Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 185


__ADS_3

Kali ini Brian tidak memberi celah istrinya,ia lampiaskan seluruh has**t nya yang sudah lama dipendam,akibat pertengkaran yang lalu dan masa nifas yang sudah dilalui Delia.


***


Pagi hari,04.30


Tubuh polos Delia masih berada dibalik Selimut,Brian yang sudah dulu mandi dan sholat subuh,mencoba membangunkan Delia yang terkapar lemas.


"Cup.."ia mengecup pipi Delia,


"Bangun sayang,,"


Delia menggeliatkan tubuhnya,


"Aaaahhhh,,,badan ku sakit semua mas,,"


"Nanti sebelum ke bandara,kamu boleh Spa dulu,,kemarin aku sudah buat janji"


Delia mengucek matanya,berlahan bangun terkejut melihat sekeliling kamar yang semula tertata rapi bak kamar pengantin,berubah seperti tertiup angin topan.


"Mukanya engga usah terkejut gitu"


"Ya abisnya,sayang banget kamar bagus-bagus jadi gini,,"


"Besok aku suruh orang tiap malem bikin kamar pengantin buat kamu"


"Ya engga gitu juga kali mas,udah ah,,aku mau mandi!"


Delia meninggalkan tempat tidurnya,langkahnya tertatih karena pangkal pahanya sakit akibat pertarungan semalam.


Brian merasa bersalah melihat istrinya kesakitan karena ulahnya.


Ia turun kebawah,menyiapkan teh hangat dan roti untuk Delia.


"Dia pasti sangat lapar,,"batinnya.


"Tuan,,itu untuk siapa?biar bibi saja yang siapkan"


"Untuk Delia bi,,"


"Sini saya saja yang siapkan tuan" bi Ani mengambil alih sendok yang sudah berisi gula.


"Emmm bi,," Brian ragu untuk bertanya.


"Apa tuan,,"


"Emmm,,itu,,em,,bi,di kotak P3K ada obat pereda nyeri atau tidak?"


Brian tak pernah menyentuh kotak P3K jadi dia tidak begitu paham.


"Ada tuan,,memang siapa yang sakit tuan"


"Delia,,badannya pegal-pegal"


"Loh,sakit??perasaan kemarin baik-baik saja tuan,,"


Brian garuk-garuk kepala dan meringis.


"Iya bi,mmmungkin dia kecapean..bolak balik dari rumah Oma ke sini tiap malam"


"Owh iya iya iya,,,tuan ambil saja obat tablet ******* itu memang untuk pegel-pegel tuan,,"


"Baik bi,,oiya bi,nanti pastikan lagi dua pegawai Spa datang lebih pagi,karena nanti pukul 10 saya dan Delia sudah harus berangkat ke Bandara"


"Siap tuan"


***


Pukul 09.30


Delia keluar dari ruang khusus Spa yang berada tak jauh dari kamarnya.


Setelah kedua pegawai itu pergi Brian menghampiri istrinya yang masih terlentang menggunakan keben dan masker.


"Sudah selesai sayang?" Brian mendekati bibir tempat perbaringan Delia.


"Udah si Mas,,tinggal lepas masker aja,,bentar lagi"

__ADS_1


"Semua barang bawaan sudah siap,ayo kamu bersiap."


"Oke mas,..aku tinggal lepas masker,pake baju dan kita berangkat deh"


Ucap Delia bersemangat. Ini kali pertama untuk Delia pergi ke luar negri dengan tujuan benar-benar berlibur,tanpa ada pekerjaan yang menganggu.


"Ya sudah,aku tunggu dibawah ya,,"


***


"Maaf Tuan,tuan Brian untuk beberapa hari ini ada kepentingan,,dan saya ditugaskan untuk menghandle semua"


Ucap Soni pada clien dari Korea yang super perfect.


"Tapi ada beberapa poin yang perlu saya bicarakan dengannya"


"Iya,tapi sebelumnya kita kan sudah menyelsaikan pembahasan proyek baru ini,kedepannya semua sudah menjadi kewenangan saya tuan"


"Kemana tuanmu pergi,saya hanya mau bicara dengannya!"


"Maaf,saya pun tidak tahu tuan,,untuk masalah pribadinya saya tidak cukup banyak tahu."


"Baiklah!"


Clien itu pergi dengan rasa kecewa.


"Kenapa lagi si tu orang?"tanya Safa berbisik.


"Dia sepertinya hanya mau bicara dengan Brian,kita sama sekali tidak di anggap!"


Lanjutnya.


"Hmmm,Entahlah,,sepertinya dia orang yang cukup sulit untuk mempercayai siapapun." Soni mengaruk alisnya,menahan kesal.


"Ribet amat hidupnya! Jadi tangan kanan orang Korea aja udah Songong!" Ejek Safa.


"Sssstttt,,Ghibah lu!"


"Heleegh...situ kesel juga kan ma client satu ini"


***


Brian sampai di sebuah hotel di Vorarlberg.


Sepanjang perjalanan Delia dibuat takjub dan kagum dengan hamparan rumput dan pegunungan yang indah.



Brian sangat paham,istrinya paling suka dengan pemandangan alam yang natural.


Itu sebabnya Brian mengajak istrinya ke Vorarlberg.


Mereka menginap disebuah Hotel yang cukup terkenal disana.



"Ayo,"


Brian mengajak istrinya masuk ke dalam kamar.


Delia masuk dan langsung menuju sisi lain dari kamar itu,ketika ia membuka jendela dan pintu kaca,terlihat hamparan pemandangan perbukitan.


"Wowwww..."


"Kamu suka?"


"Iya mas,,ini,,ini bener-bener bagus mas,,masya Allah,,"


"Kamu berdiri disana,,"


Brian menyuruh istrinya berdiri di tepi balkon.


"Aku akan mengambil fotomu,,"


Ia mengeluarkan ponselnya memotret istrinya,sama seperti apa yang dia lakukan saat di Bali dulu.


Deliapun berpose layaknya remaja pada umumnya.

__ADS_1


"Hmmm,,sok centil,kaya ABG aja" ejek Brian saat melihat hasil fotonya.


"Heyyy,,hello...Om Brian,,istri anda emang masih ABG kaliii" Delia menjentikannjarinya didepan suaminya.


"Idih,,ABG apanya??"


"Lebih tepatnya mantan ABG,,beranjak tua"


"Belum tua,,kamu tu yang udah bapak-bapak!"


"Kita kan emang udah bapak-bapak sama emak2,,"


Sejenak Delia terdiam,mengingat impiannya yang sirna.


"Sayang?m..ma..maaf"


"Iya engga papa mas,,udah,sekarang kita istirahat dulu aja ya mas..ayo"


Ajak Delia,,Delia sadar,dia harus tetap meneruskan langkahnya. Dia tidak boleh membuat suaminya terus merasa bersalah,karna kejadian waktu itu bukan sepenuhnya salah Brian.


Keesokan harinya Brian dan Delia menikmati liburan mereka dengan canda tawa,Brian berhasil mengembalikan keceriaan istrinya.


Waktu terasa cukup cepat bagi keduanya.


Mereka melepas lelah setelah seharian menikmati keindahan Vorarlberg dan sekitarnya.


Waktu menunjukan pukul 23.00 waktu setempat.


Delia meletakan kepalanya di dada suaminya.



"Mas,terimakasih untuk hari ini ya,,"


"Iya,sayang,,"


"Oiya mas,tadi waktu kamu mandi,aku lihat diponselmu ada 8 panggilan tak terjawab dari Soni."


"Apa?Soni?ada apa dia menghubungiku,,bukannya aku sudah bilang aku tidak mau diganggu!"


Sengaja Brian seharian tidak menyentuh ponselnya. Ia sengaja meninggalkan ponselnya di kamar.


"Entah,mungkin ada pekerjaan penting mas,,"


"Coba ambilkan ponselku"


Titah Brian,Deliapun menurutinya.


"Ini mas"


"Sebentar ya Sayang,," Delia beranjak dari posisinya,ia duduk bersandar.


Sementara Brian memilih menuju balkon.


"Ada apa!" Tanya Brian pada Soni yang ada dibalik sana.


"Client kita dari Korea terus mendesak ingin bertemu denganmu,dia seperti tidak mempercayai siapapun dan dia seolah hanya ingin bekerja denganmu saja,lama-lama menyebalkan juga tu orang"


"Ck,," Brian berdecak kesal.


"Bukannya kemarin sudah aku jelaskan panjang lebar mengenai kontrak kerja sama ini,kenapa dia masih ingin menemuiku,semua kan sudah beres,dan tinggal di matangkan saja saya rasa tinggal kamu antar dia ke Direktur anak perusahaan kita yang berhubungan dengan pengelola Departemen store."


"Iya,aku juga sudah mengarahkan kesana. Oiya,satu lagi,,dia ingin mengatur jadwal makan malam denganmu."


"Untuk apa?"


"Dia bialang,ini untuk merayakan kontrak yang sudah disepakati bersama"


"Oke,baiklah,tunggu 5 sampai 6 hari lagi aku pulang"


"Siap,,maaf ya bro,,gue ganggu honeymood kalian"


"Sudah pasti,,makanya buruan kawin,jadi tahu gimana dongkolnya diganggu saat honey mood"


"Hahaha,,sorry bro..sorry...oke,sana lanjutin produksinya"


"Hmmm,,"

__ADS_1


__ADS_2