
...Dari sahabat Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,...
...اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ شَغَلَهُمْ...
...“Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far! Sesungguhnya telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka.” (HR. Abu Dawud no. 3132, Tirmidzi no. 998, Ibnu Majah no. 1610, Ahmad 3: 280, dinilai hasan oleh Al-Albani)...
...© 2023 muslim.or.id...
...Sumber: https://muslim.or.id/83466-membuat-makanan-untuk-keluarga-yang-ditinggal-mati.html...
...
Rasa kehilangan itu masih menggantung betah di hati semua orang, mata-mata sayu dan senyum-senyum yang tak sempurna itu menjadi penjelasan tak terbantahkan tentang kesedihan dari kehilangan itu sendiri.
Agnia mendekati sang Tante, membawakan sepiring nasi beserta lauk pagi hari ini. Ibu dari Yesa itu tentu paling kehilangan, sosok yang tiap hari ia temui, ia layani, juga ia pinta sarannya sebelum memutuskan segala hal, kini sosok terpenting itu sudah tiada. Agnia tau betul rasanya, hingga dalam kesibukan banyaknya kerabat yang datang melayat bahkan wanita itu lupa untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
"Tante.."
"Hem?" wanita itu menoleh, menatap hingga Agnia duduk di sebelahnya.
"Sarapan dulu.."
"Iya, nanti. Kamu aja dulu."
"Tapi aku bawa buat Tante."
Wanita yang terlihat sangat lelah itu menghela, tak ada pilihan selain menerima kasih sayang berwujud seonggok nasi dari sang keponakan. Demi Agnia, tersenyum tipis seraya menerima sodoran itu. "Yaudah, Tante terima. Makasih, sayang.."
"Hem.."
Para pelayat masih berdatangan, Agnia segera memberi isyarat supaya sang Tante meneruskan makannya. Begitu ada tamu, sigap menggantikan sementara. Lagi pula ada sang ibu bersamanya.
Sunnatullah, segala sesuatu sudah diatur sedemikian rupa dalam Islam. Indah dan amat menakjubkan apa yang dicontohkan Rasulullah Saw. Sebab segala yang ada pada diri rasul adalah wahyu, murni datang dari Allah.
Tak terkecuali takjiyah, atau melayat keluarga yang berduka pun diatur begitu terinci. Ada hadits sahih yang menyatakan hal itu. Isinya demi memperkuat persaudaraan antara sesama muslim, menghibur keluarga yang berduka dengan hidangan juga kalimat menyenangkan sebagai simpati dan empati. Begitu lah muslim, yang bagai satu tubuh. Kala satu sakit yang lainnya ikut merasakan.
__ADS_1
Satu hal yang luput dari penglihatan semua, bahwa sejauh mana kuatnya seorang Agnia melewati ini sedang dirinya juga baru kehilangan. Bukan sederhana kehilangan janin yang didambakan, impian yang sudah dilukis bahkan bayangan masa depan yang seakan sudah terlihat di depan mata, harus pupus sebab takdir-Nya yang berkuasa. Wanita itu tampak tegar, pun tak masalah ketika beberapa orang bertanya perihal kegugurannya. Tidak tampak tersinggung atau pun menampakkan sedihnya.
Hafidz yang baru saja keluar dari kamar berdiri di depan pintu sembari tipis-tipis terenyuh, setengah tak terima kalah, masih mempertahankan dirinya yang merasa tidak salah meski sadar telah berbicara tanpa memikirkan perasaan sang adik. Helaan keluar dari mulutnya, ia yang egois dan keras kepala kini entah kenapa merasa perlu minta maaf.
Agnia sesaat menangkap sosok Hafidz, meski masih sebal dan berulang kali mengatakan pada suaminya bahwa tak akan mengajak bicara pria itu sebelum ditanya lebih dulu, namun ia begitu saja bangkit dan mendekat. Bertanya meski dengan nada malas, tetap tak bisa menutupi perhatiannya. "Udah sarapan?"
"Belum."
"Yaudah, aku panggilin Akbar sama Akmal. Kalian sarapan sama-sama."
"Mas gak laper.."
"Tetep harus makan meskipun gak mau." potong Agnia, mendelik singkat. Semua berduka, namun bukan berarti semua yang tak sibuk harus ikut lupa makan. Segera berlalu setelah itu, meninggalkan Hafidz yang menghela panjang.
Dua orang yang biasanya paling akur, yang hampir tak pernah ada konflik, kini berada di situasi yang jarang terjadi. Agnia kesal sekali, mengharap kata maaf dari sang kakak yang jelas tidak mungkin. Pria keras kepala itu paling tak bisa diatur dan tak mau kalah. Berbeda dengan Akbar yang tampak ceroboh namun sebenarnya lembut dan selalu mengalah untuk kakak perempuan juga ibunya.
Hafidz mengulum bibirnya singkat, apa harus merasa bersalah? Apa sebab perhatian adik perempuannya yang kentara, ia jadi harus mengalah dan minta maaf?
.
.
.
.
Panggilan itu tampaknya baru saja berakhir, Akmal menoleh ke arah pintu begitu pintu itu terbuka. Tersenyum dan membuka lengannya, sebagai isyarat bagi Agnia untuk masuk ke dekapannya.
"Siapa?" tanya Agnia, melepas pelukan singkat sang suami.
"Bunda."
"Emh.. memang anak kesayangan." ujar Agnia diiringi senyum meledek.
"Mbak salah, justru Bunda bukan tanya kabar ku.. Bunda tanya soal menantu kesayangannya."
__ADS_1
"Apa katanya?"
"Bunda tanya kapan kita balik."
"Kamu jawab gimana?"
"Aku bilang besok."
"Beneran besok?"
"Iya. Mbak mau ikut?"
"Hem?" Agnia mengernyit singkat, diganti dengan tatapan protes. "Ikut dong.. Kenapa nanya gitu? Mau ninggalin aku disini lagi?"
"Bukan." Akmal terkekeh melihat tatapan protes kentara sebal itu dari wajah Agnia setelah sekian lama, mencubit sayang pipi sang istri. "Jaga-jaga kalo Mbak masih betah disini."
"Betah? Betah itu di tempat kita bisa sama-sama. Kalo kamu pulang, aku juga pulang." kata Agnia, masih dengan delikan. "Lagi pula aku gak bisa banyak membantu disini, bahkan gak bisa datang ke makam nenek. Jadi.. lebih baik aku pulang."
"Hem.." Akmal mengangguk setuju, menyeringai lebar mencoba mengalihkan obrolan soal kabar duka itu. Merangkul Agnia erat "Lagi pula kita gak boleh jauh, supaya cepet.."
"Cepet apa?" tanya Agnia tanpa berkedip, bukan tak paham namun hendak diteruskan dengan omelan.
"Ya cepet isi lagi." jawab Akmal santai, tak takut dengan tatapan peringatan dari Agnia saat ini. Jelas saja jawaban itu memancing cubitan keras dari sang istri, cubitan tanpa ampun yang tak ada lembut lembutnya.
"Sakit.." Akmal menahan tangan Agnia, kontras dengan cubitan sayangnya pada sang istri sebelum ini. "Nyubitnya gak ada sayang sama sekali." protesnya.
"Ya abisnya, bahas soal isi. Orang baru aja.."
"Kenapa? Memangnya gak mau cepet hamil lagi?"
Agnia mengangguk tanpa ragu, lantas tersenyum tak jelas. Membuat Akmal ikut tersenyum akannya. "Pikiran seseorang bisa berubah, dan.. sekarang aku maunya kita berdua dulu. Mencoba banyak hal yang belum pernah kita coba, pergi ke tempat-tempat yang belum sempat kita kunjungi.. dan.. aku punya banyak list hal-hal yang belum bisa aku selesaikan sebelum kita menikah."
"Apa?"
"Banyak. Salah satunya.. aku belum sempat menyelesaikan tulisan ku. Dan.. dan.." Agnia mendadak antusias. "Aku mau lanjutin ngajar, dan sesekali ngisi kajian lagi. Boleh?"
__ADS_1
Akmal tersenyum, senang melihat terbitnya bahagia di wajah sang istri. Tak terkira rasa hangat mengisi hatinya, membuncah mengisi celah yang tercipta dari rasa bersalahnya. Tangannya terulur membelai kepala sang istri yang tertutup jilbab. "Boleh dong, kenapa enggak. Kita gunakan kesempatan yang Allah beri dengan baik."
"Iya.." Agnia mengangguk, tersenyum dan menyambut ciuman hangat Akmal ke keningnya.