
"Maaf tuan,non..saya membuat kalian menunggu lama.."
"Tidak kok pak Asep..oiya pak Asep apakah bapak sering melihat ibuku dan ibunya Delia disini?"
"Ibu tuan??"
"Oh,,maaf..maaf..maksud saya nyonya Lidia."
Mendengar nama itu,raut wajah pak Asep berubah,mulutnya bergetar dan lidahnya kelu.
"Jjjjadi..ttttuuuuan a-aanak Atmajaya?" Kemudian pak Asep menatap Delia dengan cemas.
"Non?"tanyanya,seperti tak mempercayai bahwa Delia akan menikah dengan anak dari Atmajaya. Pak Asep pernah menyaksikan saat Atmajaya bersama bodiguardnya menghancurkan isi rumah.
"Iya pak Asep,aku tau pak Asep pasti bingung kenapa aku menikah dengan anak Atmajaya,ceritanya panjang,,yang jelas kami kemari ingin mengetahui,apakah ada tempat yang belum terjamah oleh orang-orang itu?"
"Ada non,disini,,saya dulu pernah diminta nyonya untuk mengambil cangkul kecil,nyonya Alya dan nyonya Lidia menguburkan sesuatu disini. Sebenarnya pak Asep tidak tahu apa yang mereka kubur,mereka hanya berpesan,,
jika diantara mereka sudah meninggal saat Delia belum menikah,tolong mang Asep beritahu Delia tentang ini.
Begitu kata belio non"
Delia mengerutkan alisnya penuh dengan tanda tanya.
"Pak Asep,apa boleh aku pinjam cangkul?"ucap Brian.
Pak Asep menganggukan kepalanya,kemudian ia mengambil cangkul yang ada diruang penyimpanan peralatan,dan ia kembali.
"Ini tuan"
Pak Asep memberikan cangkul itu pada Brian.
Brian melipat lengan bajunya kemudian mulai menggali tanah,sesuai arahan pak Asep.
Brian merasakan ada sebuah benda di dalam tanah,kemudian ia menggalinya dengan tangan dan meraih benda tersebut.
Delia dan Brian saling melempar tatapan.
"Coba ambil mas"titah Delia yang sudah tidak sabar.
Brian mengambil plastik tersebut,lalu membuka nya.
"Kotak hitam??" Mata Delia membulat.
Brian tetap diam dan memberikan kotak itu pada Delia.
"Ibumu dan ibuku bilang,ini untukmu,jadi kamu yang berhak membukanya." Titah Brian.
"Iya mas" Delia membawa kotak itu ke gasebo yang berasa disampinnya.
__ADS_1
Delia berlahan membuka,satu persatu ia keluarkan isinya.
Kotak itu berisi beberapa foto keakraban Lidia dan Alya pada masa sekolah,beberapa foto bersama dirinya saat bayi dan Brian kecil masih berumur 9tahun. Delia dan Brian sempat bertemu saat kanak-kanak,terakhir bertemu saat usia Brian 18tahun,dan Delia berusia 9tahun.
Dulu wajah Brian tidak setampan sekarang,pipinya agak cuby dan tidak sixpack. Seperti biasa,Brianntetap dengan style coolnya, Delia mengenalnya dengan Ian bukan Brian. Saat itu Brian masih benar-benar acuh,makanya Delia tidak pernah suka jika bertemu dengannya.
"Mas,ada surat dan liontin" Delia meletakan lontine di kotak dan membaca surat itu.
Dear Anak bunda yang tersayang...
Del,,ibu sangat bahagia telah melahirkanmu,,tak pernah sekalipun ibu merasa lelah menjagamu,tangismu,senyumu dan segala tingkah polahmu mampu menambah kebahagiaan dalam hidup ibu.
Ibu tidak mau gadis ibu,terluka,ibu mau kamu bahagia selalu..selamanya.
Sedikit cerita kenangan masa SMP antara ibu dan nyonya Lidia.
Kami menjalin persahabatan yang lebih dari apapun..saat itu kami berjanji,jika suatu saat nanti kami mempunyai anak laki-laki dan perempuan kami ingin menjodohkannya,agar hubukan persahabatan ini berubah menjadi lebih indah,menjadi sebuah keluarga.
Tapi ibu tidak memaksakan keinginanan kami,meskipun harapan itu tumbuh besar dalam hati kami.
Tapi,jika kau belum menemukan pria yang tepat,ibu berharap Dia bisa menjadi pelabuhan cintamu..menikahlah dengannya,agar janji kami terpenuhi.
Ibu yakin,pria yang ada diliontine ini adalah jodohmu,,dia pria baik,dan nyonya Lidia adalah calon ibu mertua terbaik.
Ibu dan nyonya Lidia menyanyangi kalian..
Maafkan ide kami yang mungkin kamu anggap ini konyol...
Tapi jika kalian sepakat menolak perjodohan ini,maka kembalikan Liontine ini pada pemiliknya,agar pemiliknya sendiri yang mengisi sebagian foto itu.
Jika kamu setuju,pakailah,dan beri fotomu yang cantik ya sayaaangggg...LoVE you my princess
Brian menatap Delia penuh tanda tanya.
"Del,are you oke?"
Delia mengangguk dan memberikan surat itu pada Brian.
Deliapun membuka liontine yang ibunya maksud.
Disatu sisi ada foto Brian saat berusia 16th dan disisi lain masih kosong.
Brian dan Delia saling bertatapan.
"Ternyata ibu kita berencana menjodohkan kita mas"ucap Delia.
Brian hanya menghela nafas panjang,dia sama sekali tidak tahu tentang perjodohan ini.
"Maaf tuan dan nona..sebaiknya kita masuk kedalam"
__ADS_1
Delia yang masih tidak mempercayai perjodohan itu terus melamun,sambil mengikuti langkah Brian dan pak Asep yang mengarah ke ruang tengah.
"Ya Allah,ibuuuu...kenapa bisa pas gini ya..apa benar ini yang dinamakan jodoh??agh..."batin Delia.
Brian yang sudah selesai mencuci tangan,kembali menghampiri Delia.
"Pak Asep,sepertinya bukan cuma ini yang kami cari..apa masih ada yang lain?"
"Saya kurang tahu tuan.."
"Del,bagaimana?"
Delia masih diam dan berfikir.
"Pak Asep,,bisa aku minta kunci kamar ibuku?"pinta Delia.
"Ini non"
"Oiya,apakah tuan Jordi mengetahui kedatangan kami?"
"Iya non,belio sudah mengetahui,kebetulan tuan Soni yang sudah meminta ijin padanya,hanya saja belio saat ini sedang ke luar kota,jadi tidak bisa menemui kalian"
"Baiklah,aku bersyukur karna masih ada sahabat ibu sebaik belio"
"Mas,ayo kita kekamar ibu" Delia mengajak Brian masuk kekamar Alya.
Brian mengangkat kedua alisnya,kemudian mengikuti langkah Delia.
Tatapan Delia dan Brian kembali berkelana kepenjuru arah,setiap bagian dikamar tersebut mereka periksa.
"Oiya,pak Asep,,bisa tinggalkan kami sebentar,?"pinta Brian
"Baik tuan, oiya tuan dan nona,,jika berkenan,nanti silahkan mampir kerumah saya,istri saya sudah menyiapkan hidangan makan siang untuk tuan Brian dan nona Delia"
"Terimaksih pak Asep,kami pasti kesana" Brian memganggukan kepalanya,menerima tawaran pak Asep.
"Kenapa mas nyuruh dia pergi?kita kan masih butuh bantuannya."
Ucap Delia.
"Aku tau,pak Asep bisa dipercaya tapi aku hanya ingin menemukan kotak itu hanya berdua denganmu,karna aku yakin isi kotak itu bukan hanya menyangkut tentang percakapan rencana Ayah dan Widodo untuk menjatuhkan ayahmu..Aku yakin lebih dari itu.!"
"Aku juga berfikir seperti itu mas,karna yang aku dapatkan ini terlalu kejam,nyawa ayah ibuku yang dikorbankan! Awas saja!!"
Sorot mata Delia menjadi menyala,penuh dendam,bukan kepada Brian melainkan kapada Atmajaya dan Widodo.
Brian hanya melirik,mencoba memahami perasaan Delia.
"Ayo kita kembali dengan pencarian kita."ajak Brian.
__ADS_1
"Disini kita tidak akan menemukan apapun mas,karna semua barang berharga ibu sudah tidak disini,mungkin saja kotak itu tidak pernah ada,itu hanya alibi ayahmu,yang sebenarnya Ayahmu memang murni membenci keberhasilan ayahku!"
Delia hampir putus asa,ia lelah memikirkannya.