Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
33. Jangan jatuh hati


__ADS_3

Seperti apa harus ku jelaskan,


Hati yang membeku ini tak ingin kehangatan


Biarkan saja begitu,


Sebab dahulu ia pernah dilimpahi kasih sayang


Hingga akhirnya patah sebab pengharapan.


***


Dua minggu hari libur ditambah dua hari tanggal merah yang membosankan berakhir juga ternyata. Hari pertama sekolah dimulai.


Hari-hari yang menjenuhkan berakhir, Berbeda dengan siswa-siswi sekolah yang malas menyambut semester baru, Agnia sebaliknya begitu semangat menyambut murid baru di sekolahnya.


Agnia sudah bersiap untuk berangkat sejak pagi sekali, pekerjaan rumahnya bahkan sudah selesai pagi buta sebelum fajar menyingsing. Satu tas besar berisi buku kini dijinjingnya, berjalan menuju rumah sesama rekan pengajar yang tak jauh dari rumahnya, hendak mengajak berangkat bersama seperti biasa.


"Assalamu'alaikum.." Agnia menghela napas pelan, berdiri di luar pagar, menghadap rumah berpagar besi itu.


"Wa'alaikumsalam.. " seseorang tak lama muncul dari balik pintu, sesuai harapannya, seseorang yang Agnia nantikan.


Lho! Agnia terkejut, dilihatnya Widia masih berdaster, kebalikan dirinya yang sudah berseragam rapih.


Widia melangkah menghampiri, membuka pintu pagar sebelum kemudian berbicara.


"Kamu pasti gak baca Whatsapp dari Ibu.." ucap Widia, menyebut dirinya Ibu meski umur mereka sebenarnya hanya berselisih empat tahun.


Agnia menggeleng pelan, pesan apa? sejak tadi ia memang tak membuka ponselnya. Hanya meraih ponselnya sesaat sebelum berangkat untuk dimasukan ke dalam tas jaga-jaga jika ia lupa.


"Hari ini ibu kayaknya gak masuk dulu, si bungsu sakit. Rewel, gak mau ditinggal."


"Sejak kapan, Bu?" tanya Agnia.


"Sakitnya sejak kemarin, tapi rewel nya sih.. tadi malem."


Agnia mengangguk, pantas saja tetangga, senior, juga rekannya ini tempo hari sangat buru-buru hingga tak mengajak dirinya pulang bersama selepas dari sekolah. "Gitu ya, Bu.. Kalo gitu aku berangkat.. Si ade semoga cepet sembuh."


.


.


.


.


Agnia kembali ke tempat ia memulai langkah semula, berjalan perlahan kembali ke jalan yang sudah dilewati. Kembali akan melalui jalan depan rumahnya.

__ADS_1


Ada kejutan, mata Agnia dibuat membulat kaget dan langkahnya spontan melambat kala Akmal, bocah itu tengah duduk di atas motornya. Celingukan, tampak tengah menunggu seseorang.


Helaan napas keluar dari mulut Agnia, ingin menghindar pun ia harus kabur kemana. Terlanjur di sana, ia harus hadapi saja. Pada akhirnya langkah ragu Agnia dilihat Akmal, pria itu kini bangkit, tersenyum. Berhasil bertemu seseorang yang ia nantikan.


Akmal memarkirkan motornya agak jauh dari rumah orang tua Agnia, sengaja. Ia hanya ingin berbincang dengan anak gadisnya bukan dengan orang tuanya untuk saat ini.


"Mbak.. Aku antar?" tanya Akmal, saat langkah Agnia berhenti tak jauh darinya.


Agnia mendengus pelan. "Kemana?"


"Ke sekolah yang kemarin? Mbak Agni mulai hari ini ngajar lagi, kan?" tanya Akmal, jadi tak percaya diri dengan jawabannya gegara pertanyaan balik Agnia.


Ingin bilang bukan, namun seragamnya sudah berkata iya lebih dulu. Agnia dengan berbesar hati menatap Akmal dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat sebenarnya, sebab jika menuruti keinginannya Agnia ingin lari saja saat ini, bagaimanapun ia masih berusaha untuk menghindari bocah ini.


"Iya. Tapi gak usah.."


"Emh.. Ada yang mau aku obrolin, Mbak.. Bisa?"


Dari yang Agnia lihat, Akmal pantang ditolak. Tak kan berhenti jika keinginannya belum terpenuhi. Setiap ucapannya pun selalu terdengar percaya diri. Agnia menghela napasnya pelan. "Lima menit.. cukup?" tanyanya. "Setelah itu pergi.. Setuju?"


Akmal mengangguk, tak ada tawaran lain. Sebab dialah yang diberi pilihan saat ini, bukan Agnia. Ada dua opsi; Mengobrol dengan Agnia, mengantar Agnia, atau tidak keduanya.


"Mengenai yang terjadi.. Mbak mau aku maju?" tanya Akmal, memulai obrolannya segera, tak ingin membuat waktu yang singkat itu menjadi sia-sia.


Agnia menundukan pandangannya sejenak, pertanyaan macam apa itu.. Apa responnya selama ini kurang jelas? Bagian mana dari dirinya yang menunjukan keinginan berumah tangga jika memang pernah ada?


Akmal tersenyum tipis. Sepertinya Agnia sudah tahu apa kehendak hatinya.


"Aku gak mundur, Mbak.. Meskipun mbak melarang aku.."


Sudah diduga Agnia tidak kaget dengan jawaban Akmal. Bocah ini memiliki pandangannya sendiri, apa yang menurutnya benar tidak akan mempan oleh sanggahan.


"Kalo gitu.. just do anything you want.. Tapi kamu tahu jawaban saya." ucap Agnia tak keberatan. Namun matanya menyiratkan ketangguhan. Seakan berusaha mengatakan jika dirinya tidak akan jatuh hati pada bocah seperti Akmal.


"Sepertinya obrolan ini berakhir sebelum lima menit, tapi bagaimana pun.. Silahkan pergi."


Akmal tak kecewa sama sekali dengan respon Agnia, ia amat tahu trauma seperti apa yang didapat Agnia setelah gagal menikah. Dan tiga tahun ini membuktikan bahwa tidak semudah itu ia menjatuhkan hatinya pada pria baru.


Tak merasa kalimat dan tingkahnya salah, Agnia kini hanya menanti bocah ingusan di hadapannya untuk segera pergi. Namun belum Akmal membuka mulutnya untuk undur diri, seseorang dengan motornya datang. Berhenti di hadapan dua orang itu.


Agnia tampak lebih tak terima dengan kedatangan orang yang satu ini dari pada kedatangan Akmal tadi. Tak ada yang lihat, tapi Agnia merotasikan bola matanya sekejap.


"Ngapain juga orang ini dateng?!" batin Agnia.


Itu Rizwan yang datang, tersenyum serta membacakan salam pada dua orang yang dari jauh ia lihat berbincang itu.


Rizwan bangkit dan turun dari motornya, menatap Agnia. Mengabaikan kehadiran Akmal yang ia sangka temannya Akbar. "Kebetulan.. Mau berangkat?" tanyanya langsung.

__ADS_1


Agnia mengangguk. "Iya. Kenapa di sini?"


Ada yang Akmal sadari, Agnia tidak hanya berkata kejam pada dirinya saja namun pada pria lain juga. Buktinya tak mau berbasa-basi dan segera menanyakan apa yang hanya ingin ia tanyakan. Seakan menciptakan dinding besar antara dirinya dan para pria.


"Ada yang mau aku obrolin sebentar" jawab Rizwan, Agnia mual sekali, sangat klise. Dua pria berbeda mengatakan hal yang sama padanya, "Penting.. Sekalian aku antar.. "


Agnia jelas malas, sekali ia merasakan ilfil maka hatinya sudah terkunci rapat untuk seseorang itu. Agnia melirik Akmal sejenak, bocah itu tak pergi barang selangkah pun.


"Soal seminar?"


"Iya.."


"Emh.. Kita obrolin nanti aja, ya.. aku buru-buru sekarang." ucap Agnia, lantas menatap Akmal. "Ayo!"


Akmal yang untuk sekejap berpikir jika Agnia menolak tawarannya sebab menunggu pria itu, mebulatkan matanya kaget saat Agnia justru menatapnya secara langsung hatinya bak tersiram air.


Sedangkan Rizwan sekarang baru melihat Akmal, kini mulai bertanya siapa pria ini bagi Agnia,?


Anggukan ditunjukan Akmal, tanpa ini itu segera ia nyalakan kembali motornya. Tak ingin jika Agnia berubah pikiran di waktu yang singkat.


Tak ada yang sadar, tapi senyum di wajah Akmal tak hilang sejak Agnia mendudukan bokongnya di jok motor hingga mereka tiba di tempat tujuan. Demi menjaga marwahnya, Akmal bahkan berusaha menutupi senyumannya kala Agnia turun dari motornya. Meski sebenarnya mata Akmak tak mampu menyembunyikan sorot bahagia.


.


.


.


.


Sayang sekali, itu lagi-lagi begitu singkat.


"Makasih.." ucap Agnia, berdiri sejenak menghadap Akmal untuk sekedar mengucapkan terimakasih atas tumpangan dan pertolongan Akmal hingga ia bebas dari Rizwan. Meski sebenarnya Agnia juga sama terpaksa nya dibonceng oleh Akmal.


"Sama-sama Mbak.."


Agnia tak basa-basi, langsung berbalik mengabaikan Akmal yang sekali lagi tersenyum tanpa dilihatnya.


Tak terhingga rasa senang di hatinya, rasa senang yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Hatinya terasa penuh, hangat. Akmal begitu bahagia meski kenyataannya belum tahu apakah mereka akan berjodoh atau tidak nantinya.


Agnia kembali ragu dalam langkahnya, terpikirkan sesuatu. Lantas berbalik kembali menatap seseorang yang dengan senang hati mengantarnya.


"Tunggu.."


Akmal yang hanya tinggal menekan tuas gas dan pergi kini urung. Kembali memberikan atensinya pada Agnia.


Agnia yang tak tega melihat kebahagiaan pada diri Akmal mau tak mau harus berbicara. Ia jauh di lubuk hati tak ingin menyakiti Akmal jika nantinya akan menolak bocah itu. Demi apa yang pernah ia rasakan di masa lalu, perasaan itu tak mau ia tularkan pada orang lain.

__ADS_1


"Jangan jatuh hati.." ucap Agnia. "Atau kamu bisa saja sepatah hati saya nantinya.."


__ADS_2