Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
92. Upaya penyelamatan Agnia


__ADS_3

Senyuman Fiki bukannya membuat Akbar lega, justru khawatir. Entah apa yang membuat Fiki begitu percaya diri, saat Akbar saja hampir tak punya harapan.


Sadar tatapan itu, Fiki balas menatap tajam. Senyumnya luntur, berganti tatapan sebal seperti biasa kala bertemu Akbar.


"Lo meragukan gue?" tanya Fiki datar.


Akbar mengangguk tanpa ragu, membuat Fiki refleks mendengus kesal. Tak terima direndahkan, apalagi mengenai kawan-kawan loyalnya. Hanya saja untuk kali ini ia tak akan mendebat Akbar, lantas mengendikkan bahunya santai.


"Terserah.. tapi kalo temen-temen gue berhasil, harap tutup mulut lo!"


.


.


.


.


Tiga orang pemuda tanggung, dengan langkah percaya dirinya menyambangi satu rumah. Mengetuk pelan pintu rumah itu.


Ketiganya saling pandang sesaat, setelah melihat penampakan rumah paling sederhana diantara jajaran kontrakan itu.


Tiga orang itu masih menunggu, hingga pintu rumah itu terbuka dan seorang wanita tua muncul. Tampang garang yang sempat membuat orang sekitar berbisik berprasangka buruk spontan melembut, berganti senyum ramah.


"Cari siapa?" tanya nenek dengan hijab panjang itu.


"Kamu.. cari Mas Dodi, Nek.."


"Kalian temannya Dodi?"


Tiga orang itu mengangguk, namun terlihat ragu. Membuat penghuni rumah itu menilik untuk sesaat, wajah curiganya begitu kentara. Merasa tak pernah bertemu tiga orang di hadapannya yang katanya kawan cucunya.


Salah satu dari tiga pemuda itu segera mengerti, sigap meredam kecurigaan itu. "Kami.. rekan kerjanya Mas Dodi, datang untuk melihat kondisinya. Soalnya Mas Dodi pulang lebih awal hari ini."


"Emh.. begitu? Kalo begitu sebentar." Nenek yang berusia sekitar enam puluh tahunan itu kembali ke dalam rumahnya, sedang pintunya dibiarkan terbuka. Membuat yang bicara itu seketika menghela lega.


"Dodi!" panggilnya, keras. "Ini teman kerjamu datang."


Pria yang dipanggil Dodi itu menghampiri sang nenek, datang cepat. "Kan aku udah bilang, kalo ada yang cari aku bilang aja aku gak ada, Nek." cicitnya pelan.


"Temui dulu! Siapa tau penting."


Pria itu menghela, beranjak keluar. Dalam hati berharap semoga bukan pria aneh yang sama yang memerintahnya sesuka hati.


Hingga saat tiba di ambang pintu, Dodi spontan mematung. Perasaannya tiba-tiba tak enak, bertanya dengan nada takut. "Kalian.. siapa?"


Salah satu dari tiga orang itu menyeringai setelah melirik sekilas ke layar ponselnya.


"Bener, ini orangnya." katanya, pada dua temannya.


.


.


.


.


"Masih lama?" tanya Akbar pada Fiki, sejak tadi duduk tak tenang.


"Lo pikir gampang cari orang? Sabar. Pasti sebentar lagi."


Akbar menghela, hampir tak sabar. Apalagi tak nyaman dengan markas kumuh yang mereka tempati. Heran juga, jika mereka se"jago" itu kenapa mereka memilih rumah kosong yang jauh dari jangkauan orang untuk markas mereka.


Fiki hanya mengendik, tak peduli meski ketidaknyamanan jelas sekali di wajah Akbar. Lanjut memakan roti yang ia bekal, karena hebohnya Akbar ia tak sempat makan siang.


Tak lama suara motor terdengar, Fiki segera bangkit sambil terus mengunyah. Menengok ke luar jendela yang tak utuh itu sembari tersenyum, lantas beralih menatap Akbar memasang wajah sombong.


"Apa gue bilang, mereka bukan tipe yang harus direndahkan."


Akbar mengangguk, terserah saja.


Pria bernama Dodi itu diikat tangan dan kakinya pada salah satu kursi yang tadinya diduduki Fiki, supaya tak bebas bergerak. Sementara mulutnya dibiarkan saja, toh ini interogasi meski tema-nya penculikan.


Yang menyebalkan, pria itu terus mengatakan "tak tau apapun" dari lima menit terakhir sejak dibawa paksa dari rumahnya menuju markas itu.


Akbar melirik pria itu, beralih menatap Fiki. "Yakin ini orangnya?"


"Yakin." jawab Fiki, tak meragukan kawan-kawannya. Berbicara tanpa memastikan sama sekali.


"Ini penculikan! Saya gak tau apa-apa." cicit pria itu takut-takut, meski yang dihadapannya sekarang lebih terlihat para bocah ingusan namun jika dikeroyok seperti ini bisa-bisa ia mati konyol.


"Tapi lo juga nganter orang buat nyulik! Lo sama kita apa bedanya?" pelotot Fiki, berucap sebal khas gayanya. Sesaat menghela. "Singkat aja, kemana lo anter orang itu?"


"Si..apa? Gue gak nganter siapapun. Sejak pagi gue di rumah, tanya aja mereka." Dodi menunjuk tiga orang yang menculiknya. "Mereka juga jemput gue di rumah."


"Pembohong yang buruk." cibir Fiki. "Menurut lo kita melangkah tanpa mencari tau? Ish!" ucapnya lagi, gemas.


"L.. lo? Kalian lebih muda dari gue, kenapa.."


"Apa?" pelotot Fiki tanpa ampun. "Bersikap baiklah jika mau dihormati, atau seenggaknya bekerja sama. Kesempatan terakhir.. Kemana lo anter cowok itu?"


"Cowok.. cowok mana?" Dodi memasang wajah tak tau, hanya saja jelas sekali bohongnya di mata Fiki. Tentu saja, ia jago sekali berbohong hingga tak ada yang bisa membohonginya.


"Jangan pura-pura gak tau, atau gue bikin lo lupa semuanya!" Bukannya seram, ucapan Fiki terkesan greget sampai ujung kaki. Memang tak berniat buruk, hanya memojokkan.


"Udah.." Akbar menenangkan Fiki, ia yang sepanjang interogasi konyol sahabatnya itu hanya bisa menggeleng takjub kini mengeluarkan ponselnya, menunjukan foto mobil ekspedisi yang berasal dari cctv rumahnya.


"Liat ini baik-baik, lo terlibat dalam penculikan. Ini bukti yang kuat."


"Bukti apa? Toh itu cuma gambar mobil. Itupun.. gak nunjukin gue nyulik seseorang.."


"Binggo!" Fiki nyengir saat pria itu panik sendiri. "Cuma mobil? Dan gimana tentang keterangan yang kita dapat dari rekan kerja lo?"


Akbar menghela, kembali memperingatkan Fiki. Gue lagi ngomong!! demikian isi hati Akbar.


"Entah itu terpaksa atau tidak, lo tetep salah. Dan kalo lo bermaksud membela cowok itu, percuma."


"Biar gue kasih tau... Orang itu bukan orang biasa, dia bisa bayar berapapun supaya bebas dari tuduhan. Sedangkan lo.. bisa aja jadi kambing hitam. Karena itu, bekerja sama lah, katakan semua yang terjadi."


Pria itu menghela, sejenak terdiam.


"Cowok brengsek itu, bisa bayar orang lain sama seperti dia bayar lo." tandas Akbar.


Fiki yang setiap akan bicara dipelototi Akbar, memilih diam. Meraih lagi rotinya yang tinggal setengah lagi, duduk agak jauh dengan muka sebal.


"Sebenernya.."


"Cepet ngomong!" Fiki meski jauh, tetap mendengarkan. Tak tahan untuk tidak memprotes.


Akbar sekali lagi menoleh Fiki, membuat pria paling heboh di gengnya itulagi-lagi terdiam.


"Lanjutin.."


"Sebenernya.. siang ini gue nganter cowok aneh, dan mungkin itu yang kalian maksud. Tapi.. gue beneran dipaksa."


Fiki demi mendengar itu langsung mendekat, melupakan ngambeknya. Wajahnya kembali menunjukkan ketertarikan. "Dipaksa atau dibayar lo!"


"Sstt. Lanjutkan." Akbar masih sabar, hingga untuk kesekian kalinya menatap penuh mohon pada Fiki.

__ADS_1


"Gue gak bisa nolak, karena atasan gue yang nyuruh. Gue dibebaskan pulang satu hari ini setelah satu tugas, karena itu gue langsung pulang. Juga.. gue gak tau kalo tugas itu harus nganter orang itu nyulik.. gue.. cuman ngikutin perintah."


"Lo anter kemana?"


"Gue gak yakin dia disana, tapi dia minta ke apartemen grand metro."


Akbar mengangguk, sudah percaya tanpa harus bertanya lagi. Kini tampak menimbang.


"Gitu aja?" tanya Fiki yang langsung diangguki Akbar. "Gak asik!" keluhnya.


Fiki Menghela, lantas menatap tiga kawannya. "Kalian, kerja bagus. Setelah ini telpon gue, teman kita ini.." Fiki menepuk dada Akbar. "Pasti traktir kalian."


Tiga orang itu mengangguk, dengan senang hati membantu bahkan meski tanpa imbalan. "Telpon lagi kalo perlu bantuan."


"Siip."


Akbar juga menatap tiga orang itu penuh penghargaan, kini percaya pada ucapan Fiki sebelumnya. "Makasih."


"Gue? Gimana dengan gue?" Pria yang masih terikat itu bingung sendiri.


"Ah iya.." Fiki berlagak terkejut, menepuk pelan keningnya. Mendekati pria bodoh yang berniat berbohong tadinya, menatap datar.


Dodi mendongak, sudah lega sebab akan dibebaskan. Hanya saja..


"Gue.. Hmpp."


Fiki tersenyum, roti di tangannya pas sekali di mulut Dodi. Kembali menatap tiga kawannya, tersenyum lebar. "Terserah kalian mau lo apain, dia." ujarnya becanda. Yang jelas membuat pria tak bersalah itu ketar-ketir, sedangkan Fiki? jelas senang, jiwa isengnya terpuaskan.


...


Gian memukul keras stir mobilnya, kesal luar biasa. Frustasi sekali, tetap tak menemukan keberadaan Wildan meski setelah menyambangi beberapa tempat tongkrongan adiknya bahkan sudah menanyai setiap teman Wildan. Tak lupa Villa pribadi keluarganya tak luput ia pastikan, namun jawaban dari petugas Villa sama dengan jawaban teman-teman Wildan.


Akmal yang sejak tadi mengikuti mobil Gian dengan motornya hanya bisa menghela, menoleh Gian sejenak. Bisa melihat kekhawatiran di wajah itu, sayang sekali mereka masih tak bisa mencari jalan keluar.


"Ada tempat lain yang mungkin dia datangi, kak?"


Gian menggeleng, entahlah. Kemana lagi anak itu akan pergi, masalahnya akan lebih sulit jika Wildan justru pergi ke tempat baru.


Yang paling sulit, adalah Wildan ternyata bergerak sendiri. Kedua teman yang juga bodyguardnya tak tau apapun, malah sengaja dibodohi dengan tugas tak jelas hingga tak sempat membuntuti Wildan.


Saat itu, Akbar memanggil. Akmal sigap menjawab.


"Halo?"


Sesaat Akmal mendengarkan, untuk kemudian menoleh Gian.


"Kak.. gimana apartemen grand metro?'


"Ah! Itu, kayaknya kemungkinannya kecil, tapi bisa kita cek."


Akmal mengangguk. Kembali mendekatkan ponsel ke telinganya, berucap pada Akbar. "Kita ketemu disana."


.


.


.


.


Gian berjalan cepat, segera menggeleng pada Akmal, Akbar juga Fiki yang menunggu di parkiran basement. Gian baru saja memeriksa apartemen itu, tentu saja nihil.


Fiki mendengus sebal. "Dasar! Psycho emang."


Sedang Fiki luar biasa sebalnya, tiga orang yang disasar Wildan semakin frustasi. Hanya Akbar yang paling sabar, menahan emosinya meski resah tak terkira. Menunggu dua puluh empat jam untuk melapor? Tidak, Akbar tak siap.


"Gue harus gimana? Harus ngomong apa gue sama Ibu?" keluh Akbar akhirnya.


Fiki menghela, menatap tiga orang di hadapannya. "Kita cari lagi, atau shalat dhuhur dulu?" tanyanya, saat itu adzan mulai terdengar samar dari mesjid terdekat.


Akbar tak menyahut, mana bisa dia menunggu meski untuk shalat sekalipun.


Akmal sesaat mengernyit, punya sesuatu di kepalanya. "Ah! Adzan."


Semua menoleh Akmal, penuh tanya sebab ada senyum di wajah itu.


"Adzan bisa jadi jalan keluar." ujarnya.


"Maksudnya?"


"Tadi waktu kak Gian telpon Wildan, jelas banget kalo suasana diluar ruangan itu sedikit bising. Ya kan?"


Gian mengangguk, mungkin saja. Sebenarnya tak yakin, sebab tak fokus dengan hal itu.


"Jadi bisa dipastikan Apartemen atau Villa bukan tujuannya."


"Ah! Iya.." Fiki seratus persen setuju, segera tersambung dengan pemikiran Akmal.


Gian juga setuju, hanya saja sedikit sebal. Kenapa tidak sejak tadi terpikir kan hal itu, dan Akmal kenapa juga baru teringat.


"Kak, coba panggil lagi."


Gian mengangguk, segera menghubungi sang adik untuk kedua kalinya. Semua diam demi mendengar obrolan itu, Fiki bahkan tak sadar menahan napasnya.


"Apa lagi?" suara Wildan terdengar malas, membuat Akbar meringis dalam hati. Membayangkan betapa menakutkannya perilaku Wildan pada Sang kakak, bahkan suaranya saja bisa membuat semua terintimidasi.


"Kita buat kesepakatan. Lo kasih tau dimana kalian, dan kita gak akan bawa urusan ini ke polisi."


"Polisi-polisi.. gue gak peduli!" teriak Wildan, marah sekali. "Lakuin apapun yang lo mau, gue gak takut."


Tut..Tut..Tut..


Gian refleks memejamkan matanya saat panggilan itu diputuskan sepihak oleh Wildan, menambah daftar kejengkelan pada adiknya itu.


"Cukup?" tanya Gian, menoleh pada tiga orang yang berdiri berdekatan itu.


Fiki dan Akmal menggeleng cepat, saling pandang. Pemikiran mereka klop sekali.


Panggilan ketiga kembali diluncurkan, Gian bahkan sibuk menyusun obrolan itu supaya lebih panjang.


"Sebaiknya kali ini penting."


"Apa yang lo mau?" tanya Gian, dari wajahnya tersirat harapan supaya Wildan kali ini bicara panjang lebar.


"Gue? Gue mau baik lo, Akmal, juga Akbar merasakan kesal dan kecewa seperti yang gue rasain."


"Gue gak peduli kalo setelah ini harus masuk bui, asal.. cewek ini mampus."


Akbar makin takut, segera melangkah menjauh. Tak siap dengan ucapan brengsek dari mulut Wildan, emosinya memuncak.


Gian bukan tak kesal, ia menghela pelan. "Kalo gitu, biarin gue ngomong sama dia.."


Setelah dirasa cukup lama, Gian kembali berbicara "Agni.."


"Kak.."


Suara bergetar Agnia berhasil membuat hati empat orang itu tersayat, Akbar terutama. Wildan berhasil, tujuannya untuk menyakiti tiga orang itu lebih dari berhasil.


Akbar menggigit bibirnya untuk tak meluncurkan air matanya, isakan Agnia membuat hatinya perih bak ditusuk puluhan pisau. Dalam hati mengakui, jika sakitnya kala melihat Agnia disakiti Adi bukan apa-apa dibanding ini. Rasa takut, kesal, khawatir bercampur jadi satu.

__ADS_1


Gian juga begitu, hatinya diserang rasa bersalah tiba-tiba. Jika sebelum ini tak perlu lagi saling menyapa, mungkin kebencian Wildan tak akan menyakiti Agnia.


Jangan tanya Akmal, ia merasa bodoh dan payah sebab tak bisa menghentikan Wildan. Padahal Wildan menemuinya sebelum peristiwa ini terjadi.


"Tunggu sebentar lagi, dan selama itu jaga dirimu baik-baik."


Selanjutnya panggilan itu kembali terputus seperti sebelumnya, meninggalkan kebungkaman pada empat orang itu. Fiki juga tak bisa berkata-kata, orang waras mana yang tega menyakiti wanita? Satu hal di kepalanya, ingin sekali memberi pelajaran pada Wildan.


Empat orang itu jadinya bukan menjawab adzan, justru sibuk mengamati suara adzan yang menjadi backround percakapan yang terjadi via telpon itu, sibuk mengira dimana asal adzan itu.


"Ini.." Fiki memasang wajah serius, membuat semua menoleh. "Gue gak tau."


Akbar sudah hampir melayangkan pukulannya, sangat tidak serius memang anak itu. Padahal ia mengharapkan suatu jawaban berharga.


"Tapi rasanya gue gak asing dengan adzan itu.. kalian juga kan?" Fiki segera meralat, meski sedikit bohong sebab ia bukan orang yang mudah ingat akan sesuatu.


"Emh.. Coba telpon Ardi." Akmal menatap Akbar, memberi saran.


"Untuk?"


"Dia pasti tau."


"Yakin?"


"Coba aja."


...


Ardi yang sedang berjamaah tak sempat mengangkat telpon dari Akbar, hingga saat keluar dari mesjid segera menelpon balik.


"Assalamu'alaikum.."


"Lo kemana aja, bangsat!"


"Astaghfirullah.." Ardi spontan menjauhkan ponsel dari telinganya, sejak kapan jawaban salam menjadi teriakan dan kutukan? Ardi hati-hati mendekatkan lagi ponsel itu ke telinganya.


"Ada apa? Kenapa teriak?" tanyanya santai, Ardi bukan tipe kasar apalagi padanya. Hingga jika bersikap seperti ini maka tandanya pria itu sedang tidak baik-baik saja.


"Gue ada penting."


"Santai. Ana baru kelar shalat. Apa emangnya?"


"Gue ngirimin rekaman, coba dengerin baik-baik suara adzannya. Gue perlu tau dimana adzan itu berasal."


"Untuk?"


"Nanyanya nanti, sekarang lakuin aja!"


Ardi menghela pelan, entah kenapa Akbar membentaknya lagi dan lagi. Jadi penasaran apa yang terjadi.


Panggilan itu berakhir dengan sendirinya, membuat Ardi mencebik. Tak paham situasi tak jelas semacam ini.


Sesaat Ardi mendengar rekaman itu, ia justru gagal fokus pada percakapan yang terjadi disana. Ternyata tak perlu tanya dan jawab, rekaman itu sudah menjelaskan semuanya.


"Anak itu, kenapa gak ngasih tau sejak awal." keluh Ardi, persis omelan Fiki sebelumnya. Tak mengerti jika situasi segenting ini, dirinya tak diberi tau.


Ardi tak menunggu lama untuk menelpon Akbar kembali, dan memang sudah ditunggu.


"Gimana?"


"Itu adzan me.."


"Gue gak peduli itu adzan Mesir, adzan Mekah atau apapun itu." Akbar segera memotong, terdengar gemas. "Tapi kira-kira dimana?"


Ardi meringis, benar-benar Akbar itu. "Makanya dengerin penjelasan ana."


"Gue gak tau pasti, tapi.. adzan itu kayaknya pernah gue denger.." Ardi masih ragu-ragu, pasalnya di beberapa mesjid adzan seperti itu banyak digunakan. "Lo inget kunjungan kita ke panti asuhan? Kayaknya adzan disana itu persis.. Coba cek kesana."


Akbar terdengar menghela, ia yang tak punya harapan masih sama resahnya. "Kalo gitu.."


Ardi ikut prihatin, terlihat hekas di matanya "Ente mau kesana?"


"Ya.."


"Kalo gitu nanti ana nyusul, siapa tau ente kekurangan tukang pukul."


...


Agnia dibiarkan terkulai lemas, wajahnya menunduk tak sanggup terangkat. Dalam hati sibuk melafalkan istighfar, ingin sekali bebas untuk setidaknya shalat dhuhur. Berharap pertolongan segera datang.


Wildan tak macam-macam, hanya saat tersinggung melayangkan pukulan ke wajah. Untuk kemudian pergi beberapa saat dan datang menawarkan makan dan minum. Bermain game, bercerita hal bodoh.


Agnia tentu tak mau saat ditawari makan, meski teramat haus dan lapar sekalipun. Hanya ingin bebas, tangan dan kakinya bahkan sudah kebas.


Wildan sepertinya punya gangguan jiwa, makan dengan lahapnya sambil menatap Agnia yang berjuang menahan sakit juga perih di seluruh wajah yang timbul dari perbuatan bocah berandal itu.


Sesaat makanan di tangannya habis, Wildan menghampiri Agnia seraya membuka roti yang baru. Membuang sembarang bungkusnya, sedang rotinya ia arahkan pada Agnia.


"Ayo makan!"


Saat gadis itu tak menjawab ucapannya, Wildan menghela untuk kemudian menarik dagu Agnia supaya menatapnya.


Roti di tangannya, Wildan arahkan ke mulut Agnia. Agnia yang tak siap dengan mulut bungkamnya spontan menyemburkan lagi roti yang dipaksakan masuk ke mulutnya.


Membuat Wildan jijik dan langsung mundur, anak yang biasa dilayani itu kini kesal luar biasa. Tak terima. Lebih dari jijik, ia merasa dihinakan.


"Cewek kurang ajar!" geram Wildan, segera melupakan roti itu dan membuangnya asal. Untuk kesekian kalinya, tangannya menarik rambut Agnia kebelakang.


"Mau kamu apa, hah?!" Agnia bertanya dengan nada tinggi, seakan kekuatan yang sempat hilang itu kembali. Sudah cukup lama sejak Gian menelpon, Ia yakin sekali Gian pasti segera datang.


"Kamu dapat apa dengan nyiksa saya?" tanya Agnia, dengan air mata yang berurai kembali.


"Kepuasan." singkat Wildan, penuh penekanan.


"Dan sekarang kamu puas?"


Wildan menggeleng, tatapan tajamnya tak lepas dari Agnia. "Belum, karena itu tetap diam, Mbak!"


Wildan melepas kasar genggamannya pada rambut Agnia, sembari mendengus kasar.


"Biar gue kasih tau, ini hal paling manusiawi yang gue lakukan. Tau kenapa? Gue benci sama semua cewek didunia ini, kalian itu munafik. Namun karena image lo yang baik itu, gue gak menghinakan lo sama sekali."


"Dan hijab lo itu, kenapa harus pake? Itu gak bisa nutupin ****** dan munafiknya diri lo. Dan.." Wildan menyeringai. "Mungkin itu juga yang membuat lo ditinggalkan calon suami lo yang kabur sama sahabat lo."


Agnia mendengus, ternyata Wildan mencari tahu segala tentangnya. Sungguh cerdas, penuh perhitungan.


"Kamu tau apa soal hubungan?"


Wildan kembali menoleh, mendengar lirih suara Agnia.


"Kalo saya dikhianati, apa itu salah saya? Saya harus memperbaiki diri saya?" tanya Agnia dengan kekehan. "Jangan sok tau! Semua punya kecenderungan untuk menyakiti orang lain, tapi kebanyakan mereka memilih jalan hidup yang baik. Dan itu bukan kemunafikan. Demi kebahagiaan orang lain, seseorang bahkan rela dipandang buruk sepanjang hidupnya... Seperti ibu kamu."


Wildan menoleh lama, tatapannya lebih tajam setelah Ibunya diungkit. Segera mendekatkan wajahnya pada Agnia, berucap penuh penekanan. "Apa ini? ****** membela ****** lainnya?"


"******? Kamu sebut ibu kamu seperti itu?"


Entah apa yang membuat Wildan tersinggung, yang dalam sekejap kembali mengarahkan pukulannya pada wajah Agnia.


Membuat Agnia kini terjatuh ke samping, beserta kursi yang terikat bersamanya. Suara jatuh itu cukup keras, bahkan kepala Agnia terbentur bebas ke lantai.

__ADS_1


Agnia pasrah, jika harus dihajar sampai babak belur seluruh tubuhnya pun ia takkan bergeming. Bahkan sudah tak mampun membuka matanya.


Namun hatinya tak henti berharap, semoga Gian, Akbarb ataupun Akmal segera datang. Demi Allah, ia takut sekali saat ini


__ADS_2