
Sesampainya dirumah Delia langsung kekamarnya untuk bersiap-siap pergi ke Klinik.
"Bi,,bi Ani.." Delia mencari bi Ani di halaman belakang.
"Iya non,,"sahut bi Ani sembari mengangkat jemuran yang sudah kering.
"Bi,aku mau ke Klinik sebentar ya,,bantuin mas Bimo. Bi Ani engga perlu makan masakin makan siang buat aku,bi Ani masak buat bibi aja."
"Baik non,,non Delia pergi sama siapa?"
"Sama supir yang lain aja bi,Kasihan mang Jajang kecapean,dari kemarin bolak balik terus."
"Ya sudah,non Delia hati-hati ya..."
"Oke Bi...bye,, assalamu'allikum"
Delia pun pergi bersama supir,dan tak lupa diikuti oleh beberapa bodyguard.
Sesampainya di Klinik Delia langsung memeriksa beberapa laporan pembukuan,mengecek semua fasilitas,dan obat-obatan disana.
"Terimakasih ya kak,kakak sudah membantuku mendirikan dan menjalankan Klinik ini"
"Sama-sama Del,aku justru berterimakasih dengan mu. Dengan dipercaya menjalankan Klinik ini,aku jadi enggak perlu cari pekerjaan di Bali lagi. Aku bisa lebih dekat dengan keluarga kita."
"Iya Kak, Aku merasa berhutang budi denganmu,,dulu waktu aku masih sekolah kondisi ekonomiku mulai hancur,kamu rela kuliyah dan bekerja demi membantu ku membiayai sekolahku. Sementara ibu dan ayahku harus pontang-panting memenuhi tanggung jawabnya pada keluarga korban. Bagiku kalian adalah segalanya."
"Udah,,gak perlu dibahas lagi masalah itu. Oiya,Kemarin tangan suamimu kenapa?"
"Oh,itu,,biasa dia suka gitu,kecilnya hobi berantem kali tu orang jadi gitu deh.."
"Apa ini ada kaitannya dengan Widodo dan Ayahnya?"tanya Bimo serius.
"Hem,,iya,," Delia menceritakan semua pada kakaknya.
"Kalian harus lebih berhati-hati dalam menghadapi kedua orang itu"
"Oiya kak,lusa aku mau ke Bandung. Kak Fani boleh ikut engga kak?"
"Em,,boleh,,tapi maaf ya,aku gak bisa ikut"
"Kenapa kak?"
"Kamu kan tahu sendiri,kemarin kakak sudah mengambil banyak waktu untuk persiapan pernikahan kakak. Kalian saja yang pergi,Kakak masih banyak urusan Del,,kakak juga mesti ngurusin bengkel."
"Oiya ya,,oke deh,,"
"Tapi jagain kakak iparmu ya,,"
"Siap boskuuuu..."
***
"Son,tolong handle pekerjaan hari ini,aku ada urusan."
"Baik"
Brian pergi menuju rumah ayahnya.
"Ini kesempatanku,aku harus mendapatkan sesuatu disana."
__ADS_1
Batin Brian.
"Hallo,apakah ayahku dikantor?"Brian menghubungi salah satu orang kepercayaannya di HR group.
"Iya tuan,belio sedang ada rapat"
"Oke,kabari aku jika dia keluar kantor"
"Siap tuan"
Kemudian Brian menghubungi beberapa bodyguard di rumah Atmajaya yang sudah pro dengannya.
"Selamat siang tuan"
"Siang,aku akan kerumah,awasi jika ayahku pulang. Lobi orang yang ada di ruang monitor,jika aku sampai,matikan semua CCTV. Satu lagi,jangan biarkan bodyguard yang pro dengan ayahku membuntuti dan mengawasiku! Kamu paham?"
"Siap tuan!"
Brian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Setelah sampai,ia langsung menemui bi Ijah.
"Bi,ikut aku keruang kerja"titah Brian.
"Baik tuan"
Brian mendahului bi Ijah keruang kerjanya.
Ia duduk bersandar di atas kursi putarnya.
Bi Ijah masuk dengan membawa jus buah untuk Brian.
"Bi,aku ingin tanya sesuatu"
"Tanya apa tuan?"
"dulu setelah meninggalnya ibu,di balkon apakah bi Ijah menemukan sesuatu saat bersih-bersih?"
"Em,,," mata bi Ijah melirik keseluruh arah,ia merasa khawatir.
"Tenang saja,disini aman dari jangkauan CCTV."
"Setelah kejadian,saat itu balkon dibiarkan kosong,bibi belum berani membersihkan karena ada garis polisi. Tapi polisipun tidak menemukan apapun selain kancing baju yang ada di genggaman nyonya Lidia. Tapi selain itu tidak ada bukti kuat kalau tuan Yosep yang mendorongnya. Kedua saksi itupun kesaksiannya tidak begitu jelas. CCTV mati,dan tuan Yosep sempat dimintai keterangan. Lalu akhirnya tuan Atmajaya menutup kasus itu,ia memilih untuk menghukum tuan Yosep dengan tangan sendiri.
Itu setahu ku tuan,karna pada saat itu saya mendengar Widodo memberi saran seperti itu pada ayah tuan."
"Tapi.."bi Ijah mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Tapi apa bi?"
"Em,,saya sempat mengambil pecahan pengait kacamata yang patah ,,aku menemukan bukan di balkon,tapi jalan menuju balkon. Cukup jauh si,,saya pikir itu hanya sampah,tapi bibi punya keyakinan untuk tetap menyimpannya."
"Dimana sekarang benda itu bi?"
"Ada dikamar bibi,sebentar ya tuan" bi Ijah berjalan seperti biasa tanpa menimbulkan kecurigaan,ia segera mengambil patahan kacamata itu yang ia simpan di dalam almarinya.
"Tuan ini" Bi Ijah kembali keruang kerja Atmajaya,dan menyerahkan patahan gagang kacamata itu pada Brian.
"Apa saat itu ibu yang memakainya?"
__ADS_1
"Tidak mungkin tuan,saat itu acaranya malam hari,nyonya tidak mungkin memakai kacamata didalam rumah."
"Lalu bibi menemukan sisa patahan yang lain?"
"Tidak tuan,bibi hanya menemukan gagang itu"
"Apa bibi tahu,kenapa CCTV dibalkon rusak?"
"Tidak tahu tuan,coba tuan tanyakan pada bagian monotor CCTV diruangannya."
"Apa setelah meninggalnya ibu,ada yang pernah kebalkon lagi?"
"Engga ada tuan,,em,,paling tuan Widodo,waktu itu saya tidak sengaja melihatnya naik kearah balkon"
"Apa?Widodo?kapan itu bi?"
"Sudah lama tuan,itu kurang lebih 2minggu setelah meninggalnya ibu"
"Mau apa dia kesana?"
"Kurang tahu saya tuan,,"
"Apa dia keluar dengan membawa sesuatu?"
"Sepertinya tidak.."
"Hem,,bi,apa bibi tau selingkuhan ayah?"
Bi Ijah terbelalak,ia terkejut dan bibirnya memucat. Ia seperti merasa ketakutan untuk membuka mulutnya.
"Tttuan,,tttuan tahu dari mmana?"
Bi Ijah terbata-bata.
"Sudah bi,bibi aman bersama saja,sekarang ceritakan tentang selingkuhan ayah sepengetahuan bibi.
"7 tahun yang lalu,bibi ga tahu kenapa,kondisi rumah tangga nyonya dan tuan Atmajaya sering cek cok, mereka sering cek cok,Ayah tuan sering menuduh Ibu selingkuh dengan Yosep. Tapi pada kenyataanya,saya tahu tuan,kalau nyonya hanya menjalin hubungan baik saja dengan Yosep beserta keluarganya. Tapi entah,kenapa tuan Atmajaya justru menuduh nyonya Lidia berselingkuh. Itu semakin hebat saat nyonya Lidia hamil,Tuan semakin menjadi,dia tidak mau mengakui anak yang ada dalam kandungan nyonya. Hingga tuan,,em,,tuan berani membawa selingkuhannya kerumah demi menyakiti hati nyonya."
"Apa!!! Apa bibi tahu namanya?"
"Kalau tidak salah,Yesi tuan . Dia mantan Sekertaris tuan."
"Aghhhh!!! Sudah kuduga!! Lalu ?"
"Nyonya hanya bisa menangis,dan mengadu pada Nyonya Alya. Sampai nyonya Alya menyatankan untuk mengamankan seluruh harta atas nama anda tuan Brian. Karna nyonya Alya khawatir jika harta hasil kerja keras ibu tuan jatuh pada wanita itu dan anaknya. Sempat nyonya ingin mengajukan gugatan cerai,tapi tuan mengancam nyonya dengan kesehatan Oma. Tuan baru mau dicerai jika seluruh harta itu dikembalikan pada tuan. "
Brian sudah tidak bisa merespon apapun.
Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran ayahnya.
"Aku yakin,ada yang ingin memecah keluargaku dan keluarga Yosep."
"Saya juga merasa seperti itu tuan, tuan Atmajaya merasa takut perselingkuhannya diketahui dan dia menjadi tertuduh atas meninggalnya nyonya Lidia"
"Ayahku hanya diperdaya bi,dia disetir oleh Widodo. Aku hanya butuh bukti,"
"Maaf tuan,harusnya saya menceritakan ini dari dulu,tapi saya sendiri juga diawasi."
"Saya tahu bi,makanya saya harus bisa menguasai para bodyguard ayah dulu agar bibi bisa terlepas. Sekarang bibi jangan pernah takut,karena sebagian besar bodyguard disini sudah dalam kendaliku,bibi akan tahu siapa saja mereka."
__ADS_1