
***
Setelah kepergian Brian,Widodo menjadi murka.
Ia melempar buku diary Istrinya dan beberapa benda kesayangan istrinya yang ia simpan di kotak itu.
"Lidiaaaa!!!! " Teriak Atmajaya.
Ia kepalkan tangannya,ia layangkan pukulan pada almari buku yang ada di sampingnya.
"Aaghhh!!!Widodo,apa maksud semua ini!!! Beraninya kamu membocorkan semuanya!"
Atmajaya langsung menelpon asisitennya untuk menghandle semua pekerjaannya dikantor.
Ia langsung menuju kantor polisi untuk menemui Widodo.
"Do! Apa maksud dari semua ini hah!? Kamu sengaja menghancurkan ku iya kan?rahasia yang sedang aku simpan rapat dari anakku tiba-tiba kamu membongkarnya?? Sialan kamu!"
"Jaya jaya,,,aku kan sudah bilang,segera singkirkan si tua bangka itu agar kamu fokus dengan janjimu!! Aku hanya ingin membantumu,,aku sengaja membuka rahasia itu,agar kemurkaan Brian sampai pada Omanya,dan selesai."
Widodo menarik nafas panjang,
"Hem,,tapi sayangnya kamu tidak cerdik,kamu justru menggali kuburanmu sendiri dengan menukar obatnya. Gunakan otakmu sedikit,harusnya kamu belajar dariku bagaimana mencubit tanpa menyentuh"
"Darimana kamu tahu aku menukar obat?"bisik Atmajaya.
"Aku selalu selangkah lebih maju darimu hahahaha..." Widodo menertawai Atmajaya.
"Kau membuntuti ku??"Atmajaya menyipitkan matanya.
"Hahahaha,,,jaya jaya.." tawa Widodo mengejek.
"Iya aku memang bodoh! Dan lihatlah dirimu?kamu pun akhirnya mendekam disini!! Kita sama-sama bodoh!" Atmajaya mulai kehilangan simpatiknya pada Widodo.
"Cepat,keluarkan aku dari sini! Atau..."
"Atau apa??Untuk apa aku mengeluarkanmu? Aku sudah mencium pengkhianantan mu,kamu mulai ingin menusukku dari belakang! Iya kan?"
Widodo hanya tersenyum sengit.
"Dokter itu bilang istriku tidak Depresi,sementara kamu bilang,istriku Depresi! Apa itu sebuah kebohongan!?"lanjut Atmajaya.
"Hahaha,,iya,,istrimu memang tidak mengalami depresi berat! Itu hanya bualan agar kamu meninggalkan istrimu dan menjadikan adik ku istri sah mu dan memiliki segalanya!"
"Beraninya kamu!!"ucap Atmajaya geram.
"Ssssttt..." Widodo mendekatkan jari telunjukanya didepan bibirnya. Ia lirikan bola matanya pada polisi yang tengah mengawasinya.
"Maaf,aku terpaksa,,saat Yesi tinggal dirumahmu,disitulah aku menyuruhnya untuk mengolah emosi Lidia agar dia seolah-olah mengalami depresi. Kamu pun mempercayainya."
"Apa itu artinya kamu juga yang berada dibalik kematian Lidia?" Tanpa basa-basi Atmajaya langsung mengarahkan tuduhan itu pada Widodo.
__ADS_1
"Gila kamu!! Mana mungkin aku membunuhnya! Bukannya saat itu aku dan kamu berada di halaman bawah sedang menemui para tamu? Jelas-jelas itu karena istrimu yang mulai putus asa dan memilih jalannya untuk mengakhiri hidupnya.
Dan aku sudah memberi kesempatan untukmu menggunakan Yosep sebagai kambing hitamnya. Bukanya kamu sudah diuntungkan dengan itu,kamu dapat menghancurkan Yosep,kamu mendapatkan hartanya. Bertahun-tahun aku menutupi rahasiamu,agar kamu bisa menemukan kotak itu dan mendapatkan surat berharga milik Lidia dan menepati janjimu.!"
"Dengan meninggalnya Lidia aku tidak bisa membujuknya untuk membagi hartanya! Dia pergi tanpa menyisakan sedikit harta untukku! Aku harus seperti pencuri untuk mendapatkannya!! Pulau itu,,pulau itupun tidak aku dapatkan! Sialnya,kini semua jadi berantakan!! "
"Tapi bukankah kamu mendapatkan gantinya dari harta Yosep yang kamu sita dan kamu uangkan untuk bisnis kita,apa itu bukan suatu keuntungan."
"Keuntungan yang berujung anakku harus mengeluarkan 2 M pada istrinya untuk mengganti semua nya! Itu yang kamu bilang untung!!"
"Heh,itu karena kobodohan anakmu! Coba kalau dia tidak menikah dengan Delia! Secara tiba-tiba kamu menikahkan mereka! Lihatlah sekarang apa yang terjadi? Menantu mu menjadi boomerang untukmu sendiri!!"
Atmajaya hanya terdiam,saat ini hatinya benar-benar kalut.
Segala kebusukannya terbongkar. Kini ia hanya mengharapkan belas kasihan anaknya agar memaafkannya.
"Maaf,waktu besuk sudah habis" seorang Polisi menghampirinya.
"Sekarang rahasiaku sudah terbongkar ! Brian tahu kalau ibunya tidak depresi,kini dia berbalik mencurigai ku!! itu semua karena mu!! Apa itu yang kamu mau hah??" Geram Atmajaya dengan berbisik.
"Keluarkan aku dulu,aku akan membantumu"
"Maaf aku sudah tidak mempercayaimu lagi!"
Atmajaya pergj meninggalkan Widodo begitu saja.
"Sialan kamu Jaya!"batin Widodo.
***
"Oke,tapi aku minta kamu jangan sampai terpancing emosi dengan kata-kata Oma. Satu lagi,tolong jangan katakan dulu kalau Ayahku yang menukar obatnya,bukan apa-apa,,,tapi aku hanya mengkhawatirkan kesehatan Oma saja. Aku takut dia shock,karena kepercayaan Oma pada ayah cukup besar"
"Iya mas,aku siap-siap dulu ya,,Eh mas,kita tidur di Rumah Sakit ya,,karena besok aku kan mau ke Bandung. Biarkan malam ini bi Ijah dirumah dulu,besok pagi baru gantian."
"Iya sayang,aku juga engga tega ninggalin Oma. Kamu ke Bandung tanpa aku engga papa kan?"
"Iya,ga papa,,"
Delia naik ke kamarnya untuk mengambil beberapa pakaian dan menyiapkan kebutuhan suaminya selama menginap di Rumah sakit.
*Rumah Sakit*
"Assalamu'allikum oma" Berlahan Brian membuka pintu kamar rawat inap.
Terlihat bi Ijah tengah menyuapi Oma.
Keduanya membalas salam yang dilontarkan oleh Brian.
"Wa'allikum salam"
Brian menggandeng Delia masuk,menemui Oma.
__ADS_1
Melihat Delia,wajah Oma berubah masam.
Delia mencoba mencium punggung tangan Oma namun Oma menghindar.
"Kenapa kamu membawanya kemari!"ketus Oma.
"Oma,Delia mengkhawatirkan Oma,,tolong Ima,ijinkan dia disini"pinta Brian.
"Terserah kamu saja!" Jawab Oma dengan memalingkan muka.
Ia seperti tidak sudi menatap wajah Delia.
Brian merangkul istrinya untuk menguatkan.
"Bi,biar saya saja yang menyuapi Oma,,bibi boleh Istirahat dulu dirumah" Delia menawarkan bantuannya,ia tahu pasti oma akan menolaknya tapi Delia benar sangat ingin ikut andil merawat Oma.
Bi Ijah melirik ke arah Oma,kemudian memberikan piringnya pada Delia.
"Ijah! Letakan saja dimeja,Aku sudah kenyang" tolak Oma.
Bi Ijah pun tidak jadi memberikan pada Delia.
Delia hanya menarik nafas panjang dan mencoba tetap sabar.
"Non,tuan saya permisi,," ucap Bi Ijah.
"Silahkan Bi,,bibi hati-hati dijalan ya.."jawab Delia.
"Iya non,,besok bibi kemari lagi non,,"
Delia mengangguk.
Brian mengikuti langkah bi Ijah.
Sampai diluar pintu,Brian membisikan sesuatu pada Bi Ijah.
Bi Ijah pun mengangguk mengiyakan perintah majikannya.
Brian kembali kedalam ruangan,ia mendapati pemandangan yang tidak mengenakan.
Oma selalu saja bersikap angkuh pada Delia.
Dia merasa tidak tega dengan istrinya.
Brian berusaha mencairkan suasana dengan melempar candaan pada oma.
Oma bisa saja marah pada cucu menantunya. Tapi dia tidak bisa marah dengan cucu kesayangannya.
Delia lebih banyak menjadi penonton,menyaksikan kehangatan antara Oma dan suaminya.
"Oma,senyummu sungguh manis,,andai aku bisa mendapatkan senyuman itu,aku pasti menjadi orang yang sangat beruntung. Ya Allah,segera tunjukan kebenaran pada kami. Kuatkan Oma jika kebenaran itu menyakitkan baginya." batin Delia,matanya berkaca-kaca. Ia sangat ingin mendapatkan kasih sayang dari Oma.
__ADS_1