiridnya. Menghela sesekali, jenuh sekali tampaknya. Laptop yang sempat ia hidupkan, sudah teronggok bisu di atas nakas.
"Itu laptop sengaja disimpan di situ?" tanya Akmal, beranjak dari duduknya. Menoleh singkat laptop yang diletakkan sembarangan itu.
"Hem?"
"Gak sayang sama laptopnya? Nanti jatoh, lho.."
"Oh.." Agnia mendudukkan bokongnya dengan malas, membawa laptop itu ke atas ranjang. Diletakkan di hadapannya.
Akmal bergabung ke atas ranjang, langsung menilik apa yang tersuguh di layar laptop Agnia. "Apa itu?" tanyanya, sembari matanya mencari tau sendiri. "Oh.. lanjutin tulisan?"
"Iya.."
"Terus kenapa?" Akmal menaikkan alisnya, sembari membelai singkat rambut istrinya. Tau ada sesuatu yang ingin dikeluhkan istrinya ini padanya. "Ada kendala?"
"Hem.." Agnia mengangguk. "Aku lupa apa aja yang mau aku sampaikan."
__ADS_1
Akmal tersenyum tipis. "Jangan dipaksa, lagi pula kita masih cape dari perjalanan tadi. Lebih baik istirahat.."
"Tapi gak kayak gitu loh.. aku punya beberapa hal untuk dituangkan ke dalam tulisan, jadi kalo nunggu besok-besok lagi keburu lupa."
"Hah?!" Akmal mengernyit lama, memahami bahasa perempuan selamanya akan jadi hal paling sulit. Jika tak hati-hati ia bisa di cap tak pengertian dan sebagainya, saat ini ia harus hati-hati bahkan dengah ekspresinya.
"Iya.. ada beberapa topik yang aku pikirkan sejak lama. Tapi.. aku gak tau bahasa seperti apa yang harus aku gunakan." terang Agnia, yang akhirnya menyudahi kernyitan Akmal.
"Oh.. mau aku bantu?"
"Boleh?"
Agnia tak bergeming, sibuk menatap takjub suaminya yang kini sedang dalam mode bocah, namun bijaksana begitu mengenai tentang membantu istrinya.
"Yaudah.." Akmal menggusur Agnia, membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
Deheman keluar dari mulut Agnia, setelah cukup lama terdiam terjebak hening. "Apa.. harus sambil kayak gini?" tanyanya gugup, bergerak tak nyaman dalam kungkungan itu.
Akmal hanya tersenyum, justru melingkarkan tangannya di tubuh sang istri begitu sadar ketidaknyamanan itu. Membuat Agnia kembali menggeliat, sembari mencoba melepas pelukan erat suaminya. Jika tau akan begini ia tak akan setuju menerima tawaran bantuan dari Akmal.
__ADS_1
"Sayang.. jangan kayak gini, ah!" kesal Agnia, masih berusaha membuka pelukan yang sengaja sekali dieratkan.
"Kenapa?" tanya Akmal disertai kekehan, sembari melepas pelukannya. Bertanya dengan santai sebab memang tak ada yang salah dari sikapnya. Istrinya saja yang selalu kaku, tak bisa sekali saja meladeni sikap hangatnya. "Aku gak ngapa-ngapain.." tegasnya, membalas tatapan sebal Agnia yang kini duduk berjarak dan menghadapnya. "Gak suka duduk begitu? Padahal gak ada yang salah.."
"Gak ada yang salah, tapi aku gak nyaman.. udah ah! Kalo harus begitu aku gak jadi minta bantuan."
Akmal mencebik, menatap wajah ngambek dengan bibir manyun itu dengan seksama. Heran saja, padahal saat hamil Agnia tak pernah mengeluh saat ia dekap dengan cara yang sama. "Okay.. maaf, meski sebenarnya gak ada kesalahan yang aku lakukan.. tapi aku tetep minta maaf, demi kembalinya senyum istriku. Hem? Dimaafin?"
Agnia menghela, ini seperti kembali ke awal. Saat mereka jadi pasangan baru, gugup dan takutnya persis yang ia rasakan dulu. Entahlah, mungkin sebab bayi yang biasanya ia jadikan alasan kini tak ada lagi, hingga sikap manjanya juga ikut tak ada lagi. "Yaudah.. tapi jangan kayak gitu.."
Gemas sekali, Akmal mengangguk cepat. Lekas menarik mengulurkan tangan untuk mencubit kedua pipi sang istri. "Iya.. tunggu sampai dua bulan, dan setelah itu aku gak akan biarin Mbak untuk menyudutkan aku lagi. Saat itu giliran Mbak memberi aku rasa terimakasih."
"Hem?" Agnia menaikkan alisnya, selalu bertanya untuk memastikan meski paham setiap kalimat ambigu yang ditujukan suaminya.
"Bukan apa-apa.. lupakan!" kata Akmal, segera menutup kesempatan sang istri untuk memeranginya lagi. Balas menatap Agnia lembut, usai menghela panjang dan mengakhiri candaannya. "Udah ngambeknya.. sini, katanya mau aku bantu."
Agnia tak langsung mendekat, masih menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Antara lega tapi juga takut dengan 'dua bulan lagi' yang dimaksud suaminya itu.
"Sini.." Akmal mengulang ucapannya, menepuk ranjang tepat di sebelahnya. "Aku juga mau nunjukkin kehebatan ku dalam merangkai kata." bujuknya, terdengar seperti ucapan buaya darat yang berusaha memperdaya sasarannya.
__ADS_1