Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 179


__ADS_3

"Apa aku tidak berhak kecewa?aku juga butuh waktu untuk melupakan kekecewaan itu!"


"Iya,aku tidak menyalahkan perasaanmu,aku sendiripun kecewa pada kecerobohannya. Tapi beri dia ruang untuk menjelaskannya. Dia memang salah,aku akui dia memang salah,,tapi aku mohon,,selesaikan masalah kalian dengan baik,jangan berlarut larut seperti ini. Aku sendiri tidak tega melihat Delia terus seperti itu"


Brian kembali diam,memikirkan perkataan Fani.


Sebenarnya dia pun tidak tega melihat Delia yang selalu ia acuhkan.


Dia sendiri juga tidak bisa hidup tanpa tawanya.


"Ian,aku mohon,,perbaiki hubungan kalian. Jadikan semua ini pelajaran bagi kalian,terutama bagi Delia. Bimbing lah dia,,usia kalian terpaut cukup jauh,jadi tingkat kedewasaan kalian pasti berbeda. Tuntunlah dia dalam kondisi apapun..aku mohon Ian"


Fani menyatukan kedua tangannya memohon pada Brian.


"Sebenarnya aku sendiri juga tidak mau seperti ini Fan,jujur aku sangat sedih,aku berharap banyak pada Delia. Aku benar-benar menginginkan anak darinya. Awalnya aku pikir program hamil ini karena aku yang terlalu sibuk,jadi aku mencoba mengurangi aktifitasku di luar. Tapi ternyata,,ternyata ini ulah Delia. Aku kecewa Fan"


"Aku tahu Ian,,cobalah buang semua itu,anggap ini salah satu proses pendewasaan untuk Delia. Jangan sakiti dia dengan sikapmu,,setidaknya sebagai kepala keluarga kamu harus lebih bijak dan bersabar"


"Iya,kamu benar..aku terlalu terbawa suasana. Terimakasih kamu mau mengingatkanku,,aku sendiri juga jenuh dan bingung bagaimana harus menyikapi Delia."


"Ya sudah,aku harap hukuman yang kamu berikan pada Delia sudah cukup. Bangunlah kembali keharmonisan rumah tangga kalian,,ini belum berakhir,,kalian masih bisa mewujudkan impian kalian yaitu memiliki anak. Karena Delia juga menginginkannya."


Brian menganggukan kepalanya,Fanipun langsung berpamitan meninggalkan Golden Big dan kembali ke kantornya.


"Semoga saja aku belum terlambat,,benar kata Fani,hukuman untuk istriku harus diakhiri sebelum semakin rumit. Aku tidak berhak menyalahkannya seutuhnya,karena aku juga andil dalam kesalahan itu."


Brian segera menyelesaikan pekerjaannya,mempercepat jadwal rapatnya dengan beberapa client.


Dia juga memesan buket bunga dan memesan kue kesukaan Delia.


"Sebelum masalah ini ada, porsi makannya sangat banyak,aku akan memesan dua kue dan beberapa cemilan." Batinnya.


Waktu menunjukan pukul 16.30


Brian segera menaiki mobilnya,mengambil pesanannya di toko kue langganan mereka.


"Agh,,sial ponselku mati,,aku harus memastikan apakah Delia masih di Klinik atau sudah pulang ya..aduh..Ck..ya sudah lah aku ke rumah saja."


Brian langsung melajukan mobilnya dengan kencang kearah rumah.


Sesampainya dirumah suasana rumah terlihat sepi.


Ia memanggil manggil bi Ani tapi tetap tidak ada jawaban sampai akhirnya salah satu bodyguardnya mendekat.


"Tuan,nyonya dibawa kerumah sakit"


"Apa!! Rumah sakit!!! Mmme memang ada apa dengan istri ku!"


Tanya Brian panik.


"Dia pingsan tuan,,"

__ADS_1


"Pingsan!?"


Brian langsung berlari kekamarnya,mengambil power bank untuk menyalakan ponselnya dan segera pergi kerumah sakit dengan kecepatan penuh.


Sepanjang jalan Brian menangis,ia menyesal telah mengacuhkan istrinya terlalu lama.


Jangankan berbicara dengannya,mengirim pesan pun tidak pernah.


Sesampainya dirumah sakit Brian melihat bi Ani dan Bibi Mira yang sedang menunggu didepan ruang tindakan.


"Tuan,,,non Delia" bi Ani terisak.


"Kenapa bisa seperti ini?"


"Tadi sepulang dari Klinik,non Delia langsung menyandarkan tubuhnya sejenak di sofa ruang tengah.aku sudah melihat wajah non Delia sangat pucat,jadi saya membuatkan teh hangat untuk belio. Tapi belum selesai membuatnya,non Delia beranjak hendak menaiki tangga,non Delia bilang ingin beristirahat di kamar saja. Karena melihatnya sempoyongan,bibi coba mengikuti non Delia tapi baru mengangkat kakinya dianak tangga pertama non Delia langsung pingsan. Untung saya sudah bersiap dibelakangnya,meskipun saya tidak kuat dan kita sama-sama terjatuh,tapi setidaknya non Delia tidak langsung jatuh ke lantai"


"Terimakasih bi,,Saya harus pastikan keadaan Delia!" Brian memegang gagang pintu,ia ingin masuk kedalam ruangan.


"Jangan tuan,dokter sedang memeriksanya. Kita disuruh menunggu disini"


"Tidak bisa!" Brian menerobos masuk kedalam ruang tindakan.


"Tuan,,silahkan tuan tunggu diluar"ucap salah satu perawat.


"Tidak ! dia istriku!!" Bentak Brian.


"Tapi tuan,,"


Belum selesai perawat itu bicara,dokter langsung menjelaskan pada perawat itu.


"Mmm maaf tuan"


"Hmmm"


Brian langsung membuka tirai dan mendapati istrinya tengah terbaring lemah dan masih belum sadarkan diri.


Dokter dan perawat tengah melakukan tindakan,termasuk memasang selang infus ditangannya.


"Bagaimana istri saya dok"


"Istri anda sangat lemah,beruntung dia tidak mengalami benturan hebat,kalau sampai jatuh,kemungkinan akan mempengaruhi janin yang ada dalam kandungannya."


"Apa??janin?"


"Iya tuan,,mari saya tunjukan"


Dokter mengambil alat USG,mengolesi perut Delia dengan cream dan mengarahkan Brian agar melihat monitor dengan seksama.


"Apakah anda melihat kantung ini?ini adalah kantung rahim,dan tanda ini,,yang sebesar biji ini adalah embrio,atau janin. Dari hasil USG dapat diperkirakan usia kehamilannya 4 minggu."


Mata Brian berkaca-kaca hampir tak percaya.

__ADS_1


"Kemungkinan,kondisi non Delia saat ini lemah karena kurangnya asupan makanan,apakah selera makan istri anda menurun?biasanya awal kehamilan sering mual dan tidak nafsu makan?"


"Em,,kalau untuk satu minggu terakhir dia memang susah makan dok,,dan dia memang masih bekerja di Klinik"


"Sebenarnya kondisi itu cukup lumrah,tapi diusahakan istri anda harus tetap makan, minum jus,susu atau buah dan lain lain yang penting perut jangan sampai kosong,supaya fisiknya tidak selemah ini.


Dan mohon maaf untuk sementara batasi kegiatannya karena kandungan di trimester pertama sangat rentan tuan."


"Baik dok,,"


"Setelah belio sadar,kami akan memindahkan ke kamar rawat inap,jadi silahkan anda menunggu disamping belio,,dan saya ucapkan Selamat atas kehamilan non Delia,semoga ibu dan calon buah hati kalian diberi kesehatan"


"Aamiin dok,,terimakasih"


Brian duduk disebelah Delia,ia mengenggam tangan Delia dan tak henti-hentinya mencium tangan Delia.


Ia pun menangis,menyesali sikapnya selama ini.


"Maafkan aku sayang,,maaf,,"hanya itu yang Brian bisikan ditelinga Delia.


Dari kaca pintu Bibi Mira melihat Brian tengah menangis.


Bibi Mira memutuskan untuk masuk,kemudian Brian mengusap air matanya.


"Nak Ian,,jangan sedih ya,bibi yakin Delia baik baik saja,,nak Brian yang sabar ya,,"


"Bi,,maafin Ian bi,,Ian tidak bisa menjaga Delia"


"Tidak apa-apa nak,,Delia mungkin hanya kelelahan,,jangan khawatir ya,,tadi dokter bicara apa nak?"


"Tadi kata dokter Delia hamil,sudah 4 minggu,dan,,dan sebagai suami saya tidak tahu apapun,saya tidak menjaganya akhir akhir ini Bi maafkan saya" Brian kembali mencium tangan istrinya.


"hamil?? Serius?? Masya Allah..Selamat ya Nak,,masya Allah,,bibi,,bibi sebentar lagi jadi nenek.. ya Allah,," bibi Mira mencium kening dan pipi Delia yang masih belum sadar.


"Sehat-sehat ya putriku sayang,ada dede bayi diperutmu,,"bisik bibi Mira.


"Nak Ian,karena kamu sudah disini,bibi pamit ya nak,,tadi bibi sudah mengurus pendaftaran rawat jalan Delia,jadi nanti nak Ian tinggal menunggu Delia sadar dan membawanya ke ruangan. Nanti kabari bibi kalau sudah masuk kamar ya nak ya..."


"Iya bi,terimakasih,,mang Jajang akan mengantar bibi Mira dan bi Ani"


"Iya iya,,kamu baik-baik disini ya,,udah,jangan cemas,insya Allah sebentar lagi Delia sadar..bibi pamit ya,,Assalamu'allikum"


"Wa'allaikumsalam ,,"


Beberapa menit kemudian.


Berlahan Delia membuka matanya,


"Aku dimana?"suara lirihnya terdengar ditelinga Brian.


"Sayang,,sayang,,kamu sudah sadar,,"Brian langsung memeluk dan mencium istrinya.

__ADS_1


"Mas,," Delia merasa masih sangat lemas,,ia kembali memejamkan matanya.


dan dokter kembali untuk memeriksa keadaan Delia.


__ADS_2