
Keesokan harinya,
Pagi-pagi sekali,setelah sholat subuh Brian langsung menganggu kedua anaknya yang tengah tidur.
Ia terus menciumi keduanya,terkadang memainkan hidung dan pipi Al dan El.
"Uhhh,,anak anak papa,,pantas saja,perhatian ibu kalian teralihkan,,ternyata kalian lebih tampan dari ayah,,ayah merasa cemburu,,,Hai,kalian tahu,kalian itu anak-anak ayah yang hebat,,hari ini,,ayah mau menugaskan kalian untuk menjaga ibu kalian yang super bawel..oke..apa kalian siap"
Al dan El hanya memandangi wajah ayahnya yang tengah terus mengajak mereka mengobrol..sesekali mereka tersenyum tipis seperti tahu apa yang sedang ayahnya ceritakan.
Suara sayup sayup terdengar ditelinga Delia,berlahan ia membuka matanya.
"Mas,,,kamu,,kamu lagi ngusilin mereka lagi ya?" Tegur Delia.
"Siapa yang ngusilin,,kita sedang berbagi cerita ya nak yaa...lihat ibumu,,baru bangun langsung negur ayah,,emang ayah usil??engga kan ya..emmuuaahh" kembali Brian mencium keduanya.
"Mas,kok tumben jam segini kamu udah mandi,,ahhh jangan jangan,,kamu jajan pas aku lagi tidur ya"
"Sembarangaaaannnnn" Brian menarik hidung Delia gemas.
"Hee,,kirain,,karena engga dapet jatah dariku kamu jajan"
"Ide bagus Sayang,,terimakasih untuk idenya,,nanti malam mau jajan ahhhh"
Gurau Brian memancing emosi istrinya.
"Uhhhh!!! Awas kalau berani! " Giliran Delia yang menarik hidung Brian.
"Sayang,,hari ini mungkin aku akan pulang larut,karena ada banyak pekerjaan dikantor,,kamu jaga kedua jagoan kita ya,," Brian duduk disebelah Delia memeluk manja tubuh istrinya yang masih berlemak padat pasca melahirkan.
"Iya Mas,,aku pasti jagain mereka..kamu jangan lupa makan loh ya,jaga pandangan,jaga sikap,jangan tebar pesona"
"Siap istriku sayang,,,Oiya,apa kamu lapar?"
"Iya mas,,tapi Al sama El belum minum ASI,,aku susui mereka dulu ya mas"
"Oke,aku panggilkan bi Ani ya untuk membantumu,,"
Brian menghubungi nomer untuk menghubungi ruangan Asisiten rumah tangga.
📞Hallo
📞Bi,ASI di kulkas tolong hangatkan,bantu Delia memberikan ASI yah,,
📞Baik tuan
"Sebentar lagi bi Ani kemari,,sementara itu,aku akan memasakan makanan spesial untukmu ya,,"
"Engga usah mas,,kamu udah mandi,,nanti bau masakan,,"
"Ahhh...itu gampang,,,pagi ini sebelum aku berangkat ke kantor,aku akan memanjakanmu,,I LOVE YOU Sayang"
Belum sempat Delia menjawab,Brian langsung ******* b*b*r Delia. Deliapun menyambutnya.
__ADS_1
Karena tidak mau semakin terbawa suasana,Delia langsung melepaskan ciuman suaminy.
"Udah mas,,nanti bi Ani liat,,noh,,anak-anak juga liat..malu tau,,"
"Hmmmm..." Wajah BT Brian tersirat.
"Sabar ya suamiku sayang" bujuk Delia.
"Ya sudah,,aku kedapur dulu ya.." Brian meninggalkan kamar dengan langkah lulai.
Delia tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
***
"Tania,hari ini aku percayakan semua urusan kantor padamu,,kita bertiga ada urusan oke! Satu lagi,kalau ada telpon dari istriku,bilang saja aku sedang rapat di luar"
"Kalian mau kemana emangnya!"
"Nanti kamu tahu sendiri,,jaga kantor baik-baik"
"Hmmm"
"Oiya Tan,inget,jangan kluyuran dan sibuk ngepoiin hot dady hehe" ejek Soni saat hendak menutup pintu ruangan.
"Ihhh...cemburu ya..." Seru Tania.
Memang benar,semenjak pertemuannya waktu itu dengan Kevin,Tania masih belum move on,dia selalu mencari tahu tentang dirinya.
Memilukan memang,,dia masih menyimpan rasa begitu besar pada Kevin,mantan terindah yang kini sudah beranak satu.
***
"Pertama,Kamu ke Lapas,,tunjukan sketsa gambar pria yang ada di CCTV itu,entah bagaimana caranya kamu harus bisa menyudutkan ibumu,desak dia agar mengakui bahwa dia mengenalnya."Titah Brian.
"Iya ka,," Hans keluar dari dalam mobil,ia menuju Lapas dan kembali menemui ibunya yaitu nyonya Yesi.
"Sayang,,,kamu,,kamu baik-baik saja?" Yesi langsung mengapit kedua pipi anaknya dengan telapak tangan yang tak sehalus dulu.
"Lepaskan mah! Aku bukan anak kecil lagi!" Hans melepaskan tangan ibunya.
"Hans bawakan makanan kesukaan mama,,dan mungkin,,mungkin ini makanan terakhir dari Hans"
Wajah Hans berubah menjadi lemas dan tak bersemangat.
"Terakhir?apa maksudmu nak?kamu,,kamu tidak akan pergi kan?"
"Aku akan menyusul paman di Lapas,aku terpaksa mengakui akulah dalang insident kemarin,,aku bisa disini saat ini,karena kebaikan Brian,tapi polisi memberi waktu hanya 3 hari,jika 3 hari orang ini tidak ketemu,maka sudah dipastikan aku kembali ke Sel."
"Apa!! Mama mendidikmu untuk tidak selemah ini nak! Kenapa?kenapa kamu bisa seperti ini!! Harusnya kamu berfikir dulu sebelum bertindak."
"Seperti mama,paman dan ayah? Selalu berpikir picik untuk menggapai keinginan kalian,itu maksud mama kan?aku harus cerdik cerdas dan culas?? Iya!?"
"Bukan nak,,tapi,,"
__ADS_1
"Tapi apa mah?Mah,karena mama,,orang yang aku cintai harus bertaruh nyawa mah,bayangkan,,dia tengah hamil besar,bukan hanya nyawanya tapi kedua anaknya! Setidaknya mama pernah mengandung,apa tidak ada sedikitpun hati nurani seorang ibu dari mamah?"
"Apa?kamu,,kamu mencintai siapa?siapa yang kamu cintai?siapa??"
"Delia mah,,aku mencintainya,tapi aku harus mengikhlaskannya,karena aku tahu Brian adalah kebahagiaannya ...apa mama mau,setelah kehilangan semua,aku juga harus kehilangan masa depanku!! Aku harua menua di penjara?iya??"
"Ah!!!! Kenapa kamu harus mencintai dia hah!! Karena dia kamu jadi lemah!"
"Mah,katakan! Dimana orang ini!" Hans memberikan sebuah sketsa gambar.
"Mama tidak tahu nak!"
"Oke,mama tidak tahu,tapi mama bisa menghubunginya,iya kan! Suruh dia menyerahkan diri atau sekali lagi aku akan mengorbankan diriku!"
"Kenapa mama diam?mama tahu kan?"
Tanya Hans sekali lagi,mengetahui tak ada jawaban dari bibir ibunya,Hans berdiri dan hendak pergi.
"Sayang,,mama mohon,,berhentilah berkorban,dari kecil kau selalu berkorban,kau harus berbagi ayah,hakmu sebagai anakpun dikorbankan,mama tidak suka itu,sakit rasanya sayang,,berjanjilah pada Mama,mama mohon,,"
"Aku berkorban karena kesalahan kalian,dendam kalian itu yang salah.Aku permisi mah,jaga diri mama baik-baik,jaga kesehatan mama"
"Tunggu,,Temui ajudan ibu,dia tinggal di **** dia yang tahu tempat persembunyian orang itu,karena dia yang menyuruhnya atas perintah pamanmu,pamanmu ingin melindungi ibu.
Tapi ibu yakin,orang itu tidak akan mau menyerahkan diri nak,,berusahalah,atau biarkan polisi yang membawanya."
Tiba-Tiba Hans bersimpuh dihadapan ibunya dengan air mata.
"Mah,,Hans mohon,,hentikan semua,,ini sudah menyiksaku mah,,ini sangat berat buatku mah,,jika tidak ada kak Brian mungkin sulit bagiku untuk bangkit mah,,disaat tidak ada yang mempedulikan dan mempercayaiku karena kasus kalian dahulu,kak Brianlah yang membuka tangannya untuk menerimaku dan melindungiku mah,,Hans mohon mah"
Dengan kedua tangannya,Yesi mengangkat bahu Hans dan memeluknya.
"Mama janji sayang,,mama janji,,mama tidak mau melihatmu menderita lagi,,mama janji,,maafkan keegoisan mama sayang,,tumbuhlah menjadi pria tangguh,jangan seperti kami"
"Maaf tuan,waktu besuk sudah habis" ucap salah satu polisi sipir.
Hans pun pergi dan masuk kedalam mobil menemui Brian,menceritakan padanya bahwa sebenarnya Widodo lah yang menyuruh orang itu,dengan tujuan ingin melindungi ibunya.
"Ahhh,,,(Brian meraup wajahnya kesal) Dia lagi dia lagi,,menyusahkan!!"
"Kak,atas nama mereka aku meminta maaf kak,,aku benar-benar malu padamu kak"
Brian menepuk pundak Hans,dan mengangguk.
Ia memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas panjang.
"Kemana kita sekarang?"tanyanya pada Hans.
"Ke kampung **** disana ada ajudan ibu yang tahu tempat persembunyian orang itu,,apa sebaiknya kita minta bantuan polisi untuk kesana?"
"Tidak usah,lebih baik kita pastikan dulu apakah ajudan ibumu masih disana atau tidak" sahut Soni.
"Oke,kita kesana Jon!" titah Brian pada Joni yang menyetir mobilnya.
__ADS_1