Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 101


__ADS_3

Dengan penuh kecurigaan Brian memutuskan untuk tidak meminumnya,karna perusahaanya sedang meroket,Brian khawatir akan banyak musuh diluar sana yang menginginkan kematiannya.


Brian hanya membaca surat yang ada di samping gelas.


"Minum dan makanlah,ini bukan racun____


dari aku yang tak mampu bertahan dalam amarahmu"


"Kampungan! Ini pasti Tania!!"Brian pergi membiarkan makanan itu begitu saja.


Brian masuk kekamar,bersiap-siap memakai pakaian formalnya untuk keluar dan sarapan.


Soni dan Brianpun keluar untuk sarapan.


Begitu juga dengan Safa dan Tania.


Seperti biasa Tania terus saja menggoda Brian dengan pakaian-pakaian yang minim,dan selalu mencari perhatian Brian.


Secara sengaja Tania berpura-pura terjatuh dan menumpahkan jus dijas Brian.


"Tania!!"pekik Brian geram.


"Maafkan aku yan,,aku mohon,maafkan aku,aku tidak sengaja." Rengek Tania.


Dengan wajah kesalnya ia meninggalkan mereka.


Tania berlari menyusul Brian yang sedang menunggu lift.


"Mau apa?"


"Aku mohon maafkan aku Ian,aku bantu membersihkannya ya.."


"Pergilah,aku bisa sendiri!"ucapnya kasar.


Pintu lift terbuka,Tania dan Brian memasukinya.


"Ck!apa kamu tuli!aku minta kamu pergi!"


"Ian,tidakah sedikit saja kamu mau menerima kebaikanku! Aku tidak bermaksud apa-apa!"


Tania mengambil kesempatan untuk memeluk Brian erat.


"Lepaskan Tania! Kamu benar-benar Gila!!"


Saat pintu lift terbuka,Delia yang berada di depan pintu lift terkejut mendapati Tania tengah memeluk suaminya.


Brian dan Taniapun ikut terkejut dengan keberadaan Delia.


Brian langsung menghempas Tania dan meraih tangan Delia.


"Del.."


Seketika Deliapun menghempas tangan Brian.


"Maaf,,saya permisi tuan"jawabnya dingin.


Delia berlari kembali menuju kamarnya.


Brianpun mengejarnya,sementara Tania merasa puas karna tanpa sengaja dia berhasil menghancurkan hati Delia.


"Hah,,hari ini Tuhan memihakku,,meskipun aku tidak suka dengan kehadirannya disini"Tania tersenyum sinis,melipat kedua tangannya,lalu kembali ke bawah untuk melanjutkan sarapan.


Ia melangkah dengan girang.


Sementara itu Brian mengikuti Delia yang sudah masuk kedalam kamar.


Berkali-kali Brian menggedor pintu kamar,namun Delia masih belum membukanya.

__ADS_1


Didalam kamar Delia menangis tersedu-sedu.


"Seharusnya aku tidak kemari,,seharusnya aku tidak melihat ini,,"


Hampir setengah jam Delia menangis,akhirnya dia mampu mengendalikan emosinya.


Diapun memberanikan diri untuk keluar kamar.


Diluar sudah tidak ada suaminya lagi,tapi ia mendengar ada suara keras dikamar Brian.


Ternyata suaminya tengah memarahi Safa dan Soni.


"Berhenti,memarahi mereka,,setidaknya belajarlah mendengarkan penjelasan mereka dulu sebelum kamu memarahinya dengan seperti ini." Suara samar Delia terdengar didepan pintu.


Brian membuka pintunya,melihat Delia dengan mata sebamnya.


Ingin rasanya ia memeluk,melepas kerinduannya,namun perasaan gengsi masih menyelimutinya.


"Masuk!" Perintah Brian.


Namun Delia tetap berdiri didepan pintu tertunduk dengan tatapan kosong.



"Maaf kalau kehadiran saya mengacaukan segalanya,,saya kemari atas dasar keinginan saya sendiri dan tanpa campurtangan mereka.


Ini kemauan saya sendiri dan Kakak saya yang sangat peduli dengan keadaan saya,dengan terpaksa mengijinkan saya kemari. Mereka sama sekali tidak tahu perihal kedatangan saya,,jadi saya mohon,tuan Brian yang terhormat bisa memaafkan mereka dan tidak menyalahkan mereka atas kedatanganku,permisi!" Delia membungkukan tubuhnya memberi hormat,kemudian berjalan meninggalkan mereka


Soni dan Safa,merasa aneh dengan gaya bicara Delia yang tiba-tiba seperti orang asing.


Begitu juga dengan Brian.


"Del,apa-apaan kamu Del,,kemarilah!"teriak Brian,namum Delia tetap diam.


Ia terus berjalan masuk kedalam lift dan turun kebawah untuk sarapan.


Brian yang sudah berganti pakaian menyusulnya dan duduk disebelah Delia yang sedang asik menikmati sarapan,seolah tidak terjadi apa-apa.


"Seperti yang sudah saya jelaskan tuan,saya kemari karna kemauan saya sendiri.


Saya datang diwaktu yang salah,dan Orang yang saya kira akan senang dengan kehadiran saya,justru sepertinya tidak menyukainya."


Delia tetap mengunyah makannya dengan santai,ia menikmati setiap suapnya.


"Berhenti berbicara seperti itu!" Brian berdiri ,langsung menarik tangan Delia yang mulutnya masih penuh dengan makanan.


"Mas,lepasin mas..aku teriak nih!" Ancam Delia.


Brian tidak peduli dengan istrinya yang terus meronta meminta untuk melepaskan pergelangan tangannya.


Mereka masuk lift dan naik ke kamar Brian.


Soni yang tengah menyiapkan laptopnya untuk rapat terkejut ketika Brian menghempas Delia ke atas kasur.


"Diam disini!" Brian memunjuk Delia demgan kesal.


"Son!ayo kita berangkat!"titahnya pada Soni yang masih memandangi Delia dengan iba.


Soni yang merasa tak enak hati langsung keluar kamar membawa laptopnya,disusul oleh Brian.


"Safa!cepat berangkat!" Brian menelpon Safa dari lobi.


Safa dan Taniapun langsung menyusul mereka.


Safa dan Tania satu mobil sedangkan Soni dan Brian dengan mobil terpisah.


Semenjak di Dubai,Brian tidak pernah mau satu mobil dengan Tania.

__ADS_1


Sesampainya di ruang rapat,sambienunggu Mr.Abdulla,Brian berbisik dengan Safa dan Soni.


"Nanti,percepat rapatnya!kalian paham?"


Safa dan Soni mengangguk.


Sementara Tania menerka-nerka,matanya ia sipitkan.


"Sepertinya hari ini mood buruk Brian,"gumamnya.


Mr.Abdullapun masuk dan mereka memulai rapatnya.


Sementara itu Tania justru berusaha mengulur waktu,membicarakan sesuatu yang kurang penting.


Tania ingin Delia semakin kesal karna ditinggal oleh suaminya terlalu lama.


Brian nampak kesal dengan Tania yang terus membual.


"Maaf Mr.Abdullah,,saya ada urusan mendadak,jadi dengan tidak mengurangi rasa hormat,semua saya serahkan pada asisiten saya Sony."


"Tapi tuan Brian,saya tidak mau proyek ini untuk main-main,saya hanya percaya pada gagasan anda!"


"Sony adalah orang kepercayaan saya tuan,dia juga sama seperti saya lulusan Amerika,selama bertahun tahun Soni mendedikasikan kepampuannya untuk perusahaan saya,Bisa dibilang dia adalah copy paste saya..jadi saya yakin,anda akan suka dengannya."


"Tapi Brian,ini proyek besar,jangan sampai Mr.Abdullah kecewa,betul begitu Mr??"


hasut Tania.


"Maaf Mr,Apakah Mr. Abdullah mengijinkan saya permisi sebentar?"


Mr.Abdullah sebenarnya sangat tidak menyukai rapatnya terjeda,dia cenderung seseorang yang sulit mempercayai siapapun.


"Terserah Kalian!!Kalian sangat tidak menghormati saya! Menyesal saya menerima kerjasama ini!!"


Mr.Abdulla keluar ruangan dengan amarahnya.


Brian menyusulnya dan memohon.


"Mr Abdulla,sayapun akan semarah ini jika dalam posisi anda..saya mohon untuk hari ini saja,izinkan saya untuk menyelesaikan masalah saya terlebih dahulu."


"Ini pekerjaan!bersikaplah profesional! saya bari tahu,pemuda tersohor seperti anda yang sudah memiliki perusahaan besar ternyata tidak bisa bersikap profesional!!!"


"Saya akui kali ini saya salah,tetapi Ini mengenai hidup saya Mr."


Brian terpaksa menceritakan semua pada Mr.Abdulla,tentang kedatangan istrinya yang tiba-tiba.


Mr.Abdulla sejenak berfikir.


"Saya akan pertimbangkan kerjasama kita! Nanti malam,ajak istrimu kerumah!"


"Baik tuan,terimaksih.."


Brian menunduk hormat,dan kembali masuk kedalam ruang rapat.


"Hufh,,beruntung Mr. Abdullah bisa memahami maksudku!" Gerutunya dalam hati.


"Kalian bereskan semua!aku ada urusan!"titah Brian.


Tania menyusul Brian dengan langkahnya yang cepat.


"Tunggu Ian!! " Tania meraih tangan Brian.


"Lepaskan!"hardik Brian.


"Oke,,"


"Kamu tidak bisa seperti ini Ian! Ini proyek besar! Hanya gara-gara istrimu yang super manja kamu akan mengacaukan semua!! Kamu tau Mr.Abdulla kan!"

__ADS_1


"Berhenti mengurusi urusan pribadiku!! menyingkirlah!!" Jawabnya singkat seraya meninggalkannya.


"Aaaghhhh!!! Selalu saja kau mengacuhkanku!!! Deliaaa..awas kau!!!" Ucapnya geram.


__ADS_2