Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 12


__ADS_3

"Hufh..sejenak aku bisa beristirahat tanpa ada Brian dan Atmajaya...haduh..melelahkan sekali."


Delia membaringkan tubuhnya di sofa,ia meregangkan otot-otot ditubuhnya.


Sepulang kerja tadi dia langsung membantu bi Ijah dan bi Ani didapur.


"Hari ini kok tumben ya masak banyak,kira-kira siapa yang mau datang kemari??hem..biarlah,toh bukan urusanku,aku harus menikmati waktuku saat tidak ada Brian."


Delia membuka Novel yang ada ditasnya. Dia membaca dengan tenang dan tak lama kemudian adzan magrib berkumandang. Segera ia mengambil wudhu dan pergi ke kamar tamu.


Kamar itu ia jadikan kamar khusus sholat dan tempat ternyaman untuknya.


Selesai sholat Delia menghampiri bi Ani yang sedang membawa makanan ke meja makan. Deliapun ikut membantunya,tapi tiba-tiba ponselnya berdering.


"Hah?suami??kapan aku menulis ini?"batin Delia saat ia melihat ada panggilan dari kontak bertuliskan "Suami"


"Assalamu'allaikum"


"Hem,wa'allaikumsalam. Heh!segera pakai pakaian yang rapi,sebentar lagi akan ada tamu. Jangan berpakaian seperti gembel. Menikahimu saja sudah memalukan buatku!!"


"I-i-iya"


"Hah Gembel!seenaknya saja dia ngomong!!mamangnya aku juga suka apa menikah denganya!menyebalkan" gerutu Delia sambil jalan menuju kamarnya.


Betapa terkejutnya Delia melihat Brian sudah berada dikamar sedang memakai handuk setengah badan. Delia langsung menutupi wajahnya dan mundur keluar,dia mengurungkan niatnya untuk masuk kekamar.


10 menit kemudian Brian berteriak dari dalam kamar.


"Masuk saja!"


"T-t-ta-tapi"


"MASUK aku bilang!!!!" Teriakanya semakin kuat sontak membuat Delia terjingkrak kaget. Terpaksa dia masuk dengan terus tertunduk.


Tetapi saat itu Brian sudah berpakaian rapi.


Lagi-lagi Brian menarik Delia dan melemparkan tubuh delia ke sofa. Kepalanya terbentur tepi meja yang ada disebelahnya.


"Apa salahku?" Tanya Delia yang sudah menangis ketakutan.


"Kenapa saat aku pulang kamu tidak dikamar!!kenapa kamu tidak menyiapkan air hangat untukku!!dasar gadis manja!!ini hah caramu melayani suami!! Kamu saja bisa setia menemani oranglain minum kopi dicafe tapi untuk membuatkan suamimu kopi itu tidak kau lakukan."


Brian merasa kesal karna saat dia pulang Delia tidak ada dikamarnya. Saat itu Delia sedang sholat dan dia langsung menuju dapur membantu menyiapkan meja makan.


"Maaf,aku tidak tau kamu pulang jam berapa,makanya aku belum menyiapkan semuanya,,dan mengenai kopi dicafe itu..tadi em..anu..itu..,,"


Delia duduk disofa dan terus tertunduk.


Brian kembali menarik Delia agar bardiri dihadapanya.


"Dasar gadis bodoh!!Aku tidak peduli kamu mau bersenang-senang dengan siapa saja!itu bukan urusanku!! Setidaknya kamu bisa menelponku dan tanyakan aku pulang jam berapa!jadi kamu bisa menyiapkan semua keperluanku!!"


"Maaf..aku baru tau ada nomermu diponselku jadi..jadi..a-aku.." Delia sudah bergetar ketakutan.


"Gadis bodoh!!!!kamu tau nya apa hah!!hal sekecil ini saja kamu tidak tau!pantas saja ayahmu sudah membunuh orang saja kamu sampai tidak tau!!!"teriak Brian didepan wajah Delia.


"Ayahku bukan pembunuh!!"


"Mana buktinya kalau ayahmu bukan pembunuh!!!kalau didunia ini tidak ada penjara,kamu dan ayahmu pasti sudah aku bunuh dari dulu!!"


"Bukanya ayahmu yang justru sudah membunuh ibuku! Ayahmu lah yang ada dibalik penyebab kecelakaan ibuku!jadi ayahmu yang pembunuh!!" Delia merasa tidak terima ayahnya disebut sebagai pembunuh.


"Apa kamu bilang!!kamu aghhhh...." Brian membanting meja dihadapan Delia.

__ADS_1


"Berani kamu ya menfitnah ayahku!!!" Brian kembali menjambak rambut Delia.


Delia pasrah hanya bisa menangis,menangis dan menangis.


"Aku mohooonnn...bunuh saja aku,aku tidak sanggup..aku mohon.."rengek Delia yang sudah merasa tidak sanggup lagi dengan keadaan dirinya.


"Aku tidak akan mengotori tanganku dengan membunuhmu..lihat saja sejauh mana aku puas membuatmu tersiksa."


Brian melepaskan rambut Delia dengan kasar.


"Heh!ingat ini belum berakhir sekarang cepat berpakaian rapi!!!akan ada tamu!kamu jangan membuat malu!!Paham!"


Delia mengangguk pelan sambil mengusap airmatanya.


Sedangkan Brian keluar dengan membanting pintu.


***


Diruang tamu.


"Ayah,mereka belum kemari?"


tanya Brian,ia menghampiri ayahnya yang sedang duduk diruang tamu menunggu kedatangan tuan Widodo.


"Sebentar lagi nak...oiya,tadi saat ayah hendak memanggilmu dikamar,ayah dengar kamu sedang asik dengan gadis bodoh itu,"


"Iya yah,aku sedang memberinya terapi"


"Bagus nak,jadikan rumahtanggamu neraka baginya."


"Oh,itu sepertinya suara mobilnya mereka yah.."


"Iya iya..."


Atmajaya dan Brian berdiri sambil merapikan pakaian mereka.


Bi Ani langsung membukakakn pintu untuk tamunya.


Mata Brian dan Atmajaya tercengang melihat gadis yang mendampingi Widodo.


Seorang gadis,sexy,seumuran dengan Brian.


Style fashionnya seperti model profesional.


Baginya Brian dia tidak asing,karna mereka sering bertemu di Amerika saat kuliah.


Atmajayapun mempersilahkan para tamunya untuk duduk.


"Oiya langsung saja kita duduk dimeja makan ya...kami sudah siapkan makan malam untuk kalian,ayo silahkan tuan Widodo.." Atmajaya merangkul rekannya itu keruang makan.


"Hahahahah,,,tau saja kamu Jaya,sudah lama sekali kita tidak makan bersama. Oiya hampir saja saya lupa,,perkenalkan ini loh putri semata wayangku yang dulu sering dibawa kekantor dulu..dia Tania"


Tania menyalami Atmajaya dan Brian.


"Hallo Tan,apa kabar,,kapan pulang dari Amerika?"tanya Brian sambil tersenyum manis.


"Kemaren Yan,,kabarku baik,kamu bagaimana?" sapa Tania.


"Loh loh loh..kalian sudah saling kenal rupanya..." tanya Widodo pada Brian.


"Iya dong Do...mereka kan sama-sama kuliah di Amerika,cuma ya beda kampus..masa kamu gak tau..."jawab Atmajaya.


"Owalahhh...tak kirain kalian gak kenal,soalnya dari kecil enggak pernah katemu. Malah ternyata ketemunya di Amerika ya...haduhhh,,kebetulan sekali."

__ADS_1


Mereka tertawa sambil melepas kerinduan di meja makan.


Delia yang melihat mereka dari tangga merasa sungkan untuk mendekat.


"Aku hanya akan menganggu mereka saja,siapa aku disini?hem,sudahlah aku akan kedapur saja dengan bibi..disana aku lebih bisa dianggap sebagai manusia."


Delua menuruni tangga dan berbelok ke arah dapur.


Tapi tiba-tiba Atmajaya memanggil Delia.


"Del,Del...kemari"


Delia pun berbalik,menghampiri mereka dimeja makan.


"I-iya t-tuan.." jawab Delia terbata-bata,dia merasa canggung dan terus tertunduk.


"Dia pembantumu Yan,,kok mau ya masih muda jadi pembantu,,hati-hati loh yan..jaman sekarang pembantu suka nggodain majikan..heheheh" bibir Tania tersungging sinis melihat Delia.


Matanya menjelajah dari ujung rambut sampai ujung kaki Delia.


Delia yang hanya mengenakan dress simple polos,warna Pastel,dengan rambut terurai rapi,dengan polesan make up soft yang sebenarnya dia tidak nampak seperti pembantu,justru sebenarnya dia nampak lebih muda dari umurnya. Hanya saja Tania tidak menyukai jika ada wanita yang lebih cantik darinya.


"Tania,dia it.."


"Iya nyonya,saya pembantu disini" Delia memotong perkataan Brian yang belum selesai.


"Haduh,kasihan sekali nasibmu,kenapa gadis polos dan masih terlalu dini, dibolehkan bekerja oleh orang tuanya,,malang beneeerrr.." Tania terus menghina Delia,Atmajaya dan Wibowo hanya tersenyum-senyum.


"Umur saya 21 nyonya,saya adalah anak dari Yosep,karna ketidak berdayaan ayahku terpaksa saya harus bekerja disini dan sepertinya ayah anda juga mengetahuinya.Dan maaf tuan dan nyonya,jika sudah tidak ada yang anda butuhkan saya mohon diri untuk kedapur. Permisi"


Delia menahan amarahnya,dia tetap tertuduk dan pergi meninggalkan mereka.


Mendengar perkataan Delia,Atmajaya,Widodo dan Tania saling melempar tatapan. Tapi tidak dengan Brian,seolah dia tidak peduli,dia tetap asik memakan masakan kesukaanya,fokusnya hanya pada piring yang ada didepanya.


"Apa benar itu Jaya,dia anaknya Yosep?si pembunuh istri dan anakmu?kenapa kamu membiarkan dia disini?"


"Iya benar,aku membawanya disini agar dia merasakan neraka sebelum dia mati. Nyawa Yosep ada ditangan gadis itu,disitulah kelemahan Yosep. Selama ini aku ingin melihatnya menderita,tapi tetap saja gagal,dia masih bisa tersenyum. Tapi semenjak anaknya disini,senyuman itu hilang..hahahaha..." jelas Atmajaya tanpa berbisik,sengaja agar Delia juga mendengarnya.


Benar memang,Delia mendengar dari kejauhan,pundak Delia di usap-usap oleh bi Ani dan bi Ijah.


"Non,yang sabar ya...sebenarnya tuan baik,hanya saja dia masih belum mengikhlaskan kepergian nyonya besar dan calon anaknya" bisik bi Ijah.


"Iya bi,saya tahu.." Delia menyeka air mata yang mulai berjatuhan.


Dari kejauhan Brian melirik memperhatikan Delia yang sedang menangis di Dapur. Jarak dapur dengan ruang makan cukup dekat hanya sekitar 4 meter saja.


"Bagus Jaya,kamu sangat pandai menaklukan musuhmu,,aku mendukungmu"


Mereka bertiga tertawa.


1jam berlalu


"Terimakasih untuk makan malamnya,lain kali kami akan sering mampir kemari,dan semoga kerja sama kita berjalan lancar"


Widodo berpamitan,Atmajaya dan Brian mengantarnya sampai teras rumah.


"Oiya Yan,kapan-kapan kita bisa hangout bareng ga?sudah lama kita gak ngobrol.."


Tania menggandeng tangan Brian manja.


"Baiklah,kalau ada waktu pasti aku menghubungimu."


Brian tersenyum menyambut gerakan tubuh Tania.

__ADS_1


Delia yang saat itu sedang menaiki tangga,tidak sengaja melihat kemesraan mereka.


"Hah,manis sekali..pasangan yang serasi si Jutek sama manusia Batu,oke good looking" gerutu Delia yang sedang kesal dengan penghinaan Tania padanya.


__ADS_2