Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 71


__ADS_3

"Maksudmu?kamu udah...menjadi istri seutuhnya?"


Delia mengangguk dan terus terisak.


"Ya udah,gak papa Del,,jangan disesali karna itu memang sudah jadi kewajibanmu sebagai istri,karna kalian sah secara agama"


Fani mencoba menenangkan Delia


"Tapi Fan,,aku takut,,aku takut kalau aku sampai hamil dan ternyata Brian benar mencintaiku agar mereka mendapatkan kotak itu."ucap Delia dengan gelisah.


"kalau misal kamu belum siap memiliki anak,aku sarankan kamu KB aja dulu. Yaaa,,paling ga sampai hatimu yakin sama Brian dan siap,bagaimana?"saran Fani.


"Kamu benar juga Fan,,secepatnya aku akan ke dokter kandungan,kamu temenin aku yah?" Pinta Delia,dengan tatapan memohon.


Fani tersenyum,mengiyakan permintaan sahabatnya.


"Kamu malam ini mau tidur disini atau pulang kerumah?"


"Pulang aja Fan,aku gak mau bibi curiga kalau hubunganku dan Brian sedang tidak baik,apa lagi tadi Brian habis memarahiku Fan,aku takut dia akan marah lagi kalau aku gak pulang"


"Marah?kenapa?"tanya Fani.


"Dia menuduhku sengaja ketemuan sama Hans di cafe tadi siang"


"Ya Allah,Del del...tapi kamu beneran gak sengaja kan?"


"Kamu juga mencurigaiku Fan?"tatapan Delia tajam kearah sahabatnya.


"Ya engga Del,,maksudku gak gitu,,Udah,lupain aja...eh Del,kalau memang Brian cemburu dengan Hans,itu artinya dia benar-benar mencintaimu Del,,bener ga?" ucap Fani.


"Emmm aku lihat,Hans juga sering memberimu perhatian berlebihan jadi wajar lah Brian kesal."lanjutnya.


Delia masih tetap diam,mencerna semuanya


.


Merasa tak dapat respon dari Delia,Fani memutuskan untuk menyudahi percakapan ini. Ia memberi ruang untuk Delia memahami keadaan ini.


Dia berdiri dan menghela nafas panjang.


"Oke,sekarang kamu istirahat dulu ya,aku mau bantu mama Mira dulu,nanti kalau mau pulang,kita pulang bareng ." Fani mengusap rambut panjang Delia dengan penuh kasih sayang.


"Makasih ya Fan,,"


Fani tersenyum lalu meninggalkan Delia sendiri dikamarnya.


Sejenak ia menghentikan langkahnya di depan pintu,dan membalikan badanya kearah Delia.


"Oiya,nanti jangan lupa kita pulang bareng ya,jangan pulang sendiri!inget loh!!"


Delia hanya tersenyum,lalu membaringkan tubuhnya.


Banyak yang ia pikirkan,termasuk mengenai wanita itu.

__ADS_1


"Apa benar,wanita itu Tania?bagaimana kabar Tania?Mas Brian tidak pernah bercerita apapun tentang dia. Semenjak kita bersama,dia sama sekali tidak pernah menceritakan apapun tentang Widodo dan keluarganya."


Selesai Sholat isya,Delia kembali berbaring di temoat tidurnya,dia mencoba mengatur nafasnya,dan memejamkan kedua matanya agar lebih releks.


Delia teringat dengan ponselnya,berharap Brian menghubunginya.


Ia bangun dan mencari-cari keberadaan ponselnya di dalam tasnya.


"Aduh,aku lupa belum mengisi batrainya lagi,,duhh.,"


Delia mencari charger dan memasangkan pada ponselnya.


Ia menekan tombol power on off dan akhirnya ponsel pun menyala dengan batrai 8%.


Delia terkejut ada 23 panggilan tak terjawab dari Brian dan beberapa pesan.


*Masih belum puas!kluayuran sama si Br**ngs** hah!! Pulang atau kamu rasakan akibatnya!!


Pesan berikutnya,masih sama dari suaminya yang masih terselimuti emosi.


*Kalau kamu masih menganggapku suamimu,pulang sekarang juga!!! Aku tunggu dirumah Ayah.


"Hah?rumah ayah??kok disana ??"


Delia merasa bingung,karna sebelumnya "Brian bilang dia sangat membenci Ayahnya,dan tidak akan kembali kerumah itu apa lagi membawaku kesana,tapi kenapa sekarang dia menyuruhku kesana,kerumah itu??" batin Delia berkecambuk.


Dia semakin yakin kalau ini semua memang permainan Brian dan keluarganya.


Delia langsung gemetar ketakutan,kecewa dan sedih.


Kemarin,Brian memang bersikap lembut dan membuatnya nyaman,tapi saat emosi seperti ini,dia nampak seperti monster,tatapannya melebihi ayahnya yang sangar.


Amarahnya bener-benar membuat Delia ketakutan.


Dulu,saat masih dirumah Atmajaya,Delia masih bisa bertahan dan melawan rasa takutnya demi ayahnya,sebenarnya ia ingin sekali lari dan meninggalkan Brian dan Atmajaya.


Tapi,dia tidak bisa mengabaikan nyawa ayahnya.


Sekarang,Delia merasa menjadi lebih lemah,ia tak sanggup menghadapi kemarahan suaminya,dia pun tidak bisa lari darinya,perasaan yang sudah terlanjur tumbuh,tidak bisa ia abaikan begitu saja.


Sebelum adanya rasa itu,dia sama sekali tidak pernah merasa sesakit ini saat mendapat perlakuan kasar dari suaminya.


Tapi kini,hanya dengan perkataanya,membuat Delia merasa tercabik-cabik.


Delia bergegas merapikan tasnya,dan berlari mencari Fani dan bibinya.


"Bi,Delia pamit pulang ya sampaikan salamku pada semuanya" Bibi Mira tertenggun melihat Delia yang dengan cepat mencium punggung tangannya,dan melihat mata sendunya.


"Del.."bibi Mira memanggil Delia,tapi Delia sudah terlanjur berlari kearah luar,disusul oleh Fani.


"Del,tunggu,kamu mau kemana?"


Tanya Fani mengikuti langkah Delia.

__ADS_1


"Fan,aku harus cepat pulang,Brian udah dirumah!ayo antar aku atau aku akan pulang sendiri!"


Delia mencari-cari mang Jajang di post.


"Bang,,mang Jajang mana?"tanya Delia pada salah satu satpam rumah.


"Sedang ketoilet non"


"Aduhhhhhh" Delia mengaruk-garuk kepalanya gelisah.


"Sabar Del,,pulang ma aku aja ya,aku panggil mas Bimo sebentar yah.."


Fani berlari kedalam rumah memanggil Bimo,dan mengambil ponselnya.


Delia yang sudah tak sabar akhirnya keluar gerbang memanggil taxi dan menaikinya.


Setelah Fani dan Bimo kembali ke depan post satpam Delia sudah tidak disana.


"Bang,Delia kemana?"tanya Bimo pada Bang Aan satpamnya.


"Udah naik taxi tuan"jawabnya.


"Mas,kita ikuti yukz mumpung belum jauh,,dia seperti sedang ketakutan mas,,aku takut Brian marah karna hubungan mereka sedang tidak baik mas" Fani menggoyang-goyangkan lengan tangan Bimo,merengek padanya.


Bimo dan Fani mengejar Delia dengan mobilnya.


***


Setengah jam kemudian Delia sampai tepat di depan pintu gerbang yang super megah,menjulang tinggi.


Pintu gerbang dibuka oleh salah satu satpam dirumah Atmajaya.


Dengan langkah berat,Delia memasuki halaman rumah itu.


Delia melihat disekitar ada beberapa bodyguard dengan tatapan menusuk,menatap Delia,namun Delia berusaha tidak mempedulikannya.


Pandangannya fokus dengan beberapa mobil yang parkir di depan garasi rumah.


Dilihatnya mobil mewah milik Brian dan Widodo.


"Kenapa mereka semua ada disini,apa yang ingin mereka lakukan padaku?" Delia mulai ketakutan.


Bayangan masalalunya dirumah ini menghatuinya.


Air matanya terjatuh,tak kala mengingat vidio yang membuat ayahnya shock dan meninggal.


Dengan cepat Delia menyeka air matanya,dan ia mengingat dia sedang ditunggu oleh suaminya didalam rumah itu.


Delia melangkahkan kakinya dengan langkah panjang.


Semakin dekat tubuhnya dengan pintu,semakin tak beraturan pula denyut jantungnya.


"Ya Allah,kuatkan hatiku untuk menghadapi mereka yang ada dibalik pintu itu,,aku pasrahkan semua padamu Ya Allah..."batin Delia terus memanjatkan doa.

__ADS_1


__ADS_2