
"Gak papa aku tinggal?" tanya Ripda, sedikit merasa bersalah sebab tak ada siapapun lagi di sekolah. Mereka jadi orang terakhir yang tersisa, itupun Ripda sudah ditunggu jemputannya.
"Iya." Agnia tersenyum. "Gak papa, Mbak bisa nelpon Akbar atau Akmal."
"Maaf, ya.."
Ripda akhirnya berlalu meski kayanya tak tega, pasalnya memang jemputanmya yang sedang terburu-buru. Agnia terkekeh menyadari itu, sembari mengeluarkan ponselnya. Bisa-bisanya ia telupa menghubungi Akmal sebab sibuk bersama Ripda, kemungkinan besar ia harus berjalan kaki seorang diri.
Namun hal lain datang, keterkejutan bagi Agnia. Govin, pemuda itu menghampirinya dengan motornya saat Ripda baru saja hilang dari ujung jalan.
"Butuh tumpangan?" tanya Govin, terdengar ramah namun menyeramkan dengan wajah tanpa ekspresinya.
Agnia menggeleng pelan, berusaha tersenyum. "Gak usah, rumah saya sudah dekat."
"Jalan kaki? Tapi, itu cukup jauh. Gak papa saya antar saja.
"Tidak perlu, saya lebih nyaman pulang berjalan kaki. Sendiri."
"Demi Akmal, apa yang dia pikirkan jika tau saya membiarkan istrinya berjalan kaki saat bisa memberi tumpangan."
Agnia kembali menggeleng. "Gak perlu. Saya beneran gak perlu bantuan, mari.."
"Tapi.." Govin memundurkan motornya, menghadang langkah Agnia. Tatapannya berubah mengintimidasi. Membuat Agnia di detik ini juga, merasa takut dengan pemuda itu.
Bisa dipahami bagaimana sosok ini menakutkan bagi Akmal.
Titt..
Suara klakson mobil terdengar, Agnia segera menoleh ke asal suara. Berharap Akmal lah yang datang dan menjauhkannya dari pemuda menakutkan ini. Namun yang tak sesuai dengan yang terjadi. Saat jendela mobil turun, wajah Adi justru yang tersuguh.
Ya, pria itu. Pria yang juga amat Agnia hindari.
"Agni.." sapa pria itu, menoleh sekitar untuk kemudian tersenyum tipis. "Ayo, Mas antar pulang.. kita searah." katanya, tanpa memberi perhatian khusus dengan keberadaan Govin.
Agnia tak langsung mengiyakan atau menolak, ia berdiri diantara kebingungan dan keengganan. Andai saja ada Akmal saat ini, ia tak perlu takut dari salah satu pria itu atau enggan dengan yang lainnya. Bagaimana ia bisa bersama satu mobil dengan Adi, namun bagaimana ia menghadapi Govin.
Agnia menghela, menoleh Govin sekilas lantas berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Duduk bersama masa lalu yang pahit rasanya lebih baik dari pada ditekan pemuda asing yang sudah tentu mengundang kemarahan Akmal nantinya.
Entah soal nanti, namun jika ia menolak ajakan Adi maka Govin tak akan menyerah mengganggunya.
Adi turun membukakan pintu mobil, menoleh Govin singkat. "Maaf, Mas pikir kamu sedang butuh bantuan." ucapnya setengah berbisik, hingga Agnia masuk ke dalam mobilnya meski dengan ragu-ragu.
Adi baru saja akan kembali ke kantornya, saat melalui jalan itu dan melihat sang mantan kekasih. Awalnya Adi tak mau ikut campur, tak mau menampakkan wajahnya pada perempuan yang resmi jadi milik orang lain itu. Namun melihat sorot tak nyaman di wajah Agnia ia jadi tak tega, memutuskan menghentikan mobilnya sementara, dan memperhatikan yang terjadi.
Tak ada apapun di kepala Adi kecuali harus menyelamatkan Agnia dari pria yang jelas ia lihat sedang mengganggunya.
Dan sama bagi Agnia, ia tak ak punya pilihan saat memutuskan mengiyakan ajakan Adi. Entah mimpi apa dirinya semalam, Agnia tak menyangka bahkan tak pernah ingin untuk bisa pulang diantar Adi.
Rasanya aneh, Agnia sama sekali tak bisa mengangkat wajahnya bahkan tak ingin bersuara sama sekali. Demi apapun, jika bukan karena Govin ia tak mau merasakan kecanggungan ini.
"Kamu kenal dia?" tanya Adi, menoleh Agnia singkat untuk kembali fokus ke jalanan.
"Hem.." Agnia mengangguk singkat.
Adi menghela, ikut mengangguk paham. "Tapi sepertinya dia bukan orang baik, kalo bisa Mas kasih saran.. lain kali minta suamimu menjemput, atau paling tidak Akbar."
Agnia tak bergeming, ia tak akan bisa merasa biasa dan bersikap biasa setelah apa yang terjadi antaranya dan pria di sebelahnya ini. Pernah begitu mencintai, merencanakan hidup bersama. Hingga hari ini saat cinta itu hilang, tersisa rasa enggan untuk bertemu. Tapi kali ini? Bahkan mereka berada satu mobil dalam keadaan terpaksa.
Adi tak akan protes meski dalam hati, tau ini tidak mudah bagi Agnia. Itulah kenapa ia mengatakan maaf sebelumnya, bukan ia tak malu dengan perempuan yang pernah ia sakiti ini. Lihatlah bagaimana tak nyamannya Agnia yang kini sibuk dengan lamunannya, Adi sekali lagi menoleh lewat kaca spion.
"Turun disini!" kata Agnia tiba-tiba, menoleh singkat. Membuat Adi lantas menghentikan laju mobilnya, meski belum tiba ke halaman rumah mantan tunangannya ini. "Terimakasih.." ucap Agnia, sembari membuka pintu mobil dengan terburu-buru.
"Hati-hati.." Adi mengingatkan, menghela bagaimana takutnya Agnia saat ini. Entah ia lebih baik dari pada pemuda tadi atau tidak, namun Agnia lebih panik saat di dekatnya.
Waktu rasanya berlalu lambat, Agnia tak tahan dan ingin menjauh sejauh mungkin dari Adi. Agnia menghela lega, mendudukkan bokongnya ke atas sofa. Dua hal yang membuatnya lega, pertama sebab terhindar dari Govin, dan lega sudah tak menumpang mobil Adi.
Namund dari semuanya, Agnia takut sekali dengan Govin. Mengingat bagaimana tatapan pria itu padanya tadi, membuatnya takut bukan main. Tak tau apa yang bisa dilakukan pemuda itu saat jelas sekali sikap beraninya.
__ADS_1
Akmal! Bagaimana harus ia katakan nanti pada suaminya, Agnia butuh sekali pria itu sekarang.
.
.
.
"Halo?" Akmal menjawab panggilan dari Agnia, berpindah ke tempat yang lebih sepi. "Ada apa, sayang?" tanyanya, pas sekali mendapat panggilan saat aktivitasnya baru selesai.
[Sibuk?]
"Hem.." Akmal bergumam pelan. "Masih bergelut dengan masalah yang sama, kenapa? Kangen aku?"
[Aku harus cerita.]
"Emh.." Akmal menggaruk tengkuknya tak gatal. "Gimana ya, nanti aja di rumah. Boleh?"
"Yaudah.." Agnia terdengar menghela pelan, Akmal langsung bisa membaca jika cerita yang dimaksud istrinya itu bukan hal menyenangkan. "Semangat kerjanya."
Akmal tersenyum tipis. "Iya. Tunggu aku pulang." ucapnya sebelum menutup panggilan yang tak biasanya belum dimatikan sepihak oleh sang istri.
"Dih! Tunggu aku pulang.." Dimas berdiri entah sejak kapan di belakang Akmal, meledek begitu setelah panggilan Akmal berakhir.
Akmal hanya tersenyum, menatap Dimas yang berdiri dengan lengan terlipat di depan dada. "Biasa, Mas.. ibu hamil, gak bisa kalo gak diperhatiin."
Dimas segera mengangguk. "Memang begitu, Mas tau betul gimana sulitnya menghadapi itu. Tapi bagaimana pun, itu hasil perbuatan kita. Resiko." katanya, sembari menepuk bahu Akmal, diiringi cengiran.
Akmal terkekeh, menggeleng takjub. Jika Agnia mendengar pembahasan seperti ini sudah pasti akan memelototinya. Namun lihatlah ia yang mulai kembali tersenyum, juga Dimas yang kembali mengeluarkan candaannya. Setelah jelas yang terjadi semua jadi punya alasan untuk bersantai dan menghela lega.
Masih setengah hari, di jam yang tengah terik-teriknya. Pekerjaan berjalan lancar kecuali urusan mereka bersama Pak Bagus si pemilik toko pakaian. Pria itu kini memaksa ingin bertemu Akmal, namun Akmal tak semudah itu mengiyakan. Sudah berencana memberi pelajaran terlebih dahulu pada pria itu.
Hingga setelah kesekian kalinya menghubungi lewat telpon, Akmal mengisyaratkan Dimas untuk mengijinkan pria itu datang. Dan sekarang lah waktunya.
Pria itu duduk bersebrangan dengan Akmal juga Dimas yang duduk satu kursi di kursi panjang. Tak ada senyum dari tiga orang itu, apa lagi Bagus yang sudah kepalang ketahuan hingga bingung harus memulai ceritanya dari mana.
Bagus terdiam, menghela. "Emh.. bisa kita bicara berdua?"
Dimas tak butuh diperintah, dengan senang hati bangkit dan meninggalkan dua orang itu dalam ruangan luas tempat beristirahat karyawan. Menoleh Akmal singkat sembari menunjukkan amggukan.
Bagus menghela kembali seperginya Dimas, lantas menatap Akmal yang kini hilang tatapan ramahnya. Jelaslah ia sudah hilang kehormatan dan harga diri untuk dihormati dan diberi keramahan, setelah terciduk Akmal.
"Kamu kenal Govin?" demikian tanya Bagus, yang serta merta menjawab seluruh pertanyaan Akmal. Tak perlu ditanya kenapa, ia sudah paham segalanya.
"Govin?" Akmal mengangguk cepat, tak menunjukkan keterkejutan meski takjub bukan main dalam hati. Ternyata teman lamanya itu bersikap sejauh ini. "Baiklah, saya sudah temukan jawabannya. Jadi silahkan.."
Bagus bahkan belum mengatakan alasan atau cara bagaimana ia bisa mengenal Govin, namun Akmal sudah mengusirnya dengan halus. Bahkan Akmal tak menunggu barang sesaat untuk mempersilahkannya pulang.
...
[Gimana?]
"Saya ketahuan." lapor Bagus pada lawan bicaranya di telpon, mengacak rambutnya frustasi. Hilang sudah harga dirinya di depan Akmal, belum lagi tokonya bisa terancam juga karena ini.
[Emh.. gak masalah, saya cuma main-main.]
"Apa?!" Bagus tak terima dengan kata main-main, tak taukah keputusannya setuju memanipulasi barang kiriman toko Akmal beresiko sekali? Ini hal besar. Bisa saja menghancurkan usahanya.
[Jangan marah! Ingat rahasia anda ada di saya.]
Bagus mengendus pelan, ia sudah lebih dari diperas oleh penelpon asing yang tiba-tiba datang dan mengancamnya melakukan hal bodoh. Dan suara tenang dari penelpon itu membuatnya muak saat ini.
[Tugas anda saya anggap selesai meski gagal, tapi.. lakukan satu hal lagi.]
"Apa? Akan saya lakukan tapi setelah ini hubungi saya lagi." ujar Bagus penuh penekanan.
[Ya.. tentu. Anda hanya perlu temui Akmal, dan sebut nama Govin di depannya.]
__ADS_1
"Itu saja?"
...
"Saya minta maaf, tolong sampaikan permintaan maaf saya pada pak haji Sidiq."
"Baik, saya sampaikan. Silahkan.."
Akmal menghela panjang, ternyata Ripda dan Agnia salah soal Govin yang tak akan nekad. Lihatlah hari ini, bahkan bisnis yang tak pemuda itu geluti pun ingin dikacaukannya. Sungguh, Akmal tak habis pikir.
Ia jadi penasaran, apakah yang ingin diceritakan Agnia tadi juga berkaitan dengan pemuda brengsek itu? Hatinya seketika dirundung khawatir.
Notifikasi pesan terdengar, Akmal kembali membuka ponselnya. Melihat siapa yang baru saja mengirimnya pesan. Seakan-akan direncanakan, seperginya Bagus si utusan, Govin datang dengan pesannya.
Tak ada satu katapun disana, hanya satu foto yang seketika membakar sumbu di hatinya. Apa lagi ini? Akmal merasakan dadanya bergemuruh hebat.
.
.
.
Agnia bimbang, seharian tak kembali ke rumahnya setelah mengajar anak-anak di madrasah. Memilih diam di rumah sang ibu yang baginya lebih aman. Bagaimana jika Govin nekad datang? Bagaimana jika pemuda itu menemuinya lagi?
Baru setelah ashar berkumandang, lekas Agnia kembali ke rumahnya sebelum sang suami pulang lebih dulu. "Oh!" Agnia keliru, Akmal ternyata kembali lebih cepat. Mobilnya sudah kembali di bagasi.
Ternyata Akmal berhasil membuatnya nyaman dan aman dalam waktu yang singkat, tak ada pertimbangan. Agnia bisa melupakan takutnya saat bersama Akmal.
Pintu kamar mandi terbuka, Agnia tersenyum sekeluarnya Akmal. Tak begitu menyadari datarnya wajah sang suami saat ini, yang ia pikir berasal dari kemarahan biasa. "Maaf, aku seharian di rumah ibu." katanya.
Akmal tak bergeming, justru melengos saat Agnia hendak meraih handuknya. Jadilah Agnia mematung. Sesaat hening Agnia memperhatikan bagaimana Akmal duduk di bibir ranjang dengan tatapan lurus ke lantai, tak sekalipun mau menatapnya. Agnia menghela pelan, ia dituntut jadi lembut menangani ini. Beranjak duduk di sebelah Akmal, bermaksud membantu mengeringkan rambut suaminya itu.
"Gak usah, aku bisa sendiri." ujar Akmal datar, menghalau tangan Agnia yang sama sekali belum sampai ke kepalanya.
Agnia merasa aneh, rasanya dirinya begitu menyedihkan diperlakukan begini. Akmal menghindari tatapan dan sentuhan dengannya, padahal di telpon tadi semua terdengar baik-baik saja. Jadi ada apa?
"Kenapa? Kamu marah karena aku main di rumah ibu? Gak ada waktu kamu pulang?"
Akmal tak bergeming, justru bangkit untuk menyimpan handuk pada tempatnya.
"Atau, karena kamu lagi banyak masalah? Hem?" Agnia mencoba bersabar dan berbesar hati, masih untung ia mau bertanya dari pada menangis dengan kemarahan tak jelas suaminya.
Akmal menghela dalam, kini menatap Agnia dari temoatnya berdiri. "Mbak pulang sama siapa tadi?"
"Hem? Tadi.."
"Sama Adi?"
"Iya." jawab Agnia pelan, merasa bersalah sebab Akmal lebih dulu tau sebelum ia katakan. "Kamu tau?"
"Aku gak boleh tau? Dan gak bisa tau?" tanya Akmal datar, membuat Agnia terheran sendiri. Rasanya ini pertama kali ia menerima nada bicara Akmal yang begini, pria sabar dan pengertian itu entah diselimuti kabut kemarahan apa.
"Bukan kayak gitu. Tapi.. aku memang mau cerita soal itu tadi, gak tau kalo kamu lebih dulu tau." terang Agnia ciut, terdengar bergetar antara takut dan sedih.
"Kenapa? Mbak bilang gak bisa ketemu mereka, tapi Mbak masuk satu mobil dengan mantan Mbak itu." tanya Akmal lagi. "Dan bukannya aku udah bilang, kalo ada apa-apa panggil aku.." Akmal terdengar berapi-api, menekan kan kata 'panggil aku'. Menunjukkan jika kemarahamua berasal dari sana. "Dengan begini, Mbak membuat aku merasa gak berguna. Mbak membuat aku kecewa."
"Tapi gak gitu ceritanya. Kenapa kamu semarah ini?"
Akmal menghela, mengambil ponselnya dan melemparkan itu ke samping Agnia. Rasanya kasar sekali, Agnia menoleh Akmal tak percaya untuk beberapa saat. Apa kecemburuan Akmal menghasilkan sikap kasar? Padahal pria itu jangan kan melempari barang ke dekatnya, selalu mengatakan maaf tiap kali meminta sesuatu.
"Lihat!"
Agnia ciut, menurut apa kata Akmal. Melihat foto di layar ponsel itu. Itu foto dirinya saat dibukakan pintu mobil oleh Adi. Berbeda dengan yang terjadi, di foto itu mereka tampak akur dan dekat. Agnia paham kenapa Akmal bisa naik darah akan ini.
"Aku kecewa." Akmal menatap Agnia dalam. "Mbak lebih memilih masuk ke mobil pria yang pernah menyakiti itu, dibanding minta tolong sama aku. Bahkan.. Mbak gak jujur soal pernah bertemu Govin sebelumnya."
Agnia tak bisa menjawab ucapan Akmal, kemarahan itu ia dengarkan saja. Biarkan saja hingga Akmal puas, saat marah seseorang tak akan bisa mendengar pendapat orang lain. Hanya saja.. apa yang dipikirkan Akmal? Pria itu keliru, tak bertanya seperti biasanya. Langsung marah tanpa meminta penjelasan darinya.
__ADS_1