Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
23


__ADS_3

Wajah cerah Akbar kini kembali, ternyata ucapan Agnia berhasil membuat resahnya terpinggirkan. Tak ada beban yang menuntutnya untuk pergi lebih awal ataupun lebih siang ke kampus mulai hari ini. Seakan sudah tahu apa hendak dikata kala bertemu Akmal nantinya.


Jika dipikir dengan akal jernihnya, lucu juga bagaimana ia berapi-api memperingatkan Akmal yang padahal temannya itu tak sekalipun pernah membicarakan perihal perjodohan ataupun mengutarakan kesiapannya untuk menikahi Agnia.


Khopipah sudah bisa menebak itu sejak semalam, dan buktinya di meja makan pagi ini Akbar tak merengut seperti dua hari sebelumnya.


"Happy banget, kayaknya.."


Akbar mendongak, sejenak bingung kenapa ibunya mengucapkan kalimat itu. Tanpa sadar kunyahan nya terhenti untuk sesaat. "Enggak kok, biasa aja." ujarnya, lantas kembali mengunyah.


"Emangnya kenapa, Bu?" tanya Akbar lagi, setelah beberapa saat masih berpikir. "Wajahku aneh?“


Khopipah yang kembali dari dapur menggeleng. "Bukan. Beda aja, dua hari kemarin bawaannya tegang.." jawabnya, seraya tangannya tak diam menuangkan air ke gelas milik Akbar.


"Oh!" Akbar mengangguk paham, ternyata begitu. Hampir saja dengan bodohnya ia berpikir ibunya ini punya kemampuan membaca pikiran orang lain, pasalnya ia sejak kemarin merasa berusaha keras menyembunyikan kesebalannya dari kedua orang tuanya.


***


Kini Akmal, yang digadang gadang sebagai calon suami Agnia itu dengan langkah pasti bergegas menuju ruang MBI. Ada yang harus ia diskusikan di sana, mengenai susunan acara kajian esok hari.


Ya, hari itu akan tiba pada akhirnya.


Tiba lebih siang sebab harus pergi lebih dulu mengantarkan sangat bunda, membuat Akmal tiba di kampus saat tempat menuntut ilmu itu sudah ramai. aneh sepertinya, ia yang biasa datang lebih awal kini terheran sendiri.


"Assalamualaikum.."


"Walaikumsalam.." betul yang Akmal pikirkan, ruangan itu sudah ramai pula ternyata, terlihat dari jumlah sepatu yang berjejer di rak yang sudah tersedia.


"Dateng juga..." ucap Fiki. menandakan pria yang baru saja tiba ini memang telah ditunggu.


"Iya, maaf.. Ada urusan sebentar."


"Gak masalah, mana rundown acaranya?" tanya Ardi.


Kini kertas itu berpindah ke tangan Ardi. sejenak pria berkaca mata itu menilik kertas berisi sesi acara yang sudah diatur Akmal.


"Udah, tinggal kasih sama Asma." ucap Ardi puas, merasa rundown acara itu sesuai harapan. "Akbar? Nih.."


Siapa sangka, Akmal yang terburu-buru heboh sendiri hingga tak menyadari keberadaan Akbar di ruangan itu. Satu hal terbesit di pikirannya, apa Akbar sudah tidak kesal lagi padanya? Bukan tanpa alasan, yang ia tahu dari Fiki, Akbar sangat sulit ditebak hingga kadang tak akan mau bersitatap dengan orang yang memantik emosinya.

__ADS_1


"Okay.." Akbar meraih kertas itu. tak lama bangkit "Gue pergi sekarang.." tuturnya, seraya meraih tas ke bahunya. Sejenak langkahnya tampak ragu, kemudian menatap Akmal. "Bisa ikut gue?“ tanyanya. " Ada yang mau gue tanyain."


Mendengar itu, Fiki yang sejak tadi diam saja langsung heboh bersiap untuk mengekor. tatapan peringatan dari Ardi jelas bahkan mempan, insting kepo nya menjadi-jadi.


Akbar menghela napas pelan, untuk sesaat berpikir apa yang harus ia katakan. "Sorry, Mal. Omongan gue kemarin emang gak pantes." tutur Akbar, tanpa menatap lawan bicara di sebelahnya.


Akmal mengangguk pelan, entah itu terlihat atau tidak oleh Akbar.


"Tapi bukan berarti.. gue setuju ya sama pemikiran orang tua gue.." peringatan Akbar lagi kini dengan nada lebih tinggi, seakan lupa permintaan maapnya barusan. "Mbak Agni gak mungkin mau nikah sama cowo yang usianya sepantar gue.." membayangkan saja Akbar geli sendiri.


"I know.. " ucap Akmal, mengangguk. itu juga yang pasti ada di pikiran Agnia saat ini. Namun tidak di pikirannya, ia terlanjur tertarik, mau bagimana lagi,?


"Aku ragi ternyata.." seloroh Fiki, dengan senyum tengilnya. spontan dibalas sorotan tajam oleh Akbar.


"Lo nguping?"


"Chill.. Akmal aja biasa aja."


"Jangan kasih tau ini sama siapapun.." peringatan Akbar. "Awas kalo nyebar.. lo.." sungguh Akbar bersumpah tidak ingin jika kakak iparnya nanti adalah temannya sendiri.


"Iya." potong Fiki tegas, sudah tahu keseluruhan cerita dari Ardi jadi ia tidak begitu tertarik. Heran juga dirinya kenapa Akbar kalang kabut sendiri semantara kakaknya, Agnia biasa saja.


***


Sebab itulah Agnia kembali menawarkan dirinya sebagai babysitter, selama tak ada kegiatan, menjaga Zain adalah pekerjaan terbaik baginya.


Puspa pastilah senang meski faktanya tak memiliki jadwal ke rumah sakit di hari ini. terlebih Asri belum juga masuk kerja, sepertinya memang ada urusan yang sangat mendesak.


"Aunty!" Zain berlari kala Agnia muncul dari balik pintu. Membuat Agnia spontan berjongkok menyambut pelukan ponakan satu-satunya itu.


"Oh! Pelan-pelan.." peringat Agnia, terkekeh, mendapat pelukan tiba-tiba Zain. hampir saja tubuhnya jatuh ke belakang, jika tidak ditahan satu tangannya


Senyum diulas Puspa saat itu. Kedatangan Agnia memang ditunggu, apalagi Zain sudah tidak bisa diam kala diberitahu. Pikirannya sudah melayang berharap tantenya itu membawa ia ke taman bermain seperti terakhir kali.


"Anak pinter.." Agnia mencium gemas pipi Zain bergantian. "Lanjutin mainnya ya.."


Zain mengangguk, kembali meraih mainannya yang sudah berserakan dari sebelum Agnia tiba.


Sekali lagi Puspa tersenyum, memberi isyarat jika kepalanya seakan mau pecah menangani Zain.

__ADS_1


"Sekarang Mbak ngerti kan? itu yang setiap saat Mbak Asri rasakan.." ucap Agnia, menggoda Puspa seraya ikut duduk di sopa. Berusaha mengingatkan kakak iparnya yang selalu dengan gampangnya mengomeli Asri.


Puspa menghela napas, mengangguk. "Ya.. demikian lah.."


"Tapi kayaknya mbak harus rekrut baby sitter baru deh.."


"Kenapa?"


"Asri kan sibuk, punya keluarga sendiri.. kasian dia.. mbak suka ngerasa bersalah kalo suaminya sampe ngomelin dia."


Agnia mengangguk setuju, "Tapi jangan sampe dia berhenti, Mbak. lumayan loh.. itung-itung bantu perekonomian dia. Toh kalo ngasih uang tanpa kerja dia gak akan terima.. Hargai aja jasanya"


"Gitu ya?" Puspa menimbang.


"Apa lagi Zain udah nyaman sama Mbak Asri.. tambah asisten aja.." saran Agnia.


"Okay.. mbak pikirin dulu." ucapnya.. resah sebenarnya, berarti ia akan menambah lagi daftar pengeluaran bulanannya.


Agnia menggeleng heran, tau jika pertimbangan yang dimaksud Puspa adalah uang. Kakak iparnya ini memang sangat irit meski sebenarnya penghasilannya saja sudah cukup besar untuk memenuhi kebutuhan keluarga.


"Aunty.." panggil Zain tanpa menoleh.


"Apa Zain?"


Zain menoleh kali ini, tersenyum. "Mau main perosotan lagi"


Agnia mengangguk, tak keberatan. "Boleh.."


"Gak mau di rumah.." ucap Zain, yang ia maksud adalah taman bermain yang sempat mereka kunjungi.


"Di rumah aja." potong Puspa. "Kan Zain juga punya taman sendiri."


"Gak seru! gak ada temennya." keluh Zain, bibirnya manyun sempurna.


Puspa mendengus, menatap Agnia seakan melempar kesalahan. "Lihat? itu akibatnya kalo kamu terlalu nurutin kemauan dia."


Agnia mengindik, tapi memang salahnya. hanya saja Puspa tanpa sadar baru saja mengulang kebiasaan mengomelnya.


Bagaimana lagi jika Zain justru ketagihan? Agnia menghela napas pelan, kini tugasnya untuk bisa membujuk Zain yang sama keras kepalanya dengan Hafidz, ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2