
Oma terdiam,
"Oma,kedua saksi itu sama sekali tidak menerima bayaran sepeserpun. Bahkan mereka rela keluar dari pekerjaan yang Widodo rekomendasikan. Mereka merasa bersalah karena ikut andil dalam memfitnah tuan Yosep. Brian hanya membantu pengobatan salah satu anggota keluarga mereka hanya atas dasar kemanusiaan"
"Yosepun tidak pernah menceritakan masalahnya pada Delia. Delia tahu tentang dendam dan hutangnya dari Ayah. Maaf Oma,Ayah telah menuduh tuan Yosep. Jadi aku mohon,mulai dari sekarang cobalah membuka hati untuk Delia. Dia sangat sedih ketika Oma menolaknya,namun ia terus berusaha memahami Oma."
"Cukup,aku lelah,,ayo kita ke kamar" Tanpa berkomentar Oma menyudahi percakapannya.
Mereka kembali kekamar,mendapati sarapan dan buah-buahan yang sudah disiapkan oleh Delia.
"Oma,mas Brian,,kalian sudah selesai berkeliling?"
"Iya Sayang,," jawab Brian.
"Ini kopi dan rotinya mas,,dan ini buah untuk oma,sudah Delia kupaskan" Delia meletakan nampan yang berisi makanan dan minuman itu di meja.
Sementara Oma masih saja diam tanpa berkomentar.
Brian memandang istrinya iba,ia berharap Delia tetap sabar menghadapi Omanya yang masih saja bersikap dingin padanya.
"Sayang,nanti kamu ke Bandung jam berapa?"
"Nanti jam 7an mas,,"
"Aku telepon Roby agar mereka yang nyamperin kamu kemari. Nanti biar mang Jajang yang menyetir"
"Ya deh terserah kamu aja mas."
Waktu menunjukan pukul 06.00
Selesai mandi,Delia langsung menyeka Oma.
Awalnya Oma menolak,namun Brian memaksanya.
Dengan cekatan dan terampil,Delia menyeka tubuh Oma.
Oma pun hanya pasrah.
Beberapa perawat datang membawakan sarapan untuk Oma,dan mengecek tensinya.
"Tensinya mulai turun Nyonya,semoga nyonya Oliva cepat sembuh ya,,nanti dokter spesialis akan memeriksa sekitar pukul 8.30. Nyonya istirahat dan jangan lupa nanti setelah makan minum obat ini ya"
"Terimakasih sus.."jawab Oma dan Delia bersamaan.
Perawatpun pergi,Delia langsung memberi sarapan pada Oma.
Meskipun tak banyak bicara,itu jauh lebih baik,selain untuk mengurangi tingkat emosinya,Delia jadi lebih mudah merawat Oma. Tanpa ada makian dan hinaan dari Oma.
"Mas,kamu mandi gih,,air hangatnya tadi sudah aku siapin,,sebentar lagi juga bi Ijah datang membawa sarapan.."
Titah Delia sambil memasukan makanan ke dalam mulut Oma.
"Iya,,sebentar lagi,,"
Brian masih sibuk dengan laptopnya. Hari ini ia kembali menyerahkan semua pekerjaan pada Soni dan Safa sekertarisnya.
Karena rencananya Brian akan mencari Apotik yang saat itu dikunjungi Ayahnya.
"Ya sudah,tapi jangan lama-lama nanti keburu dingin.."
"Iya istriku yang bawelll..."Brian menutup laptopnya kemudian mengelus kepala Delia.
Oma yang menyaksikannya pun hanya melirik datar.
Pukul 06.45
Fani dan Bibi Mira telah sampai di rumahsakit.
Mereka memutuskan untuk masuk sekalian berkenalan dengan Oma.
Ini kali pertama bagi mereka bertemu dengannya.
Delia terkejut dengan kehadiran mereka.
"Bibi,,Fani,,kalian sudah sampai.."
__ADS_1
Brian dan Delia menyalami mereka.
Brianoun memperkenalkan mereka pada Oma.
"Oma,kenalin ini Bibi Mira,adik tuan Yosep dan ini Fani menantunya."
"assalamu'allikum nyonya,,saya bibi Mira,dan ini menantu saya.".Bibi Mira mencium punggung tangan Oma.
Begitu juga Fani.
"Saya Fani nyonya,,sahabat sekaligus kakak ipar Delia"
"Hem,saya Olivia,mommy nya Lidia ! Kamu pasti tahu Lidia kan?" Jawab Oma ketus.
Jawaban Oma membuat Bibi Mira dan Fani tidak enak hati,begitu juga Brian dan Delia.
Mereka saling melempar tatapan.
"Maaf nyonya,kami akan membawa Delia pergi ke Bandung,mohon diizinkan ,,"pinta Bibi Mira.
"Silahkan!"jawab Oma kembali ketus.
"Bi,Roby mana?"
"Dia semalam mengantar Keke,,"
"Owh,,ya sudah,bibi berarti kesini sama sopir?"
"Iya nak,,kebetulan sopir bibi juga tidak sibuk,toko juga tutup"
"Ya sudah,nanti saya suruh pengawal saja untuk ikut kesana,,maaf ya bi,saya tidak bisa ikut,,salam saja untuk Keke beserta keluarganya"
"Tidak apa nak,,bibi tahu,,ya sudah,apa kamu sudah siap Del?"
"Iya bi,,saya sudah siap."jawab Delia.
"Mas,Oma,,Delia pamit ya..Mas,jaga Oma baik-baik ya,,kamu juga jaga diri,,jangan lupa makan,,"
"Iya sayang,,"
Delia menatap Oma dan tersenyum.
"Baru kali ini oma mau dijabat tangannya olehku,terimakasih ya Allah"batinya.
Bibi Mira dan Fani pun ikut berpamitan.
***
Di Bandung
Keke tengah sibuk mengecek persiapan grand opening toko kue milik tantenya.
Roby pun ikut larut dalam kesibukan,ia tak canggung lagi menawarkan diri untuk membantu dan melibatkan diri dalam acara tersebut.
"Ttuan,,ter.."ucapan Keke terputus dengan tatapan Roby yang mengisyaratkan ia tidak suka dengan panggilan itu.
"Em,,maaf,,Kak,terimakasih atas bantuannya.."
Lanjut Keke.
"Em,,iya sama-sama,,oiya,apa air disini sudah mengering?"
Sindir Roby.
"Oiya,,maaf,,sebentar,saya ambilkan minum untukmu kak"
Keke langsung bergegas menuju lemari pendingin ,mengambil dua soft dring untuknya dan untuk Roby.
"Ini Kak,," Keke menyodorkan minuman pada Roby.
"Buka dong! Memangnya kamu engga liat kedua tanganku sedang apa?"
Sahut Roby,yang saat itu tengah memegang obeng,sedang mengencangkan pengait papan.
"Ya elah Kak,,tinggal di letakan dulu obengnya,,gampang kan,,"gerutu Keke sambil membuka tutup botol.
__ADS_1
Roby hanya tersenyum kecil.
"Oke,siap,,,em,,papan ini mau ditaruh dimana?"tanya Roby.
"Em,,dimana ya,,,didekat pintu masuk saja.."
"Oke,sekarang beri tulisan terlebih dahulu,nih,," Roby memberikan kapur tulis pada Keke.
"Emmmm,,,kamu aja deh kak yang nulis,,aku,,aku kurang pandai dalam mendesain tulisan,,"
"Oke,aku tahu itu,jiwa senimu nol,,,baiklah,kita nulis sama-sama,,"
"Kak!! Bisa engga kalau engga menghina??" Sewot Keke.
Roby hanya tersenyum.
Diam-diam tingkah laku keduanya tengah diperhatikan oleh ibu Keke,yaitu bu Yati,dan juga tantenya,,tante Titi.
Merekapun ikut tersenyum melihat anak dan rekannya selalu saja bertengkar kecil.
Pertengkaran mereka terasa sangat menggelikan dan indah.
25 menit kemudian Delia,Fani dan bibi Mira sampai dilokasi.
Keke yang sudah berganti pakaian,menyambut mereka dengan penuh kebahagiaan.
Keluarga Keke juga merasa senang dan terhormat atas kehadiran mereka.
"Selamat datang kakak,," tiba-tiba bidadari kecil menghampiri Delia dan Fani,memberikan bunga pada keduanya.
"Owh,,,siapa ini ya...terimakasih sayang...kamu cantik sekali..." Delia berjongkong,mensejajarkan dirinya. Delia langsung mencium kepala gadis manis itu.
"Kenalin,saya Seruni kak,,umur saya 5 tahun,,"
"Duh...lucunya Seruni,,,kenalin,nama kaka Delia dan ini kakak Fani,dan yang ini bibi Mira.."
Fanipun ikut berjongkok .
"Hallo Seruni,,kakak Fani punya sesuatu buat Seruni.."
Fani mengeluarkan bingkisan berisi mainan barbie untuk Seruni.
"Wow,,,Barbie,,,terimaksih kak" Dengan kegirangan Seruni menerima hadiah tersebut dan mencium pipi Fani.
"Aduh manisnya,,,giliran sama kakak Keke engga pernah mau nyium" goda Keke.
"Soalnya Kakak Keke jahil..wey..."
Suasana menjadi hangat dengan celotehan Seruni dan ulah Keke yang selalu saja menjahili adiknya itu.
Deliapun menelpon Brian,dengan panggilan Vidio.
Untuk memberi tahu suaminya,bahwa ia sudah sampai.
"Hallo mas,,aku sudah sampai nih.."
"Syukurlah kalau sudah sampai,,sampaikan salamku pada mereka ya.."
"Iya mas,,mas,kamu lagi dimana?"
"Aku lagi dijalan, sudah dua apotik aku kunjungi,pemilik apotik mengecek dua minggu lalu tidak yang transaksi obat tersebut."
Brian terlihat putus asa.
"Sabar mas,,nanti pasti ketemu kok,aku yakin itu alamatnya dan itu obatnya."
"Iya.."
"Kakak princes,," terdengar panggilan baru untuk Delia dari bibir mungil Seruni.
"Iya sayang,,ada apa?"jawab Delia.
"Siapa itu sayang?"tanya Brian penasaran.
__ADS_1
"Seruni sayang,,sini ada Kakak Brian mau kenalan" Delia mendekatkan kamera pada Seruni.