
Pagi itu, pagi yang sama bagi Asma. Pagi yang sederhana seperti biasanya. Mulai dari dibangunkan adzan subuh, menghabiskan paginya membantu sang ibu, serta berangkat ke kampus menjelang siang. Tak ada yang berbeda, tidurnya nyenyak semalam, perasaannya baik-baik saja. Semua berjalan sempurna, pada awalnya.
"Qori! Tunggu." Asma berseru, melangkahkan kakinya cepat. Menghampiri Qori, ujung pasmina merahnya melambai pelan.
Qori menunggu, dirinyapun sama baru saja turun dari angkot. "Tumben.. datang lebih awal?" tanya Qori, menyenggol lengan Asma.
"Aku lapar, itu sebabnya." jawab Asma seraya membalas senggolan Qori.
"Kenapa? Kehabisan beras di rumah?" Qori nyengir, kembali menyenggol Asma.
"Enak aja! Nauzubillah.." Asma manyun, menyenggol Qori lagi. Dua orang itu berakhir saling senggol, terus membual sembari melangkah menuju kantin. Membuat semua yang melihat terheran.
Sama bagi tiga orang yang bangkit dari duduknya, berjalan dari arah berlawanan. Salah satunya mendengus, heran dengan kelakuan dua wanita di depannya. Tak jelas sekali.
"Ada apa?" salah satu mereka bertanya, mendengar dengusan temannya.
Wildan menaikkan sudut bibirnya, menoleh. "Bukan apa-apa, cuman heran aja dengan orang-orang aneh di tempat ini." jawabnya, menunjukan tatapan merendahkan pada Qori dan Asma yang adalah seniornya.
Qori dan Asma mana peduli, tak sadar tatapan itu. Sudah tiba di kantin, Qori bahkan tidak membalas lagi senggolan Asma, beranjak menuju meja. Kini menatap Asma lebih serius.
"Kamu udah denger gosipnya? Akbar sama Akmal katanya baka jadi saudara ipar."
Asma menghela napas pelan. "I know. Jangan dibahas, gak ada urusannya sama aku." ucapnya pelan, beranjak duduk di kursi. Tak mau mendengarkan Qori yang tampaknya berniat membuat hatinya kacau.
"Jelas ada urusannya sama kamu, ini saatnya kamu lupain cinta sepihak itu."
"Ah.. terserah. Duduk!" Asma menatap takjub, Qori sampai lupa mendudukkan bokongnya hanya untuk mengatakan berita yang tak spesial itu.
"Okay." Qori manyun, tak senang dengan reaksi Asma. Mulutnya sibuk berbicara, bokongnya beranjak duduk. Namun belum sampai bokongnya ke kursi, seseorang dengan sengaja menarik kursi itu. Membuat Qori jatuh, tanpa peringatan.
"Aw!" Qori mendongak, menatap siapa yang berdiri di dekatnya. Wajahnya memerah, malu sekali dengan tatapan semua orang kepadanya. Hingga Qori hanya bisa menatap bingung Wildan yang iseng itu.
Asma langsung berdiri, meraih tangan Qori segera. Membangunkan sahabatnya. Sakitnya mungkin tak seberapa, namun rasa malunya tak perlu ditanya. Siapa yang bisa tahan, bahkan orang-orang sekitar mereka mulai berbisik.
Wildan menyeringai, menatap dua orang di hadapannya. "Maaf, kak."
Asma mendengus, anak itu bahkan melengos begitu saja setelah mengucapkan maaf yang malah lebih terdengar ajakn ribut dibanding permintaan maaf. Tak terdengar penyesalan atau keseriusan dari ucapannya. "Hei!"
Wildan menaikkan sebelah alisnya, kembali berbalik. Dua orang di sebelahnya juga.
"Apa maksudnya?"
"Ya?"
"Apa maksudnya?" ulang Asma, tak gentar membalas tatapan Wildan. "Saya lihat semuanya, kamu sengaja."
Wildan tersenyum. "Emh.. gue gak pernah minta maaf untuk kedua kalinya. Jadi sekali aku ucapkan maaf, terima saja. Kak.." ucap Wildan, menekankan kata terakhirnya.
"Saya tau kamu, tapi kamu sepertinya tidak tau saya. Kita ini adalah senior kamu, jadi bicaralah dengan sopan."
"Ah! Mari jangan perpanjang ini, kakak senior.. gue gak suka berusurusan dengan orang seperti kalian."
Asma menatap tak percaya. "Kamu berucap seakan kita yang memulai.. Kamu yang pertama kali mengganggu teman saya. Karena itu, mari jangan perpanjang dengan permintaan maaf yang tulus."
Wildan mendengus, melirik Qori sekilas. Lalu kembali menatap Asma, dalam hati salut pada perempuan yang menatapnya sinis itu. "Tatapan itu.. Apa gue pernah melakukan kesalahan sama lo? Teman lo aja gak papa, kenapa lo yang ribut?"
"Saya yakin kamu akan melakukan hal yang sama jika kejadian yang samai terjadi sama teman kamu."
"Enggak. Gue gak akan ikut campur urusan orang lain, meskipun itu temen gue. Tau kenapa? Karena gue tau itu bisa saja membuat gue berada dalam masalah. Yang mungkin terjadi juga sama lo."
"Jangan omong kosong! Saya hanya mau permintaan maaf kamu, dengan itu setidaknya menunjukan bahwa kamu punya rasa hormat."
"Dan gue tentu gak akan lakuin, jelas?"
"Baiklah, jika memang sebatas itu didikan orang tua kamu. Mari kita akhiri."
Wildan mendengus kasar, melangkah mendekat. "Tau apa tentang didikan orang tua gue?" tatapan Wildan kini berbeda, seakan topik orang tua sangat sensitif baginya. "Jangan sembarangan bicara.. gue kasih tau, alasan kenapa banyak sarjana yang masa depannya suram, salah satunya karena mereka seperti lo. Berbicara asal ,dan pada orang yang salah. Dan berhenti natap gue kayak gitu! Ini peringatan.. Jangan sekali lagi menunjukan tatapan itu sama gue. Ngerti?"
__ADS_1
Asma sudah akan membalas, ingin sekali memberi pelajaran anak sombong itu. Namun Qori menggenggam erat tangan Asma, menatap penuh permohonan yang membuat Asma akhirnya hanya diam, mengalihkan pandangannya.
Wildan mengangguk, diamnya gadis di hadapannya ia anggap jawaban iya. "Bagus."
Wildan kembali berbalik, menoleh dua kawannya. Memberi isyarat, lantas melanjutkan langkahnya. Mengabaikan tatapan orang di sekitarnya, yang tentu tak suka dengan sikapnya.
"Cari tau tentang wanita berkerudung merah itu."
"Buat apa? dia anggota MBI, kita bisa kena masalah ngusik salah satu mereka. Lebih baik jangan disentuh.."
*Wildan mendelik, tak terima dengan saran temannya. "Cari aja! Jangan banyak tanya, bang*at." ucapnya, setengah berteriak. Sesaat kemudian Wildan menghela napas pelan, menyadari perangainya yang kasar pada temannya. Kembali menoleh, tersenyum. "dia cantik, itu sebabnya. Jadi cari saja info tentang dia*.."
Dua orang di sebelahnya saling tatap, angkat tangan jika harus meyakinkan Wildan. Mengangguk saja. "Okay."
***
Akmal yang belum sempat mendengar penjelasan dari tiga temannya, kembali menghubungi Fiki dan Ardi sore ini. Meminta keduanya datang ke rumah Akbar. Mereka masih berhutang penjelasan. Akmal datang dengan motornya, begitupun Ardi dan Fiki yang tiga menit kemudian baru datang.
"Waalaikumsalam.." Khopipah, membukakan pintu, tepat sekali sedang menuruni tangga saat bel rumahnya berbunyi. Beranjak menuju pintu.
"Akmal? Fiki dan Ardi juga disini?" Khopipah mengernyit, heran saja. Tak biasanya tiga orang ini berkunjung di sore hari.
Akmal tersenyum tipis. "Tante, Akbarnya ada?"
"Ada." Khopipah mengangguk, tentu saja ada. Tersenyum tanggung, merasa heran dengan pertanyaan Akmal, terasa aneh di telinganya.
Hening yang Akbar ciptakan terpecah, saat Ibu mereka menerobos masuk ke kamar yang pintunya tak tertutup rapat. Akbar dan Agnia spontan menoleh ke arah pintu, Khopipah yang sudah akan membuka mulut urung, menatap bingung. Melihat wajah memar di wajah anak bungsunya.
"Ada apa?" Khopipah bertanya, memegang wajah Akbar. Memastikan jika memar itu tidak terlalu parah.
Agnia mana bisa menjawab, hanya bisa menggeleng pelan. Mengisyaratkan bahwa hanya Akbar yang bisa menjawab.
"Yasudah.." Khopipah menghela napas pelan, tak kan selesai jika menunggu Akbar membuka mulut. "Kita bahas nanti, tapi sekarang.. temui Akmal, Fiki dan Ardi. Mereka di depan."
Bukannya langsung bangkit, Akbar justru menoleh Agnia. Seakan meminta persetujuan. Agnia langsung mengerti.
"Gak papa. Biar Mbak temenin.."
Akmal, Fiki dan Ardi tak mengobrol sepatah katapun. Semuanya jadi rumit, Wildan sengaja menyangkut pautkan keganasan pukulan Akbar dengan organisasi. Bilang itu tak pantas, sedikit menyinggung soal kealiman. Fiki yang rese pun berubah seratus delapan puluh derajat.
Hanya menoleh dengan senyum saat Akbar muncul bersama Agnia.
Agnia menatap satu persatu tiga orang itu, menyungging senyum tipis. "Ada tempat lebih baik untuk kita bicara." ucapnya lembut, tenang sekali.
Lima orang itu akhirnya berkumpul di taman belakang, berkumpul di depan kolam renang. terdapat gazebo juga kursi kayu yang panjang disana. Terasa nyaman juga aman dari telinga orang lain, sebab terhalang dinding tinggi pembatas dengan rumah lainnya.
Akbar, Fiki, dan Akmal duduk di kursi panjang itu. Sedangkan Ardi dan Agnia berdiri menghadap tiga orang yang duduk itu.
"Okay, langsung aja. Jelasin semuanya." ucap Agnia, minta penjelasan. Menatap semua orang disana, tak peduli siapapun yang akan menjelaskan.
Akmal yang juga belum tau ceritanya ikut menatap Akbar, penasaran dengan apa yang terjadi. Tak ingin berakhir hanya dengan apa yang ia tahu.
Akbar menghela pelan, matanya mengarah pada Agnia.
***
Asma dan Qori melupakan kejadian barusan, apalagi Qori tahu tentang Wildan dan antek-anteknya yang selalu membuat keributan. Mewanti-wanti Asma supaya tak terpancing lagi jika bertemu orang yang sama, namun Asma hanya mengendikkan bahu. Tak peduli, baginya yang angkuh harus diberi pelajaran.
"Iya.. iya.. bawel!" Asma merengut, pusing sekali dengan ucapan sama Qori. "Gak usah bahas itu, atau aku beneran marah."
Qori menghela pelan, gemas sekali. Asma sama sekali tak paham dengan situasi yang terjadi.
"Ayo!" Asma meraih tangan Qori, menariknya untuk berjalan lebih cepat. Keduanya berjalan pulang dari kantin.
Jauh di lapangan, Wildan yang menjadi pusat perhatian saat bermain voly jeli sekali melihat dua orang yang belum lama ia ganggu. Tersenyum tipis. Berbisik pada satu temannya.
Teman Wildan yang satu itu langsung berlari, menuju Asma dan Qori. Entah apa yang direncanakan. "Kak!"
__ADS_1
Yang dihampiri saling pandang, jelas ingat dengan orang di hadapannya. "Ada apa?" tanya Asma santai, tak merasa berurusan dengan yang satu ini.
Asma menaikkan alisnya tatkala juniornya itu menyodorkan ponsel di kepadanya.
"Ini apa?"
"Mari berdamai, gantinya kita bertukar no Hp. Itu kata Wildan."
Asma mengernyit, menoleh Qori sejenak.
"Maksudnya apa?"
"Hanya bertukar no, apa itu masalah yang besar?"
"Bukan itu, yang saya tanya adalah.. dia nganggap saya apa?"
"Kehidupan anda cukup sulit, kenapa mempersulit semua ini? Mari buat ini mudah. Itu kata Wildan."
"Kata Wildan?" Asma mendengus pelan. "Buat mudah dia bilang? Kalo gitu jangan ganggu saya! Bukannya kamu gak mau berusurusan dengan orang seperti saya?" tanyanya. "Itu kata saya." Asma meniru ucapan bocah di hadapannya, menatap datar. "Pergi! Katakan itu."
Qori kembali meringis, kenapa Wildan si bocah itu tertarik sekali mengganggu Asma. Dan kenapa juga Asma tak mendengar sarannya tadi.
Teman Wildan yang tinggi itu sejenak mengulum bibirnya, menimbang. "Kak, kalo boleh aku kasih saran.. apapun yang Wildan katakan nanti, abaikan saja. Itu kata ku."
Asma dibuat heran, satu orang menjerumuskan orang lainnya sok memberi saran. Akhirnya hanya menatap punggung pria tinggi itu, yang sudah berlalu kembali pada tuannya.
Wildan dengan seksama mendengarkan, tak terkejut dengan jawaban ia dapat. Matanya menyorot tajam Asma yang berjalan menajuh. Masih mendengar temannya menjelaskan, Matanya berkilat kesal.
"Heh! Lo pikir lo siapa, Hah?!" teriak Wildan, teriakan itu berhasil mengundang tatapan semua orang. Semua saling bisik, sudah mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya. Asma yang mendengar itu langsung menoleh, membuat usaha Qori yang menariknya pergi jadi sia-sia.
Wildan mengarahkan pandangan tajamnya pada Asma, mendekati kakak seniornya itu. "Jangan salah paham. Gue melakukan itu bukan karena lo teramat istimewa, itu kebaikan gue.."
"Kebaikan? Dengan kamu menganggap saya wanita murahan, itu kebaikan?" Asma bertanya datar, berusaha mengatur emosinya.
"Ow! Bukan gue yang bilang, tapi sukur kalo lo sadar." Wildan menyeringai. "Cuman segitu diri lo di mata gue."
Asma mendengus. "Tadi kamu menjadi emosional saat saya membahas tentang didikan orang tua. Tapi lihatlah bagaimana kamu menilai seorang perempuan, saya yakin orang tua kamu akan kecewa jika tau perilakumu ini."
Wildan mencebik. "Oiya? Tapi menurut gue, orang tua lo yang justru akan kecewa jika tau perilaku anaknya seperti ini dan kemudian tiba-tiba hilang dari peredaran kampus."
Asma menikkan alisnya, menatap penuh pertanyaan. "Jadi.. kamu sedang mengancam saya?"
"Lupakan! Perbaiki sikap lo, baru setelah itu kita bicarakan tentang bertukar no. Kalo lo setuju, kak.. maka ucapan itu hanya angin lalu. Bukan ancaman." Wildan kembali menyeringai, menatap Asma lekat untuk sesaat. Kemudian melangkah pergi dengan santainya, merasa di atas angin sepeti biasa. Tak tau saja, Asma mulai mendidih. Tangannya mengepal perlahan, menatap Wildan yang berlalu sambil bersenandung.
***
Agmia tak berkedip, sudah mendengar keseluruhan ceritanya. Heran sekali kenapa Akbar bisa salah kaprah dalam bertindak.
"Jadi salah aku dimana, Mbak? Aku gak terima Asma.." Akbar menjeda. "Aku gak terima wanita manapun di perlakukan seperti itu." ralatnya.
Entahlah, Agnia tak bisa melihat apapun. Tentu tak terima apa yang terjadi pada Asma sebagai perempuan, namun tak juga setuju dengan reaksi spontan Asma juga Akbar. Dua orang itu masih harus belajar mengatur emosi.
"Apapun itu, kamu gak seharusnya bersikap arogan juga." Agnia berucap pelan.
"Jadi menurut Mbak aku harus diam?" tanya Akbar, menatap Agnia bingung. Apa semua orang sama? Menyalahkan yang sudah ia lakukan.
"Begini, biar Mbak jelasin. Denger baik-baik." Agnia menghela napas panjang, bersiap memberi nasihat. "Selalu ada pilihan dalam setiap kesempatan. Seperti Asma yang bisa saja mengabaikan anak itu saat dia punya kesempatan, kamu juga bisa saja membawa Asma pergi saat ada kesempatan, dari pada menghajar anak itu. Semua bisa lebih baik jika dipertimbangkan terlebih dulu. Tapi sekarang, semua sudah terjadi. Satu-satunya pilihan yang kamu punya di kesempatan ini adalah minta maaf. Turunkan egomu."
Akbar diam, menyimak. Begitupun Ardi, Fiki dan Akmal. Ketiganya bahkan ikut menunduk dalam, seakan mereka melakukan kesalahan juga.
Agnia menatap Akbar sejenak, jujur saja merasa lega setelah mengatakan kalimat ya. "Kamu harus belajar menangani sikap berapi-apimu itu. Belajar bijaksana! Yang jelas perilakumu itu sama sekali tidak membantu siapapun atau membuktikan apapun, kamu hanya menambah masalah. Bahkan setelah ini, meskipun kamu sudah meminta maaf.. Mbak yakin dia gak akan biarin kamu ataupun Asma tenang begitu aja."
"Pria arogan itu, tidak akan paham dengan kelembutan ataupun pukulan. Sebab dua hal itu hanya akan menambah hasrat mereka untuk membalas dendam." tambah Agnia lagi. Sibuk bermonolog.
"Sekarang, kalian pulang saja. Jangan terlalu pikirkan hal ini. Kita pikirkan jalan keluarnya besok."
"Iya, Mbak." Fiki yang menjawab, mewakili tiga temannya yang malah diam.
__ADS_1
Agnia menghela lagi, hendak pergi setelah mendapat anggukan empat orang di hadapannya. Namun langkahnya gamang, kembali menoleh Akbar dan empat lainnya.
"Hal seperti ini memang biasa terjadi, beberapa orang memanfaatkan keistimewaan mereka dengan salah. Mbak berpesan, jika kalian bertemu dengan orang seperti ini lagi. Ingat, kalian punya pilihan. Abaikan mereka, atau hadapi mereka beserta resiko yang mungkin kalian hadapi."