Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 123


__ADS_3

Flash Back


"Brian,," sapa Dr. Aan saat bertemu di toilet.


"Hei,,Dr. Aan.."


Mereka saling berjabat tangan.


"Sedang apa disini?"tanya Dr. Aan.


"Mengantar Istriku,Delia,,"


"Delia,putri dari almarhum nyonya Alya?"


"Iya,"


"Astaga,,,kamu menantu nyonya Alya ya,,oke-oke,,,aku ucapkan selamat ya untukmu,akhirnya Istrimu mampu meneruskan mimpi nyonya Alya untuk mengembangkan Kliniknya."


"Iya,Alhamdulillah,,meskipun harus mulai dari Nol lagi"


"Itulah perjuangan Ian,,oiya,ngomong-ngomong anakmu sudah berapa?"


"Belum,,kami baru menikah belum ada 1 tahun"


"Oh,,,Jangan terlalu serius bekerja Ian."


"Aku sebenarnya ingin Dok,tapi entah lah mungkin aku belum dipercaya."


Dari hati Brian sangat ingin memiliki anak dari Delia.


Tapi dia sendiri belum berani membicarakannya dengan Delia.


Karena kondisinya saat ini belum memungkinkan.


"Delia pasti tidak akan setuju,ia selalu mengatakan akan bisa tenang jika penyebab kematian ibuku sudah jelas,ayahku dan Widodo mempertanggung jawabkan atas perbuatannya dahulu"batin Brian.


"Percayalah,semua akan tepat pada waktunya."


"Saya doakan semoga segera diberi momongan,yang penting istrimu harus jaga kesehatan,jangan terlalu lelah dan jangan banyak pikiran. Jalani semua dengan enjoy aja,"


"Iya Dok,,terimakasih untuk doa dan sarannya" jawab Brian.


Flash On


Sesampainya dirumah,Delia berubah menjadi lebih pendiam.


"Sampai kapan aku harus menunggu suamiku menyelesaikan permasalahan ini,Ya Allah,segera temukan titik terang untuk masalahku ini,,aku juga ingin memberinya anak,tapi aku masih takut,karna aku tidak ingin masalahku dengan Widodo dan Atmajaya menganggu kehamilanku kelak"


Delia dan Brian membersihkan diri mereka.


Berganti pakaian dengan style yang lebih santai.


"Del,aku mau keruang kerja dulu,nanti bawakan kopi untukku ya Sayang.."


Pinta Brian seraya mencium kening Delia.


"Kamu enggak istirahat dulu mas?"


"Nanti saja,aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu,hari ini kita kan full menghadiri acara Fani dan Bimo."


"Baiklah,aku buatkan kopi sekarang ya mas.."


Delia meninggalkan kamar,ia menuruni tangga menuju dapur.


Terlihat bi Ani sedang meracik makanan untuk makan malam.


"Bi,bibi sedang apa?"


"Mau masak buat makan malam non.."


"Tidak usah bi,kami masih kenyang tadi makan di resepsi pernikahan Fani. Simpan saja di kulkas biar besok pagi tinggal masak aja."


"Baik non..non Delia mau bikin apa?"

__ADS_1


"Mau bikin kopi bi.."


"Biar bibi saja non,,"


"Ga usah bi,aku aja..bibi tolong keluarkan barang bawaanku di bagasi mobil,ada sovenir juga dari Fani bi,,bibi ambil aja,tolong dibagi sama yang lainnya."


"Siap non" bi Ani segera menuruti titah Delia.


Setelah selesai membuat Kopi,Delia langsung mengantar kan pada suaminya di ruang kerjanya.


Brian tidak begitu rapat menutup pintu ruang kerjanya.


Dari cela pintu Delia menangkap ekspresi wajah Brian yang begitu lelah,terlihat dia begitu tertekan.


"Maaf mas,aku terlalu egois,,"


Delia menarik nafas oanjang,lalu meneruskan masuk kedalam ruangan.


"Mas,,"


"Hem,,letakan saja di meja sofa." Brian masih fokus dengan layar laptopnya.


Delia meletakan kopi dan beberapa cemilan dimeja. Ia duduk Disofa sembari memandangi suaminya yang tengah sibuk bekerja.


Awalnya Brian tidak menyadari kalau istrinya tengah menunggunya dan menatapnya.


Dari sudut matanya,Brian melihat istrinya.


"Kamu sedang apa disitu? Masuklah kekamar,istirahatlah,,"


"Aku mau nemenin kamu mas,,"


"Masuklah,ini akan membosankan bagimu."


"Tapi mas,,ak,,"


"Masuk!" Kali ini Brian benar-benar menatap Delia dengan mata Elangnya.


Delia pun akhirnya menuruti suaminya,ia pergi ke kamarnya.


**


Brian mendapatkan panggilan dari Soni.


"Hallo,bagaimana?"tanya Brian.


"Aku tidak tahu pasti siapa yang ayahmu temui disana,setelah aku selidiki,pemilik apartemen itu bukanlah Yesi,tapi Reyhans "


"Reyhans?apa dia rekan kerja ayah?"


"Entah,dari informasi yang aku dapat,dia masih muda,dia juga pengusaha muda,meskipun usahanya kecil-kecilan tapi terbilang cukup sukses."


"Oke,,em,,bagaimana untuk malam nanti?"


"Siap,aku sudah suruh orang-orangku untuk mengawasi kondisi rumah Widodo,disana tidak banyak bodyguard,dirumah itu hanya ada satu asisten rumah tangga,dan dua satpam."


"Pantau terus kondisinya,saat ada cela kita masuk"


"Baik bro,,"


"Terimakasih Son,,aku mau secepatnya kita memperoleh bukti yang bisa menyeretnya ke penjara"


"Oiya Ian,masalah Dr. Anye,,aku sudah tanya ke asisten rumah tangganya,dia tidak tahu kemana perginya,dia bilang Dr. Anye hanya liburan . Yang aku tahu,dia mempunyai anak yang berada di Jambi ,kemanapun Dr. Anye pergi dia pasti akan memberitahu anaknya,tidak mungkin dia tidak mengabari anaknya."


"Kerahkan semua orang-orangmu untuk mencari informasi keberadaan Dr. Anye. Kalau perlu,kamu pakai beberapa bodyguard ku. Sementara ini,aku sedang mengawasi Penyadap dirumah ayah,aku ingin tahu apa rencananya."


"Siap!"


"Ya sudah,Maaf aku selalu merepotkan mu"


"Santai saja bro..ya sudah,kamu istirahat Bro,,kerjaan kantor sudah dihandle tadi olehku dan Safa. Besok tinggal croscek aja."


"Ya aku memang lelah,ya sudah makasih ya Son"

__ADS_1


Brian menutup ponselnya.


Dia duduk bersandar,menatap langit-langit ruang kerjanya. Setiap hari hatinya bergelut,bagaimana jika benar,ia menemukan bukti-bukti kejahatan ayahnya?


Bagaimana jika diusia senjanya,ayahnya harus mendekam dipenjara?


"Waktu terus berjalan,janji adalah janji,,aku sudah berjanji pada istriku untuk membuatnya bahagia,sebagai penebus dosa-dosaku dan ayahku padanya. Aku harus terima apapun itu!"batinnya.


Brian bangkit dari tempatnya,ia menuju kamar,untuk mengajak Delia sholat Isya.


Delia terlihat tengah duduk disofa dengan laptopnya.


"Del,sudah adzan,ayo kita jamaah"ucapnya datar.


"Iya mas,,"


"Kamu nampak begitu lelah mas,atau kamu sedang kecewa denganku mas?aku merasa ada jarak diantara kita mas?"batin Delia menatap suaminya yang terlihat tidak begitu bersemangat.


Mereka mengambil air Wudhu kemudian melaksanakan sholat berjamaah.


Seperti biasa ,setelah selesai sholat dan berdoa,Brian mengecup kening istrinya.


"Kali ini,kecupan itu terasa sangat hambar,tak ada senyuman merekah dari bibirmu mas" Delia terus memperhatikan suaminya.


"Mas,,,"


"Iya,"


"Kamu kenapa mas?"


"Tidak apa-apa"


"Kamu kecewa denganku ya mas?karna aku tidak dengan sepenuh hati menuruti kemauan mu?"


Delia merapikan perlengkapan sholat suaminya dan dirinya.


Brian melepas baju koko nya kemudian menggantinya dengan kaos tanpa lengan.


Tubuh kekarnya terlihat sangat indah.


"Enggak kok,aku cuma lelah" ia berbaring ditempat tidur,ia membelakangi Delia.


"Mas,,aku tahu mungkin kamu kecewa denganku,karena aku belum siap memberimu anak,,aku hanya,,"


"Iya aku tau,kamu hanya fokus dengan kuliyah mu,amanah ibumu,dan dendam mu" Brian mulai menaikan nadanya.


"Mas,bukan begitu maksudku,,maafin mas,,iya,aku tahu aku egois,,tapi aku takut kalau ayahmu dan Widodo akan mencelakai anak kita,terlebih Oma belum mau menerimaku."


Delia mencoba meraih pundak suaminya,ia merasa bersalah dengan Brian.


Sementara Brian terdiam sejenak lalu berbalik menatap istrinya.


"Apa kamu tidak yakin kalau aku bisa menjagamu?"


"Yaaa aku yakin,,tapi aku masih takut aja mas,,"


"Intinya kamu mau atau tidak?"


"Iya mas,aku mau,,apapun resikonya!"


"Benarkah??Aku akan pastikan tidak akan ada yang membahayakan nyawamu dan anak kita!"


Sahut Brian bersemangat.


"Tapi aku mohon mas,,jika kamu menemukan bukti-bukti mengenai kejahatan ayahmu,aku mohon,pastikan ayahmu menanggung semua apa yang sudah ia perbuat,sekalipun dia ayahmu aku meminta keridhoanmu"


"Apa ini sebuah kesepakatan?"


"Iya,ini kesepakatan! Mungkin ini terlihat sadis,memenjarakan mertuanya sendiri,tapi kamu akan tahu kenapa aku seperti ini"


"Iya aku tahu karna ibu dan ayahmu yang sudah menjadi korbannya"


"Bukan itu saja,,aku akan tunjukan padamu mas,kenapa aku bisa segitu bencinya dengan ayahmu. Aku meminta waktumu sehari penuh. Besok temani aku,aku mohon"

__ADS_1


"Baiklah,," Brian menyetujui permintaan Delia.


__ADS_2