Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
62. Pertanyaan yang sama


__ADS_3

"Mbak?"


Agnia segera waspada setelah mendengar panggilan Akbar dari luar kamarnya. Mengangkat wajahnya dari laptop, menatap pintu kamarnya yang perlahan terbuka tanpa izin.


Akbar mendorong pintu kamar Agnia hati-hati. Melangkah masuk, langsung tersenyum lebar kala disambut tatapan datar Agnia.


"Santai Mbak.. Aku kesini untuk mengatakan hal penting."


Agnia menghela napas pelan. "Harus penting! Mbak males kalo harus denger omong kosong kamu."


"Ini soal Akmal."


Agnia menaikkan alisnya, tak bisa menutupi ketertarikannya mendengar nama Akmal disebut.


"Katakan.."


"Tapi harus janji jangan marah!"


"Tergantung.."


Akbar mendengus, sudah menebak jawaban semacam ini yang dirinya dapat.


"Katakan.. Atau pergi!"


Akbar beranjak duduk di ranjang Agnia, duduk nyaman dengan bantal di pangkuan. "Jadi gini, Mbak.. Semalem Fiki liat Mbak sama Akmal keluar dari ruangan yang sama. Dan dia terus membual kalo kalian diam-diam janjian."


"Tapi tenang.. Akmal udah klarifikasi." Akbar segera berucap, sudah melihat wajah tidak menyenangkan kakaknya.


Agnia mengangguk akhirnya urung untuk marah. "Terus?"


"Gak ada terusnya. Padahal ya Mbak, kalo pun bener kalian janjian gak masalah kok.. Aku.."


"Jangan ngelantur! Kamu pikir apa, Mbak malu-malu di hadapan keluarga tapi dibelakang justru liar?"


"Aku gak bilang gitu.." Akbar menggeleng tegas. "Mbak tu.. Yang hari ini sensitif banget, dikit-dikit marah!"


"Apa?"


"Tuh kan.."


Agnia menghela napas. Padahal hanya bertanya 'apa?' Namun diartikan marah oleh Akbar. "Mbak jadi bingung kenapa kamu jadi berubah pikiran? Bukannya kamu yang paling gak setuju Mbak sama Akmal sebelumnya.."


"Tadinya.. Tapi semua bisa berubah pikiran kapan saja. Kan?" Akbar mengangkat bahunya.


"Alasannya?"


"Kan udah aku bilang, Akmal adalah satu yang terbaik dari semua pria yang aku tau suka sama Mbak."


Agnia mencebik. "Bukan itu.. Apa karena Asma? Kamu takut Asma jatuh ke pelukan Akmal? Oh! Atau mungkin kebalikannya.."


Akbar berdehem, tak berniat mengelak. "Itu memang salah satunya." ucap Akbar pelan.


"Kalo gitu.. Tidakkah kamu merasa egois? Mbak yang kamu korbankan."


"Tapi Akmal suka sama Mbak.. Keluarga Akmal juga dekat sama keluarga kita.. Dia pintar, berprestasi, ganteng.. Emh.. Meskipun lebih ganteng aku. Ahh pokoknya itu sudah berasal dari seleksi ketat."


"Terserah!" Agnia sangat tidak tertarik dengan penjelasan Akmal yang sia-sia itu. "Sekarang pergilah) .. Kamu sudah membuat perasaan mbak buruk sejak pagi tadi."


Akbar mendengus. "Mbak juga! Omelan Mbak membuat kepalaku rasanya akan pecah sepanjang hari ini. Mbak tau itu?"


"Apa? Ulangi!"


"Ehhem." Akbar bangkit, sudah merasa buruk. Tamatlah ia jika Agnia membalikkan semua omongannya. Langsung menunjukan wajah bersahabatnya. "Mbak sibuk kan? Kalo gitu aku balik ke kamarku. Semangat.. Dan jangan tidur larut malam.."


Agnia balas menatap tajam Akbar, matanya mengikuti adiknya itu hingga Akbar hilang ditelan pintu. "Dasar!"


.


.


.

__ADS_1


.


"Akbar?" suara lembut Khopipah menghentikan langkah Akbar. Berpapasan di ruang tengah.


"Oh! Ibu?"


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Khopipah, melihat wajah panik Akbar.


Akbar menggeleng. "Enggak, aku baru selamat dari kandang macan."


"Maksudnya?"


"He.. Bukan apa-apa, Bu. Gak penting." jawab Akbar. "Emh.. Ibu udah baikan?"


Khopipah tersenyum, mengangguk. "Alhamdulillah.."


"Terus.. Sekarang ibu mau kemana? Mau aku enter?"


"Gak usah.. Ibu mau ke kamar Mbak mu.."


"Oh.." Akbar segera nyengir. "Kalo gitu, Hati-hati ya Bu.."


"Hati-hati? Emangnya kena.." tanya Khopipah urung diucapkan, saat Akbar sudah berlari saja menuju kamarnya. Meninggalkan Khopipah yang menghela napas pelan.


.


.


.


Sebuah ketukan di pintu kamar Agnia membuat pemilik kamar mendengus sebal. Sudah hampir marah, namun kembali menjaga sikapnya. Belum tentu Akbar kali ini.


"Siapa?"


"Ibu."


"Oh! Masuk, Bu."


"Maaf, Bu. Tadi Akbar dari sini soalnya, iseng dia." ucap Agnia, perangainya berbeda sekali tak seperti saat Akbar yang bertamu. Kali ini tersenyum lebar.


"Akbar.. dia ngomong aneh-aneh pasti.."


"Biasa lah.. Adikmu.."


Lupakan, Akbar memang demikian. Namun.. "Emh.. Ibu kenapa kesini? Kan Aku bisa keatas kalo ibu ada perlu."


"Gak papa. Ibu udah enakan." jawab Khopipah.


Agnia mengangguk samar mendengar jawaban sang ibu. Masih menanti apa yang hendak diucapkan. Dan kala melihat Khopipah menghela napas dalam-dalam Agnia langsung curiga.


"Ibu.. Mau ngobrolin soal.."


"Iya. Kalo pertanyaannya Akmal, jawabannya iya."


"Ada apa emangnya, Bu?"


"Ini soal kesiapan kamu. Setelah ibu pikir, Ada baiknya kamu belajar menerima Akmal. Itu sebabnya ibu kasih kamu waktu hingga syawal. Dan.. Ibu yakin kamu mengerti fase selanjutnya."


Agnia mengulum bibirnya sejenak. "Memangnya.. Ibu.. Yakin Akmal orang yang tepat? Ini bukan soal sempurna tapi, ibu tau gak mudah buat aku.."


"Inshaa Allah.. Ini firasat seorang ibu."


"Emh.. Kalo kita mundur kebelakang, apa sebelumnya ibu pernah gak srek sama Adi?"


Khopipah tersenyum, mengingat kembali hari-hari saat Agnia begitu bahagia bersama Adi. Siapa peduli soal firasat seorang ibu, kala melihat anaknya bahagia maka disanalah letak restu berada.


Namun berkaca dari pengalaman, menyerahkan segalanya pada Allah memang yang paling benar. Demikian yang hari ini Khopipah pegang, selalu meminta yang terbaik demi jalan kehidupan Agnia.


"Entahlah.. Ibu lupa. Saat itu ibu gak pernah sekalipun memikirkan hal semacam itu."


Agnia mengangguk, ia melihat semuanya. Ada perbedaan besar, harapan besar yang kini Ada di mata sang ibu, tak terlihat saat dulu ia bersama Adi.

__ADS_1


"Biar aku berpikir lagi ya Bu. Aku masih sedikit takut." ucap Agnia. "Sayang sekali aku kecolongan oleh orang-orang yang sudah aku kenal sejak lama. Dan itu membuat aku lebih ragu dengan orang yang baru saja aku kenal."


*** flashback


Alisya berlari seturunnya dari ojek, tanpa memperhatikan sekitar masuk saja ke rumah besar milik keluarga Agnia.


"Eits.. Alisya!"


Alisya nyengir, sudah kebiasaan seperti itu membuatnya tak siaga pada kehadiran Khopipah, pemilik rumah. Yang sedang merapihkan koleksi fotonya.


"Maaf, Bu."


"Kenapa terburu-buru? Nanti kamu jatuh."


"He.. Aku terlambat, Bu. Agnia menelpon sejak tadi."


Khopipah mengangguk. "Tugas sekolah?"


Alisya mengangguk cepat. "Iya."


"Kalo gitu pergilah! Tapi ingat, lain kali masuk rumah dengan salam dan hati-hati."


"Iya, Bu. Sekali lagi mohon maaf." Alisya nyengir sekali lagi, lalu kemudian melanjutkan larinya menuju kamar Agnia. Akbar yang berpapasan dengan Alisya di tangga mengernyit heran.


"Bu.. Bukannya dia terlalu berani? Gak sopan makin kesini."


"Gak boleh gitu! Nanti kedengeran orangnya gak enak.."


Akbar mendengus, yasudahlah. Ia hanya mengungkapkan isi hatinya saja. Itu saja.


.


.


.


.


"Assalamu'alaikum.."


"Waalaikumsalam.. Masuk!"


Alisya muncul dengan senyum lebar, menatap Agnia yang sudah bersila di lantai dengan alat tulis yang berserakan.


"Dateng juga.."


"Ada sedikit kendala di kosan, sorry."


"Gak papa. Yang lain juga belum dateng.."


Alisya mengangguk, segera mengeluarkan buku yang Ia bawa di tasnya. Ponselnya Ia letakan saja di tumpukan buku paling atas.


Sedangkan Agnia sibuk sendiri, sejak tadi sudah mengganti tiga buku yang ia periksa.


"Kok anak-anak belum datang, ya?" gumam Agnia seraya matanya mengedar mencari sesuatu. "Biar Aku telpon.. Emh.." Di situasi seperti ini Agnia memang sering kali lupa dengan benda kecil itu. "Aku pinjem HP kamu deh.." ujar Agnia lagi, saat hanya ponsel Alisya yang tampak oleh matanya.


Alisya membuat Agnia terkejut dengan reaksi tangannya. Cepat sekali mendahului Agnia yang hendak meraih ponsel milik Alisya.


"Biar aku aja.." Alisya tersenyum, membalas tatapan terkejut Agnia.


"Itu cepat.. Tapi kenapa? Kamu nyembunyiin seusatu?" tanya Agnia, menatap curiga. Hanya becanda sebenarnya.


Alisya tersenyum. "Iya, privasi."


Agnia terkeleh mendengar itu, privasi apanya. Untuk pertama kali kata semacam itu keluar dari mulut Alisya.


*** flashback end


Agnia tersenyum getir, mengingat betapa dirinya tak sekalipun merasa curiga dengan tingkah Alisya dan Adi saat itu. Padahal jika diingat hari ini, semua begitu kentara. Ada saja hal yang bisa ia pertanyakan.


Ada satu pertanyaan yang tak pernah Agnia temukan jawabannya bahkan hingga hari ini.

__ADS_1


Sejak kapan hubungan antara Alisya dan Adi berlangsung?


"Apa sejak hari itu?" gumam Agnia, mengingat kembali hari di tahun ketiga SMA mereka saat banyak sekali tugas yang harus dikerjakan dan Alisya mulai penuh perhatian menjaga ponselnya. Nyatanya Agnia hanya bisa mengira-ngira, tak lebih.


__ADS_2