Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 10


__ADS_3

Roby masuk kedalam ruanganya dengan membanting pintu. Para staf yang melihatnya terkejut dengan suara pintu yang keras.


"Sial!!! Coba kalau dari awal aku tahu siapa yang kau nikahi kak,pasti sudah aku cegah. Kamu membenci orang yang salah kak!!! "


Roby memukul meja dengan keras,membuta kaca meja pecah dan tangannya terluka.


15menit kemudian


Para staf sudah mulai sibuk dimeja masing-masing.


Roby keluar ruangan dengan tangan yang berdarah, beberapa staf tidak begitu memperhatikanya,mereka tertunduk takut melihat si bos keluar ruangan dengan wajah sangar.


Namun,Delia memperhatikan ada darah yang menetes dilantai dan melihat tangan Roby berdarah.


Spontan Delia mengambil kotak P3K dilacinya dan berlari menyusul Roby.


"Pak,pak Roby..tunggu...pak..tunggu"


Roby tetap berjalan tidak menghiraukan Delia.


"Kak Roby tanganmu terluka..tunggu"


Akhirnya Delia mampu meraih tangan Roby. Dia pun akhirnya berhenti dan menoleh ke arah Delia.


"Kak,kak Roby kenapa?lukanya harus segera diobati kak,,ijinkan saya memberikan ini"


Delia menunduk sambil memberikan kotak P3K. Dia sama sekali tidak berani menatap Roby yang sangar.


"Terimakasih,aku bisa sendiri"jawab Roby singkat.


"Kak,apakah kak Roby marah denganku?apakah pekerjaanku buruk?aku mohon maaf kak"


"Ikut aku" ajak Roby sembari menarik Tangan Delia. Mereka masuk kelift turun ke parkiran dan pergi ke cafe yang tak jauh dari kantor. Luka Roby masih terabaikan.


"Kak,ada apa kak?aku gak enak sama orang kantor..ni masih jam kerja." Delia khawatir dengan pekerjaanya,bibir bawahnya terus ia gigit.


Roby langsung menelpon bagian personalia.


"Hallo,tolong ijinkan Delia untuk 1jam kedepan..."


Tut tut tut


Roby langsung menutup telponya.

__ADS_1


"Beres...sekarang aku mau tanya sama kamu Del,kenapa kamu peduli dengan lukaku.?" Roby duduk berhadapan dengan Delia dan menatapnya tajam


"Em..ya Karna aku kasihan sama kakak,kak Roby kan sudah aku anggap sebagai temanku,jadi wajar dong liat temennya terluka jadi aku harus bantu. Lagian kakak ini kenapa si..emang habis megang apa?kok sampai tanganya berdarah gini" jawab Delia sembari mengobati luka Roby dan memerban lukanya.


"Kalau kamu anggap aku teman,kenapa kamu menyembunyikan pernikahanmu"


"Hah..apa..em..anu..itu...a-a-aku...em..a..ak.." Delia langsung terbata-bata,lidahnya berubah kelu,lagi-lagi dia hanya menggigit bibir bawahnya.


"Brian kan?"


Delia mengangguk pelan,matanya berkaca-kaca namun ia berusaha menahan tangis.


"Kenapa kamu ga cerita dari awal kalau kamu mau menikahi sepupuku?"


"Ini terlalu cepat dan tiba-tiba kak,aku sendiri juga tidak tau kalau putra Atmajaya adalah Brian,Aku menyetujuinya karna...karna..em..tidak tidak...aku ...eh..maaf ceritanya panjang,aku belum siap menceritakan semua pada kakak."


"Aku tau,sebelum kalian menikah Brian sudah memberitahuku rencana pernikahannya,dan aku tau kamu pasti menderita dalam pernikahan ini,jawab jujur Del"


"Aku harus berkorban demi menyelamatkan ayahku kak,aku harus bisa bertahan demi ayahku."


"Del,sebelumnya aku dan keluargaku memang sedikit janggal dengan kasus meninggalnya ibunya Brian,,kami tidak percaya kalau ayahmu yang menyebabkan belio jatuh dari balkon. Tapi karna kecemburuan antara Atmajaya dengan ayahmu membutakan semuanya. Aku akan membantumu mencari tau kebenaranya."


"Tapi kak,bagaimana nanti dengan Brian,pasti hubungan kekeluargaan kalian akan dipertaruhkan disini. Karna sejauh ini Brian sangat mempercayai ayahnya."


"2 orang di TKP?siapa kak?"


"Mereka orang ketring yang sengaja dibooking Atmajaya di villa miliknya,tapi setelah mereka memberikan kesaksian mereka menghilang dan tidak bekerja lagi disana. Kesaksian mereka sudah terekam,pada saat ayahmu pergi ke balkon juga sudah terekam CCTV di tangga. Saat tante terjatuh,dia menggenggam kancing baju ayahmu.Makanya semua bukti memberatkan pada Ayahmu."


Delia sekuat tenangga menahan tangisnya,namun upayanya tidak berhasil. Aimatanya tumpah,mendengar semua penjelasan Roby.


"Sudah Del,kamu tenang saja,aku akan mencoba membantumu dan mengeluarkanmu dari pernikahan yang menyakitkan ini"


"Terimakasih kak.."


"Minumlah ini dan hapus airmata itu,kamu gak mau kan teman kantormu mengintrogasimu?" Roby memberikan jus yang sudah ia pesan tadi dan memberikan beberapa tissu pada Delia.


"Sekali lagi terimakasih kak,maafin aku karna aku sudah membawamu masuk kedalam permasalahan hidupku"


"Jangan sungkan Del,kamu bilang kita sahabat kan..jadi tidak perlu ragu."


"Yang sebenarnya,aku ingin kau menganggapku lebih dari sahabat Del" batin Roby.


"Maaf kak,kita harus segera kembali kekantor,gak enak kan kalau kita pergi begini. Tadi saja banyak yang ngliatin kita. Aku takut mereka bergunjing"

__ADS_1


"Baiklah,habiskan minumanmu dan kita pergi"


***


"Apa kau sibuk nak" tiba-tiba Atmajaya masuk kedalam ruangan Brian.


"Ayah...sejak kapan ayah disini?"


Brian segera menghampiri ayahnya dan mengajak ayahnya duduk di sofa diruanganya.


"Ayah disini sejak kamu sedang asyik dengan ponselmu,sampai-sampai kamu tidak mendengar ayah mengetuk pintu."


"Oh..itu ..iya aku sedang memantau proyek kita yang di Bali."


"Bagaimana perkembanganya?"


"Bagus yah..oiya,ada apa ayah kemari?"


"Bagaimana dengan malam pertamamu,ayah kemarin masih kelelahan jadi ayah malas mengurusi Delia"


Atmajaya menyunggingkan senyuman sinis.


Brian berjalan menjauhi ayahnya,dia berdiri ditepi jendela,tatapanya luas memandang.


"Aku memberikan permulaan bagus untuknya yah..lihat saja di laptopku,tapi ada bagian yang sengaja aku sensor. Aku malu pada ayah..tapi intinya vidio itu akan ku jadikan alat,untuk shock terapi pembunuh itu."


Atmajaya langsung memeriksa laptop anaknya,dan benar bagian dimana saat Brian mengrayangi Delia sengaja disensor oleh Brian. Intinya,yang membuat Atmajaya senang adalah ketika Delia secara fisik dan mental tersakiti oleh Brian,dia bisa lihat sendiri pagi tadi,ada bekas luka lebab di tubuh Delia.


"Bagus nak,ini cukup membuat Yosep terkejut dan akhirnya tumbang.. pelan-pelan ini akan membunuhnya hahahahaha"


Atmajaya menghampiri anaknya dan menepuk nepuk pundak anaknya.


"Ayah senang kamu bisa membantu ayah membalaskan rasa sakit ayah karna kepergian ibu dan adikmu"


"Yah,Besok aku akan pindah kerumahku yang baru"


"Loh kenapa?apa kamu tidak senang tinggal dengan ayah,ayah juga belum puas menyaksikan penderiataan gadis bodoh itu"


"Aku hanya tidak mau kalau paman / bibinya menemui Delia. Aku juga tidak mau,Delia keenakan tinggal dirumah mewah ayah dengan bantuan para asisten rumahtangga kita,aku ingin melihat dia pontang panting mengurus rumah. Lumayan kan yah,punya pembantu gratis.." Brian menaikannpucuk bibirnya,tersungging sinis.


"Oke,terserah kamu saja,buatlah warna pada hidup Yosep dan Delia hahaha...Ayah permisi nak,oiya Sore nanti tuan Widodo akan kerumah membicarakan kerjasama untuk perusaan yang di kota Bxxxxx,kita harus menyiapakan penyambutan untuknya. Kamu bisakan pulang lebih awal?"


"Aku akan usahakan yah...disini juga masih banyak pekerjaan."

__ADS_1


"Baiklah.."


__ADS_2